Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi ke pasar malam rakyat
Ibu Suri memberi isyarat, dan seorang tabib tua maju membawa kotak kayu berisi jarum-jarum perak yang panjang dan berkilau tajam. "Jarum ini akan ditusukkan ke titik saraf tertentu. Jika dia berbohong, tubuhnya akan menolak dan rasa sakitnya akan sepuluh kali lipat," jelas sang Tabib.
Yang Chi menatap jarum itu dengan mata melotot. Duh, itu jarum apa sumpit raksasa? Tajam banget! batinnya ngeri. Namun, ia tahu jika ia mundur sekarang, kepalanya bakal pisah dari badan.
Saat tabib hendak menarik tangan Yang Chi, gadis itu justru tertawa girang. Ia mengambil satu jarum perak itu dengan tangan kosong—seolah tidak tahu bahayanya.
"Wah! Tusuk sate raksasa! Tuan Kaisar, lihat! Aku mau pakai ini buat ikat rambut atau buat tusuk gigi?" seru Yang Chi sambil memainkan jarum itu di depan hidung Mei Lan, membuat selir itu terjengkang ke belakang karena takut tertusuk.
"Tunggu!"
Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan sang Tabib. Long Wei berdiri tegak di depan Yang Chi, menutupi tubuh gadis itu dengan jubah besarnya.
"Cukup, Ibu," ucap Long Wei dengan nada rendah yang sangat berwibawa. "Jiwa Xiao Xi sedang tidak stabil. Menusuknya dengan jarum hanya akan merusak sarafnya dan membuatnya semakin sulit memberikan informasi tentang pengkhianat lain."
Ibu Suri menyipitkan mata. "Kau terlalu melindunginya, Long Wei. Bagaimana jika dia hanya menipumu?"
Long Wei menatap ibunya dengan tegas, lalu melirik Yang Chi yang sekarang sedang mencoba "menjahit" jubah biru mahalnya pakai jarum perak itu.
"Saya yang akan menjaminnya dengan nyawa saya sendiri. Jika dalam tiga hari dia tidak memberikan bukti tambahan tentang kaki tangan Li Xuan, saya sendiri yang akan menghantarkannya ke lapangan eksekusi. Jadi, biarkan dia tetap di bawah pengawasan saya," tegas Long Wei.
Mei Lan mendesis kesal. "Baginda, Anda benar-benar—"
"Mei Lan, diam atau kau ingin aku mengirimmu ke penjara bawah tanah untuk menemani Li Xuan?" potong Long Wei dingin. Mei Lan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Yang Chi yang merasa terlindungi langsung kembali bergelayut di lengan Long Wei. "Tuan Kaisar baik! Tuan Kaisar nggak galak lagi! Ayo kita cari makan, perutku sudah konser rock!"
Long Wei hanya bisa menghela napas, setengah malu setengah lega. Ia menarik Yang Chi pergi dari hadapan Ibu Suri yang masih tampak tidak puas.
Begitu sampai di lorong yang sepi, Long Wei melepaskan tangan Yang Chi dan memojokkannya ke tembok. "Kau hampir saja tertusuk tadi. Berhenti bermain-main dengan nyawamu sendiri," bisik Long Wei dengan tatapan yang sulit diartikan.
Yang Chi cengengesan. "Kan ada Tuan yang jagain aku. Lagian, aku tahu Tuan nggak akan tega lihat 'pajangan' mahalnya ini rusak, kan?"
Long Wei terdiam, wajahnya mendekat ke arah Yang Chi. "Jangan terlalu percaya diri, Xiao Xi. Aku hanya tidak ingin darahmu mengotori lantai istana Ibu Suri."
"Malam nanti akan ada kegiatan pasar malam rakyat," ucap Long Wei sambil meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja.
Yang Chi yang sedang duduk di pinggir ranjang langsung tersentak. Ingatannya sebagai penulis novel tiba-tiba berputar cepat. Ia ingat betul bab ini; malam festival rakyat bukan sekadar pesta. Itu adalah momen di mana beberapa kaki tangan Li Xuan yang masih bersembunyi akan memasang jebakan maut untuk menjebak Long Wei di tengah kerumunan.
"Benarkah? Apakah aku boleh ikut?" tanya Yang Chi, mencoba menyembunyikan nada cemas dalam suaranya.
Long Wei berbalik, menatap Yang Chi dengan tatapan yang sangat tajam. Ia mengambil sebuah topeng porselen dari dalam kotak. "Kalau kau ingin ikut, gunakan topengmu. Jangan pernah membukanya jika kau masih ingin hidup."
Yang Chi menerima topeng itu. Permukaannya terasa dingin di kulitnya. Ia tahu Long Wei benar; jika rakyat melihat wajah "Xiao Xi Huwan" yang dianggap pembunuh Permaisuri, mereka akan mencabik-cabiknya tanpa menunggu perintah eksekusi.
"Tapi Tuan, apakah tidak berbahaya jika kita pergi ke sana? Maksudku... ramalanku bilang suasana malam ini agak berbeda," pancing Yang Chi, berharap Long Wei mau memperketat penjagaan.
Long Wei mendengus sambil mengikat pedang pendek di balik jubah penyamarannya yang berwarna gelap. "Aku adalah Kaisar negeri ini. Aku tidak akan membiarkan tikus-tikus kecil itu menghalangi langkahku. Kau cukup diam dan terus berada di dekatku."
"Iya, iya, Tuan Kaisar yang keras kepala," gumam Yang Chi pelan.
Ia segera mengenakan topeng porselen itu. Di balik lubang mata topeng, Yang Chi menatap Long Wei yang kini juga sudah mengenakan penyamaran. Hatinya berdegup kencang. Ia tahu jebakan itu akan terjadi di dekat jembatan batu saat kembang api pertama diledakkan.
"Ayo berangkat," ajak Long Wei.
Tanpa tali sutra merah kali ini, Long Wei justru langsung menggenggam telapak tangan Yang Chi dengan sangat erat. Genggamannya terasa hangat dan protektif, membuat Yang Chi sedikit lebih tenang meski ia tahu nyawa mereka sedang dipertaruhkan malam ini.
"Ingat," bisik Long Wei tepat di telinga Yang Chi sebelum mereka keluar dari pintu rahasia. "Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi."
"Siap, Baginda Sayang... eh, Bos!" jawab Yang Chi refleks.