Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Pilihan Mutlak Milikmu
Alih-alih mengucapkan terima kasih karena telah diselamatkan dari amukan ketiga berandalan itu, Lunaris justru maju dengan langkah lebar. Tangan gadis itu, yang masih sedikit bergetar karena campuran amarah dan sisa ketakutan, terulur mencengkeram erat pergelangan tangan Sirius.
Suhu kulit pemuda itu terasa sedingin es, seolah Lunaris baru saja menggenggam bongkahan salju, namun gadis itu tidak peduli. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Lunaris menarik paksa Sirius menjauh dari koridor yang kini menjadi pusat perhatian, menyeretnya menuju taman belakang sekolah yang terbengkalai.
Taman belakang SMA Sevit adalah area yang jarang disentuh, tapi masih sangat terawat. Daun-daun kering berserakan di bawah pohon beringin tua, dan bau tanah basah mendominasi udara. Tempat yang sempurna untuk menghindari tatapan menghakimi dari seisi sekolah.
Begitu mereka tiba di balik tembok pembatas yang tertutup semak belukar, Lunaris melepaskan cengkeramannya dan berbalik menatap Sirius dengan napas terengah-engah.
Dada gadis itu naik turun. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah pemuda tinggi di hadapannya. Di sisi lain, Sirius hanya berdiri dengan postur santai, menepuk-nepuk pelan lengan blazernya yang sebenarnya sama sekali tidak kusut, seolah sentuhan tangan Lunaris tadi telah meninggalkan debu tak kasat mata di seragam mahalnya.
"Jelaskan," Desis Lunaris dengan suara serak. "Dari mana aja lo pagi ini? Dan... dari mana lo dapet seragam itu?"
"Memangnya apa lagi? Tentu saja karena aku murid sekolah ini sekarang."
"Gimana caranya lo bisa tiba-tiba terdaftar jadi murid di sekolah elit ini dalam waktu kurang dari dua belas jam?!"
Sirius mengangkat sebelah alisnya, mata abu-abu peraknya memancarkan kilau geli yang meremehkan.
"Kau ini cerewet sekali," Jawab Sirius dengan nada bariton yang mengalun tenang, sangat kontras dengan kepanikan Lunaris. "Aku baru saja pergi mengunjungi seorang kawan lama."
"Kawan lama?" Dahi Lunaris berkerut dalam.
"Tentu saja. Untuk mengambil kembali apa yang pernah aku titipkan padanya berabad-abad yang lalu," Sirius menyeringai tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya yang berpotongan sempurna. "Uang, aset, dan sedikit bantuan bukanlah hal yang sulit didapatkan jika kau memiliki relasi yang tepat. Mengingat kontrak kita mengharuskanku untuk selalu berada di dekatmu, aku memutuskan bahwa menyusup ke dalam institusi pendidikan konyol ini adalah cara yang paling efisien. Jadi, aku mengambil sebuah identitas baru."
Lunaris terdiam, mencoba mencerna fakta bahwa makhluk gaib di depannya ini ternyata memiliki koneksi "kawan lama" di dunia modern yang bisa memalsukan identitas dan memasukkannya ke sekolah paling eksklusif di kota ini hanya dengan jentikan jari.
Namun, sebelum Lunaris sempat bertanya lebih lanjut, Sirius tiba-tiba tertawa.
Bukan tawa yang ramah, melainkan tawa rendah yang gelap, sarkastik, dan penuh dengan kepuasan yang kejam. Mata perak pemuda itu memindai Lunaris dari atas ke bawah, menatap wajah pucat gadis itu, matanya yang bengkak karena menangis, dan seragamnya yang berantakan.
"Tapi sejujurnya, aku tidak menyangka pertunjukan di sekolahmu akan selucu ini," Ucap Sirius di sela tawanya, nada suaranya berubah menjadi sangat merendahkan. "Aku baru saja menginjakkan kaki di gedung ini, dan hal pertama yang aku dengar adalah namamu yang sedang dikoyak-koyak oleh semua orang. Berita tentang video skandalmu yang menjijikkan itu... ah, sungguh mahakarya penderitaan."
Mata Lunaris membelalak. Wajahnya yang tadi pucat kini memerah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa.
"Kau benar-benar menyedihkan, Lunaris," Lanjut Sirius tanpa ampun, mengabaikan raut terluka di wajah gadis itu. "Diinjak-injak, dijebak, dihina sebagai pelacur murahan, dan beasiswa yang dicabut dari sekolah ini tanpa bisa melawan sedikit pun. Pantas saja jiwamu begitu pekat oleh keputusasaan. Hidupmu ternyata jauh lebih kacau dan menyedihkan daripada yang aku bayangkan."
Kata-kata Sirius menancap tepat di ulu hati Lunaris. Gadis itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa tersinggung dan amarah meledak di dadanya.
Iblis ini benar-benar tidak memiliki empati sedikitpun. Ia menjadikan penderitaan dan kehancuran harga diri Lunaris sebagai bahan lelucon paginya.
"Tutup mulut lo, Bajingan," Desis Lunaris tajam, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Lo gak tau apa-apa soal seberapa hancurnya gue hari ini!"
"Oh, aku tahu segalanya. Aku bisa mencium aroma keputusasaanmu dari jarak satu mil," balas Sirius santai, seringainya semakin melebar.
Lunaris menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha keras untuk tidak menangis lagi di depan makhluk arogan ini. Ia mencoba mengesampingkan rasa sakit hatinya dan memfokuskan pikirannya pada satu detail kecil dari ucapan Sirius yang entah mengapa terus mengganggu otaknya.
Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rasa tersinggungnya.
Kawan lama.
Lunaris menatap Sirius dengan pandangan menilai. Jika Sirius adalah makhluk immortal —setengah vampir dan setengah lycan yang telah hidup ribuan tahun, perwujudan dari karma kegelapan masa lalu— lalu siapa kawan lamanya itu?
"Tunggu dulu," Ucap Lunaris perlahan, suaranya kini terdengar lebih waspada. "Lo bilang lo nemuin kawan lama. Lo ini kan monster dalam mitos. Setengah vampir dan lycan. Apa itu artinya... kawan lama lo itu... makhluk yang sama kayak lo?"
Sirius tidak menjawab, namun kilatan di matanya seolah membenarkan tebakan tersebut.
Jantung Lunaris mulai berdegup lebih kencang. Firasat aneh yang ia rasakan pagi ini —atau mungkin sejak beberapa hari terakhir bahkan hari sebelum kematian ibunya— saat melihat kawanan burung gagak di sepanjang jalan kembali merayap di tengkuknya.
"Apa di kota ini... ada vampir dan lycan lain selain lo?" Tanya Lunaris lagi, suaranya sedikit bergetar. "Kalian beneran ada? Bukan cuma mitos di buku fiksi?"
Sirius mendengus pelan, menatap Lunaris dengan pandangan seolah gadis itu baru saja menanyakan apakah matahari terbit dari timur.
"Kau ini naif sekali," Jawab Sirius dengan nada bosan. "Kau sudah melihatku. Aku adalah entitas iblis kuno, perwujudan dari kutukan dan karma paling gelap. Jika hal seburuk diriku saja bisa berdiri di hadapanmu saat ini, dengan seragam konyol ini, apa yang membuatmu berpikir bahwa bangsa vampir, lycan, atau makhluk malam lainnya tidak ada? Tentu saja mereka ada. Mereka bersembunyi di balik bayangan kota ini, berbaur dengan kalian, para manusia bodoh yang terlalu sibuk dengan layar ponsel hingga tidak menyadari siapa tetangga kalian sebenarnya. Bahkan jika kau sadar dua diantaranya sudah berada sangat dekat denganmu."
Deg.
Napas Lunaris tercekat di tenggorokan. Seluruh darah di tubuhnya seolah turun drastis ke telapak kakinya. Dunia di sekitarnya mendadak terasa berputar.
Kenyataan bahwa vampir benar-benar nyata dan berkeliaran di kota ini memicu sebuah ingatan traumatis yang selama berhari-hari ia kubur dalam-dalam.
Sebuah memori yang selalu menjadi mimpi buruk terbesarnya.
Kematian ibunya.
Bayangan malam kelam itu kembali berputar di kepala Lunaris dengan sangat jelas. Malam di mana polisi datang dan memberitahu jika ibunya ditemukan tergeletak tak bernyawa di pinggir sungai Khanzaz. Polisi menyimpulkan itu adalah kasus perampokan tapi dokter forensik yang mengotopsi jasad ibunya mengatakan jika ada hal yang selalu mengganjal dan tidak masuk akal. Jasadnya kering kehabisan darah.
Saat Lunaris melihat jasad ibunya untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan ke dalam peti untuk dikremasi. Lunaris melihat jasad ibunya kering. Kulitnya pucat pasi menempel pada tulang. Dan tidak ada setetes darah pun di sekitar tubuh ibunya.
Dan sekarang, dengan kehadiran Sirius dan fakta bahwa makhluk mitos itu nyata...
"K-kalo gitu apa mungkin kalo ibu gue juga dibunuh vampir?" suara Lunaris bergetar hebat. Ia melangkah maju mendekati Sirius, menatap pemuda itu dengan mata membelalak penuh keputusasaan. "lima hari lalu, ibu gue meninggal. Polisi bilang itu perampokan. Tapi jasad ibu gue... jasadnya kering. Gak ada sisa darah di tubuhnya. Apa... apa itu ulah vampir? Apa ibu gue dibunuh sama makhluk-makhluk itu?!"
Lunaris nyaris mencengkeram kerah kemeja Sirius, mencari jawaban atas misteri terbesar dalam hidupnya. Harapan dan amarah bercampur menjadi satu.
Namun, reaksi Sirius benar-benar menghancurkan harapannya.
Iblis tampan itu hanya mengangkat kedua bahunya dengan gerakan acuh tak acuh. Wajahnya yang sempurna tetap datar, tanpa ada sebersit pun simpati di matanya.
"Entahlah," Jawab Sirius ringan, nada suaranya begitu dingin hingga menusuk tulang. "Bisa tidak atau mungkin iya. Entitas malam membunuh manusia adalah siklus rantai makanan yang wajar. Tapi jujur saja, itu bukan urusanku. Aku tidak peduli."
"Gak peduli?!" Pekik Lunaris, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Itu ibu gue! Nyawa manusia yang gak bersalah direnggut sama kaum kalian, dan lo bilang lo gak peduli?!"
"Tepat sekali. Kematian ibumu, atau kematian siapa pun di masa lalumu, sama sekali bukan urusanku," Sirius menundukkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata Lunaris dengan intensitas yang mengintimidasi. "Jangan lupa, Lunaris. Aku di sini bukan untuk menjadi detektif pribadimu, apalagi pahlawan kesiangan yang akan memecahkan misteri kematian ibumu. Aku di sini untuk satu tujuan: mengambil dendam dan penderitaanmu sebagai bayaran atas kontrak jiwa kita setelah aku selesai membalaskan dendammu."
Sirius menegakkan tubuhnya kembali. "Jika kau ingin tahu apakah ibumu dibunuh oleh bangsa vampir atau bukan, kau harus mencari tahunya sendiri. Kemungkinan di dunia ini terlalu banyak. Aku hanya fasilitator untuk kehancuran musuh-musuhmu saat ini. Tidak lebih."
Kata-kata Sirius menampar kesadaran Lunaris. Benar. Iblis ini bukan temannya. Dia adalah monster yang sedang menunggu waktu untuk melahap jiwanya. Mengharapkan empati dari makhluk ini sama konyolnya dengan mengharapkan hujan di tengah gurun.
"Sekarang," Sirius dengan sengaja mengalihkan pembicaraan, memotong jeda emosional Lunaris dengan kejam. "Mari kita bicarakan masalah utamamu hari ini. Seseorang yang menjebakmu, apakah dia yang bernama Bracia? Kau memakinya sangat keras dalam pikiranmu."
Lunaris terdiam kaku. Hanya mendengar nama itu saja sudah membuat perutnya mual dan darahnya kembali mendidih. Ingatan tentang video editan yang menjijikkan itu, tentang tatapan merendahkan kepala sekolah, dan tentang masa depannya yang hancur lebur... semuanya membuat Lunaris merasa sakit hati, marah, kecewa, dan jijik yang melebur menjadi satu gumpalan hitam di dadanya.
"Kau ingin membalas perbuatan mereka?" Tawar Sirius, suaranya kini merendah, terdengar sangat menggoda bak bisikan ular berbisa di taman firdaus. "Kau ingin aku menghabisi mereka sekarang juga? Aku bisa mematahkan leher gadis itu sebelum ia sempat berkedip. Aku bisa membuat darah kelima berandal itu melukis dinding koridor sekolah ini. Katakan saja, Lunaris. Cukup dengan kata iya darimu, dan semua orang yang membuatmu hancur akan lenyap dari muka bumi dalam sekejap mata."
Tatapan mata perak itu seolah menghipnotis Lunaris. Hati kecil gadis itu, yang telah hancur dan dipenuhi oleh amarah yang tak tertahankan, berteriak setuju. Ia sangat lelah ditindas. Ia ingin Bracia merasakan kehancuran yang sama. Ia ingin mereka semua mati.
Mulut Lunaris perlahan terbuka. Kata "iya" sudah berada di ujung lidahnya.
Keputusasaan nyaris menguasai kewarasannya sepenuhnya.
Namun, sebelum suara itu keluar dari tenggorokannya...
"Lunaris!"
Sebuah teriakan panik memecah ketegangan di antara mereka. Suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah koridor, menginjak ranting kering di taman belakang.
Belum sempat Lunaris menoleh sepenuhnya, sebuah tubuh tegap menabraknya pelan, merengkuh tubuh kecil gadis itu ke dalam sebuah pelukan yang sangat erat dan posesif.
Aroma parfum maskulin yang sangat familiar bagi Lunaris memenuhi indra penciuman Lunaris.
Aaron.
Cowok itu memeluk Lunaris dengan napas terengah-engah, seolah ia baru saja berlari maraton mengelilingi sekolah untuk mencarinya.
"Luna, akhirnya gue bisa nemuin lo," Ucap Aaron dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran luar biasa. Cowok itu membenamkan wajahnya di puncak kepala Lunaris. "Gue baru denger kabar gila itu dari anak-anak kelas. Soal video sialan yang nyebar di grup angkatan, dan... dan soal Pak Harrison yang nyabut beasiswa lo."
Di sisi lain, Sirius, yang baru saja nyaris berhasil mengunci kesepakatan maut dengan Lunaris, kini berdiri mematung di tempatnya.
Sang entitas iblis kuno, pangeran kegelapan yang ditakuti di berbagai dimensi, baru saja diabaikan. Secara total.
Kehadiran Aaron yang tiba-tiba menyerbu masuk benar-benar membuat Sirius mendadak cosplay menjadi oksigen—ada, dihirup, tapi sama sekali tidak dianggap keberadaannya oleh manusia yang baru datang tersebut.
Mata perak Sirius menyipit tajam. Ia menatap adegan pelukan dramatis layaknya sinetron murahan di depannya dengan perasaan muak yang luar biasa. Baginya, melihat manusia saling bertukar cairan keringat dan emosi palsu adalah hal yang sangat menjijikkan.
Aaron akhirnya melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Lunaris. Wajah tampannya menyorotkan kecemasan yang mendalam. "Lo baik-baik aja, kan, Lun? Mereka gak ada yang nyakitin lo secara fisik pagi ini? Bilang sama gue siapa yang berani nyebarin video murahan itu!"
"A-Aaron..." Lunaris tergagap, masih sedikit terkejut dengan kedatangan sahabat masa kecilnya itu. "Gue..."
"Lo gak usah takut," Potong Aaron cepat, suaranya penuh dengan janji-janji manis seorang kesatria pelindung. "Gue janji bakal bantu lo. Gue bakal ngomong sama Papa, buat minta tolong yayasan balikin beasiswa lo. Dan soal video itu, gue bakal kerahin orang buat ngelacak siapa penyebar pertamanya. Lo gak sendirian, Luna. Gue ada di sini buat lo"
Mendengar rentetan kalimat "pahlawan" yang keluar dari mulut Aaron, Sirius mendengus keras. Sebuah dengusan sinis yang sarat akan ejekan.
Mendengar suara itu, Aaron baru menyadari bahwa ada orang lain di taman tersebut. Ia menoleh, keningnya berkerut melihat seorang pemuda bertubuh lebih tinggi darinya, mengenakan seragam elit Sevit yang sama, menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"LO!? Lo ngapain disini?" Tanya Aaron waspada, secara naluriah menarik Lunaris sedikit ke belakang punggungnya.
Sirius memutar bola matanya malas. Ia sudah kehilangan selera untuk berada di antara dua manusia yang menurutnya sangat membosankan ini. Aroma kepalsuan dari Aaron membuat hidungnya gatal.
"Jangan hiraukan keberadaanku. Dan tentu saja aku disini karena aku juga siswa di sekolah ini" Ucap Sirius dengan nada sarkas yang tajam. Ia merapikan kerah blazernya dengan gerakan elegan, lalu melirik ke arah Lunaris.
"Waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan menonton drama remaja picisan," kata Sirius dingin pada gadis itu. Sebelum berbalik pergi, Sirius menatap tepat ke dalam mata Lunaris, mengirimkan pesan tanpa suara yang sangat jelas. "Lunaris. Semua keputusan ada di tanganmu. Apapun yang kau pilih, pilihannya mutlak milikmu."
Tanpa menunggu balasan, Sirius berbalik dan melangkah pergi meninggalkan taman belakang. Langkah kakinya begitu ringan, tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas tumpukan daun kering, hingga bayangannya menghilang di balik tikungan koridor.
Setelah Sirius benar-benar pergi, Aaron kembali menatap Lunaris. "Luna? Kenapa bisa dia jadi siswa sekolah ini?"
Lunaris menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Aaron. Pikirannya masih berkecamuk hebat. Tawaran darah dari Sirius, pencabutan beasiswanya, kenyataan tentang makhluk malam, dan kini... janji-janji Aaron.
Semuanya terasa terlalu berat.
"Gue juga gak tau," Jawab Lunaris pelan, menarik napas panjang untuk mengumpulkan kepingan harga dirinya yang tersisa. Ia mendongak, menatap mata sahabat masa kecilnya itu dengan sorot yang kini berubah dingin dan lelah.
"Aaron..." Lunaris perlahan melepaskan tangan cowok itu dari bahunya. "Makasih atas niat baik lo. Tapi gue gak butuh bantuan lo."
Senyum penuh kelegaan di wajah Aaron mendadak kaku. "M-maksud lo apa? Ini bukan masalah sepele. Beasiswa lo dicabut! Lo butuh koneksi keluargaku buat beresin ini."
"Gue bilang, gue gak butuh," Tegas Lunaris, suaranya lebih keras dari sebelumnya. "Gue bisa nyelesaiin semua masalah gue sendiri. Gue gak mau terus-terusan jadi orang lemah yang harus selalu bergantung dan berlindung di balik punggung lo. Gue gak mau lo ikut campur urusan gue kali ini, Aaron. Selama ini lo udah cukup baik bantuin gue banyak hal, tapi buat kali ini biarin gue selesaiin masalah gue sendiri. Tolong hargai keputusan gue."
Tanpa Lunaris sadari, penolakan itu menorehkan luka yang tak terlihat pada ego Aaron.
Jauh di dalam hati cowok pujaan sekolah itu, ada rasa tersinggung yang tajam. Aaron selalu menyukai posisi ini—posisi sebagai penyelamat, pelindung, sosok superior yang selalu dibutuhkan oleh Lunaris yang rapuh.
Penolakan mentah-mentah dari Lunaris barusan membuat harga dirinya sebagai laki-laki merasa diinjak.
Namun, Aaron adalah aktor yang sangat handal dalam menyembunyikan emosi gelapnya. Hanya butuh sepersekian detik bagi raut wajahnya yang mengeras untuk kembali melembut menjadi topeng sahabat yang penuh pengertian.
Aaron memaksakan sebuah senyum hangat, meski matanya tidak ikut tersenyum. Ia kembali meraih tangan Lunaris, menggenggamnya lembut.
"Gue ngerti kalau lo lagi emosi dan syok hari ini,m," Ucap Aaron dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat menenangkan.
"Lo pasti butuh waktu sendiri. Tapi tolong ingat satu hal... kita ini sahabat. Kita udah temenan dari kecil. Kalau lo merasa udah gak sanggup nanggung ini sendirian, jangan pernah sungkan buat datang ke gue, ya? Gue selalu siap buat bantu lo kapanpun lo minta."
Lunaris hanya mengangguk pelan, terlalu
lelah untuk berdebat lebih jauh. Ia menarik tangannya dari genggaman Aaron, lalu berjalan gontai meninggalkan taman, bersiap menghadapi sisa kehancuran harinya.
Sementara di belakangnya, Aaron berdiri diam menatap punggung Lunaris yang semakin menjauh. Senyum hangat di bibir cowok itu perlahan lenyap, digantikan oleh raut wajah datar yang sangat dingin dan sulit ditebak.
Matanya menyorotkan sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar rasa simpati.
lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
walau sebagian tentang kilas balik...
segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭