Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 **vidio call** Sedikit ++
Dikamar bawah dikediaman Weylin sepasang suami istri sedang berciumn panas dan sepertinya akan berc*c*k t*nam karena mereka berciuman sambil melepaskan pakaian masing-masing.
"Ahhh mass.." des*hh Zeline saat Bryan menc*mb* nya dengan lembut dan penuh gairah.
Bryan tersenyum disaat usianya yang udah mendekati kepala lima tapi dia masih bisa memuaskan istri nya itu.
"Perlukah kita membuat kan adek untuk Ila?" tanya Bryan menatap Zeline teduh.
Plakk
Zeline menggeplak lengan kekar sang suami, "tiga anak cukup mas, aku gak mau nambah lagi..." ucapnya.
Bryan terkekeh, "bercanda sayang..."ucap Bryan lalu kembali menc*mb* Zeline.
Saat mereka akan melakukan penyatuan tiba-tiba ponsel Bryan berdering.
Drrt.. drrt.. drrt..
Bryan menggeram karena disaat akan menikmati surga dunia ada yang mengganggunya. Tanpa melihat siapa yang menelpon Bryan langsung mematikan ponselnya.
Bryan kembali memposisikan pusakanya pada inti tubuh Zeline dan memasukkan secara perlahan, saat pus*k* Bryan sudah masuk setengah tiba-tiba ponsel Zeline yang berbunyi.
Derrt derrt derrt
Zeline melihat kearah sang suami yang berada di atas "Sepertinya penting mas," ujarnya lalu mengambil ponselnya dinakas.
Alis Zeline terangkat saat melihat siapa yang memanggilnya dengan panggilan video.
"Siapa?" tanya Bryan sambil menyentakkan pusakanya masuk kedalam.
"Ahhh," karena terkejut tangan Zeline tidak sengaja mengangkat panggilan video dari putri bungsunya itu, dan sialnya Ila mendengar des*h*n Zeline yang di seberang telpon itu.
"Bundaaaa kenapaaa? Bunda kesakitan? Ila turun kebawah yaaaa "khawatir Ila saat mendengar bundanya mendesah.
Bryan yang hendak menggerakkan pinggul nya tidak jadi karena mendengar suara putrinya diseberang telpon.
"Ila yang telpon?" tanya Bryan dan Zeline hanya mengangguk jika dia bersuara takut Ila akan mengira dia kesakitan karena bicara setengah mendesah.
Bryan mend*s*h pelan hendak dicabut nanti akan membuat nya tersiksa jadi dia diamkan saja dan memberikan kode tanpa suara kepada Zeline untuk mematikan ponselnya.
"Bunda kenapa diam? Dimana ayah? Ila tadi dengar suara ayah, bundaa Ila mah liat ayahh... "cerewet Ila.
Zeline tidak menjawab dia hanya diam dengan wajah yang seakan menahan sesuatu. Bryan mengambil alih telpon tersebut sejenak Bryan dapat melihat wajah serius putrinya ketika bertanya.
...****************...
"Astagaaa bocil.." terdengar suara Elzion di seberang telpon.
Tut tut tut
Telpon dimatikan dari Ila yang Bryan yakini Elzion lah yang mematikan ponsel itu. Bryan menggeram karena anak-anak kembarnya tidak becus mengawasi Ila yang sedang bermain ponsel.
Elzion yang masih berada di balkon kamar Ila sedang asyik berbincang melalui telepon dengan temannya. Namun, fokusnya mendadak pecah saat telinganya menangkap suara cempreng adiknya yang terus-menerus menyebutkan, "Bunda... Bunda... Ayahh..."
Merasa ada yang tidak beres, Elzion seketika mematikan telepon temannya secara sepihak. Ia melirik curiga ke dalam kamar melalui pintu kaca balkon. Terlihat Ila sedang duduk sendirian, memandangi layar ponsel barunya dengan sangat serius sambil terus bersuara.
"Dimana Alzian?" gumam Elzion bingung saat menyadari kembarannya sudah tidak ada lagi di sisi Ila. Dengan langkah seribu, Elzion segera masuk ke dalam kamar dan mendekati adiknya.
Ia merasa heran karena tiba-tiba Ila berhenti berceloteh. Gadis kecil itu justru mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, seolah ingin memastikan apa yang sedang ia lihat. Karena rasa penasaran yang membuncah, Elzion ikut mengintip ke layar ponsel biru tersebut.
Matanya membelalak sempurna. Di layar itu, terlihat Bryan (sang Ayah) seperti sedang merangkak karena kamera ponsel di seberang sana hanya menangkap pemandangan langit-langit kamar orang tua mereka. Namun, yang membuat jantung Elzion hampir copot adalah kenyataan bahwa ayahnya terlihat tidak mengenakan baju.
"Astagaaa, Bocil!" seru Elzion panik. Dengan gerakan secepat kilat, ia merebut ponsel dari tangan mungil Ila dan langsung mematikan panggilan video tersebut.
Elzion meneguk ludah kasar, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi. Dapat dipastikan, ia dan Alzian akan habis kena semprot sang Ayah karena telah lalai mengawasi si bungsu yang baru saja belajar menggunakan fitur video call.
"Ishhh, Abang! Kok dimatikan? Ila kan pengin nanya kenapa Ayah gak pake baju, kan dinginn..." protes Ila dengan wajah kesal. Beruntung bagi Elzion, adiknya yang sangat polos ini tidak menaruh curiga sama sekali bahwa ayahnya sedang 'memakan' bundanya di jam tidur seperti ini.
"Kenapa telpon Bunda?" tanya Elzion, mencoba menormalkan suaranya yang sedikit bergetar.
Ila memiringkan kepalanya, menatap abangnya dengan tatapan heran. "Emang tidak boleh telpon Bunda?" Ila malah balik bertanya dengan nada tanpa dosa.
"Kalau malam tidak boleh menelpon Bunda atau pun Ayah," ujar Elzion dengan tegas, berusaha menciptakan aturan mendadak demi keselamatan nyawa mereka semua.
"Why?" tanya Ila polos.
Elzion mengusap wajahnya frustrasi. "Kamu tidak perlu tahu, Cil. Itu urusan orang dewasa..." ucapnya singkat, tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang biologi atau privasi orang tua.
Ila menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lucu. "Ila gak akan telpon Ayah dan Bunda lagi malam-malam," ucapnya patuh.
Mendengar janji itu, Elzion justru merasa sedikit khawatir dengan ucapannya sendiri. Adiknya itu terlalu polos; apakah larangan 'malam-malam' tadi akan dipahami dengan benar atau malah disalahartikan di kemudian hari? Namun untuk saat ini, yang terpenting adalah menghentikan aksi sabotase video call tersebut.
"Alzian mana?" tanya Elzion, mencoba menghalau pikiran khawatirnya dan mencari kambing hitam lainnya.
"Abang ke dapur, haus katanya," sahut Ila singkat, kembali asyik mengutak-atik layar ponselnya yang kini sudah dalam pengawasan ketat Elzion.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Alzian yang baru saja kembali dari dapur dengan segelas air di tangannya. Belum juga melangkah jauh ke dalam ruangan, ia langsung memberikan instruksi tegas.
"Dek, udah malam. Tidur yah..." ucap Alzian tanpa menyadari situasi genting yang baru saja terjadi.
Ila dan Elzion serentak menoleh ke arah pintu. Namun, mereka memberikan tatapan yang sangat berbeda. Ila menatap Alzian dengan mata bulatnya yang polos dan jernih, sementara Elzion menatap kembarannya itu dengan pandangan tajam seolah ingin menelan Alzian hidup-hidup.
Alzian yang merasa ada yang aneh dengan atmosfer di kamar itu pun menghentikan langkahnya. "Apa?" tanya Alzian heran saat menyadari tatapan penuh intimidasi dari Elzion.
"Lo kalau ninggalin bocil yang sedang bermain ponsel hati-hati dong!" tegur Elzion dengan nada rendah namun penuh penekanan. Walaupun Elzion sering dianggap kurang waras dan pecicilan, ia tetaplah seorang kakak yang sangat menjaga kepolosan adiknya. Baginya, melihat apa yang baru saja terjadi di layar ponsel adalah sebuah "bencana" bagi mental anak seumur Ila.
Kening Alzian berkerut dalam, ia meletakkan gelasnya di atas nakas dengan bingung. "Kenapa?" tanya Alzian. Ia benar-benar tidak paham apa yang sudah dilakukan adiknya dalam waktu singkat saat ia pergi ke dapur tadi.
Elzion menghela napas kasar, mencoba meredam emosinya yang campur aduk antara panik dan kesal. "Gara-gara lo ninggalin Ila sendiri, Ila tadi video call Bunda. Dan lo tau apa yang bikin gue negur lo?" tanya Elzion dengan nada menyindir.
Alzian hanya menggelengkan kepala pelan. "Tidak tau," sahutnya jujur.
Elzion berdecak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alzian agar suaranya tidak terlalu keras, namun tetap saja terdengar oleh Ila yang berada di dekat mereka. "Ck, Bunda dan Ayah sedang indehoy..." bisik Elzion yang langsung membuat mata Alzian melotot sempurna.
Alzian nyaris tersedak ludahnya sendiri. Bayangan kemarahan sang Ayah, Bryan, langsung terlintas di kepalanya. Belum sempat Alzian merespons, suara kecil dari bawah memecah ketegangan mereka.
"Indihoy apa Abang?" tanya Ila dengan wajah tanpa dosa, menatap kedua abangnya bergantian.