NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 7

Keesokan paginya, seperti biasa, Karin mengunjungi kafe untuk menulis atau sekadar menikmati paginya. Dan pemuda itu juga datang bukan sebagai pengunjung, tapi ia datang hanya untuk bertemu dengan Karin.

Dia menghampiri Karin dengan senyuman yang melebar di wajahnya. Ia datang dan duduk di hadapan Karin. Dengan senyuman, dia menyapa Karin, “Hi, good morning,” (Hai, selamat pagi) katanya.

Karin mendongak melihatnya, sedikit terkejut, namun dia juga menyapanya dengan senyuman. “Hi, good morning,” (Hai, selamat pagi) balasnya.

“What are you doing here?” (Kamu di sini sedang apa?) tanya Karin.

“I’m here to keep you company. I knew you’d be here, so I came,” (Sedang menemani kamu. Aku tahu kamu ada di sini, jadi aku datang) kata pemuda itu.

Karin tersenyum, lalu ia berkata, “Oh, I see. Alright, you can keep me company while I write,” (Oh, jadi begitu. Baiklah, kamu bisa menemaniku menulis) katanya.

Pemuda itu duduk di sana sekitar lebih dari lima jam, dari pagi hingga hampir siang. Ia hanya memperhatikan Karin menulis.

Karin yang fokus kadang teralihkan karena pemuda itu terus menatapnya. Ia menutup laptopnya sebentar dan berkata, sedikit canggung,

“If you feel bored, you can leave.”

(Jika kamu merasa bosan, kamu bisa pulang saja.)

“I’m used to being here alone.”

(Aku terbiasa di sini sendiri.)

Pemuda itu tersenyum dan menggeleng.

“No, I’m not bored.”

(Tidak, aku tidak merasa bosan.)

“I feel happy watching a writer at work.”

(Aku merasa senang melihat seorang penulis.)

“You seem very focused.”

(Kamu terlihat sangat serius menulis.)

Karin tersenyum, sedikit lega.

“Thank you.”

(Terima kasih.)

Pemuda itu mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap layar laptop Karin.

“I like how you write.”

(Aku suka caramu menulis.)

Karin menoleh sesaat, menatapnya kembali.

“It’s nice to hear that.”

(Menyenangkan mendengarnya.)

Mereka kembali diam, hanya suara ketukan keyboard dan hujan yang jatuh di luar jendela terdengar. Namun suasana itu sama sekali tidak canggung. Ada rasa nyaman yang muncul tanpa perlu kata-kata panjang.

Kadang, pemuda itu batuk kecil, dan Karin menggaruk kepalanya. Mereka saling menatap dan tersenyum, lalu tertawa bersama karena merasa momen itu lucu.

“See? It’s fun just sitting here.”

(Lihat? Seru juga duduk di sini saja.) kata pemuda itu sambil tersenyum.

“Yes, it is.”

(Iya, benar.) balas Karin, ikut tersenyum.

Dan begitu waktu berjalan, pagi berganti siang, keduanya tetap di sana. Menulis, menatap, tertawa kecil bersama.

Tak terasa hari mulai sore. Karin, yang merasa sangat terbantu oleh kehadiran pemuda itu, merasa seolah berhutang budi padanya. Karena itu, ia mengajaknya berjalan-jalan santai di sekitar taman Pulau Jeju.

Mereka melangkah perlahan, sesekali berhenti untuk menghirup udara segar dan menikmati pemandangan yang memanjakan mata. Pohon-pohon hijau, jalan setapak yang bersih, dan cahaya matahari sore yang lembut membuat suasana begitu damai.

Karin tak melewatkan kesempatan itu. Ia mengeluarkan kameranya dan mulai memotret pemandangan di sekeliling. Sesekali, ia menoleh ke pemuda itu.

“You know… I want to take a picture of you too.”

(Kamu tahu… aku juga ingin memotretmu.)

Pemuda itu tersenyum canggung, menutup wajahnya dengan tangan.

“No… my face is ugly.”

(Tidak… wajahku jelek.) katanya sambil menghindar dan berlari.

Karin tertawa kecil, lalu berlari mengejarnya.

“Come on! Let me take it!”

(Ayolah! Lepaskan, aku ingin memotretnya!)

Mereka berlari-lari kecil di taman, tawa mereka terdengar riang. Karin berhasil memotret pemuda itu dari belakang, meski tidak banyak wajahnya yang terlihat jelas.

Namun, bagi Karin, momen itu terasa hangat—bahkan hanya bayangan pemuda itu di kamera pun cukup untuk membuat hatinya tersenyum.

Sore itu hingga menjelang malam, Karin dan pemuda itu terus berjalan mengelilingi taman. Mereka menikmati pemandangan yang tenang, udara segar, dan cahaya matahari yang perlahan memudar. Sesekali mereka bercerita ringan dan tertawa bersama.

Karin tersenyum saat mendengar cerita pemuda itu tentang keluarganya. Pemuda itu berkata sambil tersenyum,

“Spicy kimchi tastes bland to my family.”

(Kimchi pedas itu hambar bagi keluargaku.)

Karin pun tertawa, lelucon itu terasa hangat dan lucu baginya.

Di saat-saat itu, seolah pemuda itu adalah sosok yang dikirim Tuhan untuk membuatnya melupakan kesedihan lama. Bahkan, untuk beberapa saat, Arka hampir tak muncul di pikirannya. Ia hanya menikmati waktu, tawa, dan momen ringan itu bersama pemuda itu.

Mereka duduk di bangku taman menikmati senja, kadang berjalan, kadang tertawa karena tingkah laku lucu pemuda itu. Kadang-kadang Karin tak sengaja menyenggol pundaknya, lalu mereka saling bertatap dan tertawa.

Hingga malam mulai turun, pemuda itu mengantar Karin kembali ke hotelnya. Kini, mereka berdiri tepat di depan pintu hotel.

“Sorry for today,” kata pemuda itu.

(Maaf untuk hari ini.)

Karin menatapnya dengan bingung.

“Sorry for what?” tanyanya.

(Minta maaf untuk apa?)

Pemuda itu menundukkan kepalanya, sedikit menggaruk lehernya.

“Well… you were supposed to write until late tonight, right? But because of me, you ended up walking around with me.”

(Ya, harusnya kamu menulis sampai malam, kan? Tapi karena ada aku di sana, kamu jadi menemaniku berjalan-jalan.)

“Actually… I was a bit bored,” tambahnya lagi.

(Sebenarnya aku merasa bosan.)

Karin tersenyum dan menjawab,

“No. I mean… I really accompanied you because I felt you were keeping me company while I was writing.”

(Tidak. Maksudku ya, aku memang menemanimu, karena aku merasa kamu menemaniiku menulis.)

Mendengar itu, mereka pun tertawa bersama, ringan dan hangat.

Bersama pemuda itu, Karin banyak tertawa.

Setiap tawa terasa ringan, berbeda dari tangis yang belakangan sering ia tunjukkan.

Hari-hari Karin yang dulunya dipenuhi kelelahan dan kesedihan, kini mulai berwarna.

Sejak hadirnya pemuda itu, tawa perlahan memecahkan kesunyian dalam hidupnya, menghadirkan kebahagiaan yang lama hilang.

Sudah malam. Udara Jeju terasa lebih dingin, angin laut berembus pelan di antara lampu-lampu hotel yang menyala temaram.

“I’ll go in now,” kata Karin sambil tersenyum.

(Aku masuk dulu, ya.)

Ia melambaikan tangan kecil, lalu berbalik ke arah pintu hotel.

Pemuda itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, tubuhnya sedikit kaku, seolah menimbang sesuatu. Tepat sebelum Karin menyentuh gagang pintu, ia memanggil.

“Hey.”

(Hey.)

Karin menoleh cepat.

“Yes?”

(Iya?)

Pemuda itu menghela napas pendek. Tangannya sempat terangkat lalu turun lagi, jelas terlihat gugup.

“Can I have your number?”

(Boleh aku minta nomormu?)

Karin terdiam. Tatapannya menunggu, bukan menolak.

Melihat keheningan itu, pemuda itu buru-buru menambahkan, kata-katanya keluar lebih cepat.

“I mean… if I get bored someday, we can walk around again, right?”

(Maksudku… kalau suatu hari aku merasa bosan, kita bisa jalan-jalan lagi, kan?)

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada setengah bercanda.

“Or… aren’t you curious about my grandmother’s house?”

(Atau… apa kamu tidak penasaran dengan rumah nenekku?)

Karin tertawa pelan. Ia bisa melihat jelas kegugupan di wajah pemuda itu—cara bahunya sedikit menegang, cara matanya sesekali menghindar.

“Okay.”

(Oke.)

Ia mengeluarkan ponselnya. Mereka berdiri berdekatan, cukup dekat untuk saling melihat layar masing-masing saat bertukar nomor.

Pemuda itu mengetik cepat, lalu tersenyum kecil ketika namanya muncul di layar Karin.

“My name is James.”

(Namaku James.)

Ia menambahkan dengan nada ringan,

“Kim James.”

(Kim James.)

Karin terkekeh. “So your family name is Kim?”

(Jadi margamu Kim?)

“Yes.”

(Iya.)

Kini giliran Karin menyimpan namanya. Pemuda itu menunduk sedikit, membaca layar ponselnya.

“Karin.”

(Karin.)

“Yes, Karin Natalia.”

(Iya, Karin Natalia.)

Untuk sesaat, mereka saling menatap. Lalu James mengulurkan tangannya.

“Nice to finally meet you properly, Karin.”

(Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu dengan benar, Karin.)

Karin menjabat tangannya.

“Nice to meet you too, James.”

(Senang berkenalan denganmu juga, James.)

Mereka tertawa pelan.

Setelah sekian kali pertemuan yang tak disengaja, akhirnya mereka saling mengenal—bukan lagi sebagai dua orang asing di Pulau Jeju, melainkan sebagai dua nama yang kini tersimpan di ponsel masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!