NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Kertas Lusuh Bernilai Emas dan Sandaran Bahu

Suara langkah kaki yang tegap terdengar mendekat dari koridor, diikuti suara pintu yang terbuka lebar.

Fazi akhirnya muncul.

Seragamnya sedikit berantakan di bagian lengan, dan ada jejak kelelahan di wajahnya, tapi senyum karismatiknya tidak pernah luntur. Dia menatap seisi ruangan, matanya berhenti sejenak pada kami—aku dan Zea yang duduk berdampingan di sofa—lalu dia tersenyum lebar, seolah sudah menduga pemandangan ini.

"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Fazi sambil berjalan menuju kursi kebesarannya di ujung meja rapat. Dia meletakkan tasnya, lalu menatapku. "Jadi, kamu membawanya, Cal?"

Tanpa basa-basi, aku merogoh saku celanaku.

Aku mengeluarkan selembar kertas HVS putih yang sudah terlipat empat. Kertas itu terlihat agak lusuh karena tergesek-gesek di dalam saku celanaku seharian. Bagi orang awam, itu mungkin terlihat seperti sampah atau coretan iseng.

Dengan gerakan santai, aku menjentikkan pergelangan tanganku, melempar kertas terlipat itu melayang melewati meja panjang.

Kertas itu mendarat mulus tepat di depan Fazi.

"Dua belas soal. Sesuai pesanan," kataku singkat. "Lengkap dengan derivasi rumus dan cara cepatnya."

Fazi segera membuka lipatan kertas itu. Matanya yang tajam memindai isi kertas dengan cepat. Semakin lama dia membaca, senyum di wajahnya semakin lebar, hingga berubah menjadi ekspresi kepuasan yang murni.

"Luar biasa..." gumam Fazi pelan, tapi cukup keras untuk didengar di ruangan yang hening itu. "Metode substitusi di nomor 8... kenapa aku nggak kepikiran pakai cara ini? Ini memotong waktu pengerjaan jadi setengahnya."

Semua anggota OSIS di ruangan itu—Kak Raka, Kak Disa, Kak Nana, dan dua anggota lainnya—menatap kami dengan bingung. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa istimewanya kertas lusuh itu?

Menyadari kebingungan teman-temannya, Fazi mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

"Dengar semuanya," suara Fazi berubah serius, memancarkan aura pemimpin. "Kalian mungkin bertanya-tanya apa ini. Ini adalah 12 soal Try Out Matematika dan Fisika tingkat lanjut dari SMA Nusantara—sekolah elite nomor satu di ibukota provinsi."

Ruangan itu tersentak. SMA Nusantara adalah rival abadi sekolah kami, tempat berkumpulnya monster-monster olimpiade.

"Aku mendapatkan bocoran soal ini dari kenalanku di sana. Soal-soal ini diprediksi memiliki pola yang sama dengan Olimpiade Sains Nasional bulan depan," lanjut Fazi. Dia menatap kertas itu lagi, lalu menatapku. "Jujur saja, aku sudah mencoba mengerjakannya semalam. Tapi dari 12 soal, aku hanya bisa menyelesaikan 8, dan itu pun memakan waktu tiga jam. Aku buntu."

Fazi menunjukku dengan dagunya.

"Karena itu, aku meminta bantuan Callen tadi pagi. Dan lihatlah... dia menyelesaikan ke-12 soal ini di sela-sela jam pelajaran. Dan solusinya... jauh lebih elegan daripada kunci jawaban aslinya."

Fazi meletakkan kertas itu kembali ke meja.

"Kalian semua harus berterima kasih pada Callen. Berkat dia, tim Olimpiade sekolah kita punya senjata rahasia sekarang."

Keheningan melanda Ruang OSIS.

Kali ini, keheningannya berbeda. Bukan karena canggung, tapi karena syok berat.

Mereka semua tahu Callen cerdas. Mereka sudah melihat bagaimana dia mengalahkan Fazi dalam catur, dan bagaimana dia merancang strategi gila untuk kelas X-A. Tapi, mendengar bahwa kemampuan akademiknya melampaui Ketua OSIS—siswa terpintar di angkatan kelas 12—adalah sesuatu yang sulit dicerna akal sehat.

Nana, si Bendahara yang imut, adalah yang pertama bergerak. Dia melompat dari kursinya, berlari kecil ke meja Fazi, dan menyambar kertas itu. Matanya membelalak saat melihat deretan angka dan simbol di kertas itu.

"Gila..." desis Nana. Dia menoleh padaku dengan tatapan horor bercampur kagum. "Callen... kamu ini manusia atau kalkulator berjalan? Soal nomor 12 ini materi kalkulus tingkat universitas lho! Dan kamu menyelesaikannya cuma dalam tiga baris?"

Nana menggelengkan kepalanya tak percaya, lalu menatap Zea.

"Wah, Zea... ucapanmu tadi benar-benar bukan bualan cinta buta," kata Nana. "Dia benar-benar 'sempurna' dalam arti yang mengerikan. Prediksimu 100% akurat."

Aku hanya diam, bersandar di sofa dengan wajah datar. Namun, di dalam hati, aku menganalisis situasi ini.

Fazi... dia sengaja.

Dia sengaja mengumumkan ini di depan inti OSIS. Dia ingin memvalidasi posisiku. Dia ingin orang-orang ini—para elit sekolah—menghormatiku bukan sebagai junior yang beruntung, tapi sebagai aset berharga. Fazi sedang berusaha membangun reputasiku agar aku lebih diterima. Agar aku punya koneksi.

Zea, yang duduk di sebelahku, menatapku dengan mata berbinar-binar. Mulutnya sedikit terbuka.

Dia tahu aku pintar. Tapi dia tidak menyangka levelnya setinggi ini.

Bagi Zea, Callen adalah kotak kejutan yang tidak ada habisnya. Bertemu dengan Callen benar-benar membuka matanya. Dulu, Zea hanya peduli pada kecantikan, popularitas, dan pujian kosong. Tapi Callen membawanya melihat dunia yang berbeda—dunia di mana kecerdasan, strategi, dan ketenangan adalah kekuatan yang sebenarnya.

Zea merasa hatinya membuncah. Dia bersyukur. Sangat bersyukur bisa mengenal cowok ini, bahkan bisa duduk sedekat ini dengannya. Dia merasa seperti memenangkan lotre kehidupan.

"Jadi, Callen," suara Fazi memecah lamunanku. Dia menatapku dengan tatapan teduh, bukan sebagai Ketua OSIS, tapi sebagai seorang kakak.

"Kamu tidak perlu menutup diri terus-menerus seperti itu. Aku lumayan tahu tentang beratnya beban yang kamu pikul—ekspektasi keluarga, atau apapun itu yang membuatmu ingin jadi 'rendahan'," ucap Fazi lembut namun tepat sasaran.

"Jalani saja hidup di sekolah ini dengan tenang. Nikmati masa mudamu. Jangan bersikap seolah-olah kamu harus memikul langit sendirian. Kamu punya teman. Kamu punya bakat. Sayang kalau itu dipendam sendirian di pojokan kelas."

Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa, rasanya cukup berat saat mendarat di dadaku.

Aku menatap Fazi, lalu mengangguk pelan.

"Aku mengerti, Kak. Terima kasih sarannya," jawabku tulus.

Tiba-tiba, sebuah sentuhan hangat terasa di lengan kiriku.

Zea.

Dia menyentuh lenganku lembut, membuatku menoleh. Dia menatapku dengan senyum manis yang menenangkan, senyum yang belum pernah kulihat dia berikan pada orang lain.

"Tenang saja, Cal," ucapnya pelan tapi yakin. "Aku juga ada di sini. Aku akan selalu membantumu... Tidak perlu kamu berjalan sendirian lagi. Kalau kamu capek mikir, aku yang bakal hibur kamu."

Melihat momen itu, suasana di Ruang OSIS mendadak berubah drastis. Dari tegang karena urusan akademik, menjadi hangat dan penuh bunga-bunga.

Kak Disa menutup mulutnya menahan senyum gemas. Kak Raka menyikut lengan Fazi sambil nyengir.

"Cieee... cieee..." goda Nana sambil menunjuk-nunjuk kami. "Duh, kok AC ruangannya tiba-tiba mati ya? Rasanya di sini jadi anget banget dan banyak semutnya!"

"Aduh, mataku sakit melihat kemesraan mereka berdua," tambah Kak Raka sambil pura-pura menutup mata.

Mendengar godaan bertubi-tubi itu, keberanian Zea langsung runtuh seketika.

Wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Dia tidak sanggup mengangkat wajahnya. Karena bingung harus sembunyi di mana, Zea refleks menunduk dan menjatuhkan wajahnya ke lengan atasku, menyembunyikan mukanya yang panas di kain seragamku.

"Jahaaat!" cicitnya tertahan dari balik lengan bajuku.

Aku merasakan hembusan napasnya yang hangat menembus kain seragamku. Wangi vanilla dari rambutnya kembali tercium jelas.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala melihat kelakuan senior-senior ini dan gadis di sampingku. Tapi, jauh di lubuk hati, ada sedikit perasaan hangat yang menjalar. Mungkin... benar kata Fazi. Tidak buruk juga sesekali tidak sendirian.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!