Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Emily mengelus kepala Jeon yang sedari tadi berada di pangkuannya.Pria itu hanya memejamkan mata tanpa mengatakan apapun. Emily tidak bertanya atau menegur kekasihnya,gadis itu sibuk dengan televisi yang menyala menampilkan boyband kenamaan yang berisi tujuh pria tampan. Emily ikut menyanyi walaupun hanya berupa gumaman.
Jeon membuka mata menatap pahatan wajah Emily yang masih luar biasa cantik walaupun tanpa make-up. Dia merasakan kenyamanan saat tangan lentik itu tanpa henti mengusap kepalanya. Gadis ini sama sekali tak bertanya apapun padahal dirinya sedari tadi hanya diam sambil memejamkan mata.
"Aku lapar.."rengek Emily akhirnya.
Jeon tersenyum dan menduselkan wajahnya ke perut rata Emily. Gadis itu tertawa karena merasa geli dengan kelakuan Jeon yang seperti anak kecil.
"Aku juga lapar..."sahut Jeon yang masih membenamkan wajahnya.
"Mau apa biar aku pesankan"Emily mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
Tanpa sadar kancing kemeja Emily sudah terbuka semua karena perbuatan pria Jeon. Tangan pria itu sudah naik ke atas dada Emily. Gadis itu terkejut dan tersentak seperti terkena setrum.
"Apa yang kamu lakukan Jeonnnn"tangannya menepis berkali-kali.Jeon terkekeh sembari mengaduh karena tepisan Emily lumayan kencang.
"Tadi kamu tanya ingin makan apa kan..?ya sudah aku buka bajumu, karena aku pengen makan kamu sekarang.."
"Keterlaluan..."Desis Emily kesal.
Jeon mengaduh karena sekarang kepalanya juga mendapatkan geplakan sayang dari Emily.
"Aku beneran lapar,jangan aneh-aneh "
"Baik... princess.."ucap Jeon sembari memeluk tubuh mungil Emily.
Sembari membiarkan Emily mengotak-atik ponselnya untuk memesan makanan Jeon memijat kaki Emily yang sekarang berada di atas pahanya.
"Sayang...aku mau bicara sesuatu,tapi sebelum aku selesai tolong jangan menyela "ucap Jeon terdengar serius.
Emily menghentikan ketikannya dan memusatkan perhatiannya pada kekasihnya. Inilah yang sangat disukai oleh seorang Jeon Respati, gadis ini akan menunda apapun yang dia lakukan saat Jeon sedang berbicara. Dia tidak pernah sekalipun menjadikan Jeon prioritas kedua.
"Ada apa, sepertinya serius sekali..Bicaralah.."
"Jika suatu hari nanti aku hanyalah seorang Respati tanpa embel-embel Jeon di depan namaku apakah kamu masih mau dengan ku..?"Jeon menatap Emily dengan mata sendu. Emily mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena dia sudah berjanji akan mendengarkan ucapan kekasihnya.
"Keluargaku sudah tau semuanya, walaupun aku tidak mengatakan siapa gadis yang sudah mencuri hatiku,cepat atau lambat mereka akan tau. Dengan koneksi yang mereka punya sudah pasti informasi tentang kamu akan sampai ke telinga mereka.."
"Aku tidak ingin kehilangan kamu"lanjut Jeon lagi.
Setelah dirasa pria itu tak lagi mengatakan apapun, Emily beringsut untuk memeluk kekasihnya. Jeon membenamkan wajahnya ke ceruk leher milik Emily. Tangan gadis itu mengusap punggung kokoh Jeon yang sekarang terlihat lemas.
Ting ting ting tong
Emily segera berlalu untuk mengambil pesanan mereka, dia kembali sembari menenteng beberapa kantung makanan di tangannya. Rasa laparnya sudah menghilang entah kemana. Dia kembali memeluk Jeon yang masih terduduk lesu di sofa.
"Sayang...aku cinta sama kamu, entah kamu seorang Jeon atau hanya seorang Respati,aku tetap menginginkan kamu.Karena itu kamu bukan orang lain. Jadi jangan pernah mengatakan yang tidak-tidak. Mulai sekarang,ayo bergandengan tangan bersamaku menghadapi semuanya"ucap Emily menenangkan.
Jeon menatap gadis cantik di depannya,dia mengecup kening Emily sangat lama. Emily memejamkan matanya, merasakan lembutnya bibir Jeon di keningnya. Gadis itu tidak meragukan cinta Jeon Respati tapi karena ingin memantapkan hati dia harus menanyakan kegundahan yang ada di dalam hatinya.
"Jika putramu yang meminta kamu kembali, apakah kamu akan meninggalkanku..?"
Jeon terdiam sesaat lalu membelai wajah Emily. "Tidak.. karena aku mencintai kamu dan tentang putraku, dia akan tetap menjadi putraku walaupun kami berpisah.Dia akan mengerti suatu saat nanti "
"Kamu janji ga akan ninggalin aku..?"
"Iya sayang iya,aku janji" Jeon mencubit hidung mancung Emily. "Sekarang ayo makan sebelum sayangku ini berubah jadi monster karena lapar"
Mereka berdua tertawa tanpa beban. Emily menyiapkan makanan dan Jeon mengambil botol minum dari lemari pendingin. Entah apa yang terjadi besok, mereka hanya ingin menghabiskan hari ini bersama.