NovelToon NovelToon
Pilot'S Barbaric Triplets

Pilot'S Barbaric Triplets

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Konglomerat berpura-pura miskin / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Office Romance
Popularitas:24.8k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞

______________________________________________

"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?

Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.

Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.

Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.

Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di tengah jam pelajaran yang membosankan, Cia tiba-tiba merasa perutnya mulas. Ia mengangkat tangannya, meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk pergi ke kamar mandi.

"Iya, Alicia, silakan," jawab guru tersebut, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke buku yang sedang dibacanya.

Cia bergegas keluar dari kelas, berjalan cepat menuju kamar mandi wanita yang terletak di ujung lorong. Ia merasa tidak nyaman dengan perutnya yang terus bergejolak. Ia berharap bisa segera sampai di kamar mandi dan menuntaskannya.

Namun, saat ia berbelok di tikungan menuju kamar mandi wanita, tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan cepat, membuatnya terhuyung dan kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke dalam pelukan seseorang. Jantung Cia berdegup kencang. Ia mendongak, melihat wajah orang yang telah menariknya.

Siapa lagi kalau bukan Aksa, si cowok menyebalkan yang selalu mengganggunya ketenangannya.

Sesaat, kedua mata mereka terkunci dalam tatapan intens. Keduanya merasakan jantung mereka berdebar lebih cepat dari biasanya.

Cia mencoba untuk mengendalikan dirinya, namun ia tak bisa menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.

Dengan cepat, Cia menguasai dirinya. Ia memasang wajah galaknya, menatap Aksa dengan tatapan kesal.

"Lo ngapain sih narik-narik gue kayak gini? Bikin kaget aja! Kalau gue jantungan loh mau tanggung jawab?!" omel Cia dengan nada ketus.

Aksa hanya terkekeh pelan. Ia sama sekali tak merasa tersinggung dengan omelan Cia. Ia justru menikmati wajah kesal Cia yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Maaf! Cia! Lagian mana ada gadis bar-bar kayak lo punya penyakit jantung!" kekeh Aksa merasa lucu dengan ocehan Cia.

"Gue cuma mau ngobrol sama lo," lanjut Aksa dengan nada serius.

"Ngobrol? Nggak ada yang perlu diobrolin sama lo! Dan cepat lepasin gue!" balas Cia ketus. Ia mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Aksa, namun cowok itu malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Oh tidak! Sebelum gue nagih janji lo kemarin, dan gue gak mau lo lari lagi!" ujar Aksa, berbisik di telinga Cia dengan lembut.

Cia terdiam. Ia baru ingat tentang janjinya pada Aksa saat mereka bertanding basket di markas The Mavericks kemarin sore. Ia menghela napas panjang, merasa kesal pada dirinya sendiri karena terjebak dalam permainannya sendiri.

"Janji apa?" tanya Cia pura-pura lupa, meskipun sebenarnya ia sudah menebak apa yang akan diminta oleh Aksa.

Aksa tersenyum lebar. "Lo kan janji, siapa yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang. Nah, gue kan menang, jadi lo harus memenuhi permintaan gue," jelas Aksa dengan nada menggoda.

Cia memutar bola matanya, merasa jengkel. "Iya, gue ingat. Tapi nggak sekarang. Gue lagi pengen ke kamar mandi," balas Cia, berusaha untuk mengulur waktu.

"Nggak bisa. Gue maunya sekarang," ujar Aksa, menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tapi ..."

"Nggak ada tapi-tapian. Gue sudah gak bisa sabar lagi Cia. Sekarang, gue mau lo memenuhi janji lo itu," potong Aksa, tanpa memberi Cia kesempatan untuk membantah.

"Oke, oke. Lo mau apa?" tanya Cia akhirnya menyerah, dengan nada pasrah. Karena ia tahu percuma berdebat dengan Aksa saat ini. Ia hanya ingin cepat menyelesaikan masalahnya dengan Aksa.

Aksa tersenyum puas. Ia menatap Cia dengan tatapan intens, membuat gadis itu semakin gugup dengan detak jantung semakin menggila di dalam sana.

"Gue mau ..."

Tiba-tiba, suara beberapa langkah kaki mendekat membuat Aksa menghentikan ucapannya dan dengan cepat menarik Cia ke dalam sebuah ruang kosong yang ada sampingnya, ternyata ruang penyimpanan alat-alat kebersihan.

Cia membelalakkan matanya, terkejut dengan tindakan tiba-tiba Aksa. Ia menatap sekelilingnya, menyadari bahwa mereka berada di dalam ruang penyimpanan alat-alat kebersihan yang sempit dan pengap. Aroma karbol dan deterjen menusuk hidungnya, membuatnya merasa tidak nyaman.

"Lo ngapain sih bawa gue ke sini? Ini kan tempat sampah!" protes Cia dengan nada jijik.

Aksa tidak menghiraukan protes Cia. Ia malah semakin mendekat, mengurung Cia di antara dirinya dan dinding. Jantung Cia berdegup semakin kencang. Ia bisa merasakan hembusan napas Aksa di wajahnya, membuatnya sedikit merinding.

"Gue nggak mau ada yang dengar permintaan gue," bisik Aksa dengan suara serak, membuat Cia semakin gugup.

"Permintaan apa sih? Kenapa harus dirahasiakan segala?" tanya Cia, mencoba untuk menutupi kegugupannya.

Aksa tersenyum misterius, semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Cia. "Karena permintaan ini sangat penting buat gue," jawabnya, dengan nada menggoda.

Cia menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar semakin cepat.

"Ck! Gue udah nggak sabar pengen ke kamar mandi," ujar Cia, berusaha untuk segera mengakhiri percakapan ini.

Aksa terkekeh pelan. "Oke, oke. Gue akan katakan sekarang," ujarnya, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Gue mau lo jadi pacar gue."

Cia terdiam. Ia menatap Aksa dengan tatapan kosong, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia membeku di tempatnya, tak tahu harus berkata apa.

"Gimana? Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Aksa, dengan nada penuh harap.

Cia masih terdiam. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia merasa kesal dan jengkel pada Aksa yang selalu mengganggunya. Namun, di sisi lain, ia juga merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya setiap kali ia berada di dekat Aksa. Ia tak tahu apa itu, namun ia merasa ada daya tarik yang kuat antara dirinya dan cowok itu.

"Gue ...,"

Tiba-tiba, suara bel berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran telah usai. Cia tersentak kaget, merasa lega karena terhindar dari situasi yang rumit ini.

"Udah bel. Kita harus balik!" ujar Cia, dengan nada tergesa-gesa.

Ia mendorong Aksa menjauh dan tubuhnya berlari keluar dari ruang penyimpanan alat-alat kebersihan, meninggalkan Aksa yang terpaku di tempatnya dengan wajah kembali kecewa.

Aksa menghela napas panjang, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia tahu, ia telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Cia. Namun, ia tak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha, sampai Cia akhirnya menerima cintanya.

"Gue nggak akan nyerah, Cia. Gue pasti akan mendapatkan lo," gumam Aksa pelan, dengan nada penuh tekad.

Setelah mengatakan itu, Aksa berjalan keluar dari ruang penyimpanan alat-alat kebersihan, kembali menuju kelasnya dengan langkah santai seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.Namun pikirannya dipenuhi dengan Cia, dengan senyumnya, dengan tatapan matanya, dengan segala hal tentang gadis itu. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Cia lagi, untuk meyakinkannya bahwa ia benar-benar mencintainya.

Sementara itu, Cia berlari secepat mungkin menuju kelasnya, bahkan ia melupakan sakit perutnya yang ada di pikirannya saat ini hanya bagaimana cara menghindari Aksa dan segala pikiran tentangnya. Jantungnya masih berdebar kencang, pikirannya masih kacau balau. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri dan ia belum siap berhadapan dengan Aksa.

Bersambung ....

1
Ariany Sudjana
owh papa viona hanya asisten CEO? baru begitu saja sudah sombong, berarti kalah kelas dong dibanding anak-anak owner 😄
Azizah Sby
seneng dgn novel kyk bgini ank muda pinter .dan berjiwa ksatria... ada bumbu cinta dan deg degan Dlm mnjlnkn misi . good author
Tri Rahayuningsih
kesel jg jadi ratu ya...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
Dwie Artum
jangan lma" up nya kk.lgi seru"nya ini.
Dwie Artum
double upny kk.🙏🙏
Tri Rahayuningsih
pria bertopeng itu pasti Aksa..
waah mereka emang berjodoh ya😄
riniandara
siap
riniandara
siap Kak!
Dwie Artum
lanjut lg kk🙏🙏
Muft Smoker
lanjuut kaaak ,,
Muft Smoker
dtggu next episode ny yx ,,
Muft Smoker
dtggu next episode ny kak author ,,. sehat2 selalu
Muft Smoker
dtggu next bab ny yx kak, ,,
suka banget ma story ny kk
Muft Smoker
gx usah di ladenin cia ,, yg km hadapi cuma segerombolan ondel2 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
beda level sama km
Muft Smoker
waah waah ad yg cemburu nii ,,
🤭🤭

kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,
Surya
ya Thor lebih tegas lagi Cianya
Surya
lanjut kak keren banget ceritanya
Juli Restiarini
lanjutnya jangan lama2 lgi seru ni
riniandara: mohon maaf belum bisa up rutin karena, author lagi berduka ayah author meninggal dunia.
total 1 replies
Surya
Cerita yang menarik untuk di baca.. karakter yang kuat aku sih suka kak terima kasih
Surya
Varo kebagian juga, aku mu juga dong di angkat jadi cucunya Opa Anggara/Facepalm//Grin/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!