Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Garis yang Tidak Bisa Dihapus
Ruang direktur terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aruna masuk tanpa basa-basi. Calvin sudah duduk di belakang mejanya, layar laptop menyala dengan beberapa dokumen terbuka. Tatapannya langsung terangkat ketika Aruna menutup pintu.
“Audit menemukan sesuatu,” katanya singkat. “Jejak perubahan data sebelum laporan Eastbay disahkan.”
Aruna berdiri tegak. “Mengarah ke siapa?”
“Belum jelas,” jawab Calvin. “Tapi aksesnya terbatas. Sangat terbatas.”
Kalimat itu membawa arti yang tak perlu dijelaskan panjang. Lingkaran kecil. Orang dalam.
“Ada kemungkinan sistem dimanipulasi dari luar?” tanya Aruna.
Calvin menggeleng. “IT sudah cek. Ini dilakukan oleh seseorang yang tahu persis apa yang dihapus… dan apa yang dibiarkan.”
Aruna menarik napas dalam. Potongan-potongan mulai menyatu—dokumen yang terlalu rapi, waktu yang presisi, dan korban yang dipilih dengan sempurna.
“Saya bertemu Raka tadi,” katanya.
Keheningan jatuh.
Tatapan Calvin mengeras sedikit. “Di mana?”
“Basement,” jawab Aruna jujur. “Dia ingin tahu kebenaran.”
Calvin bersandar pelan. “Itu berisiko.”
“Saya tahu,” kata Aruna. “Tapi dia bukan musuh. Dia korban.”
Calvin menatapnya lama. Tidak ada kemarahan, hanya perhitungan. “Apa yang kamu janjikan?”
“Bahwa saya akan mencoba membuka kasus ini dari dalam.”
Alis Calvin bergerak tipis. “Itu bukan janji kecil.”
“Saya tidak menganggapnya kecil,” balas Aruna tenang.
Ruangan kembali hening. Kota di balik kaca tampak bergerak tanpa peduli drama yang terjadi di lantai atas.
“Kamu sadar,” kata Calvin akhirnya, “begitu kamu mulai menggali, seseorang akan tahu.”
“Saya sudah diasumsikan terlibat,” jawab Aruna. “Diam pun tidak membuat saya aman.”
Kalimat itu menggantung dengan kebenaran yang sulit dibantah.
Calvin membuka satu file di laptopnya dan memutar layar sedikit ke arah Aruna. Tabel akses sistem muncul—nama, waktu, perubahan.
“Saya belum menunjukkan ini ke audit,” katanya pelan. “Karena saya ingin tahu… kamu siap melihatnya atau tidak.”
Aruna mendekat. Matanya bergerak cepat membaca daftar itu. Satu nama membuat napasnya tertahan.
Direktur operasional.
Bukan staf kecil. Bukan kesalahan administratif. Ini menyentuh level yang bisa mengguncang struktur perusahaan.
“Kalau ini benar…” gumam Aruna.
“Perusahaan akan terguncang,” sambung Calvin. “Dan orang-orang yang terlibat tidak akan tinggal diam.”
Aruna mengangkat kepala. “Kenapa Anda tunjukkan ini ke saya dulu?”
Tatapan Calvin lurus. “Karena kamu sudah memilih untuk masuk.”
Bukan paksaan. Bukan manipulasi. Hanya pengakuan fakta.
Aruna menatap kembali layar itu. Nama tersebut terasa seperti garis merah—sekali disentuh, tidak bisa dihapus.
“Audit perlu tahu,” katanya akhirnya.
“Ya,” jawab Calvin. “Tapi begitu diserahkan, ini bukan lagi permainan strategi. Ini perang terbuka.”
Aruna merasakan jantungnya berdetak lebih keras. Bayangan Raka muncul di kepalanya. Wajah lelah seseorang yang kehilangan segalanya.
“Kita tidak bisa berhenti di tengah,” katanya pelan tapi pasti.
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Calvin bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan terhadap keputusan yang sudah diambil.
“Baik,” katanya. “Kita lakukan dengan cara yang bersih.”
Aruna mengangguk.
Saat ia berbalik menuju pintu, Calvin berkata, “Aruna.”
Ia berhenti.
“Begitu ini berjalan,” lanjut Calvin, “kamu tidak hanya mempertaruhkan karier. Kamu mempertaruhkan siapa yang akan berdiri di sampingmu.”
Aruna menoleh sedikit. “Saya tidak mengharapkan banyak orang berdiri.”
Tatapan mereka bertemu.
“Cukup yang perlu,” tambahnya.
Pintu tertutup pelan.
Di lorong, langkah Aruna terasa lebih mantap meski beban di dadanya bertambah. Ia tahu garis sudah dilintasi. Tidak ada jalan kembali ke posisi netral.
Kebenaran sudah memiliki arah.
Dan ia baru saja memilih untuk berjalan ke arahnya—bersama seseorang yang sama-sama tahu bahwa kemenangan tidak selalu berarti selamat.
Aruna menahan napas sejenak, memandang jendela di samping pintu. Kota di bawah terlihat biasa saja, orang-orang berjalan, kendaraan lalu-lalang, kehidupan tetap berjalan tanpa peduli apa yang sedang terjadi di lantai atas gedung itu. Tetapi bagi Aruna, setiap langkahnya kini berat. Setiap dokumen, setiap email, setiap jejak digital adalah garis yang telah ia sentuh—dan garis itu tidak bisa dihapus lagi.
Ia menutup laptop dengan hati-hati, lalu menatap layar monitor di mejanya. Pikiran Aruna tidak berhenti. Nama Direktur operasional yang muncul tadi bukan sekadar angka di tabel. Itu simbol bahaya nyata—seseorang yang memiliki pengaruh, yang bisa mengguncang seluruh struktur perusahaan jika ia memutuskan untuk bergerak. Dan Aruna tahu, begitu langkah ini diambil, pihak yang merasa terancam tidak akan tinggal diam.
Langkah Aruna menuju ruangannya terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Setiap detik, ia memeriksa sekelilingnya, bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa pengamatan adalah kunci saat ini. Setiap staf, setiap pintu, setiap suara kecil di koridor bisa menjadi indikasi—atau jebakan. Ia merasakan garis batas profesional mulai kabur. Semua ini bukan lagi sekadar pekerjaan. Ini telah menjadi permainan psikologis, dan setiap gerakan dihitung.
Di mejanya, Aruna menyalakan kembali laptop, membuka dokumen lama yang berkaitan dengan kasus Eastbay. Setiap angka, setiap tanggal, setiap tanda tangan diperiksa ulang. Fokusnya tajam, mata cepat menangkap ketidaksesuaian, pola yang disembunyikan, atau celah yang bisa dimanfaatkan. Ini bukan sekadar investigasi; ini tentang mempertahankan kendali atas kebenaran, sebelum orang lain mencoba memutar balik fakta.
Pikiran tentang Raka muncul lagi. Bagaimana ia bisa berdiri di antara arus kebenaran dan kekuatan struktural perusahaan? Raka bukan lawan, tapi korban. Dan setiap tindakan yang Aruna ambil tidak hanya akan memengaruhi jalannya kasus, tapi juga orang-orang yang ikut terjerat. Ia merasakan beban itu menekan, tapi bukan untuk membuatnya mundur—melainkan untuk mengingatkannya bahwa garis yang dilalui memiliki konsekuensi nyata.
Calvin muncul di belakangnya, diam seperti bayangan. Tidak ada kata yang terucap, tapi kehadirannya cukup untuk menenangkan sekaligus mengingatkan: mereka tidak berjalan sendirian. Aruna menatapnya sekilas, melihat mata yang tegas, protektif, tapi tenang. Keputusan yang telah mereka buat bersama bukan hanya soal kebenaran; ini soal strategi, tentang bagaimana bertahan sekaligus menyerang secara tepat.
Aruna menarik napas panjang dan menutup laptop. Ia menatap ke langit-langit, lalu kembali ke layar. Satu hal menjadi jelas: garis ini tidak bisa dihapus. Begitu disentuh, kebenaran dan konsekuensinya akan mengikuti sampai ke ujung. Tidak ada ruang untuk penyesalan. Tidak ada jalan mundur.
Ia menulis catatan cepat, memetakan langkah berikutnya, memikirkan setiap kemungkinan. Jika lawan bergerak terlalu cepat, mereka bisa memanfaatkan setiap kesalahan. Jika Aruna tetap tenang dan fokus, mereka justru bisa dijebak oleh strategi yang rapi. Diamnya, ketenangannya, pengamatan yang tajam—semua itu menjadi senjata yang tidak terlihat, tapi mematikan.
Dan satu hal lain muncul di pikirannya—bahwa garis yang disentuh ini bukan hanya soal karier atau reputasi. Ini tentang siapa yang bisa bertahan, siapa yang bisa tetap berdiri ketika tekanan menjadi terlalu berat, dan siapa yang berani menanggung konsekuensi ketika kebenaran akhirnya terbuka.
Aruna menatap pintu. Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Di dalam, permainan telah dimulai. Garis itu telah dilintasi, dan tidak ada jalan kembali. Ia menarik napas dalam-dalam, meneguhkan langkahnya. Kebenaran sudah menuntut keberanian.
Dan Aruna tahu satu hal lagi: ia tidak akan mundur.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/