Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - Harga yang Tidak Bisa Ditawar
"Kamu siap?"
Aluna berdiri di balik pintu kaca gedung pengadilan. Suara wartawan terdengar seperti dengung lebah, ramai, mendesak, tak sabar.
Pengacaranya menatapnya. "Tidak ada yang benar-benar siap untuk ini."
Aluna mengangguk. "Aku tahu."
Pintu dibuka.
"ALUNA! APA ANDA MENYESAL?"
"BENARKAH ANDA MANIPULATIF SEJAK AWAL?"
"ANDA MERUSAK KARIER BANYAK ORANG, APA TANGGAPAN ANDA?"
Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kamera menyala.
Aluna berhenti berjalan.
Pengacaranya berbisik panik, "Jangan..."
"Tunggu." Kata Aluna.
Dia menatap ke arah kamera. Suaranya tidak keras, tapi jelas. "Aku tidak berdiri di sini untuk membela citra." Katanya. "Aku berdiri karena aku memilih bertanggung jawab."
Seorang wartawan menyela, "Itu terdengar seperti pembenaran.”
Aluna menggeleng. "Pembenaran itu melarikan diri. Aku tidak pergi."
"Apakah Anda mengaku bersalah?"
"Aku mengakui tindakanku melukai orang lain." Jawab Aluna. "Dan itu cukup untuk memulai."
Hening sepersekian detik. Lalu suara kembali meledak.
Di dalam ruang sidang, Aluna duduk. Tangannya dingin. Ibunya duduk di bangku belakang.
"Bu." Bisik Aluna saat menoleh, "kalau aku jatuh..."
Ibunya memotong pelan, "Kamu tidak jatuh. Kamu berdiri tanpa topeng. Itu yang menakutkan mereka."
Air mata Aluna jatuh tanpa suara.
Berita itu menyebar cepat.
"MANTAN AKTIVIS KAMPUS HADAPI SIDANG, PILIH TETAP HADIR"
"ALUNA, BERANI ATAU TERPAKSA?"
Komentar bermunculan.
[Sok berani padahal sudah ketahuan.]
[Minimal dia nggak kabur.]
[Terlambat untuk minta maaf.]
Aluna menutup ponsel. "Ini konsekuensi." Gumamnya. "Bukan hukuman. Belum."
Pengacaranya menatapnya serius. "Kamu akan kehilangan kesempatan kerja. Jaringan. Nama baik."
Aluna tersenyum lemah. "Aku sudah kehilangannya bahkan sebelum jujur."
Dia menatap jendela. "Tapi setidaknya sekarang... aku tidak berpura-pura."
***
"Rak." Kata Pak Jaya pelan, "kita benar-benar harus bicara."
Bengkel sepi. Hanya suara kipas tua.
"Pendapatan bulan ini turun drastis." Lanjut Pak Jaya. "Kalau begini terus..."
Raka mengangguk. "Aku paham."
"Kamu punya tempat lain?"
Raka menggeleng.
Pak Jaya menghela napas. "Aku tidak mau menahanmu. Kamu bisa cari yang lebih layak."
Raka menatap lantai. "Kalau aku pergi, bengkel ini..."
"Akan tetap jalan." Potong Pak Jaya. "Tapi lebih lambat."
Raka pulang dengan kepala berat. Di kos, dia membuka dompet. Uang tunai tinggal sedikit.
Dia mengirim pesan ke Nadira.
[Kamu ada waktu bicara?]
Beberapa menit kemudian, telepon berdering.
"Raka?"
"Iya."
"Kamu kedengaran... berat."
Raka tertawa pendek. "Aku tidak tahu harus mulai bicara dari mana."
"Dari jujur." Kata Nadira lembut.
"Aku butuh uang." Kata Raka akhirnya. "Dan jalan pintas itu... masih ada."
Nadira terdiam. "Kamu mau aku bilang apa?" Tanyanya.
"Apapun." Jawab Raka lirih.
"Kalau kamu ambil jalan itu." Kata Nadira pelan, "Kamu akan selamat sekarang. Tapi kamu akan membenci dirimu sendiri nanti."
Raka menutup mata. "Dan kalau aku tidak ambil?"
"Kamu akan takut." Jawab Nadira. "Tapi kamu tetap kamu."
Hening.
"Aku benci pilihan ini." Kata Raka.
"Pilihan yang benar memang jarang nyaman." Jawab Nadira.
Malam itu, Raka duduk di warung makan murah.
"Tambah nasi?" Tanya ibu warung.
"Tidak usah, Bu."
Dia menghitung koin sebelum membayar.
Di luar, hujan turun. Raka membuka ponsel. Pesan dari Bima masuk lagi.
[Tawaran masih ada. Terakhir.]
Raka menatap layar lama. Ia mengetik... berhenti... mengetik lagi. Akhirnya ia menulis,
[Aku tidak bisa. Jangan hubungi aku lagi.]
Dia menekan kirim. Tangannya gemetar.
"Ini harga yang kupilih." Katanya pada dirinya sendiri. "Sekarang aku harus bertahan."
***
"Nama kamu mulai sering disebut." Kata Sinta sambil menyerahkan berkas.
"Dalam konteks baik?" Tanya Nadira.
"Belum tentu."
Nadira membuka berkas itu. Ada undangan diskusi lanjutan dan satu artikel opini.
"NADIRA WAJAH BARU DATA ATAU MASA LALU YANG BELUM SELESAI?"
Nadira menghela napas. "Ini terlalu cepat." Gumamnya.
Koordinator mendekat. "Diakui berarti diperiksa. Kamu siap?"
"Tidak." Jawab Nadira jujur. "Tapi aku tidak mau mundur."
Dalam rapat, seorang anggota tim berkata, "Kalau reputasinya diserang, proyek kita bisa kena."
Sinta menoleh ke Nadira. "Kamu mau bicara?"
Nadira berdiri. "Aku tidak minta kalian membelaku." Katanya tenang. "Aku minta kesempatan dinilai dari kerjaku sekarang."
"Dan kalau masa lalumu dipakai untuk menjatuhkan kita?" Tanya yang lain.
"Maka aku hadapi sendiri." Jawab Nadira. "Aku tidak akan menyeret tim."
Ruangan hening.
Koordinator mengangguk pelan. "Baik. Tapi ingat sorotan itu kejam."
Nadira tersenyum tipis. "Aku sudah mati sekali. Aku tahu rasanya."
Siang hari, Nadira bertemu Arvin di perpustakaan kota.
"Kamu kelihatan lelah." Kata Arvin.
"Karena sekarang aku mulai terlihat." Jawab Nadira.
"Itu yang kamu mau?"
"Sebagian." Katanya. "Aku mau diakui. Tapi aku lupa.. diakui berarti diserang."
Arvin menatapnya lama. "Kamu masih bisa mundur."
Nadira menggeleng. "Kalau aku mundur sekarang, semua yang kulalui sia-sia."
Arvin tersenyum kecil. "Kamu tidak berubah. Kamu hanya lebih jujur."
Nadira tertawa pelan. "Aku takut."
"Takut itu tanda kamu peduli." Kata Arvin. "Yang berbahaya itu tidak takut sama sekali."
***
Setelah sidang, Aluna berjalan sendiri ke halte. Tidak ada yang menghampiri. Tidak ada yang memeluk. Dia duduk, menunggu bus.
Seorang perempuan muda duduk di sebelahnya. "Kamu Aluna, ya?"
Aluna menegang. "Iya."
"Aku dulu ikut organisasi kamu." Kata perempuan itu. "Aku keluar karena aku merasa... kecil."
Aluna menunduk. "Aku minta maaf."
Perempuan itu terdiam sejenak. "Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan. Tapi... aku menghargai kamu tidak kabur."
Bus datang. Perempuan itu naik lebih dulu. Aluna duduk lama setelah bus pergi.
"Itu juga konsekuensi." Gumamnya. "Tidak semua luka bisa ditutup cepat."
***
Lampu kos mati. Listrik diputus sementara. Raka duduk dalam gelap. Dia mengingat hidup lamanya kafe terang, rapat penting, nama besar. Sekarang, sunyi.
Dia menelepon Nadira. "Lampuku mati." Katanya setengah bercanda.
Nadira tersenyum di seberang. "Kamu masih hidup?"
"Iya."
"Itu sudah kemajuan."
Mereka tertawa pelan.
"Nad." Kata Raka tiba-tiba, "kalau suatu hari aku gagal..."
"Kamu akan gagal." Potong Nadira. "Dan kamu akan bangun lagi."
Raka menghela napas. "Terima kasih tidak menyelamatkanku."
Nadira tersenyum. "Aku juga belajar diselamatkan diri sendiri."
Keesokan harinya presentasi lanjutan. Pertanyaan lebih tajam. Nada lebih dingin.
"Bagaimana kami tahu Anda tidak memanipulasi data?" Tanya seseorang.
Nadira menatap langsung. "Karena datanya terbuka. Kalian bisa cek."
"Dan reputasi Anda?"
"Itu milik masa lalu." Jawab Nadira. "Kerja saya ada di depan kalian."
Sunyi.
Seseorang mengangguk. "Kita lanjut."
Saat keluar ruangan, kaki Nadira gemetar. Sinta menepuk bahunya. "Kamu lolos."
Nadira menghela napas panjang. "Satu ujian."
"Banyak lagi." Kata Sinta.
Nadira tersenyum tipis. "Aku sudah berhenti berharap hidup mudah."
Di bawah sorotan yang semakin terang,
Aluna membayar keberaniannya dengan kehancuran citra dan awal kejujuran.
Raka menolak keselamatan instan dan memilih bertahan dalam gelap.
Nadira berdiri di panggung baru, sadar bahwa pengakuan adalah medan perang lain.
Tidak ada yang menang hari ini. Tapi tidak ada yang lari. Dan di dunia yang terbiasa dengan kepura-puraan, bertahan tanpa topeng adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling mahal dalam hidup seseorang.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍