"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perseteruan
HARI RESEPSI
Mobil pengantin berhenti di depan tangga Balai Serbaguna Pemerintah Kota lokasi Resepsi dilangsungkan. Sebuah Gapura yang terbuat dari lilitan akar dengan hiasan bunga segar menyambut mereka dan menjadi gerbang ke dalam ruang resepsi.
Rama turun dari mobil lebih dulu, kemudian membantu Aya turun dengan gaunnya yang menawan. Meski acara ini dilaksanakan dengan sambutan meriah, tapi hati keduanya masih saja kosong. Hanya menganggap acara itu bagian dari ritual dan publikasi formal, setidaknya itu yang Aya rasakan.
Haura yang berdiri di pinggir lorong menatap Aya yang terlihat canggung dengan tatapan sendu. Hatinya masih sedih, tak menyangka putri yang begitu dikasihinya menjalani riak kehidupan seperti itu. Usman, tak kalah tegang, ia pun masih memendam kecewa.
Saat keduanya masuk ke gedung diiringi alunan gesekan biola sebagai bagian dari acara penyambutan pengantin, semua mata para undangan yang sudah hadir menatap Aya dengan terpana, Aya terlihat cantik dengan gaun itu.
Aya berusaha mengulas senyum, namun tak bisa menutupi rasa canggung dan gugupnya. Akhirnya yang nampak terbaca adalah senyuman keterpaksaan.
Rama menggenggam jemari Aya yang mengait di lengannya. Hanya untuk memberi ketenangan sementara. Usman dan Haura berdiri di kiri pengantin, sedang Jaka dan Harum di sisi kanan. Mereka memakai seragam orang tua mempelai menjadi pendamping pengantin.
Akad dan resepsi mereka serba mendadak dan terburu-buru. Tak ada lagi yang namanya bridesmaid ataupun groomsmen, yang penting resepsi terlaksana. Itu saja yang ada di kepala mereka. Bukan pernikahan impian seperti kebanyakan orang.
Satu persatu undangan naik ke pelaminan memberi selamat orang tua dan kedua mempelai.
Karin, Septi dan Mira yang tahu kisah asli di balik pernikahan itu menatap Aya dengan sendu. Bukan kebahagiaan seperti tatapan tamu undangan lain.
"Aku lihat, senyuman Aya canggung sekali, Rin. Apa dia cerita sesuatu? " tanya Mira sambil terus menatap Aya diatas pelaminan.
"Hhhh.. situasinya dingin lagi beberapa hari kemarin. Mereka bahkan tak tidur satu ranjang, " sahut Karin. Matanya menatap Aya dengan kesedihan.
Mira dan Septi saling tatap, lalu ikut menghela nafas.
"Kira-kira Aya bisa nggak ya jalanin nya. Kalau Aku sih nggak bakal sanggup, " tukas Mira.
"Do'akan aja yang terbaik," jawab septi.
Sepanjang acara kecanggungan antara dua keluarga juga terlihat. Jaka, Harum dan Raja berusaha tetap bersikap ramah dengan keluarga Aya. Namun, Haura dan Usman terang-terangan bersikap dingin. Hanya keluarga besar mereka yang bersikap ramah, kemungkinan Usman dan Haura masih menyembunyikan masalah itu.
Hari makin siang, tamu undangan semakin sedikit. Band penghibur masih menyanyikan lagu dengan beat ceria. Aya dan Rama melakukan sesi foto terakhir di atas pelaminan.
Saat petugas Fotografer meminta Rama memeluk Aya dari belakang, ekspresi Aya sangat terlihat canggung. Rama berusaha membuatnya rileks.
"Senyumlah sedikit, banyak keluarga yang melihat, " bisik Rama.
Aya menarik nafas panjang lalu mengatur senyuman supaya terlihat natural.
"Ya, Bagus.. tahan ya, " ujar fotografer.
Lampu blitz kamera menyambar seperti kilat mengambil angel yang tepat.
Septi, Mira dan Karin berdiri di dekat salah seorang WO Officer, menyerahkan ponselnya dan berbisik memberi pesan.
"Kak, minta foto dengan pengantin wanitanya aja ya, " ujar Karin.
Fotografer itu mengangguk, WO officer tadi berdiri di samping fotografer mengambil foto lewat ponsel Septi.
Rama bergeser memberi mereka kesempatan.
"Terima kasih ya, Pak. "
"Ya, silahkan," sahut Rama.
Mereka bertiga berpose di samping kanan kiri Aya.
"Senyum dong sayang, aku malah mau nangis lihat senyum mu itu, " bujuk Karin.
"Iya.. iya, aku usahakan. Aku jadi mau nangis juga kamu ngomong begitu, " sahut Aya.
Fotografer mengambil momen candid mereka.
"Oke, sudah siap? "
Mereka berdiri dengan berbagai macam pose, layar blitz mengabdikan momen mereka.
" Pengantin jangan kamu, senyum lagi ayo.. tahan capeknya ya.."
"Ya, aku bungkus rendangnya ya buat di kos, " celetuk Mira yang spontan membuat Aya tertawa sampai terlihat gigi putihnya yang rapi.
Fotografer dengan cekatan mengambil momen itu.
"Nah gitu, bagus yang natural ketawanya.."
Rama melihat dari kejauhan momen itu, ada rasa sedih dihatinya.
'Fotografer aja sadar senyum Aya canggung dari tadi, ' batinnya.
Rama menghampiri Haura yang tengah menikmati kudapan di meja VIP.
"Umi, ijin Rama antar Aya besok ya Biar istirahat dulu semalam. "
Haura hanya mengangguk dengan ekspresi dingin. Dari kejauhan, Jaka dan Harum merasa sedih melihat ekspresi itu. Melihat anaknya diperlakukan dingin oleh besan, hati orang tua mana yang tak kecewa. Tapi mereka juga tak bisa melawan, karena anak mereka di posisi yang salah.
Sore hari, semua keluarga saling berpamitan. Harum dengan langkah gontai menghampiri Haura.
"Bu Haura, Saya minta maaf dengan perlakuan Rama pada Aya. Jujur, kami tak pernah berniat membuat pernikahan mereka jadi rumit. Saya mohon kebesaran hati Bu Haura untuk memberikan kesempatan pada Rama, " ujar nya dengan tatapan memohon. Tangannya menggenggam erat tangan Haura.
"Saya mengerti Bu, saya tahu Bu Harum dan pak Jaka pasti sudah berusaha yang terbaik. Tapi mohon maaf, saya akan bersikap tegas jika tidak ada kejelasan. Saya ikhlas putri saya menjadi janda dalam waktu singkat daripada hidup dalam pernikahan yang tak memihak padanya."
"Bu Haura, jangan bicara seperti itu. Rama pasti akan memilih Aya, kami pastikan itu. Kami tak mengharapkan ada perceraian. Kami akan merasa sangat bersalah kalau sampai itu terjadi, kami sudah menjanjikan kebahagiaan Aya pada almarhum abanya."
"Tak perlu bawa-bawa janji itu lagi Bu Harum. Kami anggap akad kemarin sudah memenuhi amanat, dan jika akhirnya mereka memang tak bisa bersama itu sudah jalan takdirnya. Saya tak ingin semua berjalan tapi karena dipaksakan. Bagaimana bisa lahir kebahagiaan kalau tidak ada ketulusan di dalamnya."
Perdebatan keduanya menjadi perhatian keluarga besar lain yang masih ada di lokasi acara itu. Jaka menghampiri Harum, begitu juga Usman dan istrinya.
"Haura, sudah jangan diteruskan, " tegur Usman lirih.
"Mereka masih mau memaksakan Aya bertahan tapi anaknya tak menjamin apa-apa, bang. Bagaimana aku bisa tahan? " sahut Haura dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Ma, sudah jangan dibicarakan di sini," bujuk Jaka sambil merangkul Harum dari belakang.
"Mama hanya mau meyakinkan, ini bukan salah anak kita sepenuhnya, Pak. Perempuan itu yang terus mengganggunya, " sahut Harum dengan isakan.
Rama bergegas menghampiri keributan itu, Aya juga tergopoh mengangkat baju pengantinnya menyusul.
"Mama, sudah Ma, " bujuk Rama. Raka juga ikut menenangkan. Harum menangis terisak hingga dadanya sesak.
Haura menangis dipelukan istri Usman.
"Umi, maaf ya. Maafin Aya. Aya bakal pulang ke rumah, umi tenang ya, " bujuk Aya sambil memeluk uminya dari belakang.
Keduanya berpelukan. "Kenapa kamu mengalami ini Aya. Umi selalu menjagamu dengan baik, menyayangimu kenapa Allah kasih suami seperti itu untukmu, " bisik Haura dalam pelukan Aya.
"Qadarullah, Umi. Aya mau naik derajat lewat ujian ini. In syaa allah nanti ada hikmahnya. Maaf sudah bikin umi sedih, " sahut Aya dengan air mata berlinang. Ia mengelus lembut punggung uminya yang makin kurus.
Keluarga lain menatap mereka dengan kebingungan. Mereka tak tahu sebab perselisihan itu, dan hanya bisa menghela nafas.
Dari kejauhan, Alex merekam kejadian itu dengan senyuman puas lalu mengirimkannya pada seseorang.
^^^[Mel,Lihat!! Ada pertunjukan seru di acara pacarmu. ]^^^
[Hahaha.. rasakan, siapa suruh mempermainkan aku. ]
.
.
.