Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Makan Dari Mertua
Beberapa hari telah berlalu sejak latihan malam yang menguras tenaga itu. Tubuh Qinqin kini terasa lebih kencang, meski memar kebiruan masih menghiasi lengan dan kakinya. Namun, bagi Qinqin, luka fisik itu adalah tanda bahwa ia bukan lagi mangsa yang mudah diterkam.
Pagi itu, suasana di Paviliun Anggrek terusik oleh kedatangan seorang pelayan senior suruhan Nyonya Besar Wu. Dengan wajah yang sengaja dibuat ramah namun menyimpan kebencian, pelayan itu membawa nampan berisi semangkuk sup sarang burung yang mengepul wangi.
Mertua Qinqin kini tak terlalu berlebihan memperlakukan Qinqin seperti dulu. Jika dulu wanita yang sering disapa Nyonya Besar Wu itu selalu memberatkan Qinqin dengan pekerjaan yang seharus nya dilakukan pelayan---kini ia tak melakukannnya karena ia tahu, Qinqin yang sekarang sedang 'dirasuki' itu tidak akan menurut. Namun, Nyonya Besar Wu punya banyak cara agar menantu nya kembali 'bersih' dan menurut.
"Nona Muda, Nyonya Besar merasa bersalah karena ketegangan beberapa hari lalu. Beliau mengirimkan sup berkhasiat ini agar kesehatan Anda segera pulih," ujar pelayan itu sambil menaruh mangkuk di atas meja kayu jati.
Qinqin, yang sedang mengasah belati pemberian Wu Lian, menghentikan kegiatannya. Ia menatap mangkuk sup itu dengan mata menyipit.
"Wah, matahari terbit dari Barat ya? Tumben sekali Nyonya Tua itu ingat kalau dia punya menantu," sahut Qinqin sambil bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati meja dengan langkah yang kini jauh lebih tenang dan berwibawa.
Xue hendak mengambilkan sendok untuk Qinqin, namun Qinqin menahan tangan pelayannya itu. Ia mencium aroma supnya. Harum, manis, tapi ada sedikit sisa bau yang sangat tipis---seperti bau logam atau tanah basah. Qinqin tahu, di dunia ini, 'permintaan maaf' dari musuh biasanya berujung di liang lahat.
"Supnya terlihat enak. Tapi Xue, aku baru ingat, bukankah Jenderal bilang dia akan mampir sebelum berangkat ke barak pagi ini?" bohong Qinqin dengan wajah polos.
Tepat saat itu, sosok tegap Wu Lian muncul di ambang pintu paviliun. Ia tampak gagah dengan baju zirah peraknya, hendak memeriksa apakah istrinya yang "aneh" itu masih hidup setelah latihan berat semalam.
"Jenderal! Pas sekali!" seru Qinqin dengan nada nakal namun tetap memberikan penghormatan kecil---ia mulai belajar sedikit sopan santun zaman kuno agar tidak terus-menerus dicurigai sebagai setan. "Lihat, Ibu mertua yang baik hati mengirimiku sup. Aku ingin membaginya denganmu, Jenderal. Sebagai tanda terima kasih atas belati keren ini."
Wu Lian melangkah masuk, tatapannya beralih dari Qinqin ke mangkuk sup tersebut. Pelayan pengirim sup seketika pucat pasi. Tangannya mulai gemetar hebat di balik lengan bajunya yang lebar.
"Aku tidak lapar," jawab Wu Lian pendek.
"Ayolah, Jenderal Es. Masa pemberian Ibu sendiri ditolak? Atau jangan-jangan..." Qinqin menggantung kalimatnya, menatap pelayan senior itu dengan tajam. "...sup ini terlalu berharga sampai hanya aku yang boleh meminumnya?"
Qinqin mengambil sendok, lalu mengaduk sup itu perlahan. Ia tiba-tiba menjatuhkan belati peraknya ke dalam mangkuk sup tersebut dengan sengaja. "Aduh! Tanganku licin!"
Detik berikutnya, semua orang di ruangan itu menahan napas. Bilah perak dari belati pemberian Wu Lian perlahan berubah warna menjadi kehitaman di bagian yang terendam sup.
Wajah pelayan itu kini seputih kertas. Ia mencoba mundur untuk melarikan diri, namun dalam sekejap, Wu Lian sudah berada di belakangnya, mencengkeram bahu wanita itu hingga terdengar bunyi retakan tulang yang halus.
"Penjelasan?" suara Wu Lian terdengar seperti gemuruh sebelum badai. Aura membunuhnya langsung memenuhi ruangan.
"J-Jenderal... hamba hanya menjalankan perintah Nyonya Besar bilang ini hanya obat tidur agar Nona Muda tenang..." ratap pelayan itu sambil berlutut lemas.
Qinqin menarik kembali belatinya, mengelap sisa sup beracun itu dengan kain meja. Ia menatap Wu Lian dengan senyum miring yang menyebalkan. "Obat tidur katanya? Sepertinya Ibu mertua ingin aku tidur selamanya agar tidak perlu melihat mukaku lagi. Jenderal, seleramu dalam memilih keluarga cukup ekstrim ya."
Wu Lian tidak menanggapi lelucon Qinqin. Rahangnya mengeras. Ia menatap pelayan itu dengan kebencian yang mendalam. "Huo Lu! Seret wanita ini ke penjara bawah tanah. Cari tahu siapa lagi yang terlibat."
Huo Lu muncul secepat kilat dan menyeret pelayan yang menangis histeris itu keluar.
Kini hanya tersisa Wu Lian dan Qinqin di paviliun. Suasana menjadi hening dan berat. Wu Lian menatap Qinqin yang kini duduk dengan santai di kursi, seolah baru saja menyaksikan pertunjukan sirkus, bukan upaya pembunuhan.
"Kau sudah tahu sup itu beracun sejak awal?" tanya Wu Lian datar.
"Hanya insting, Jenderal. Di tempat asalku--- maksudku, pengalamanku selama ini mengajariku bahwa tidak ada makan siang yang gratis, apalagi dari orang yang ingin melihatmu dikubur," jawab Qinqin sambil memainkan belatinya. "Sekarang, karena aku sudah hampir mati lagi, bolehkah aku minta satu hal kecil?"
Wu Lian menaikkan alisnya. "Apa?"
Qinqin berdiri, berjalan mendekati Wu Lian hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana dari baju zirah pria itu. "Aku butuh akses keluar kediaman dengan bebas. Aku perlu mencari beberapa bahan obat untuk ayahku di Timur, dan aku ingin mengirim surat rahasia tanpa melalui Ibu mertua. Bagaimana? Adil kan? Nyawaku dibayar dengan kebebasan."
Wu Lian menatap mata emas Qinqin yang berkilau penuh siasat. Ia menyadari bahwa membiarkan wanita ini tetap terkurung sama saja dengan menunggu drama pembunuhan berikutnya yang lebih berantakan.
"Dua pengawal akan mengikutimu dari jauh. Jika kau mencoba melarikan diri, aku sendiri yang akan menyeretmu kembali," tegas Wu Lian.
Qinqin tersenyum lebar, senyum yang begitu cerah hingga membuat Wu Lian sempat tertegun sesaat. "Setuju! Terima kasih, suamiku yang kaku. Oh, dan satu lagi," Qinqin menepuk pelindung dada Wu Lian dengan akrab. "Hati-hati di barak. Kalau kau terluka, siapa lagi yang akan memberiku barang-barang mewah di sini?"
Wu Lian mendengus, berusaha menutupi sedikit rasa geli di hatinya sebelum berbalik pergi dengan langkah seribu.
Setelah Wu Lian pergi, senyum Qinqin menghilang. Ia menatap ke arah gerbang. "Xue, siapkan pakaian biasa. Kita akan ke pasar gelap. Aku butuh racun untuk membalas racun."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂