Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10"Pahlawan atau bukan, seragam lo itu tetep kelihatan kayak habis guling²"
"Naik ke motor lo sekarang. Gue nggak bakal nungguin kalau lo ketinggalan di lampu merah," sahut Arlan datar. Ia langsung menaiki motor Ninjanya dan melesat pergi begitu saja tanpa beban.
"Woi, Kak! Tungguin! Pelit banget sih jadi orang!" teriak Aluna panik sambil buru-buru menyalakan motor matic-nya.
Di gerbang SMA Garuda
Arlan sudah berdiri tegak di depan gerbang. Wajahnya terlihat sangat kuyu, tapi matanya tetap tajam mengawasi setiap murid yang masuk. Tepat saat gerbang hampir ditutup rapat oleh Pak Kumis, motor Aluna menyelip masuk dengan kecepatan tinggi.
CIIIIT!
Rem mendadak itu hampir membuat Aluna menabrak ban motor Arlan yang sudah terparkir rapi.
Aluna melepas helm dengan napas tersengal, rambutnya sedikit berantakan kena angin. "Lolos... gila, hampir aja gue jadi gembel di depan gerbang."
Arlan mendekat, bukannya nanya keadaan Aluna yang habis duel sama jambret, dia malah melihat jam tangannya dengan teliti. "Pas jam tujuh. Beruntung banget lo ya."
"Beruntung pala lo peyang! Gue ini pejuang tahu nggak? Harusnya lo bangga punya adek kelas kayak gue yang berani lawan jambret!" seru Aluna nggak terima.
Arlan menatap Aluna dari atas ke bawah, melihat seragam Aluna yang sedikit kotor kena debu gang. "Pahlawan atau bukan, seragam lo itu tetep kelihatan kayak habis guling-guling di pasar. Rapikan sebelum guru masuk kelas. Berantakan banget jadi cewek."
"Apa lo bilang?!" Aluna sudah siap meledak, tapi Arlan sudah berbalik pergi duluan dengan gaya kaku andalannya. "KAK ARLAN ROBOT KORSLEEEET! DASAR KULKAS DUA PINTU! GUE BENCI BANGET SAMA LO!"
Aluna menghentakkan kakinya ke aspal parkiran, benar-benar dongkol. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan kasar sambil terus menatap punggung Arlan yang menjauh dengan langkah tegap terlalu tegap untuk ukuran orang yang baru saja menahan balok kayu dengan tangan kosong.
"Awas lo ya, Robot! Besok-besok kalau ada jambret lagi, gue suruh jambretnya gebuk lo duluan!" teriak Aluna sekali lagi, meski ia tahu Arlan tidak akan menoleh.
Aluna berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya dengan langkah menghentak. Setiap kali dia berpapasan dengan murid lain, dia hanya memberikan tatapan tajam, membuat mereka yang ingin menyapa langsung mengurungkan niat. Fokusnya sekarang hanya satu: masuk kelas sebelum guru jam pertama datang.
Aluna berjalan menghentak-hentakkan kakinya di koridor menuju kelasnya. Begitu sampai di kelas, dia langsung membanting tasnya ke meja, membuat Sesya yang sedang asyik memoles lipbalm tersentak.
"Kenapa lo? Pagi-pagi muka udah ditekuk kayak cucian kotor," tanya Sesya heran.
"Gue baru aja menyelamatkan nyawa orang, Sya! Eh, malah dibilang seragam gue kayak abis guling-guling di pasar sama si Robot Korslet itu!" adu Aluna berapi-api.
Belva yang lagi asyik ngerumpi di meja sebelah langsung menoleh. "Siapa? Kak Arlan? Ya ampun Al, lo tuh harusnya bersyukur bisa interaksi sama dia. Banyak cewek di sini yang rela guling-guling beneran di pasar cuma buat diajak ngomong dua kata sama dia."
"Dua kata apaan? Dua kata yang keluar dari mulut dia itu cuma 'Aturan' sama 'Disiplin'! Kalau nggak gitu ya hinaan model 'Gembel Pasar' tadi," sahut Aluna sambil mengeluarkan buku paketnya dengan kasar.
Sesya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sudah seperti banteng ketaton.
kring-kring-kring
Bel istirahat berbunyi nyaring. Aluna, Sesya, dan Belva berjalan menuju kantin dengan perasaan masih dongkol. Begitu sampai di sana, suasana sangat ramai.
Kantin SMA Garuda jam istirahat benar-benar definisi kekacauan yang teratur. Bau mi instan, uap bakso, dan teriakan murid-murid yang berebut memesan jus jeruk menyatu jadi satu. Sesya dan Belva sibuk mencari meja kosong, sementara Aluna berdiri di tengah keramaian dengan tangan bersedekap, matanya menyisir setiap sudut kantin.
"Woi, minggir dong! Jangan bengong di tengah jalan, Al!" teriak seorang anak kelas sepuluh yang hampir menabraknya sambil membawa nampan berisi siomay.
"Sabar, bocil! Kantin bukan sirkuit balap!" balas Aluna ketus. Mood-nya benar-benar belum pulih.
Tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya bising berubah jadi sedikit lebih rapi. Arlan masuk bersama dua anggota OSIS lainnya. Mereka tidak sedang razia besar-besaran, hanya melakukan patroli rutin untuk memastikan tidak ada siswa yang makan sambil berdiri atau membuang sampah sembarangan di meja.
"Liat deh, Kak Arlan ganteng banget" Bisik salah satu mahasiswi ke teman sebelahnya.
"Iya, ganteng banget, idaman sih"
Aluna yang mendengar bisikan-bisikan itu langsung memutar bola matanya jengah. "Ganteng dari mana coba? Muka kaku kayak triplek gitu dipuji-puji. Mana matanya kuyu banget lagi, pasti habis ngeronda di gudang baut," gumam Aluna pelan, cukup untuk didengar Sesya dan Belva.
"Sirik aja lo, Al. Tapi emang bener sih, Kak Arlan hari ini auranya beda banget, lebih... dark gimana gitu," sahut Belva sambil tetap curi-curi pandang ke arah meja tengah kantin.
Arlan terus berjalan dengan langkah tenangnya. Matanya menyisir setiap sudut kantin dengan teliti. Saat pandangannya mendarat di kerumunan tempat Aluna berdiri, langkahnya sempat melambat sejenak.
Tatapan mereka bertemu selama dua detik, namun Arlan segera membuang muka seolah-olah Aluna hanyalah bagian dari dekorasi kantin yang tidak penting.
"Tuh kan! Liat nggak? Sombongnya minta ampun!"
"Huss! Mulut lo, Al. Ntar kualat jatuh cinta baru tahu rasa lo," goda Sesya sambil menarik tangan Aluna menuju stan batagor sebelum sahabatnya itu benar-benar meledak dan bikin malu satu sekolah.
"Jatuh cinta sama kulkas? Mending gue jatuh cinta sama tiang listrik, jelas ada gunanya buat nerangin jalan!" sahut Aluna pedas sambil menyambar garpu plastiknya.