NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Harga yang Tidak Bisa Ditawar

"Kamu siap?"

Aluna berdiri di balik pintu kaca gedung pengadilan. Suara wartawan terdengar seperti dengung lebah, ramai, mendesak, tak sabar.

Pengacaranya menatapnya. "Tidak ada yang benar-benar siap untuk ini."

Aluna mengangguk. "Aku tahu."

Pintu dibuka.

"ALUNA! APA ANDA MENYESAL?"

"BENARKAH ANDA MANIPULATIF SEJAK AWAL?"

"ANDA MERUSAK KARIER BANYAK ORANG, APA TANGGAPAN ANDA?"

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kamera menyala.

Aluna berhenti berjalan.

Pengacaranya berbisik panik, "Jangan..."

"Tunggu." Kata Aluna.

Dia menatap ke arah kamera. Suaranya tidak keras, tapi jelas. "Aku tidak berdiri di sini untuk membela citra." Katanya. "Aku berdiri karena aku memilih bertanggung jawab."

Seorang wartawan menyela, "Itu terdengar seperti pembenaran.”

Aluna menggeleng. "Pembenaran itu melarikan diri. Aku tidak pergi."

"Apakah Anda mengaku bersalah?"

"Aku mengakui tindakanku melukai orang lain." Jawab Aluna. "Dan itu cukup untuk memulai."

Hening sepersekian detik. Lalu suara kembali meledak.

Di dalam ruang sidang, Aluna duduk. Tangannya dingin. Ibunya duduk di bangku belakang.

"Bu." Bisik Aluna saat menoleh, "kalau aku jatuh..."

Ibunya memotong pelan, "Kamu tidak jatuh. Kamu berdiri tanpa topeng. Itu yang menakutkan mereka."

Air mata Aluna jatuh tanpa suara.

Berita itu menyebar cepat.

"MANTAN AKTIVIS KAMPUS HADAPI SIDANG, PILIH TETAP HADIR"

"ALUNA, BERANI ATAU TERPAKSA?"

Komentar bermunculan.

[Sok berani padahal sudah ketahuan.]

[Minimal dia nggak kabur.]

[Terlambat untuk minta maaf.]

Aluna menutup ponsel. "Ini konsekuensi." Gumamnya. "Bukan hukuman. Belum."

Pengacaranya menatapnya serius. "Kamu akan kehilangan kesempatan kerja. Jaringan. Nama baik."

Aluna tersenyum lemah. "Aku sudah kehilangannya bahkan sebelum jujur."

Dia menatap jendela. "Tapi setidaknya sekarang... aku tidak berpura-pura."

***

"Rak." Kata Pak Jaya pelan, "kita benar-benar harus bicara."

Bengkel sepi. Hanya suara kipas tua.

"Pendapatan bulan ini turun drastis." Lanjut Pak Jaya. "Kalau begini terus..."

Raka mengangguk. "Aku paham."

"Kamu punya tempat lain?"

Raka menggeleng.

Pak Jaya menghela napas. "Aku tidak mau menahanmu. Kamu bisa cari yang lebih layak."

Raka menatap lantai. "Kalau aku pergi, bengkel ini..."

"Akan tetap jalan." Potong Pak Jaya. "Tapi lebih lambat."

Raka pulang dengan kepala berat. Di kos, dia membuka dompet. Uang tunai tinggal sedikit.

Dia mengirim pesan ke Nadira.

[Kamu ada waktu bicara?]

Beberapa menit kemudian, telepon berdering.

"Raka?"

"Iya."

"Kamu kedengaran... berat."

Raka tertawa pendek. "Aku tidak tahu harus mulai bicara dari mana."

"Dari jujur." Kata Nadira lembut.

"Aku butuh uang." Kata Raka akhirnya. "Dan jalan pintas itu... masih ada."

Nadira terdiam. "Kamu mau aku bilang apa?" Tanyanya.

"Apapun." Jawab Raka lirih.

"Kalau kamu ambil jalan itu." Kata Nadira pelan, "Kamu akan selamat sekarang. Tapi kamu akan membenci dirimu sendiri nanti."

Raka menutup mata. "Dan kalau aku tidak ambil?"

"Kamu akan takut." Jawab Nadira. "Tapi kamu tetap kamu."

Hening.

"Aku benci pilihan ini." Kata Raka.

"Pilihan yang benar memang jarang nyaman." Jawab Nadira.

Malam itu, Raka duduk di warung makan murah.

"Tambah nasi?" Tanya ibu warung.

"Tidak usah, Bu."

Dia menghitung koin sebelum membayar.

Di luar, hujan turun. Raka membuka ponsel. Pesan dari Bima masuk lagi.

[Tawaran masih ada. Terakhir.]

Raka menatap layar lama. Ia mengetik... berhenti... mengetik lagi. Akhirnya ia menulis,

[Aku tidak bisa. Jangan hubungi aku lagi.]

Dia menekan kirim. Tangannya gemetar.

"Ini harga yang kupilih." Katanya pada dirinya sendiri. "Sekarang aku harus bertahan."

***

"Nama kamu mulai sering disebut." Kata Sinta sambil menyerahkan berkas.

"Dalam konteks baik?" Tanya Nadira.

"Belum tentu."

Nadira membuka berkas itu. Ada undangan diskusi lanjutan dan satu artikel opini.

"NADIRA WAJAH BARU DATA ATAU MASA LALU YANG BELUM SELESAI?"

Nadira menghela napas. "Ini terlalu cepat." Gumamnya.

Koordinator mendekat. "Diakui berarti diperiksa. Kamu siap?"

"Tidak." Jawab Nadira jujur. "Tapi aku tidak mau mundur."

Dalam rapat, seorang anggota tim berkata, "Kalau reputasinya diserang, proyek kita bisa kena."

Sinta menoleh ke Nadira. "Kamu mau bicara?"

Nadira berdiri. "Aku tidak minta kalian membelaku." Katanya tenang. "Aku minta kesempatan dinilai dari kerjaku sekarang."

"Dan kalau masa lalumu dipakai untuk menjatuhkan kita?" Tanya yang lain.

"Maka aku hadapi sendiri." Jawab Nadira. "Aku tidak akan menyeret tim."

Ruangan hening.

Koordinator mengangguk pelan. "Baik. Tapi ingat sorotan itu kejam."

Nadira tersenyum tipis. "Aku sudah mati sekali. Aku tahu rasanya."

Siang hari, Nadira bertemu Arvin di perpustakaan kota.

"Kamu kelihatan lelah." Kata Arvin.

"Karena sekarang aku mulai terlihat." Jawab Nadira.

"Itu yang kamu mau?"

"Sebagian." Katanya. "Aku mau diakui. Tapi aku lupa.. diakui berarti diserang."

Arvin menatapnya lama. "Kamu masih bisa mundur."

Nadira menggeleng. "Kalau aku mundur sekarang, semua yang kulalui sia-sia."

Arvin tersenyum kecil. "Kamu tidak berubah. Kamu hanya lebih jujur."

Nadira tertawa pelan. "Aku takut."

"Takut itu tanda kamu peduli." Kata Arvin. "Yang berbahaya itu tidak takut sama sekali."

***

Setelah sidang, Aluna berjalan sendiri ke halte. Tidak ada yang menghampiri. Tidak ada yang memeluk. Dia duduk, menunggu bus.

Seorang perempuan muda duduk di sebelahnya. "Kamu Aluna, ya?"

Aluna menegang. "Iya."

"Aku dulu ikut organisasi kamu." Kata perempuan itu. "Aku keluar karena aku merasa... kecil."

Aluna menunduk. "Aku minta maaf."

Perempuan itu terdiam sejenak. "Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan. Tapi... aku menghargai kamu tidak kabur."

Bus datang. Perempuan itu naik lebih dulu. Aluna duduk lama setelah bus pergi.

"Itu juga konsekuensi." Gumamnya. "Tidak semua luka bisa ditutup cepat."

***

Lampu kos mati. Listrik diputus sementara. Raka duduk dalam gelap. Dia mengingat hidup lamanya kafe terang, rapat penting, nama besar. Sekarang, sunyi.

Dia menelepon Nadira. "Lampuku mati." Katanya setengah bercanda.

Nadira tersenyum di seberang. "Kamu masih hidup?"

"Iya."

"Itu sudah kemajuan."

Mereka tertawa pelan.

"Nad." Kata Raka tiba-tiba, "kalau suatu hari aku gagal..."

"Kamu akan gagal." Potong Nadira. "Dan kamu akan bangun lagi."

Raka menghela napas. "Terima kasih tidak menyelamatkanku."

Nadira tersenyum. "Aku juga belajar diselamatkan diri sendiri."

Keesokan harinya presentasi lanjutan. Pertanyaan lebih tajam. Nada lebih dingin.

"Bagaimana kami tahu Anda tidak memanipulasi data?" Tanya seseorang.

Nadira menatap langsung. "Karena datanya terbuka. Kalian bisa cek."

"Dan reputasi Anda?"

"Itu milik masa lalu." Jawab Nadira. "Kerja saya ada di depan kalian."

Sunyi.

Seseorang mengangguk. "Kita lanjut."

Saat keluar ruangan, kaki Nadira gemetar. Sinta menepuk bahunya. "Kamu lolos."

Nadira menghela napas panjang. "Satu ujian."

"Banyak lagi." Kata Sinta.

Nadira tersenyum tipis. "Aku sudah berhenti berharap hidup mudah."

Di bawah sorotan yang semakin terang,

Aluna membayar keberaniannya dengan kehancuran citra dan awal kejujuran.

Raka menolak keselamatan instan dan memilih bertahan dalam gelap.

Nadira berdiri di panggung baru, sadar bahwa pengakuan adalah medan perang lain.

Tidak ada yang menang hari ini. Tapi tidak ada yang lari. Dan di dunia yang terbiasa dengan kepura-puraan, bertahan tanpa topeng adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling mahal dalam hidup seseorang.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!