Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: BERBICARA DENGAN DIAM
Musim hujan di Makassar tahun itu seolah tidak mau berhenti. Langit selalu kelabu, air menggenang di jalan-jalan, dan atap rumah kami yang sudah ditambal berkali-kali akhirnya menyerah. Tapi bocor di atap hanyalah latar belakang dari kebocoran yang lebih dalam: tubuh Maya yang semakin menolak untuk bertahan.
Dia sekarang lebih banyak tidur daripada bangun. Ketika bangun, matanya kosong menatap langit-langit, atau sesekali mengikuti gerakan Aisyah yang sudah mulai berjalan tertatih-tatih. Tapi kata-kata hampir tidak ada lagi. Hanya sesekali gumaman yang tidak jelas, atau yang paling menyakitkan tangisan sunyi tanpa air mata.
Bima, yang sekarang hampir sepuluh tahun, menjadi penerjemah bagi ibunya. Dia belajar membaca ekspresi wajah Maya yang tipis, gerakan tangan yang lemah, bahkan pola napasnya.
"Ma haus," katanya suatu siang, lalu mengambil air dengan sedotan. Benar, Maya minum.
"Ma mau duduk," katanya di pagi lain, lalu membantunya bersandar di bantal.
Kinan, di sisi lain, menjadi penjaga cerita. Setiap malam sebelum tidur, dia duduk di samping tempat tidur Maya dan bercerita.
"Hari ini Aisyah jatuh waktu jalan, Ma. Tapi nggak nangis. Bangun sendiri. Kayak Mama dulu bilang: anak Mama harus kuat."
"Adek dapat nilai bagus menggambar. Guru bilang warna-warnanya cerah. Adek bilang itu karena ingat senyum Mama."
"Kakak Bima bantuin Om masak hari ini. Tapi garamnya kebanyakan. Jadi asin banget. Kita ketawa semua."
Maya tidak merespons. Tapi Kinan bersikukuh: "Mama dengar, kok. Di dalam hati."
Dan mungkin dia benar. Karena kadang, di tengah cerita Kinan, sudut bibir Maya berkedut hampir seperti senyuman. Atau matanya berkedip lebih lambat hampir seperti mengangguk.
---
Suatu sore, ketika hujan turun dengan deras dan listrik padam, kami semua berkumpul di kamar Maya dengan lilin-lilin. Bayangan-bayangan menari di dinding, membuat siluet keluarga kami menjadi raksasa-raksasa yang goyah.
Bima tiba-tiba berkata: "Aku ingat waktu kecil, waktu listrik padam gini, Mama selalu cerita hantu."
Kinan terkikik. "Iya! Terus Adek takut, jadi tidur di tengah antara Mama dan Papa."
"Lalu Mama bilang hantu itu sebenarnya nenek moyang yang menjaga kita," lanjut Bima. "Jadi nggak usah takut."
Aku melihat Maya. Matanya terbuka, memandangi bayangan-bayangan di dinding. Lalu, dengan suara parau yang hampir tak terdengar: "Nenek... moyang..."
"Ya, Ma," sahut Kinan cepat. "Yang jaga kita."
Maya mengangkat tangan, tangan yang sekarang kurus sekali seperti ingin menyentuh bayangan di dinding. "Jaga... anak-anakku..."
Air mata menggenang di mataku. Delapan kata itu. Delapan kata yang mungkin adalah kalimat lengkap terakhir yang akan dia ucapkan. Dan isinya: perintah pada leluhur untuk melindungi anak-anaknya.
Bima memegang tangan ibunya. "Mereka jaga kita, Ma. Dan Mama juga jaga kita."
Maya memandangi Bima, lalu Kinan, lalu Aisyah yang sedang tidur di pangkuanku. Lalu dia menutup mata, seperti puas. Seperti sudah memastikan sesuatu.
---
Malam itu, setelah anak-anak tertidur (Bima dan Kinan memaksa tidur di kasur kecil di lantai kamar Maya), aku duduk sendirian di beranda. Hujan sudah reda, tapi langit masih tertutup awan. Tidak ada bintang.
Bibi Sartika datang, membawa bungkusan nasi. "Kamu harus makan, Raka."
"Aku tidak lapar, Bibi."
"Tapi kamu harus kuat. Untuk mereka." Dia menunjuk ke dalam rumah.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana menjadi kuat, Bibi."
Dia duduk di sampingku. "Dulu, waktu ayah Maya meninggal, aku juga pikir tidak bisa kuat lagi. Tapi lalu aku lihat Maya masih kecil, masih butuh ibunya dan aku tahu: aku harus terus berjalan."
"Tapi Maya sekarang..."
"Masih butuh kamu. Dan anak-anak butuh kamu." Bibi Sartika memegang tanganku. "Cinta itu seperti pohon, Raka. Kadang daunnya rontok. Kadang rantingnya patah. Tapi akarnya tetap di tanah. Dan kamu... kamu akarnya sekarang."
Aku menangis. Untuk pertama kalinya sejak penyakit Maya menjadi parah, aku benar-benar menangis. Bukan air mata diam di kamar mandi. Tapi tangisan yang mengguncang seluruh tubuh.
Dan Bibi Sartika hanya memelukku, seperti ibu memeluk anaknya. "Sudah. Sudah. Ibu di sini."
---
Keesokan harinya, Maya tidak bisa bangun sama sekali. Dokter yang datang ke rumah hanya menggeleng. "Waktunya sudah dekat."
Kata-kata itu seperti palu godam. Tapi anehnya, juga seperti pembebasan. Akhir dari penderitaan. Awal dari kehilangan yang permanen.
Kami semua berkumpul di kamar. Bima di satu sisi, memegang tangan kiri Maya. Kinan di sisi lain, memegang tangan kanannya. Aku duduk di ujung tempat tidur, menggendong Aisyah.
"Adek mau nyanyi buat Mama," bisik Kinan.
Dia mulai menyanyikan lagu yang dulu selalu dinyanyikan Maya untuknya lagu pengantar tidur yang sederhana, tentang bulan dan bintang.
Suara Kinan kecil, gemetar, tapi jernih. Dan sementara dia menyanyi, sesuatu ajaib terjadi: Maya membuka mata. Tidak kosong seperti biasa. Tapi jernih. Sangat jernih.
Dia memandangi Kinan yang sedang menyanyi, lalu Bima, lalu aku dan Aisyah. Dan di matanya, ada pengakuan. Bukan ingatan, tapi pengakuan bahwa kami adalah miliknya. Bahwa kami adalah alasan segala sesuatu.
Lalu bibirnya bergerak. Tidak ada suara keluar. Tapi dari gerakan bibirnya, aku bisa membaca: "Aku... cinta... kalian..."
Bima melihatku, matanya bertanya. Aku mengangguk, tidak bisa berkata-kata.
Maya kemudian menutup mata lagi. Tapi kali ini, ekspresinya damai. Seperti seseorang yang setelah lama berjalan, akhirnya melihat tujuannya.
Napasnya semakin pelan. Semakin jarang.
Bima menempelkan telinganya di dada ibunya. "Detak jantungnya... seperti lagu yang mau habis."
Kinan terus menyanyi, sekarang dengan air mata mengalir deras. Lagu yang sama, diulang-ulang, seperti mantra.
Dan aku... aku hanya memandangi perempuan yang telah menjadi seluruh duniamu. Yang telah memberiku keluarga meski bukan dengan cara konvensional. Yang telah mengajariku tentang cinta yang bertahan melebihi ingatan, melebihi sakit, melebihi segala logika.
Lalu, di antara alunan lagu Kinan dan detak jantung yang semakin pelan, napas terakhir keluar.
Pelahan. Seperti embusan angin sore. Seperti sesuatu yang tidak ingin pergi tapi harus pergi.
Dan kemudian... sunyi.
Bima mengangkat kepala, wajahnya basah oleh air mata. "Dia... pergi?"
Aku mengangguk, tidak bisa berkata-kata.
Kinan berhenti menyanyi. "Tapi... dia tersenyum, Om. Lihat."
Dan benar. Di wajah Maya yang sekarang sudah tanpa beban, ada senyuman kecil. Senyuman damai. Senyuman seseorang yang akhirnya ingat atau akhirnya tidak perlu lagi mengingat karena sudah sampai di tempat di mana ingatan tidak lagi diperlukan.
---
Prosesi setelah itu seperti berjalan dalam mimpi. Keluarga datang. Tetangga datang. Rangga dan Bayu terbang dari Jakarta. Tapi yang paling kuingat adalah anak-anakku.
Bima tidak menangis lagi setelah itu. Dia menjadi pengatur segala sesuatu menerima tamu, mengatur makanan, menjaga Kinan dan Aisyah. Seperti komandan kecil yang memastikan semua berjalan.
Kinan, sebaliknya, menjadi sangat melekat padaku. Tidak mau lepas. Selalu memegangi bajuku, seperti takut aku juga akan pergi.
Dan Aisyah... Aisyah terlalu kecil untuk memahami. Tapi pagi setelahnya, dia merangkak ke kamar Maya, berdiri berpegangan pada tempat tidur, dan memanggil: "Ma... ma..."
Ketika tidak ada yang menjawab, dia menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan kehilangan, meski dia tidak mengerti apa yang hilang.
Aku mengangkatnya, memeluknya erat. "Mama pergi, Sayang. Tapi... dia tetap mencintaimu."
Seperti itukah perasaan seorang anak kepada ibu? Bahkan ketika tidak ingat wajahnya, tidak ingat suaranya, tidak ingat pelukannya tetapi tetap merasakan kehilangannya? Seperti lubang di alam semesta pribadi yang baru saja mulai dipetakan?
---
Malam setelah pemakaman, kami semua tidur di kamar yang sama kebiasaan yang sudah terbentuk selama Maya sakit. Tapi kali ini, tempat tidurnya kosong.
Bima tiba-tiba berkata dalam gelap: "Aku takut lupa suara Mama."
"Aku rekam," jawab Kinan cepat. "Di HP Om. Ada suara Mama nyanyi buat Adek."
"Bisa aku dengar?"
Kinan mengambil ponselku, memutar rekaman. Suara Maya masih jernih, sebelum penyakit parah menyanyikan lagu pengantar tidur.
Bima menangis lagi. Tapi kali ini, tangisan lega. "Masih ada."
"Selalu ada," kata Kinan. "Di sini." Dia menepuk dadanya.
Aku memandangi mereka, dan Aisyah yang sudah tertidur, dan tempat tidur kosong yang sekarang hanya berisi bantal dan selimut.
Dan aku tahu: Maya tidak benar-benar pergi. Karena dia hidup dalam Bima yang kuat, Kinan yang penyayang, Aisyah yang baru mulai. Dalam lagu pengantar tidur yang akan terus dinyanyikan. Dalam cerita-cerita yang akan terus diceritakan. Dalam cinta yang tidak mati meski orangnya pergi.
Ibu mungkin pergi.
Tapi keibuan tetap.
Cinta seorang ibu tetap.
Dan perasaan seorang anak kepada ibunya...
Itu tetap.
Selamanya.
Seperti benang tak terlihat yang tidak bisa diputus oleh kematian sekalipun.
Seperti lagu yang terus bergema meski penyanyinya sudah diam.
Seperti cahaya bintang yang masih sampai ke bumi meski bintangnya sendiri sudah lama padam.
Malam itu, sebelum tertidur, Kinan berbisik: "Mama sekarang ingat semuanya lagi, ya Om?"
"Iya, Sayang."
"Dan tidak sakit lagi?"
"Tidak sakit lagi."
"Dan... dia lihat kita dari surga?"
Aku memandangi langit-langit, seperti bisa menembus atap, menembus awan, menembus angkasa. "Setiap saat, Sayang. Setiap saat."
Kinan tersenyum kecil, lalu tertidur dengan rekaman suara ibunya masih diputar pelan-pelan.
Dan di dalam kamar yang sekarang terasa terlalu besar untuk keluarga berempat ini, dengan tempat tidur kosong yang menjadi monumen untuk cinta yang telah pergi...
Kami tetap bersama.
Dengan kenangan.
Dengan luka.
Dengan cinta yang tidak mati.
Kami tetap keluarga.
Meski dengan satu kursi kosong di meja makan.
Meski dengan satu bantal yang tidak lagi berisi.
Meski dengan satu suara yang hanya bisa didengar melalui rekaman.
Kami tetap.
Karena itulah yang diajarkan Maya pada kami: bahwa keluarga bukan tentang kesempurnaan. Bukan tentang kesehatan. Bukan tentang ingatan.
Keluarga adalah tentang memilih untuk tetap.
Meski segalanya berubah.
Meski seseorang pergi.
Meski hati remuk.
Kami tetap.
Dan dalam "tetap" itu, Maya tetap hidup.
Selamanya.