Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM DAN NASIHAT
Aku jadi sedikit heran dengan sosok anak kecil itu. Untuk apa dia mengikutiku sampai ke rumah. Aku berjalan mendekatinya. Dan kulihat bapak sepertinya tertidur. Sehingga ia tidak melihatku akan berbicara dengan seorang anak kecil ghoib.
"Dek Gilang, kamu mau apa ikut Kakak sampai ke sini?" tanyaku.
"Aku suka..." jawabnya sambil tersenyum. Sungguh, jika orang lain yang mengalami hal seperti ini, sudah dipastikan akan lari.
"Suka apa?" tanyaku.
"Aku suka sama Kakak."
"Hah? Apa?" aku mengerutkan dahi. Tak kusangka, akan ada yang menyukaiku, tapi bukan dari bangsa manusia seperti ini.
"Apa yang bikin kamu suka sama Kakak?"
"Karena Kakak baik..."
"Baik? Kakak gak melakukan apapun buat kamu. Lagian juga Kakak baru lihat kamu pertama kali."
"Kakak baik. Gak seperti orang tuaku. Mereka berdua melupakan aku Kak."
Mendengar jawabannya, entah kenapa hatiku terenyuh. Aku sadar betul bahwa dirinya adalah bangsa lelembut. Bisa saja dia adalah qorin dari sosok Gilang yang sesungguhnya.
Aku duduk di sampingnya. "Dek Gilang, Kakak yakin orang tua kamu baik. Mungkin mereka lagi sibuk. Jadi agak terlambat buat datengin kamu."
"Tapi Kakak sudah do'akan aku tadi."
"Iya... Kakak do'akan kamu, memang bener kok. Tapi, kamu gak boleh ikut sama Kakak. Rumahmu bukan di sini."
"Pokoknya aku mau ikut sama Kakak!" ucapnya sambil berdiri, wajahnya seperti tampak kecewa. Masih dengan tatapannya yang kosong.
"Gak boleh, Kakak gak mau kamu ikut sama Kakak."
"Pokoknya aku mau ikut!" jawabnya makin ketus. Lalu sosoknya berjalan, menembus dinding depan rumahku. Dan tampak duduk di teras rumahku. Sinar matahari yang sudah meninggi, tampak menembus tubuhnya yang transparan di mataku.
"Duh, Yaa Alloh. Kenapa malah kayak dia sih yang suka sama aku? Ada-ada aja."
Aku yang sedikit agak kesal dengan tingkahnya itu, kembali saja ke dapur. Kulanjutkan memasak. Karena jauh lebih penting aku mengurus bapak, dari pada mengurus makhluk halus kecil itu.
Akhirnya aku bisa kembali fokus memasak. Satu persatu bahan masakan sop kumasukkan ke dalam panci. Dan di atas kompor satunya lagi aku mulai menggoreng ikan salem yang sudah meresap bumbunya. Tercium aroma gurih. Begitu menggoda selera aromanya.
Beberapa lama kemudian, semua masakanku matang. Dan aku ambil piring, kusiapkan nasi hangat untuk bapak. Aku membawa piring itu ke kamar bapak.
"Pak, makan dulu yuk. Udah mateng semua." ucapku sambil menaruh sepiring nasi itu di sebelah bapakku.
"Iya Nis..." jawabnya. Kubantu bapak untuk beranjak duduk.
"Sebentar, Nisa ambil sayur sop sama ikan gorengnya dulu."
Aku beranjak berdiri hendak ke dapur lagi. Saat di depan pintu kamar bapak, aku menoleh ke arah teras rumah. Dan ternyata makhluk halus kecil itu sudah tidak ada di sana. Semoga saja dia tak kembali lagi ke sini. Aku ke dapur dan menuangkan sop ke dalam mangkuk. Dan kutaruh ikan salem goreng itu di atas piring lainnya. Aku segera kembali ke kamar bapak.
"Ayo Pak, makan." ucapku. Selama setahun ini, aku membantu menyuapi bapak ketika makan. Bahkan sampai membantunya ke kamar mandi, baik itu untuk buang air atau berwudhu, dan juga membantunya mandi.
Bapak makan dengan lahap. Dan aku sangat bahagia saat melihatnya makan selahap itu. Namun...
Dalam hatiku selama setahun ini, terus saja terasa perih. Perih saat menyadari bahwa bapakku sudah tak senormal dahulu...
"Nisa... Jangan bengong gitu... Mikirin apa sih kamu?" tanya bapak saat melihatku menatap kosong ke arah piring nasi.
"Gak apa-apa kok Pak..." jawabku sambil menyuapinya lagi.
"Jangan dipikirin... Nyam nyam nyam... Percaya aja, nanti juga bapak bisa sembuh kok, nyam nyam nyam..."
"Udah Pak, makan dulu, jangan sambil ngomong ah. Nanti keselek gimana?"
"Ya habisnya kamu sering bengong setiap suapi Bapak."
"Iya-iya... Aku gak bengong lagi..." Aku pun menyuap nasi ke dalam mulutku. Sungguh romantis bagi siapapun yang melihat, seorang anak perempuan makan bersama bapaknya.
Akhirnya tak berapa lama, kami pun selesai makan bersama. "Ini Pak minumnya..." aku menyodorkan segelas air putih. Dan bapak langsung meminumnya sampai habis.
Aku diam sejenak. Masih sambil memegangi gelas minum itu. Kembali terlihat melamun diriku di hadapan bapak.
"Nisa..."
"Em? Iya Pak?"
"Kamu harus kuat ya Nis..."
"Iya Pak..."
"Jangan sedih... Udah, jangan diinget lagi masa lalu."
Aku menatap wajah bapak saat ia berucap seperti itu.
"Sudahlah Nis, belajar ikhlas... Mungkin ini semua ya memang ujian buat kita dari Alloh..."
"Tapi Pak..."
"Tapi apa Nis?"
"Kenapa harus kayak gini ujiannya?" mataku mulai berkaca-kaca sambil menatap wajahnya.
"Kenapa Pak? Kenapa harus kayak gini? Kenapa harus Bapak yang jadi korban? Kenapa?" mulai menetes air mataku.
"Berat ya Nis?"
"Berat banget Pak, berat banget... Hiks hiks..." akhirnya pecah tangisanku pelan.
"Seharusnya bukan Bapak, tapi aku Pak. Seharusnya aku!" tambahku sambil menutup kedua mataku, mencoba menahan tangis yang lebih.
"Nisa... Biarkan Alloh yang membalas. Alloh gak tidur Nis. Pasti nanti akan dibalas. Yang sabar... Yang kuat..."
Aku mengusap air mata di kedua pipiku, dan menatap wajah bapak lagi.
"Pak..."
"Ya sayangku..."
"Seandainya balas dendam itu dibolehkan agama, aku pasti akan balas perbuatan orang yang sudah mencelakai Bapak, dan hampir membuatku mati Pak."
"Istighfar Nis, istighfar... Gak boleh kamu punya dendam. Bapak gak suka!" jawabnya pelan namun terdengar tegas.
"Tapi Pak... Aku gak tega lihat Bapak kayak gini sekarang... Apa aku bisa selalu kuat lihat orang yang udah membesarkan aku dalam kondisi kayak gini terus?"
"Nis... Gak akan ada satu orang tua pun yang tega melihat anaknya sedih. Gak akan ada. Apalagi orang tua itu pengen sakit di depan anaknya, gak akan ada yang kayak gitu Nisa..." jelas bapakku.
"Kalo kamu punya dendam dalam hati, terus apa bedanya kamu sama orang yang udah berbuat jahat sama kita ini?" tambahnya. Tatapannya semakin serius.
"Ingat Nis, anakku, cantikku... Kamu meneruskan warisan tirakat almarhumah Ibu. Bukan buat berbuat jahat, bukan buat jahilin orang, apalagi buat balas dendam!" kata-katanya semakin tajam. Seolah menusuk-nusuk tembok rasa dendam yang selama ini tertahan.
"Nisa... Lihat Bapak..." katanya. Aku pun kembali menatap wajah bapakku itu.
"Dulu... Almarhumah Ibumu juga udah sering dapet perlakuan gak baik dari orang lain. Sering dihina, dicaci maki, diremehkan. Tapi dia sabar. Dan kesabarannya didukung sama tirakatnya yang semakin mantap... Akhirnya almarhumah Ibumu bisa disegani banyak orang, karena dia balas perbuatan buruk dengan perbuatan baik."
Beberapa saat aku terus menatap bapak. Mendengarkan semua ucapannya. Mencoba mencerna dengan hati yang jernih. Walau sebenarnya hatiku terasa tertutup dinding amarah dan dendam itu.
"Nisa... Bapak pengen kamu jadi orang yang bermanfaat buat banyak orang. Memanfaatkan kemampuanmu. Menggunakan tirakatmu untuk jalan yang baik dan benar. Bapak gak mau kamu jadi orang jahat ya Nis... Inget itu!" tambahnya.
Aku mengangguk sambil mengusap kembali air mataku. "Iya Pak..." jawabku singkat.
"Ya udah, aku mau cuci piring dulu ya Pak."
Segera kurapikan piring dan gelas. Dan kubawa keluar kamar untuk kucuci di dapur. Saat aku sampai di pintu dapur. Aku kaget. Sosok makhluk halus kecil itu sudah berdiri di hadapanku.
"Astaghfirulloh! Kamu lagi?! Minggir gak?!"