NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU RUMAHKU TIDAK DI KUNCI, KOK

Di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, Maira menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Suara lalu lintas di luar seakan menghilang.

Ia membuka tas kerja, mengeluarkan map berisi cetak biru proyek restoran cabang keduanya. Tangannya menggenggam lembaran itu erat, seolah menyerap kekuatan darinya.

Proyek ini adalah hasil kerja keras bertahun-tahun dan modal dari warisan sang ayah.

Tapi kini, segala kepercayaan yang ia tanam pada orang-orang di sekelilingnya mulai runtuh. Suami yang suka berbohong serta orang sekitar yang selalu mengatainya dengan kata pelit.

Tangannya meraih ponsel. Ia membuka kontak, mencari nama yang sudah lama ada di daftar namun jarang ia hubungi, asisten dari pengacara yang sejak dulu sudah ia percaya.

Seketika panggilan tersambung.

“Halo, Bu Maira?” Suara di ujung sana terdengar tenang.

“Saya butuh bantuanmu." Ucap Maira, suaranya dingin namun mantap. “Saya ingin menandatangani dokumen pemisahan aset. Bisa dijadwalkan?”

“Baik, Bu. Saya atur jadwal dengan pengacara utama, dan saya siapkan dokumennya hari ini juga.”

Maira menutup telepon. Ia bersandar, memejamkan mata sejenak. Ini bukan sekadar restoran tapi juga antisipasinya untuk di masa depan.

“Gimana? Kamu udah dapatin uangnya?” Tanya Bu Neni begitu melihat Farid masuk ke rumah dengan wajah lesu dan langkah berat.

“Belum, Bu.” Ujar Farid dengan menggeleng pelan.

Bu Neni langsung berdiri dari duduknya. Sorot matanya gelisah dan penuh tekanan.

“Terus gimana, Farid? Waktunya tinggal tiga hari lagi. Kalau nggak dapat, Risky bisa nggak ada masa depan! Kamu tega liat adikmu kehilangan kesempatan menjadi abdi negara?”

Farid mendesah kasar. Ia sudah berusaha tapi gagal, dan ia juga bingung cara apa lagi yang bisa ia gunakan.

“Apa kamu tidak punya tabungan, hah? Masa iya tidak ada cara sama sekali?” Desak ibunya lagi.

Kepala Farid tertunduk, pikirannya berkecamuk. Saat itu juga terlintas satu pemikiran di benaknya, yaitu rekening bersama ia dan Maira. “Apa aku harus pakai uang itu lagi ya?” Batinnya resah.

Ia memang belum tahu bahwa semua saldo di rekening gabungannya dengan Maira telah diam-diam ditarik dan dipindahkan oleh sang istri ke rekening pribadinya sendiri.

Yang tersisa hanyalah nominal kecil, yang bahkan tak cukup untuk membayar setengah dari biaya yang dibutuhkan Risky.

“Farid!” Tegur Bu Neni kesal karena sang anak hanya diam sejak tadi.

Segera Farid tersadar dan teringat sesuatu. Ia pun mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya. Kertas yang ia temukan di kamar tidurnya dengan Maira.

“Bu… ini tadi aku nemu di kamar.”

Bu Neni mengambil kertas itu, namun matanya yang sudah mulai kabur membuat tulisan kecil di lembar itu tampak samar. Ia mengerutkan dahi.

“Apa ini?” Gumamnya sambil memicingkan mata.

Beberapa detik kemudian, setelah berhasil membaca isinya, wajah Bu Neni berubah. Matanya melebar, “Ini… surat keterangan dokter?”

Farid mengangguk pelan. “Iya. Hasil pemeriksaan Maira.”

Bu Neni mengangkat pandangannya, menatap putranya dengan campuran amarah dan rasa puas.

“Apa Ibu bilang dari awal? Istrimu itu bermasalah! Ibu sudah bilang kan, dia pasti yang bikin kamu belum punya anak sampai sekarang!” Suaranya meninggi.

Ia mengangkat kertas itu, menunjukkannya dengan penuh emosi. “Tuh! Lihat ini! Istrimu itu tidak bisa kasih keturunan! Ini pasti karma karena dia udah pelit sama keluarganya sendiri!" Cerocosnya.

Mendengar ibunya menghina istrinya seperti itu, Farid hanya diam. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

Ia memang kecewa pada Maira. Apalagi saat istrinya menolak membantu biaya untuk Risky, dan tak juga datang menyusulnya saat mereka bertengkar. Tapi… ucapan ibunya tadi juga terlalu menyakitkan, bahkan untuk dirinya yang sedang marah pada Maira.

Di satu sisi ia merasa Maira berubah menjadi seseorang yang tak ia kenal. Tapi di sisi lain, Farid juga tahu, semua perubahan itu bukan tanpa alasan.

____

Pagi ini, Farid kembali berangkat kerja dari rumah ibunya. Semalam setelah ia kembali lagi ke rumah ibunya, Farid memilih untuk tidak pulang. Rumah sang ibu memberinya ruang bernapas, meski sebenarnya pikirannya justru semakin buntu.

Dari kejauhan, di tengah embun pagi dan jalan yang masih lengang, ia melihat sosok yang familiar—Vina. Wanita itu berjalan kaki dengan tas di pundaknya.

Farid memperlambat mobilnya, menurunkan kaca jendela. “Vina? Kenapa jalan kaki?” Tanyanya sembari menepi. “Motor kamu ke mana?”

Vina tersenyum, memainkan ujung bajunya yang tertiup angin. “Ah itu, Mas. Motorku lagi di bengkel. Ban-nya bocor kemarin. Belum sempat aku ambil.”

Farid melirik jam tangan. Masih pukul 06.50, dan ia punya cukup waktu. “Ayo naik, Mas antarin sekalian." Ucapnya ringan.

Dalam hatinya, Vina bersorak kecil. Sejak pagi, ia memang diam-diam mengintai. Saat keluar rumah dan melihat mobil Farid masih terparkir, nalurinya bekerja cepat.

Ia sengaja memilih berjalan kaki, berharap lelaki itu akan menawarkan tumpangan. Dan kini rencananya berhasil.

Dengan langkah cepat ia masuk, duduk di kursi depan dan setelahnya mobil pun mulai melaju perlahan.

Aroma parfum Vina yang lembut namun tajam langsung memenuhi ruang kabin. Ada wangi melati, sedikit vanila, dan entah kenapa bagi Farid, aroma itu terasa… mengusik hingga membuat tubuhnya terasa sedikit panas.

Ia kembali teringat malam dimana sentuhan kulit mereka yang tanpa sengaja di rumah ibunya, saat menolong Vina yang nyaris terpeleset.

Farid menegakkan duduknya, lalu melonggarkan dasi. “Kamu ngajar di mana?” Tanyanya, berusaha meredakan pikiran yang mulai liar.

“Di Sekolah Nusantara, Mas." Jawab Vina cepat. Suaranya renyah namun tak dibuat-buat.

“Oh." Balas Farid singkat.

Suasana tiba-tiba sunyi. Hening yang tak nyaman, tapi juga tak sepenuhnya ingin mereka hindari.

Vina mencuri pandang ke arah Farid yang duduk di sampingnya. Lelaki itu masih tampak rapi dengan kemeja kerja berwarna biru muda dan dasi yang sedikit longgar di leher.

Meskipun usia mereka terpaut beberapa tahun, Vina tak memungkiri Farid sungguh mempesona.

Gaya bicaranya tenang, sikapnya dewasa, dan barang-barang bermerek yang sesekali ia pakai memberi kesan berkelas—semua itu membuat Vina semakin terpesona.

“Mas Farid…” Panggil Vina pelan.

“Hm?” Farid menoleh sekilas.

“Kalau Mas butuh teman cerita… aku bisa kok jadi tempat curhat." Ucap Vina tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam dalam deru AC mobil.

Matanya menatap lurus ke depan, seolah tak mengharapkan jawaban, tapi nada suaranya mengandung lebih dari sekadar niat baik.

Farid tak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam setir, namun sorot matanya mulai kabur. Ia melihat ke depan, tapi pikirannya tak benar-benar di jalan.

Diam-diam, Vina kembali melirik ke arah tangan Farid yang menyentuh tuas transmisi. Ia sedikit membetulkan posisi duduk, dan dalam satu momen yang nyaris seperti kebetulan—tangan mereka bersentuhan.

Sentuhan itu ringan dan sekilas, tapi cukup untuk menghentak dada Farid. Ia menarik tangannya pelan, tapi detak jantungnya terlanjur berdebar.

Panas menjalar dari jemari, menjalar naik hingga ke pelipis. Sekelebat, ingatan akan malam itu saat kulit mereka bersentuhan tanpa sengaja di rumah ibunya—muncul lagi.

Farid menelan ludah. Nafasnya terasa lebih berat.

Vina menunduk sedikit, pura-pura tak sadar, tapi senyum tipis di sudut bibirnya tak bisa disembunyikan. Ia tahu Farid merasakannya. Dan ia tahu… kali ini, benteng Farid tidak lagi sekuat dulu.

“Mas nanti malam sibuk tidak?” Tanya Vina tiba-tiba, dengan nada santai namun mengandung sesuatu yang menggantung.

Farid sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Tenggorokannya terasa kering. “Ah… eng-enggak." Jawabnya tergagap. Ia buru-buru meluruskan punggung dan membenarkan posisi duduknya. “Memang kenapa?”

Vina tersenyum tipis, tetap menunduk sambil memainkan ujung lengan bajunya. “Enggak sih… mungkin Mas butuh temen curhat ya kalau mau boleh ke rumahku.”

Sekilas Farid melihat ke arah Vina, matanya menatap wajah wanita yang terlihat begitu lembut di bawah cahaya matahari pagi.

Bibirnya yang tipis, pipi merona, dan aroma parfumnya yang masih tertinggal di udara… semua itu membuat dadanya berdebar tak karuan.

“Aku… belum tahu nanti pulang cepat atau nggak." Katanya pelan.

Mobil pun melambat, berhenti tepat di depan gang kecil menuju sekolah tempat Vina mengajar. Ia membuka pintu, menoleh sambil menatap Farid.

“Yasudah. Kalau jadi datang, masuk aja ya… pintu rumahku tidak dikunci kok." Ucapnya pelan.

1
Aerik_chan
duh jadi deg degan
Aerik_chan
lah kok marah 🤭
Aerik_chan
katanya nominalnya kecil kok minjam 🤭🤭🤭
Aerik_chan
yeeee

semangat kak 💪 iklan untukmu
Aerik_chan
minta mamakmu lah

semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
Aerik_chan
enteng bener mulutnya...


kak yuk saling dukung
Nesakoto: Siap kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!