Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Berita yang Menyebar
#
Seminggu setelah malam di bukit, hidup Zahra dan Arkan... tenang. Tenang untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.
Mereka ketemu hampir tiap hari—kadang cuma sebentar di warung kopi langganan, kadang jalan-jalan di taman, kadang Arkan dateng ke kontrakan buat ngobrol sama Bapak tentang Islam.
Bapak... Bapak mulai lembek. Dia liat kesungguhan Arkan. Liat gimana Arkan belajar Islam dengan serius—nggak cuma baca buku, tapi juga ngobrol sama Ustadz Yusuf tiap Jumat, ikut kajian di masjid, bahkan mulai coba puasa Senin-Kamis.
"Zahra... cowok itu beneran serius. Bapak... Bapak mulai percaya dia."
"Alhamdulillah, Pak. Makasih... makasih udah kasih dia kesempatan."
Tapi ketenangan itu... ketenangan itu nggak bertahan lama.
---
Rabu siang. Zahra lagi nyuci baju di belakang kontrakan. Tangan penuh busa sabun. Matahari terik bikin keringet ngucur.
Telepon genggamnya bunyi. Pesan masuk dari Siti:
*"ZAHRA! KAMU UDAH LIAT?! FOTO KAMU SAMA ARKAN VIRAL DI MEDSOS! BANYAK YANG NGOMONGIN!"*
Zahra berhenti nyuci. Jantung berdebar.
*"Foto apa, Sit? Zahra nggak ngerti."*
Beberapa detik kemudian, Siti kirim tangkapan layar. Foto dari akun gosip anonim yang judulnya: **"Direktur Muda Wijaya Kepergok Pacaran Sama Buruh Cuci?!"**
Dan di bawahnya... foto. Foto Zahra sama Arkan. Di warung kopi. Arkan lagi senyum. Zahra lagi ketawa. Mereka keliatan... keliatan bahagia.
Tapi yang bikin Zahra shock bukan fotonya.
Yang bikin shock itu... komentar-komentarnya.
*"Wah direktur kaya kok pacaran sama cewek kampungan? Pasti cuma main-main."*
*"Cewek nya pasti cari duit. Mana mau cowok tajir sama cewek miskin kalo bukan karena uang."*
*"Kasian keluarga Wijaya. Anaknya malah bawa malu."*
*"Cewek nya jilbaban tapi pacaran? Munafik banget."*
Zahra nggak bisa napas. Tangannya gemetar. Telepon genggam nyaris jatuh.
"Ya Allah... ini... ini gimana bisa tersebar?"
Dia scroll terus. Makin banyak komentar. Makin kejam. Makin... makin nyakitin.
*"Buruh cuci? Pantesan kulitnya item. Keseringan di bawah matahari kali."*
*"Cewek nya jelek. Arkan pasti lagi kasihan doang."*
*"Muslim sama Kristen? Haram dong. Cewek nya nggak punya iman."*
Zahra nangis. Di tengah jemuran baju basah. Sendirian.
"Kenapa... kenapa orang-orang kejam banget?"
Dia langsung nelpon Arkan. Tangan gemetar.
Nada dering. Satu kali. Dua kali.
"Halo? Zahra?"
"Mas... Mas udah liat? Foto... foto kita tersebar di medsos... orang-orang... orang-orang ngomongin kita..."
Hening sebentar.
"...aku tau. Kakak ku baru aja kirim ke aku. Zahra... dengerin aku. Jangan... jangan baca komentar-komentar itu. Mereka cuma... cuma orang-orang yang nggak tau apa-apa. Jangan dengerin mereka."
"Tapi Mas... mereka bilang Zahra cari duit... bilang Zahra munafik... bilang Zahra... bilang Zahra nggak punya iman..." Zahra nangis. "Zahra... Zahra nggak kayak gitu... Zahra beneran cinta sama Mas... Zahra nggak peduli Mas kaya atau miskin..."
"Aku tau! Aku tau kamu nggak kayak gitu! Dan orang-orang yang penting juga tau! Bapak kamu tau. Kakak ku tau. Dan aku... aku tau. Sisanya? Sisanya nggak penting."
"Tapi Mas... gimana kalau... gimana kalau keluarga Mas liat ini? Gimana kalau Mama Mas—"
"Mama udah liat."
Zahra berhenti nangis. Diam.
"...apa?"
"Mama udah liat. Kakak bilang... Mama ngeliat foto itu pagi ini. Dan dia... dia marah besar."
"Ya Allah... terus... terus gimana, Mas?"
"Mama... Mama bilang mau ketemu kamu."
Jantung Zahra berhenti sedetik.
"K-ketemu Zahra? Buat apa?"
"Aku nggak tau. Tapi... tapi aku yakin dia... dia mau ngomongin sesuatu. Dan Zahra... aku minta kamu jangan dateng kalau dia manggil. Aku... aku yang bakal ngomong sama Mama. Aku nggak mau kamu—"
"Zahra harus dateng, Mas."
"Zahra—"
"Kalau Mama Mas mau ketemu Zahra... berarti Zahra harus dateng. Zahra... Zahra nggak mau ngumpet. Zahra nggak mau... nggak mau jadi beban Mas terus. Zahra harus... harus ngadep ini. Ngadep Mama Mas."
"Zahra, Mama ku itu... dia nggak kayak yang kamu pikir. Dia... dia bisa kejam. Dia bisa bilang hal-hal yang... yang nyakitin. Dan aku nggak mau kamu—"
"Zahra nggak takut, Mas. Zahra... Zahra harus lakuin ini. Buat kita. Buat... buat masa depan kita."
Arkan diem lama. Napasnya berat.
"...oke. Tapi aku ikut. Aku nggak bakal biarin Mama nyakitin kamu sendirian."
"Nggak, Mas. Zahra... Zahra mau dateng sendiri. Kalau Mas ikut... Mama Mas nggak bakal jujur. Dia... dia pasti nahan diri. Tapi kalau Zahra sendirian... dia bakal ngomong apa yang dia mau ngomong. Dan Zahra... Zahra siap dengerin semuanya."
"Zahra—"
"Mas, percaya sama Zahra. Zahra... Zahra kuat."
Arkan napas panjang. "...oke. Kalau itu maumu. Tapi... tapi kalau ada apa-apa... langsung telepon aku. Aku bakal langsung kesana. Oke?"
"Oke, Mas."
---
Malem itu, Zahra nggak bisa tidur. Cuma merem-melek sambil mikirin... mikirin kapan undangan dari Mama Arkan bakal dateng.
"Apa... apa yang bakal dia bilang? Dia... dia pasti benci Zahra. Pasti nganggep Zahra... Zahra cuma cari duit. Pasti..."
Dia ambil telepon genggam. Buka foto yang tersebar di medsos tadi. Baca komentar-komentar lagi.
Dan makin dibaca... makin sakit.
"Kenapa orang-orang bisa sejahat ini? Kenapa... kenapa mereka nggak tau apa-apa tapi... tapi mereka judge?"
Tapi satu komentar yang paling nyakitin:
*"Cewek nya jilbaban tapi pacaran sama cowok Kristen. Dimana iman nya?"*
Zahra nangis.
"Ya Allah... apa... apa Zahra salah? Apa... apa Zahra udah ninggalin iman Zahra? Tapi... tapi Zahra tetep sholat... tetep puasa... tetep baca Quran... Zahra... Zahra nggak ninggalin Islam... Zahra cuma... cuma cinta sama dia..."
Dia ambil wudhu. Sholat tahajjud. Sujud lama.
"Ya Allah... orang-orang bilang Zahra munafik... bilang Zahra nggak punya iman... apa... apa itu bener, Ya Allah? Apa... apa Zahra udah salah jalan? Tolong... tolong kasih tau hamba... kasih tau kalau... kalau hamba masih di jalan yang bener... tolong Ya Allah..."
Air mata basahin sajadah.
"Dan nanti... nanti hamba harus ketemu Mama nya Arkan... tolong... tolong kuatkan hati hamba... jangan biarkan hamba... jangan biarkan hamba takut... tolong Ya Allah..."
---
Besok paginya, Bapak lagi sarapan pas Zahra masuk kamar. Mukanya... khawatir.
"Zahra... ada yang mau ngomong sama kamu."
"Siapa, Pak?"
"Ada... ada mobil mewah parkir di depan gang tadi pagi. Supir nya turun. Ngasih amplop buat kamu. Bilang... bilang dari Nyonya Angelina Wijaya."
Jantung Zahra berhenti.
"A-amplop?"
Bapak kasih amplop putih tebal. Di atas nya ada tulisan tangan rapi:
**"Untuk Nona Zahra Amanda Putri"**
Zahra buka amplop dengan tangan gemetar. Di dalem ada surat. Kertas krem mahal. Tulisan tangan yang... yang rapih tapi dingin:
---
**Kepada Nona Zahra Amanda Putri,**
**Saya, Angelina Christine Wijaya, ibu dari Arkan Alexander Wijaya, dengan ini meminta Anda untuk datang ke kediaman keluarga kami.**
**Alamat: Jalan Brawijaya Raya No. 45, Pondok Indah, Jakarta Selatan.**
**Hari: Jumat, 10 Januari 2026**
**Waktu: Pukul 14.00 WIB**
**Mohon datang tepat waktu. Ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan Anda secara pribadi.**
**Saya harap Anda datang sendirian, tanpa Arkan.**
**Hormat saya,**
**Angelina Christine Wijaya**
---
Zahra baca surat itu berkali-kali. Tangannya gemetar. Napas sesak.
"Jumat... besok lusa... jam dua siang..."
"Zahra... kamu... kamu mau dateng?" Bapak khawatir. "Zahra, ibu nya Arkan itu... dia pasti... dia pasti nggak setuju sama hubungan kalian. Dia... dia bisa nyakitin kamu..."
"Zahra harus dateng, Pak. Kalau Zahra nggak dateng... dia bakal pikir Zahra pengecut. Pikir Zahra... pikir Zahra nggak serius sama Mas Arkan. Zahra... Zahra harus buktiin kalau Zahra beneran cinta sama Mas Arkan. Beneran... beneran niat."
"Tapi Zahra—"
"Bapak, tolong... tolong doain Zahra. Zahra... Zahra butuh kekuatan."
Bapak diem lama. Terus pegang kepala Zahra. Sayang.
"Bapak doain. Tapi... tapi kalau dia nyakitin kamu... langsung pulang. Jangan dipikirin. Oke?"
"Iya, Pak."
Tapi di hati Zahra... dia tau.
Dia tau pertemuan ini... pertemuan ini bakal nentuin segalanya.
Nentuin... nentuin masa depan dia sama Arkan.
Dan dia... dia harus siap.
Siap ngadep apapun yang bakal Mama Arkan bilang.
Apapun... yang bakal terjadi.
---
Zahra ambil telepon genggam. Kirim pesan ke Arkan:
*"Mas, Zahra dapat undangan dari Mama Mas. Jumat jam dua siang. Zahra... Zahra harus dateng sendirian. Tolong doain Zahra, Mas. Zahra takut."*
Beberapa menit kemudian, Arkan bales:
*"Zahra... aku juga takut. Tapi aku percaya sama kamu. Kamu kuat. Kamu... kamu bakal bisa. Dan apapun yang Mama bilang... aku tetep di pihak kamu. Selalu."*
Zahra nangis baca pesan itu.
"Mas... makasih... makasih udah percaya sama Zahra..."
Dia simpen surat dari Mama Arkan di laci. Di samping cincin janji yang dia lepas tiap sholat.
"Jumat. Jam dua siang. Zahra... Zahra harus kuat. Harus... harus tegar. Nggak boleh nangis. Nggak boleh... nggak boleh keliatan lemah."
Tapi kenapa... kenapa dadanya sesak?
Kenapa... kenapa dia ngerasa... ngerasa ini bakal jadi pertemuan yang... yang bakal ngubah segalanya?
"Ya Allah... tolong... tolong kuatkan hamba... jangan biarkan hamba... jangan biarkan hamba kalah..."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 28...**