NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu Berjalan

Nyatanya benar, Damian tak kunjung datang. Ditambah lagi, Bibi Mini yang mengabari tiba-tiba jika dia tak bisa datang ke Penthouse karena harus menemani suaminya yang dirawat di rumah sakit. Juga meminta Nina agar merahasiakan hal ini dari Damian. Bahkan perempuan paruh baya itu, memohon dengan sangat agar jangan sampai dipecat.

Nina tak membuang kesempatan yang datang, dia memberanikan diri keluar dari Penthouse. Bukan untuk kabur, tapi untuk mencari kontrakan.

Uang bulanan yang ditransfer Damian padanya, mungkin sudah lebih dari cukup untuk menyewa rumah dan mengisinya. Setidaknya anak-anaknya bisa tinggal dengan nyaman.

Nina bertanya pada staf bagian perawatan gedung yang kebetulan bertempat tinggal tak jauh dari sana. Dan mereka sempat bertukar nomor ponsel, untuk memudahkan komunikasi.

Lalu di sini lah Nina sekarang. Sedang mendengar penjelasan pemilik rumah kontrakan, yang rencananya akan menjadi tempatnya tinggal bersama anak-anaknya nanti. Jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari Penthouse.

"Mbak Nina jadi mau ambil ini?"

Nina yang sedang mencoba menyalakan wastafel, menoleh. "Iya Nur! Harganya cocok di aku."

Nurul nama salah satu pekerja perawatan gedung apartemen, dia yang mengantarkan Nina mencari kontrakan. "Tapi ini masih kosongan, nggak apa-apa emang, mbak?" Dia memastikan. Tidak ada satupun perabot di sana.

Nina mematikan kembali kran di wastafel, setidaknya di sini airnya mengalir dengan lancar. Dia melangkah menghampiri Nurul yang berdiri dia ruang tamu dari rumah kontrakan itu. "Kalau kamu nggak sibuk, pas libur. Temani aku beli perabotan ya?"

Nurul menunjukkan jempolnya. "Beres mbak!"

Rumah itu terletak di gang yang hanya dilalui motor dan pejalan kaki. Tapi tak terlalu jauh dari mulut gang di mana mobil biasa berlalu lalang.

Rumah tersebut juga memiliki beberapa ruangan. Seperti ruang tamu, dua kamar tidur, dapur dan tentunya kamar mandi. Ada teras yang bisa berfungsi untuk parkir motor, serta pagar yang bisa menjadi pengamanan tambahan.

"Kalau begitu saya ambil kwitansi dulu, buat tanda terima." Ujar pemilik kontrakan bernama Ibu Wulan.

Sepeninggal Pemilik kontrakan, Nina duduk di lantai sambil menikmati gorengan yang tadi dibelinya saat dalam perjalanan. Dia mendengar Nurul bercerita tentang kebaikan pemilik kontrakan, juga para tetangga sekitar. kebetulan perempuan yang juga berhijab itu tinggal berjarak beberapa rumah dari tempat mereka berada saat ini.

"Pokoknya aku jamin, mbak Nina dan anak-anak pasti betah di sini." Nurul memakan sisa potongan gorengan yang sebelumnya telah dia gigit. Pipinya menggembung, lucu.

Nina cukup terhibur dengan tingkah jenaka gadis berusia dua puluh tahun itu. "Terima kasih ya Nur! Udah mau nemenin aku cari kontrakan."

"Sama-sama mbak! Pokoknya kalau ada apa-apa, mbak Nina bisa bilang ke Nurul. Entar sebisa mungkin Nurul bantu."

Nurul kembali menjelaskan soal lingkungan sekitar, termasuk keberadaan pasar, warung, taman kecil hingga sekolah.

Nina mendengarkan dengan seksama, mungkin nanti ketika masa kontraknya habis. Dia benar-benar akan menetap di sini.

"Oh ya mbak, kalau bisa mbak Nina nabung. Kali aja bisa beli ini rumah."

Nina mengernyit bingung, "Maksudnya?"

Nurul bangun dan melangkah menuju pintu, memastikan keadaan aman. Lalu kembali ke tempatnya tadi. "Anaknya yang punya kontrakan itu agak gimana gitu ..." Ada keraguan di wajah gadis itu. "Pokoknya saran Nurul, mbak Nina kudu punya duit. Kira-kira seharga rumah ini lah."

Hampir dua tahun tinggal di ibu kota, Nina sedikit paham maksud apa yang dikatakan teman barunya itu.

Selama menjadi pengangguran selama dua bulan lebih, Nina mulai menyusun rencana masa depannya. Uang bulanan ditambah uang pesangonnya nanti akan dia kumpulkan untuk masa depan keluarga kecilnya.

Dari tempat tinggal, pendidikan hingga usaha apa yang mungkin akan Nina lakukan untuk menyambung hidup. Intinya, Nina tidak akan menggunakan uang dari Ammar untuk berfoya-foya.

Terlalu lama hidup dalam kekurangan tak membuat Nina gelap mata, ketika mengetahui nominal uang yang sekarang ini ada di rekeningnya. Rekening yang dibuatnya atas desakan Nanik.

***

Selama tidak ada Bibi Mini, Nina mengurus keperluannya sendiri. Termasuk soal kebutuhan makan dan membersihkan Penthouse.

Nyatanya bukan hanya seminggu, tapi sudah lebih dari itu. Nina benar-benar sendirian di Penthouse.

Walau dia sudah dekat dengan Nurul, tapi Nina cukup tau diri untuk tidak membawa teman barunya menyambangi tempat tinggalnya.

Sore itu, Nurul mengajaknya berbelanja di supermarket di gedung sebelah. Katanya habis gajian dan ingin ditemani membeli beberapa keperluan rumah untuk keluarganya.

Nina yang memang tidak punya pekerjaan, mengiyakan begitu saja ajakan tersebut. Toh ada sesuatu yang ingin dia beli.

"Mbak Nina mau beli apa? Aku traktir deh." Nurul berseloroh. "Tapi jangan lebih dari lima puluh ribu ya!" tambahnya.

"Wah ... Boleh tuh!" tidak ingin menyinggung, Nina menyambut baik niat gadis yang melapisi seragam petugas kebersihan dengan kardigan abu tua.

Sudah dua bulan ini, Nina begitu gemar memakan cokelat. Damian atau Bibi Mini, selalu menyediakannya di lemari penyimpanan. Dan kebetulan, stok miliknya sudah habis.

"Mbak, aku mau cari diskonan minyak dulu." Seru Nurul sambil mendorong troli. Nina memilih mengikuti saja.

Sepertinya Gadis itu sedikit kalap, hingga troli sudah terisis setengahnya. Padahal tadi Nina melihat catatan yang ditulis Nurul, tidak sebanyak barang yang sekarang berada di troli.

Nina hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tak banyak komentar. Nina memang bukan tipe orang yang suka ikut campur dan mengomentari keputusan orang lain.

Terlalu lama menjalani hidup dengan kerja, kerja dan kerja. Membuat Nina memiliki pola pikir masa bodo. Tapi bukan berarti Nina tidak memiliki empati.

"Mbak Nina, pake pembalut merek apa?" Tanya Nurul tiba-tiba.

Nina yang sedang membandingkan harga tisu, langsung menoleh. "Pembalut?"

"Iya pembalut." Nurul mengangguk. "Kewanitaan Nurul itu sensitif, udah pake beberapa merek tapi iritasi terus. Jadi bingung mau yang mana." Dia membetulkan posisi hijabnya. "Kali aja Mbak Nina punya rekomendasi bagus."

Nina diam mematung. Terbesit dalam ingatannya, kapan terakhir dirinya mendapatkan tamu bulanan?

Seingatnya selama tinggal di Penthouse, dia sama sekali tidak pernah libur dalam beribadah lima waktu. Apa mungkin ...?

Tapi dua tahun lalu, sebelum Nina dan anak-anaknya pindah ke ibu kota. Dia pernah mengalami hal serupa, tapi setelah memeriksakan diri ke puskesmas. Dokter mengatakan jika hormonnya sedang bermasalah. Saat itu dokter mengatakan penyebabnya, kemungkinan besar adalah faktor psikologis.

Memang kala itu, Nina sedang ditimpa masalah pelik dengan keluarga dari pihak ibu. Pekerjaan berat yang dia lakoni dan tekanan dari para sepupunya, membuatnya stres. Dan berakhir dengan siklus menstruasinya terganggu.

Tapi sekarang?

Bukankah hidupnya baik-baik saja?

Nina sama sekali tidak kekurangan atau bahkan kelelahan ataupun stres. Seumur hidupnya baru kali ini, Nina bisa hidup dengan bermalas-malasan tanpa melakukan hal berat.

Tapi jika dia Hamil, kenapa Nina tidak mengalami mual seperti kehamilannya yang dulu?

Nina merasa baik-baik saja. Tubuhnya memang semakin berisi. Tapi bukankah ini terjadi karena Nina banyak makan.

"Mbak Nina ..."

Panggilan dari Nurul, membuyarkan lamunannya. "Iya Nur!"

"Mbak Nina sakit?" Tanya Nurul memastikan.

Nina menggeleng, "Nggak kok! Aku sehat." Lalu dia mengambil merek pembalut yang menurutnya aman. " Yang penting sering-sering ganti pembalut aja, Nur!" dia memberikan satu bungkus merek yang biasa dipakai Anin. Putrinya itu memiliki kulit sensitif.

"Harganya lebih mahal ya?" Nurul tersenyum kecut.

"Ambil aja Nur! Kenyamanan itu nomor satu, toh ini pakai uang kamu sendiri." Ucap Nina. "Nur, kayaknya aku pulang duluan deh! Perutku agak mulas." Dia beralasan.

"Di sini ada toilet, mbak!"

Nina menggeleng, "enakan ditempat sendiri." Untuk sebagian orang, urusan buang hajat lebih nyaman di tempat tinggalnya sendiri.

"Ya udah sana. Dasar mbak Nina." Nurul terkikik geli.

Setelah mengambil banyak cokelat favorit nya, Nina lansung menuju kasir. Untung saja tidak terlalu mengantri.

Tak jauh dari kasir, ada sebuah apotik. Di sana dia membeli sesuatu yang Nina ingat, pernah dia beli lebih dari lima belas tahun lalu.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!