Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ombak yang Mengamuk
Perjalanan turun dari Lawu ke Karangwangi terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Udara semakin hangat seiring mereka meninggalkan pegunungan, tapi hati mereka tetap dingin. Bola cahaya emas dari empat kristal masih melayang di depan Banda, berputar pelan seperti kompas yang tak pernah salah arah—selalu menunjuk ke timur, ke Laut Banda, ke pulau tersembunyi yang Naga Cahaya sebut sebagai tempat akhir kutukan.
Mereka tidak berhenti lama di desa-desa kecil yang mereka lewati. Wajah penduduk memandang mereka dengan curiga—tiga orang berpakaian lusuh dengan bola cahaya aneh yang melayang di depan seorang pemuda bermata biru gelap. Bayu sering berbicara dengan penduduk untuk mencari makanan atau tempat berteduh, tapi ia selalu kembali dengan wajah tegang. “Mereka bilang ada gempa kecil di selatan beberapa hari lalu. Tanah retak-retak. Orang-orang takut.”
Jatayu hanya mengangguk. “Itu Naga Tanah yang masih bergerak. Meski tubuhnya hancur, rohnya belum lenyap sepenuhnya.”
Banda merasakan itu juga. Setiap malam, saat ia tidur, mimpi datang lagi—bukan mimpi indah tentang Garini atau Kirana, tapi mimpi gelap di mana tanah membuka mulutnya dan menelan Jatayu hidup-hidup. Ia terbangun berkeringat dingin, tangannya langsung mencari Jatayu di kegelapan. Dan setiap kali, Jatayu ada di sana—memeluknya tanpa kata, api Phoenix-nya menyala samar untuk menghangatkan tubuh Banda yang gemetar.
Pada hari ketiga, mereka tiba di tepi sungai besar yang mengalir ke selatan. Airnya keruh, penuh lumpur hitam yang tidak wajar—seolah sungai itu sudah tercemar oleh roh Naga Tanah. Bayu berhenti di tepi air, wajahnya pucat.
“Ini bukan sungai biasa lagi,” katanya. “Lihat airnya. Seperti darah yang mengering.”
Jatayu mengulurkan tangan, api merah tipis menyala di telapaknya. Saat api menyentuh permukaan air, uap hitam naik dengan suara mendesis. Air itu bereaksi—gelombang kecil muncul dari tengah sungai, membentuk wajah samar Naga Tanah: mata hijau beracun dan mulut yang terbuka lebar.
“Kalian pikir kalian bisa pulang begitu saja?” suara itu bergema dari dalam air, seperti guntur bawah tanah. “Kalian sudah mengambil cahaya. Tapi kegelapan asli tidak bisa diusir dengan cahaya. Ia hanya bisa ditelan… oleh kalian sendiri.”
Banda maju ke tepi sungai. Bola cahaya emas di depannya berputar lebih cepat, cahayanya menyilaukan. “Kau sudah kalah. Tubuhmu hancur. Rohmu lemah. Pergi.”
Wajah di air tertawa—suara yang membuat air bergolak lebih hebat. “Aku tidak pernah kalah. Aku adalah tanah yang kalian pijak. Aku adalah kegelapan yang kalian bawa dalam darahmu, anak campuran. Dan sekarang… aku akan ambil apa yang tersisa.”
Air sungai naik tiba-tiba—bukan gelombang biasa, tapi tangan-tangan lumpur hitam yang muncul dari dasar sungai, puluhan tangan dengan sisik batu tajam. Mereka meluncur ke arah Banda, Jatayu, dan Bayu seperti cambuk hidup.
Jatayu bergerak pertama. Goloknya berayun melingkar, api Phoenix meledak menjadi badai merah yang membakar tangan-tangan itu. Lumpur mengering dan retak, tapi tangan baru muncul lebih banyak lagi—seperti sungai itu tak pernah kehabisan darah.
Bayu menarik pisau lipatnya, tapi sebelum ia bisa bergerak, salah satu tangan lumpur menyambar kakinya. Ia terjatuh ke air keruh, jeritannya terpotong saat air menariknya ke bawah.
“BAYU!” teriak Banda.
Ia melompat ke sungai tanpa pikir panjang. Air dingin menyambutnya seperti pelukan lama yang pahit. Begitu tubuhnya menyentuh air, kekuatan Naga Laut bangkit sepenuhnya—ombak di sekitarnya naik, membentuk pusaran yang menarik tangan lumpur menjauh dari Bayu.
Banda menyelam lebih dalam. Di bawah permukaan, dunia menjadi gelap—hanya cahaya bola emas yang mengikuti seperti lentera. Ia melihat Bayu terperangkap dalam kepalan tangan lumpur, napasnya hampir habis.
Banda mengulurkan tangan. Air membentuk tombak tajam yang menusuk kepalan itu. Lumpur retak, Bayu terlepas. Banda menariknya ke permukaan, napas Bayu tersengal saat kepala mereka muncul dari air.
“Terima kasih…” gumam Bayu, batuk-batuk.
Tapi ancaman belum selesai. Di tengah sungai, wajah Naga Tanah muncul lagi—kali ini lebih besar, lebih jelas. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan raungan yang membuat air bergolak seperti badai.
“Kau tidak bisa selamatkan mereka semua, anak campuran. Kau akan kehilangan satu per satu. Seperti aku kehilangan segalanya.”
Jatayu melompat ke air, api Phoenix-nya menyala meski di bawah air—api yang tidak padam, tapi membara lebih terang. Ia berenang ke arah wajah itu, goloknya menusuk tepat ke mata hijau beracun. Cahaya merah dan hijau bertabrakan, uap hitam meledak dari sungai.
Wajah Naga Tanah meraung kesakitan, lalu menghilang. Air sungai kembali tenang—lumpur hitam mengendap, meninggalkan air yang keruh tapi tidak lagi hidup.
Banda menarik Bayu ke tepi sungai. Jatayu muncul dari air, basah kuyup, napasnya tersengal tapi matanya penuh api.
“Kau baik-baik saja?” tanya Banda, tangannya memegang lengan Jatayu.
Jatayu mengangguk. “Dia lemah sekarang. Tapi dia belum mati. Rohnya masih ada di tanah. Dan dia akan kembali lebih kuat saat kita mendekati pulau itu.”
Bayu duduk di tepi, batuk-batuk. “Aku… aku hampir mati tadi. Kalau bukan karena kalian…”
Banda menepuk bahunya. “Kau bagian dari kami sekarang. Tidak ada yang ditinggalkan.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Malam itu, mereka berkemah di tepi sungai yang sudah tenang. Api unggun menyala redup, tapi kali ini tidak ada yang tidur. Mereka duduk melingkar, bola cahaya emas melayang di tengah.
Jatayu bicara pelan. “Kita hampir sampai. Pulau itu… tempat Garini melahirkanmu. Tempat kutukan pertama kali aktif. Dan mungkin… tempat kita bisa mematahkannya sepenuhnya.”
Banda menatap bola cahaya. “Aku siap. Tapi aku takut… kalau di sana kutukan memaksa aku memilih lagi. Kalau aku kehilangan kendali…”
Jatayu menggenggam tangannya erat. “Kita tidak akan biarkan itu terjadi. Kita sudah melewati terlalu banyak. Kirana… dia percaya pada kita. Kita tidak boleh mengecewakannya.”
Bayu menambahkan kayu ke api. “Aku tidak punya kekuatan seperti kalian. Tapi aku punya satu hal: aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, meski hanya sebagai saksi.”
Banda tersenyum kecil. “Itu sudah lebih dari cukup.”
Mereka duduk dalam diam sejenak, hanya mendengar suara api berderit dan ombak jauh di selatan yang semakin keras—seolah Laut Banda memanggil mereka pulang.
Dan di dalam bola cahaya emas, kilau hijau kecil muncul lagi—seperti mata Kirana yang tersenyum dari kejauhan.
“Lanjutkan,” seolah bisiknya. “Untuk aku. Untuk kita.”
Mereka bangkit saat fajar menyingsing. Perjalanan terakhir ke Karangwangi dimulai.
Dan di kejauhan, ombak Laut Banda mengamuk lebih ganas—seolah tahu bahwa akhir sudah dekat.