NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09 Garis yang Tidak Bisa Dihapus

Ruang direktur terasa lebih sunyi dari biasanya.

Aruna masuk tanpa basa-basi. Calvin sudah duduk di belakang mejanya, layar laptop menyala dengan beberapa dokumen terbuka. Tatapannya langsung terangkat ketika Aruna menutup pintu.

“Audit menemukan sesuatu,” katanya singkat. “Jejak perubahan data sebelum laporan Eastbay disahkan.”

Aruna berdiri tegak. “Mengarah ke siapa?”

“Belum jelas,” jawab Calvin. “Tapi aksesnya terbatas. Sangat terbatas.”

Kalimat itu membawa arti yang tak perlu dijelaskan panjang. Lingkaran kecil. Orang dalam.

“Ada kemungkinan sistem dimanipulasi dari luar?” tanya Aruna.

Calvin menggeleng. “IT sudah cek. Ini dilakukan oleh seseorang yang tahu persis apa yang dihapus… dan apa yang dibiarkan.”

Aruna menarik napas dalam. Potongan-potongan mulai menyatu—dokumen yang terlalu rapi, waktu yang presisi, dan korban yang dipilih dengan sempurna.

“Saya bertemu Raka tadi,” katanya.

Keheningan jatuh.

Tatapan Calvin mengeras sedikit. “Di mana?”

“Basement,” jawab Aruna jujur. “Dia ingin tahu kebenaran.”

Calvin bersandar pelan. “Itu berisiko.”

“Saya tahu,” kata Aruna. “Tapi dia bukan musuh. Dia korban.”

Calvin menatapnya lama. Tidak ada kemarahan, hanya perhitungan. “Apa yang kamu janjikan?”

“Bahwa saya akan mencoba membuka kasus ini dari dalam.”

Alis Calvin bergerak tipis. “Itu bukan janji kecil.”

“Saya tidak menganggapnya kecil,” balas Aruna tenang.

Ruangan kembali hening. Kota di balik kaca tampak bergerak tanpa peduli drama yang terjadi di lantai atas.

“Kamu sadar,” kata Calvin akhirnya, “begitu kamu mulai menggali, seseorang akan tahu.”

“Saya sudah diasumsikan terlibat,” jawab Aruna. “Diam pun tidak membuat saya aman.”

Kalimat itu menggantung dengan kebenaran yang sulit dibantah.

Calvin membuka satu file di laptopnya dan memutar layar sedikit ke arah Aruna. Tabel akses sistem muncul—nama, waktu, perubahan.

“Saya belum menunjukkan ini ke audit,” katanya pelan. “Karena saya ingin tahu… kamu siap melihatnya atau tidak.”

Aruna mendekat. Matanya bergerak cepat membaca daftar itu. Satu nama membuat napasnya tertahan.

Direktur operasional.

Bukan staf kecil. Bukan kesalahan administratif. Ini menyentuh level yang bisa mengguncang struktur perusahaan.

“Kalau ini benar…” gumam Aruna.

“Perusahaan akan terguncang,” sambung Calvin. “Dan orang-orang yang terlibat tidak akan tinggal diam.”

Aruna mengangkat kepala. “Kenapa Anda tunjukkan ini ke saya dulu?”

Tatapan Calvin lurus. “Karena kamu sudah memilih untuk masuk.”

Bukan paksaan. Bukan manipulasi. Hanya pengakuan fakta.

Aruna menatap kembali layar itu. Nama tersebut terasa seperti garis merah—sekali disentuh, tidak bisa dihapus.

“Audit perlu tahu,” katanya akhirnya.

“Ya,” jawab Calvin. “Tapi begitu diserahkan, ini bukan lagi permainan strategi. Ini perang terbuka.”

Aruna merasakan jantungnya berdetak lebih keras. Bayangan Raka muncul di kepalanya. Wajah lelah seseorang yang kehilangan segalanya.

“Kita tidak bisa berhenti di tengah,” katanya pelan tapi pasti.

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Calvin bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan terhadap keputusan yang sudah diambil.

“Baik,” katanya. “Kita lakukan dengan cara yang bersih.”

Aruna mengangguk.

Saat ia berbalik menuju pintu, Calvin berkata, “Aruna.”

Ia berhenti.

“Begitu ini berjalan,” lanjut Calvin, “kamu tidak hanya mempertaruhkan karier. Kamu mempertaruhkan siapa yang akan berdiri di sampingmu.”

Aruna menoleh sedikit. “Saya tidak mengharapkan banyak orang berdiri.”

Tatapan mereka bertemu.

“Cukup yang perlu,” tambahnya.

Pintu tertutup pelan.

Di lorong, langkah Aruna terasa lebih mantap meski beban di dadanya bertambah. Ia tahu garis sudah dilintasi. Tidak ada jalan kembali ke posisi netral.

Kebenaran sudah memiliki arah.

Dan ia baru saja memilih untuk berjalan ke arahnya—bersama seseorang yang sama-sama tahu bahwa kemenangan tidak selalu berarti selamat.

Aruna menahan napas sejenak, memandang jendela di samping pintu. Kota di bawah terlihat biasa saja, orang-orang berjalan, kendaraan lalu-lalang, kehidupan tetap berjalan tanpa peduli apa yang sedang terjadi di lantai atas gedung itu. Tetapi bagi Aruna, setiap langkahnya kini berat. Setiap dokumen, setiap email, setiap jejak digital adalah garis yang telah ia sentuh—dan garis itu tidak bisa dihapus lagi.

Ia menutup laptop dengan hati-hati, lalu menatap layar monitor di mejanya. Pikiran Aruna tidak berhenti. Nama Direktur operasional yang muncul tadi bukan sekadar angka di tabel. Itu simbol bahaya nyata—seseorang yang memiliki pengaruh, yang bisa mengguncang seluruh struktur perusahaan jika ia memutuskan untuk bergerak. Dan Aruna tahu, begitu langkah ini diambil, pihak yang merasa terancam tidak akan tinggal diam.

Langkah Aruna menuju ruangannya terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Setiap detik, ia memeriksa sekelilingnya, bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa pengamatan adalah kunci saat ini. Setiap staf, setiap pintu, setiap suara kecil di koridor bisa menjadi indikasi—atau jebakan. Ia merasakan garis batas profesional mulai kabur. Semua ini bukan lagi sekadar pekerjaan. Ini telah menjadi permainan psikologis, dan setiap gerakan dihitung.

Di mejanya, Aruna menyalakan kembali laptop, membuka dokumen lama yang berkaitan dengan kasus Eastbay. Setiap angka, setiap tanggal, setiap tanda tangan diperiksa ulang. Fokusnya tajam, mata cepat menangkap ketidaksesuaian, pola yang disembunyikan, atau celah yang bisa dimanfaatkan. Ini bukan sekadar investigasi; ini tentang mempertahankan kendali atas kebenaran, sebelum orang lain mencoba memutar balik fakta.

Pikiran tentang Raka muncul lagi. Bagaimana ia bisa berdiri di antara arus kebenaran dan kekuatan struktural perusahaan? Raka bukan lawan, tapi korban. Dan setiap tindakan yang Aruna ambil tidak hanya akan memengaruhi jalannya kasus, tapi juga orang-orang yang ikut terjerat. Ia merasakan beban itu menekan, tapi bukan untuk membuatnya mundur—melainkan untuk mengingatkannya bahwa garis yang dilalui memiliki konsekuensi nyata.

Calvin muncul di belakangnya, diam seperti bayangan. Tidak ada kata yang terucap, tapi kehadirannya cukup untuk menenangkan sekaligus mengingatkan: mereka tidak berjalan sendirian. Aruna menatapnya sekilas, melihat mata yang tegas, protektif, tapi tenang. Keputusan yang telah mereka buat bersama bukan hanya soal kebenaran; ini soal strategi, tentang bagaimana bertahan sekaligus menyerang secara tepat.

Aruna menarik napas panjang dan menutup laptop. Ia menatap ke langit-langit, lalu kembali ke layar. Satu hal menjadi jelas: garis ini tidak bisa dihapus. Begitu disentuh, kebenaran dan konsekuensinya akan mengikuti sampai ke ujung. Tidak ada ruang untuk penyesalan. Tidak ada jalan mundur.

Ia menulis catatan cepat, memetakan langkah berikutnya, memikirkan setiap kemungkinan. Jika lawan bergerak terlalu cepat, mereka bisa memanfaatkan setiap kesalahan. Jika Aruna tetap tenang dan fokus, mereka justru bisa dijebak oleh strategi yang rapi. Diamnya, ketenangannya, pengamatan yang tajam—semua itu menjadi senjata yang tidak terlihat, tapi mematikan.

Dan satu hal lain muncul di pikirannya—bahwa garis yang disentuh ini bukan hanya soal karier atau reputasi. Ini tentang siapa yang bisa bertahan, siapa yang bisa tetap berdiri ketika tekanan menjadi terlalu berat, dan siapa yang berani menanggung konsekuensi ketika kebenaran akhirnya terbuka.

Aruna menatap pintu. Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Di dalam, permainan telah dimulai. Garis itu telah dilintasi, dan tidak ada jalan kembali. Ia menarik napas dalam-dalam, meneguhkan langkahnya. Kebenaran sudah menuntut keberanian.

Dan Aruna tahu satu hal lagi: ia tidak akan mundur.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!