Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5# Laboratorium Yang Terlupakan
Air sudah mengalir kembali ke sumur Saka, namun hutan seolah tidak rela melepaskan ketujuh remaja itu begitu saja. Saat Harry memimpin rombongan kembali menuju celah gua, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Kabut yang tadinya berwarna kelabu kini berubah menjadi hitam pekat, menelan jarak pandang mereka hingga hanya tersisa satu meter ke depan.
"Harry, kenapa baunya berubah?" bisik Lira. Ia menghentikan langkahnya, tangannya gemetar. "Baunya... seperti besi berkarat dan sesuatu yang terbakar."
Harry tidak menjawab, namun ia menggenggam pisau besarnya dengan buku jari yang memutih. Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah lengkingan logam yang memekakkan telinga membelah kesunyian. Disusul oleh lengkingan kedua dari arah depan.
"Lari! Mereka memanggil kawanannya!" teriak Harry.
Dua ekor Phenix Omega muncul dari balik pepohonan raksasa. Tubuh bulat mereka yang hitam pekat tampak berkilat di bawah cahaya bulan yang redup. Kaki-kaki panjang mereka menghantam tanah dengan suara BOOM... BOOM... yang membuat dada terasa sesak. Arlo memimpin di depan, namun jalur utama menuju gua sudah tertutup oleh salah satu kaki raksasa makhluk itu yang menancap di tanah seperti pilar baja.
"Ke sini! Ada pintu logam di bawah akar itu!" seru Naya. Ia melihat sebuah pintu palka yang hampir tertimbun tanah dan akar pohon.
Tanpa sempat berpikir dua kali, Arlo menendang pintu palka itu hingga terbuka. Satu per satu mereka merosot turun ke dalam lubang yang gelap. Mereka jatuh berdebam di atas lantai besi yang dingin, dikelilingi oleh debu tebal yang beterbangan. Namun, Phenix Omega itu tidak berhenti. Makhluk itu menggunakan kekuatan kakinya untuk menghancurkan langit-langit bangunan bawah tanah tersebut, mencoba masuk mengejar mereka.
"Sial! Kita terjebak di dalam sini!" teriak Finn sambil mencoba mencari jalan keluar di tengah kegelapan.
"Jangan hanya diam! Jika kita tidak melawan, kita akan mati di lubang ini!" Zephyr melompat ke atas sebuah meja laboratorium yang sudah berkarat. Dengan gerakan yang sangat berani, ia menusukkan kayu tajamnya ke arah salah satu mata kuning monster yang masuk melalui celah langit-langit.
Pertarungan pecah di dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah laboratorium kuno yang sangat luas namun berantakan. Kabel-kabel besar menjuntai dari langit-langit, memercikkan sisa-sisa listrik yang menciptakan kilatan cahaya biru setiap beberapa detik. Rayden berlari zigzag di antara tabung-tabung kaca besar, napasnya tersengal.
"Kenapa makhluk ini besar sekali?! Arlo! Lakukan sesuatu!" teriak Rayden panik. Sebuah kaki monster nyaris menginjak kepalanya, namun Rayden berguling tepat waktu, membuat wajahnya penuh dengan debu laboratorium.
"Rayden, pancing dia ke arah tangki gas di pojok itu!" perintah Arlo. Di tengah kekacauan itu, Arlo merasa kepalanya berdenging. Ia seolah tahu letak setiap tuas di ruangan ini.
Rayden, meski ketakutan setengah mati, melakukan apa yang diminta. Ia melompat-lompat seperti orang gila untuk menarik perhatian monster pertama. Saat Phenix Omega itu menerjang dengan tubuh bulatnya yang berat, Arlo menarik tuas gas oksigen yang terhubung ke pipa besar.
BOOM!
Ledakan gas menciptakan gelombang tekanan yang membuat monster itu terlempar menghantam lemari-lemari besi. Finn dan Zephyr tidak membuang kesempatan. Mereka menyerang sendi-sendi kaki monster tersebut dengan senjata mereka. Sementara itu, Arlo meraih sebuah potongan besi panjang yang tajam, melompat ke atas punggung monster yang sedang meronta, dan menghujamkan besi itu tepat ke pusat mata kuningnya.
Cairan hitam kental menyembur keluar. Monster itu mengerang panjang sebelum akhirnya diam tak bergerak. Satu monster tumbang, dan monster kedua yang melihat kawannya mati memilih untuk mundur kembali ke permukaan hutan, meninggalkan mereka dalam kesunyian yang mencekam di bawah tanah.
Hening kembali merayap. Mereka semua jatuh terduduk di atas lantai yang kotor, terengah-engah dengan tubuh yang dipenuhi luka gores dan debu.
"Tempat apa ini?" bisik Harry. Matanya yang sudah menghabiskan sembilan tahun di hutan itu menatap sekeliling dengan rasa tidak percaya. "Aku sudah mengitari hutan ini ribuan kali... aku tidak pernah tahu ada laboratorium sebesar ini di bawah tanah."
Selene berjalan perlahan di antara komputer-komputer kuno yang layarnya sudah retak. "Ini bukan sekadar laboratorium, Harry. Ini adalah tempat di mana semuanya dimulai."
Naya mulai memeriksa beberapa dokumen yang masih bisa dibaca di atas meja. "Lihat ini... tanggal-tanggal ini. Semuanya terhenti sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Ada banyak catatan tentang genetika dan... 'Program Tidur'."
Mendengar kata itu, Arlo merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia berjalan menuju bagian belakang laboratorium yang lebih gelap, di mana suhu udara terasa jauh lebih dingin.
"Eh... Teman-teman? Kalian harus lihat ini," suara Rayden terdengar gemetar dari arah sudut ruangan. Ia tidak sedang bercanda kali ini. Wajahnya pucat pasi.
Mereka semua berjalan mendekati Rayden. Di sana, berdiri sebuah peti kapsul besar (Cryogenic) yang masih aktif, memancarkan cahaya biru neon yang kontras dengan kegelapan sekitarnya. Uap dingin keluar dari celah-celah peti tersebut.
Di balik kaca tebal yang berembun, terlihat seorang wanita dewasa. Ia memiliki wajah yang sangat tenang, rambutnya yang kecokelatan tertata rapi, dan ia mengenakan jas putih panjang dengan lencana profesor di dadanya. Ia tampak seperti sedang tidur di dalam es, bukan seperti mayat yang membusuk.
"Dia... dia masih utuh," bisik Lira. Ia menyentuh kaca kapsul itu dan langsung menarik tangannya kembali karena rasa dingin yang luar biasa. "Aku tidak merasakan emosi apa pun... tapi aku merasakan denyut kehidupan yang sangat lemah. Seperti mesin yang sedang dalam mode siaga."
Arlo menatap wajah wanita itu. Tiba-tiba, penglihatannya kabur. Sebuah suara lembut muncul di kepalanya: "Arlo, jika suatu saat kau lupa siapa dirimu, ingatlah bahwa kau adalah satu-satunya keberhasilanku."
"Dia... dia mengenalku," gumam Arlo lirih, membuat yang lain menoleh padanya dengan tatapan terkejut.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Zephyr curiga.
Arlo tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap wanita yang terbaring di dalam peti pendingin itu. Di sana, di tengah laboratorium yang hancur dan berantakan, mereka menemukan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur. Seorang wanita dari masa lalu yang memegang kunci atas masa depan mereka.