"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Peraturan Tak Tertulis di Rumah Arkan
Pagi itu, udara di rumah mewah Arkan terasa lebih berat dari biasanya. Elena terbangun dengan leher kaku akibat tidur di lantai marmer yang membeku semalam. Elena segera bangkit, merapikan gaun sutra mahalnya yang kini kusut—sebuah pemandangan yang dia tahu akan memancing amarah Arkan.
Arkan sedang duduk di meja makan, memegang koran bisnis sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Suasana sunyi, hanya terdengar denting sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen. Begitu Elena masuk ke ruang makan, Arkan meletakkan korannya perlahan. Matanya menyapu penampilan Elena dari atas ke bawah.
"Kemari," ucap Arkan. Suaranya tenang, tapi ada getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.
Elena mendekat dengan langkah ragu. Begitu jarak mereka cukup dekat, tanpa peringatan, tangan Arkan melesat. Dia tidak menampar, melainkan mencengkeram rambut Elena di bagian belakang kepala dan menariknya dengan sentakan kuat hingga kepala Elena terdongak paksa.
"Aakh!" Elena memekik pelan, tangannya refleks memegang lengan Arkan, mencoba mengurangi tarikan yang terasa seolah ingin mencabut kulit kepalanya.
"Lihat dirimu," bisik Arkan tepat di telinga Elena. "Gaun seharga puluhan juta, tapi kamu memakainya seperti sampah. Kamu sengaja ingin membuatku terlihat seperti suami yang tidak bisa mengurus istri di depan para pelayan?"
"Ma-maaf... semalam aku..."
"Diam!" Arkan menyentak rambutnya lagi. "Kamu tahu kenapa aku harus sekasar ini padamu, Elena? Karena kamu tidak pernah belajar. Kamu bebal. Kamu selalu membuatku harus menggunakan cara ini agar otak desamu itu bisa mengerti peraturan di sini."
Arkan melepaskan cengkeramannya, membuat Elena tersungkur menabrak pinggiran meja makan. Belum sempat Elena menyeimbangkan diri, Arkan berdiri dan menatapnya dengan pandangan yang lebih rendah dari debu.
Cuih!
Cairan hangat mendarat di pipi kiri Elena. Arkan baru saja meludahi wajahnya tepat di depan Bi Inah yang sedang membawa nampan buah. Bi Inah tertunduk gemetar, tidak berani melihat kezaliman itu.
Elena membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Rasa hina itu membakar lebih perih daripada jambakan di rambutnya tadi. Dia bisa merasakan ludah itu mengalir pelan di pipinya, tapi tidak berani mengusapnya.
"Jangan dihapus sampai kamu selesai membersihkan seluruh ruangan ini," perintah Arkan dingin.
"Itu adalah pengingat bahwa statusmu di sini tidak lebih tinggi dari ludah yang keluar dari mulutku. Jangan merasa dirimu berharga, Elena. Kamu hanya hidup karena aku mengizinkanmu hidup."
Arkan kemudian mengambil sepotong roti panggang yang sudah diolesi selai, menggigitnya sedikit, lalu menjatuhkan sisanya ke lantai yang baru saja dibersihkan oleh pelayan lain.
"Bersihkan itu dengan mulutmu, El," ucap Arkan tiba-tiba.
Elena mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Arkan dengan tidak percaya. "Apa...?"
"Kamu dengar aku. Ambil roti itu dengan mulutmu. Tunjukkan padaku seberapa rendah kamu bersedia merangkak demi nyawa ayahmu yang payah itu. Bukankah kamu bilang kamu sangat mencintainya? Buktikan."
Manipulasi itu bekerja seperti racun. Di kepala Elena, dia mulai berpikir: Ini salahku. Kalau saja aku bangun lebih awal, kalau saja aku lebih rapi, Arkan tidak akan semarah ini. Aku memang istri yang gagal. Aku pantas dihina agar Ayah selamat.
Dengan tubuh gemetar dan air mata yang akhirnya tumpah, Elena berlutut. Merangkak perlahan mendekati potongan roti di lantai. Rasa mual melonjak di tenggorokannya, bukan karena rotinya, tapi karena penghancuran martabat yang sedang dia jalani.
Arkan memperhatikannya dengan senyum tipis yang mengerikan. Dia merasa berkuasa. Dia merasa setiap inci penolakan Elena di masa lalu kini terbayar lunas.
"Pintar," gumam Arkan setelah Elena melakukan apa yang diperintahkannya. Arkan berjongkok di depan Elena yang masih bersimpuh di lantai. Mengusap kepala Elena dengan lembut, seolah-olah Arkan sedang membelai hewan peliharaan yang baru saja melakukan trik menarik.
"Lihat? Kalau kamu patuh seperti ini, aku bisa jadi suami yang sangat baik, El. Kamu yang membuatku jadi monster. Jangan pernah lupa itu. Semua luka, semua ludah ini... kamu sendiri yang mengundangnya masuk."
Setelah Arkan pergi meninggalkan rumah untuk ke kantor, Elena masih terduduk di lantai ruang makan. Elena tidak lagi menangis. Elena hanya menatap kosong ke arah pintu gerbang yang tertutup rapat. Di pipinya, ludah Arkan sudah mengering, meninggalkan rasa kaku yang menjijikkan.
Bi Inah mendekat dengan air mata berlinang, mencoba membantu Elena berdiri. "Nyonya... mari saya bantu..."
"Jangan, Bi," bisik Elena datar. "Nanti Tuan marah kalau Bibi membantu sampah seperti saya."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Elena mulai mempercayai narasi yang dijejalkan Arkan ke kepalanya. Dia mulai merasa bahwa dia memang tidak berharga.
Tapi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh tangan kasar Arkan, sebuah percik api kecil masih menyala. Percik api itu berbisik pelan, menyebutkan satu nama yang menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bernapas di tengah kegilaan ini.
"Eros... kalau kamu melihatku sekarang, apakah kamu masih akan menginginkanku? Ataukah aku sudah terlalu kotor untukmu?"
Elena tidak menyadari bahwa di balik tembok tinggi rumah itu, seorang kurir baru saja mengantarkan sebuah paket tanpa nama untuk Arkan. Di dalam paket itu bukan hanya dokumen bisnis, melainkan sebuah peringatan kecil: selembar foto lama Elena dan Eros juga Arkan yang bagian wajah Arkan-nya sudah dicoret dengan tinta merah darah.
Permainan mental Arkan baru saja dimulai, tapi tanpa dia sadari, pemburu yang sebenarnya sudah mulai memasang perangkap di sekitar istana emasnya.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya