Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Ayah
Setelah Meila meninggalkan kamar rawat inap Beni, bibi Lusi mendekati Beni palsu,yang hanya pura-pura tidur. Karena itu, sejak tadi Meila bicara lewat kode. Kode yang diketahui oleh orang-orang Danunevra saja. Meila sendiri belajar kode-kode tersebut sejak kecil, dengan bibi Ana sebagai pembimbingnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Beni palsu yang membelakangi Lusi terkejut, saat dia merasakan jarum suntik menusuk punggungnya.
"Nona yang memberikan perintah pada Saya untuk melakukan ini."
"Cairan apa itu?"
"Kenapa takut? Nona tidak mungkin memberikan racun pada pamannya sendiri."
Pria itu tersenyum. Dia tahu betul kalimat sindiran yang Lusi lontarkan. "Kamu benar, tapi -."
"Anda pura-pura sakit, kan?" Lusi memotong ucapan Beni palsu.
Saat Lusi akan kembali bicara, pria itu merubah posisinya yang tidur menjadi duduk. Dengan gerakan cepat, Beni palsu itu mengambil pisau yang diselipkan di tempat tidur oleh timnya yang menyamar sebagai perawat. Pisau di tangannya hanya pisau kecil, namun sangat tajam. Tergores sedikit saja, mampu membuat lukanya melebar dengan sendirinya.
Lusi tertawa. "Jadi kamu sudah membuka topeng kamu, tuan palsu," ucap Lusi.
"Kamu terlambat, pisau beracun milikmu sudah berada di tanganku." Lusi menunjukkan pisau yang diambil oleh Meila saat tuan palsu itu menangkup wajah Meila. Tanpa disadari pria itu, Meila memberikanya pada Lusi.
Setelah Meila pergi, Lusi mengenali lambang pisau tersebut. Dia tahu betul siapa yang membuat pisau beracun yang ada di tangannya saat ini.
Pria palsu itu terkejut melihat Lusi memegang pisau dengan logo yang sangat dia kenal. Logo milik tuan yang memerintahkan dia untuk menyamar sebagai Beni. Masuk ke dalam keluarga Aksara sebagai mata-mata. Beni sendiri sudah diamankan oleh pasukan tuannya.
"Dari mana kamu bisa dapatkan pisau itu dan menukarnya?"
"Itulah kehebatan nona muda keluarga Aksara dan Danunevra."
"Danunevra?"
Mendengar nama keluarga itu, pria itu turun dari ranjang. Dia bersiap menyerang Lusi. Dia pikir Lusi hanyalah pelayan paruh baya yang tidak punya tenaga. Tidak masalah pisaunya tidak beracun, yang penting dia bisa pergi dari sini, setelah melumpuhkan Lusi.
Pertarungan antara Lusi dan Beni palsu tidak dapat dihindarkan. Kekuatan mereka hampir sama. Hanya saja, obat yang Lusi suntikkan pada tuan palsu itu mulai bereaksi. Tubuh pria itu tiba-tiba saja kaku. Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya hingga akhirnya dia terjatuh.
Disaat yang bersamaan, Lusi menerima panggilan dari Arbie. Dia menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Dan kecurigaan Meila tentang Beni benar adanya.
"Bawa dia ke Markas!"
Lusi menjalankan perintah Arbie. Dibantu pengawal bayangan Danunevra yang berjaga di sekitar rumah sakit, mereka membawa tuan palsu itu ke markas Arbie. Sisa-sisa perkelahian pun sudah mereka bersihkan. Saat perawat yang membawakan pisau beracun itu masuk untuk memeriksa rekannya yang menyamar sebagai Beni, dia tidak menemukan siapa-siapa di ruangan itu.
"Tuan, musuh sudah mengetahuinya." Perawat laki-laki itu melapor pada pimpinannya.
Di rumah sakit Alamanda, Arbie dan Narendra masuk ke kamar rawat pria paruh baya yang menolong Meila dan Mariska. Arbie tertegun melihat pria paruh baya yang berbaring ditempat tidur itu. Seolah tahu ada yang datang, pria paruh baya itu sadar dan membuka matanya. Mata yang sama dengan mata yang dimiliki Narendra, Arbie dan Meila.
Barra memang kembar identik dengan Beni. Mereka memiliki paras yang sama. Hanya saja, mata mereka berbeda. Barra mengikuti mata ibunya yang juga keturunan bangsawan Eropa, sedangkan Beni memiliki mata yang sama dengan tuan Aksara.
Saat pria itu menoleh pada Arbie, dia tersenyum. "Arbie," gumamnya pelan.
"Ayah," panggil Arbie lirih. Seolah tidak percaya doa yang sering dia mintakan selama ini terkabulkan.
"Tahan Arbie!" Narendra tidak akan percaya begitu saja. Beni saja bisa ada yang menyerupainya, tidak menutup kemungkinan, yang berbaring saat ini juga palsu.
Ayah Barra terkekeh. "Tidak apa-apa, waspada itu baik," ucapnya. "Bagaimana kondisi Meila?"
Di depan ruang operasi, kakek Hasan, Hanan dan Flora, baru sampai di rumah sakit. Mereka langsung menghampiri Abyan.
"Byan, bagaimana keadaan cucu menantu kakek?"
"Masih di dalam Kek. Doakan Meila baik-baik saja."
"Kakek akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Apa kamu sudah menyelidiki kecelakaan ini?"
"Feri dan anak buah aku sedang menyelidiki kecelakaan ini Kek. Kecelakaan ini sudah direncanakan. Syukur ada yang menyelamatkan Meila dan Mariska saat terjadi kecelakaan."
"Dimana Mariska dan orang yang menyelamatkan Meila?"
"Mereka ada di ruang inap. Narendra sedang menemui orang yang menyelamatkan Meila." Opa Alan yang menjawab pertanyaan kakek Hasan. Dia sengaja tidak menyebutkan nama Arbie, karena menurut Abyan, suami Meila itu belum memberitahukan keberadaan Arbie pada keluarganya. Begitu juga tentang Narendra. Untuk saat ini, itu yang terbaik.
Flora yang berdiri di samping Hanan sangat senang mendengar Meila kecelakaan. "Semoga saja kamu tidak selamat Meila." Gumam Flora dalam hati.
Pintu ruang operasi terbuka. Keluarlah dokter Gio. Abyan, dan Erik langsung menghampiri dokter Gio. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Syukurlah nyonya Meila sudah melewati masa kritisnya. Dia baik-baik saja."
Abyan sangat bahagia mendengar ucapan dokter Gio, Meila baik-baik saja.
"Apa Saya bisa melihat istri saya, Dok?"
"Nyonya Meila akan segera kami pindahkan ke kamar rawat, Tuan. Sebaiknya Tuan dan yang lain tunggu di kamar rawat saja."
"Emmm, baiklah Paman." Erik yang membalas.
Di kontrakan Hana. Mirza datang tak lama setelah Melisa pergi. Hana yang melihatnya langsung menghampiri putranya itu.
"Masih ingat juga kamu dengan keluarga yang kamu tinggalkan di tempat kumuh ini." Hana berkacak pinggang.
"Aku bukan menelantarkan kalian. Aku ini bekerja untuk menghidupi kalian. Seharusnya Melisa yang mendapatkan kemarahan Mama. Bukan Aku." Mirza menjawab dengan kesal.
"Melisa itu cucu yang baik, Mirza. Dia sangat perhatian sama Oma."
"Perhatian? Apa Oma lupa, dia yang membuat kalian tinggal di tempat seperti ini. Dan kalian lihat ini! Ini kelakuan cucu yang menurut Oma perhatian sama Oma. Dia sudah mempermalukan keluarga ini."
Mirza menyerahkan video Melisa yang masuk ke kamar hotel dengan seorang pria paruh baya. Lalu video lainnya lagi, terlihat Meila di Mall sedang berjalan sambil merangkul lengan pria yang bersamanya di hotel.
"Mama tahu kan, pria ini siapa?" Hana mengangguk.
"Dia yang memprovokasi rekan-rekan Beni untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan Aksara."
"Tapi sekarang, cucu kesayangan oma itu, justru jadi sugar baby dia."
Hana tertegun. Dia tidak menyangka kalau Melisa bekerja sebagai sugar baby. Pantas saja Melisa memiliki mobil dan pulang sering membawa barang belanjaan. Pikir Hana.
"Jangan asal bicara kamu Mirza. Pria itu bos Melisa. Dia ke mall dengan bosnya itu, karena ada meeting."
Mirza dan Hana sama-sama memutar bola malas mendengar pembelaan oma Risa. "Dengan bos semesra itu?" Ujar Hana.
"Oma, setelah melihat video tadi, Oma masih bisa mengatakan kalau mereka hanya meeting. Seorang wanita bergelayut manja di lengan pria tua. Dan pria itu memeluk pinggangnya dengan erat. Apa itu perilaku seorang bawahan dengan atasan? Itu perilaku seorang wanita murahan. Yang menjual tubuhnya untuk uang." Ucap Mirza emosi.
"Aku juga tidak asal bicara Oma. Gara-gara cucu kesayangan Oma itu, Aku kehilangan proyek. Istri tuan Rio melabrak Aku, saat Aku meeting di restoran bersama klien aku tadi. Dia tidak terima, karena Melisa sudah menjadi selingkuhan suaminya."
Orang yang sedang mereka bicarakan baru saja tiba di rumah sakit. Melisa tiba di rumah sakit bertepatan dengan Meila yang baru dipindahkan ke kamar rawat. Menggunakan hodie dan masker, Melisa mengikuti dokter Gio dan beberapa perawat yang membawa Meila ke ruang rawatnya.
"Sial! Ternyata dia masih selamat." Gumam Melisa.
Melisa yang ingin naik ke lantai tempat kamar rawat Meila, tidak melanjutkan langkahnya. Karena lantai tersebut sudah dijaga oleh anak buah Abyan.
"Aku harus melakukan sesuatu. Meila harus benar-benar pergi untuk selamanya."
Melisa kembali ke mobilnya, dia harus menyusun rencana untuk menghabisi Meila. Melisa tersenyum. Dia mengingat pria paruh baya yang menjadi sugar daddynya.
"Sepertinya Aku minta bantuan tuan Rio saja, untuk menyingkirkan Meila. Bukankah dia juga tidak menyukai Abyan." Gumam Melisa.
Baru saja Melisa hendak menjalankan mobilnya, dia melihat Zayan yang baru saja turun dari mobilnya bersama seorang gadis.
"Siapa gadis itu?" Tanya Melisa yang bertanya dengan dirinya sendiri, karena dia tidak mengenali Alexa.
Melisa kembali memakai maskernya. Lalu dia mengikuti Zayan dan Alexa yang memasuki rumah sakit.
Zayan dan Alexa mendekati meja customer service. Mereka menanyakan kamar Meila. Tapi mereka tidak mendapatkan informasi apa-apa.
Keduanya kembali ke parkiran. Saat melewati Melisa, Alexa sempat bertanya pada Zayan. "Apa yang akan kita lakukan? Kamar Meila dijaga dengan ketat."
Melisa mengikuti kedua orang itu, agar bisa terus mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Kamu tenang saja. Aku akan pastikan, kecelakaan ini membuat Abyan kecewa dengan Meila. Dan Aku akan merebut Meila dari Abyan."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
tp yg lemah siap2 dapet sisa ny aja ,,🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
rumit juga yx hidup sebagai bangsawan ,,
byk yg iri ,,
gx cuma org lain ,,
saudara sndri pun saling memburu ,,
next kakak ,,
makiin seruu cerita ny ,,
tar klian bs kmpul d dlm sel y.....😝😝😝.....
makin penasaran ma kelanjutan ny
zayan msh ngarep sm meila,tp knp mau bkin meila celaka????smp byar orng pula.....emng udh ga wras sih otaknya....
belum aj tu kena Batu ny si duo keket ,,
greget banget si liat mereka berdua ,,
Wahai org2 yg bermuka Dua ,,
ayoo kasih ke zayan , melisa Dan Alexa yg lgi cari muka ,,
biar adil hancur ny ,,
Apa meilia lagi Hamidun 🤔?
Smngttttt....
baru x baca cerita penasaran sama visualny ,,
🤭🤭😁😁😁
next kk ,,