Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Sejak saat itu Rain terus mencari tahu tentang Aisyah, tentang keluarga nya , tentang keseharian nya tapi satu yang ia lupa untuk mencari tahu tentang kehidupan percintaannya,yang ia tahu Aisyah di tinggalkan oleh kekasih secar tiba-tiba dan tak ada kabar hingga hari ini,tapi ia tak mencari tahu sebab semua itu terjadi.
" Pak hari ini kita ada pertemuan dengan pak Firdaus,salah satu pengusaha muda yang menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita." Jelas Bobby asisten Rain saat mereka baru saja memasuki ruang kerja Rain.
Sejak memutuskan untuk menetap di Indonesia,Rain sudah di sibukkan dengan semua pekerjaan yang sengaja ayahnya itu tinggalkan untuknya. Sang ayah sengaja melakukan semua itu agar putra satu-satunya itu lebih bisa berbaur dengan segala bentuk rupa klien mereka. Perusahaan mereka terbilang perusahaan raksasa yang memiliki kekuasaan hampir di semua line .
Mendengar ucapan sang asisten,Rain mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja,dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
" Akhirnya jalan itu ada." Lirih Rain yang nyaris tak terdengar.
Bobby yang melihat tingkah aneh bosnya itu,merasakan sesuatu yang akan membuatnya bekerja keras kali ini.
" Apa bos mengatakan sesuatu?"
Rain yang tersadar pun ,dengan sigap mengubah ekspresi nya dan memilih kembali fokus pada pekerjaannya, ia membuka lembaran demi lembaran dokumen yang ada di hadapannya. Sebuah tawaran kerja sama di bidang properti membuat Rain begitu tertarik dengan segala tulisan yang ada di depannya,namun pelan-pelan tulisan itu berganti sebuah wajah seorang gadis. Wajah seorang gadis yang selalu membawa senyum hangat di bibirnya ,Aisyah. Matanya sedikit menutup sejenak sebelum dia menghela napas perlahan, mencoba menarik kembali fokusnya ke dokumen di depan mata.
"Tak apa, Bobby. Siapkan semua berkas yang diperlukan untuk pertemuan nanti. Pastikan kita sudah mempelajari profil perusahaan Pak Firdaus secara mendetail, termasuk proyek-proyek yang pernah dia kerjakan," ujar Rain dengan suara yang sudah kembali tenang dan profesional.
Bobby mengangguk dan mulai mencatat setiap instruksi yang keluar dari mulut bosnya. Namun, dalam hati dia masih merasa penasaran dengan ucapan Rain tadi . "akhirnya jalan itu ada" yang membuatnya berpikir bahwa kerja sama kali ini mungkin bukan hanya tentang bisnis semata.
Saat Bobby hendak keluar dari ruangan, Rain menyentak dan memanggilnya kembali. "Bobby, sebelum pertemuan nanti... bisa kamu cari tahu apakah Pak Firdaus punya hubungan keluarga atau kenalan dengan seseorang bernama Aisyah? Jangan terlalu mencolok ya, hanya informasi sekilas saja."
Bobby terkejut sedikit tapi segera menyembunyikannya dengan anggukan. "Baik, Pak. Saya akan segera mencari tahu." Setelah itu, dia keluar meninggalkan Rain sendirian di ruangan, yang kini kembali menatap dokumennya namun pikirannya jelas sudah terbang jauh ke arah gadis yang selalu mengganggu ketenangan batinnya.
Pelan-pelan, Rain mengambil sebuah foto kecil yang tersembunyi di laci meja kerjanya ,foto Aisyah yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi beberapa waktu lalu . "Semoga kali ini semua bisa menjadi jawaban atas semua pertanyaan yang belum terjawab," gumamnya sambil menatap wajah Aisyah di foto itu.
Setelah Bobby keluar, Rain tetap menyimpan foto Aisyah dengan hati-hati ke dalam laci meja. Jari-jarinya kembali mengetuk permukaan meja, irama ketukan itu seolah menyinkronkan dengan denyut jantungnya yang kini berdebar lebih cepat. Pikirannya melayang kembali pada hari pertama kali dia bertemu Aisyah ,di taman kota tempat yang sama dimana ia pertama kali melihat Aisyah namun dengan kondisi yang berbeda sekarang.
Sejak pertemuan mereka kembali setelah beberapa tahun berlalu itu, Rain tak bisa menghilangkan wajahnya dari benaknya.
Beberapa jam kemudian, Bobby kembali masuk ke ruangan dengan tatapan yang sedikit serius. "Pak Rain, informasi yang Anda minta sudah saya dapatkan. Pak Firdaus memang punya hubungan dengan seseorang bernama Aisyah , dia adalah adik perempuan kandung dari Pak Firdaus." Ujar Bobby sembari meletakkan beberapa lembar foto dan dokumen di atas meja kerja Rain . Sebenarnya Rain sudah tahu ,namun ia ingin memastikan nya kembali karena informasi yang ia dapatkan sebelum nya tidak begitu jelas.
Rain membuka dan menatap foto serta dokumen yang ada di hadapannya itu sembari mendengarkan semua informasi dari Bobby sang asisten , tubuhnya sedikit kaku sejenak sebelum dia mencoba tetap tenang. "Lanjutkan," ujarnya dengan suara yang tetap stabil.
"Berdasarkan informasi yang saya dapatkan pak Firdaus dan nona Aisyah merupakan anak dari tuan Brawijaya. " Mendengar nama Brawijaya Rain menghentikan aktivitasnya yang menatap foto Aisyah bersama Firdaus pose di foto itu di ambil saat keluarga mereka merayakan ulang tahun Aisyah yang ke 20 tahun dua tahun lalu. Rain seolah begitu familiar dengan nama tersebut tapi ia lupa dimana ia pernah mendengar nama itu.
" Namun sekitar setahun yang lalu, ada sesuatu yang terjadi dengan Aisyah hingga dia menjadi lebih pendiam dan seringkali menyendiri. Tapi saya belum menemukan , alasannya secara detail, hanya tahu bahwa hal itu berkaitan dengan seseorang yang pernah menjadi kekasih Aisyah." Lanjut Bobby dan kali ini membuat Rain benar-benar merasa sesak mendengar Aisyah sudah memiliki kekasih.
Rain menghela napas perlahan. Akhirnya ada jalan untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis yang selalu mengganggu pikirannya. "Baik, terima kasih Bobby. Sekarang siapkan diri kita untuk pertemuan. Jadwalkan juga agar kita bisa bertemu dengan Pak Firdaus secara pribadi setelah rapat resmi selesai, jika memungkinkan."
Pukul 10 pagi, pertemuan resmi dimulai di ruang rapat utama perusahaan. Pak Firdaus, pria muda yang tampan dan berpakaian rapi dengan jas warna biru tua, datang bersama dengan timnya. Saat tangan Rain dan Firdaus saling berjabat, Rain bisa merasakan kekuatan dan kepercayaan diri yang terpancar dari pria itu.
Rapat berjalan lancar. Tawaran kerja sama di bidang properti yang akan dibangun di kawasan baru Bogor ternyata sangat menjanjikan , tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hunian bagi masyarakat lokal. Namun Rain tidak bisa menyembunyikan perhatiannya yang lebih fokus pada kesempatan untuk bertanya tentang Aisyah.
Setelah rapat resmi selesai dan tim kedua pihak mulai berpisah, Rain mengajak Firdaus untuk berbincang sebentar di ruang tamu kecil yang lebih tenang.
"Pak Firdaus, saya harus akui bahwa tawaran kerja sama ini sangat menarik bagi kami," ujar Rain setelah mereka duduk. "Namun sebenarnya ada satu hal lain yang membuat saya ingin lebih mengenal Anda lebih dekat."
Firdaus mengangkat alisnya dengan rasa penasaran. "Oh? Apa itu, Pak Rain?"
" Anda putra sulung tuan Brawijaya?"
Wajah Firdaus sedikit berubah, dari ekspresi ramah menjadi lebih serius. Dia melihat Rain dengan cermat sejenak sebelum berkata," Anda menyelidiki tentang keluarga saya?" Bukannya menjawab Firdaus malah bertanya balik. Firdaus memang belum memperkenalkan dirinya secara detail karena ia merasa hubungan kerja sama ini tidak ada hubungan nya dengan urusan keluarga,ia juga tak pernah membawa nama keluarga nya untuk mempermudah dirinya mendapatkan investor karena bisnis nya kali ini adalah usaha yang ia bangun sendiri dengan namanya sendiri tanpa embel-embel membawa nama besar ayahnya yang merupakan salah satu pebisnis yang sukses di negara ini.