Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat Lari, Eva!
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Di tengah adegan intens saat para balerina berputar dan melayang di udara, HPku mulai berdering.
Sial.
Sambil mengambil tas, aku mencari HPnya buat mematikan suara, tapi begitu lihat nama Nasrin di layar, aku langsung angkat dan bilang,
...📞...
"Tunggu sebentar."
Aku lempar tatapan minta maaf ke Farris sebelum berdiri dan buru-buru keluar dari auditorium.
Musiknya masih kencang saat aku jalan di koridor, HP menempel di telinga.
"Ada apa?"
^^^"Ka ... kamu pe ... lu ...."^^^
"Tunggu, sinyalnya jelek."
Aku harap dia masih bisa dengar.
Teleponnya putus tepat saat aku sampai di lobi dan memastikan semua wartawan sudah pergi. Aku langsung menelepon Nasrin lagi sambil melangkah ke trotoar.
^^^"Hei, kamu bisa dengar aku?"^^^
Suara Nasrin sekarang terdengar lebih jelas.
"Bisa. Kenapa kamu nelepon?"
Astaga, dingin banget. Harusnya aku bawa jaket.
^^^"Keadaannya kacau. Ada orang nyari kamu sama Sahara. Waktu Yoyot ngadepin mereka, bajingan-bajingan itu nembak dia!"^^^
"Apa?"
Aku menarik napas tajam saat rasa kaget menyetrum sekujur tubuhku.
^^^"Jangan pulang malam ini. Ke rumah Farris aja. Ambon bilang dia bakal ngurus semuanya di sini!"^^^
"Yoyot enggak apa-apa?"
Aku mungkin enggak suka gangster itu, tapi dengar dia ditembak gara-gara Sahara itu kacau banget.
^^^"Mereka bawa dia buru-buru ke rumah sakit. Aku enggak tahu kondisinya gimana."^^^
Suara Nasrin tegang.
^^^"Kamu harus hati-hati. Aku bakal ngecek tempat Sahara biasa nongkrong."^^^
"Jangan!"
Aku buru-buru teriak.
"Jauhin dia. Aku enggak—"
Ucapanku terputus saat sebuah Grand Max berhenti mendadak di jalan. Begitu beberapa pria keluar dari kendaraan itu dan pandangan mereka tertuju ke arahku, aku langsung memutar badan dan lari kembali ke lobi.
"Mereka ada di sini?"
^^^"Lari, Evaaaaaaa!"^^^
Suara Nasrin yang panik terdengar di telepon.
"Ada apa?" tanya Chaca.
"Lari. Lari. Lariiiiii!" teriakku ke satpam itu.
Nahas, seseorang telah menyergapku dari belakang, dan HPku terlempar dari tangan.
Sial!
Saat Chaca mengeluarkan senjatanya, sebuah tembakan meletus di dekat telingaku, membuat pendengaranku langsung hilang.
Yang aku dengar cuma dengungan nyaring saat aku lihat Chaca terjatuh ke lantai.
Jantungku langsung berdentum keras di dada dan rasa yang mengerikan menyebar di kulitku.
"Jangaaaaan!" teriakku saat tubuhku diangkat dan diseret keluar dari lobi.
Aku mulai meronta, coba memukul dan menendang buat lepas dari situasi ini.
Aku diseret ke dalam Grand Max dan dilempar masuk ke dalam kendaraan itu. Sebelum aku sempat sadar sepenuhnya, tangan-tangan lain mencengkeramku, borgol menjepit pergelangan tanganku.
"Berhentiiiiiii ... Berhentiiiii!" Aku terengah.
Grand Max ini melaju kencang dengan ban berdecit, aku berusaha jaga keseimbangan saat kami berbelok di tikungan.
Salah satu pria itu mencengkeram tengkukku, menarik rambutku, lalu memaksaku menatap pria lain yang sedang melototi aku.
"Di mana Lonte yang kamu sebut Mama itu?"
"Aku enggak tahu, dan dia bukan Mama aku!" Aku meludah.
"Dia ngutang 500 juta ke aku!"
Aku berusaha mengangkat dagu, pura-pura lebih berani. "Itu bukan urusan aku!"
Ujung bibirnya terangkat sedikit sebelum tangannya melayang di pipiku.
...PLAKKKK...
Aku merasa bibirku pecah saat rasa sakit meledak di belakang mata kananku.
"Kalau Sahara enggak bayar utangnya, kamu yang bakal bayar!" bentaknya ke arahku.
Lidahku bergerak, merasakan asin darah di bibirku, lalu aku bilang, "Aku enggak punya uang!"
Pria itu menatapku beberapa detik, sebelum tertawa gelap. "Kalau kamu enggak bisa bayar pakai uang, ya berarti kamu harus melunasinya dengan cara lain, goblok!"
Melunasi utang?
Enggak.
Aku mulai geleng-geleng, jantungku copot karena takut pekerjaan apa yang bakal aku lakukan.
Prostitusi.
Atau aku bakal dipaksa jadi kurir narkoba.
Dua-duanya sama-sama bejad.
"Lepasin aku, aku bakal cari cara buat dapetin uangnya!" Aku mencoba nego sama pengedar itu.
Dia memiringkan kepala, matanya menyapu gaun yang aku pakai, lalu bergumam, "Gimana caranya kamu dapet 500 juta dalam dua puluh empat jam?"
Astaga.
Itu mustahil.
"Aku minta waktu lebih lama!"
Sekitar setahun mungkin atau lebih.
Dia bersandar di kursi dan menyilangkan kaki. "Nah, itu masalahnya. Aku enggak punya waktu. Bos aku mau 500 juta itu sekarang."
Sialan memang Sahara.
Sumpah, kalau aku ketemu dia lagi, aku bakal bunuh dia.
"Aku enggak ngerti kenapa aku harus bayar utang Sahara. Dia bukan Mama aku!" kataku, meski aku tahu omongan itu enggak ada artinya buat orang-orang ini.
Dia cuma mengangkat bahu, enggak menanggapi ucapanku. Sambil mengeluarkan sebungkus rokok, dia menyalakan satu batang.
Aku memperhatikan lima pria itu sambil menggerak-gerakkan tanganku, tapi saat borgolnya makin menusuk kulit, aku berhenti. Aku melirik keluar jendela saat kami melewati jembatan dan bertanya-tanya ke mana mereka akan membawaku.
Aku menelan ludah buat mengurangi rasa kering di tenggorokan, lalu bertanya, "Kita mau ke mana?"
Pria di sebelah aku mendesis, "Tutup mulutmu!"
"Aku cuma mau—"
...PLAKKKKK...
Sebuah tamparan mendarat di kepalaku. Kerasnya membuat kepalaku pening, tapi itu enggak menghentikanku buat menginjak sepatu si idiot itu pakai hak dua belas sentimeter aku.
"Kasih dia sesuatu biar tenang!" gumam si pemimpin sambil menjatuhkan abu rokok ke lantai.
Mataku membelalak dan aku langsung geleng-geleng tanpa kendali. "Aku bakal diam."
Salah si idiot itu mengeluarkan suntikan dari sakunya. Begitu dia buka penutupnya, aku berdiri dari kursi dan terhuyung di ruang sempit itu, berusaha menjauh darinya.
Aku dijatuhkan. Begitu jatuh ke lantai, tubuhku didorong telungkup. Jarum itu menembus kulitku dan membuatku menjerit.
Aku sudah lihat sendiri bagaimana narkoba menghancurkan hidup seseorang. Bagaimana itu melahap Sahara hidup-hidup.
Saat sensasi aneh mulai bikin pikiranku mati rasa, aku menghela napas, menekan lantai.
Setiap detik yang berlalu, tubuhku makin melambat dan pikiranku mulai kacau.
Rasanya seperti terjebak di dunia di mana semuanya bergerak dengan cepat dan lambat sekaligus.
Aku tergeletak di lantai sepanjang perjalanan, lampu dan bayangan mereka melebur di depan mataku.
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...