NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

"Bobby, pastikan perimeter aman dan lapor ke pusat kalau—"

Luca menghentikan kalimatnya tepat di ambang pintu. Sepatu kulit yang biasanya menghentak tegas kini tertahan di atas lantai.

Ia sudah siap untuk disambut dengan ketegangan, atau setidaknya interogasi dingin dari ayahnya mengenai pergerakannya hari ini. Namun, pemandangan di depannya jauh dari bayangan skenario mafia mana pun.

Di tengah ruangan, di atas karpet yang harganya setara dengan satu unit apartemen mewah, Edgar Frederick, pria yang dikenal sebagai singa dari utara yang tidak pernah tersenyum, sedang berlutut di lantai.

Tangannya yang biasa memegang senjata kini sibuk memegang sebuah tablet merah muda.

"Bukan begitu, Tuan Besar. Kau harus menarik garis logaritmanya ke kiri, lalu klik ini Masa begitu saja tidak bisa?"

Itu suara Queen. Bocah itu duduk di atas tumpukan bantal, mengenakan gaun baru berwarna pink dengan hiasan renda yang jauh lebih mewah dari gaun sebelumnya.

Di sampingnya, Ava sedang sibuk menyuapi Queen dengan potongan buah stroberi berlapis cokelat ke mulut kecilnya.

"Oh, lihat! Sayang, dia benar! Sistem enkripsi logistik kita langsung sinkron!" seru Edgar dengan bangga yang belum pernah Luca dengar seumur hidupnya. "Kau jenius, bocah! Benar-benar cucu angkat yang luar biasa!"

Luca mengerjapkan mata. Lalu berdehem keras. "Ekhem! Papa? Mama? Aku pulang."

Hening sejenak. Edgar dan Ava menoleh serempak, namun hanya untuk sedetik.

"Oh, kau sudah pulang, Luc? Baguslah. Bobby, tolong ambilkan jus jeruk lagi untuk Queen, dia baru saja membantu kakeknya membetulkan sistem server," ucap Edgar tanpa berdiri dari lantainya, lalu kembali fokus pada tablet di tangan Queen.

"Luca! Jangan berdiri di sana, kau menutupi cahaya lampu. Queen sedang mengajariku cara mengedit foto agar terlihat sepuluh tahun lebih muda," tambah Ava sambil melambai-lambaikan tangannya seolah mengusir lalat. "Sana, bersihkan dirimu. Kau bau keringat."

Luca membeku di tempatnya. Rahangnya nyaris jatuh ke bawah. Ia baru saja mempertaruhkan nyawa di luar sana, berhadapan dengan informan berbahaya dan menghindari jebakan Harley, hanya untuk pulang dan diusir karena menghalangi cahaya lampu?

"Mama? Papa? Ini aku, putra kalian. Yang tadi kalian tuduh punya anak di luar nikah?" tanya Luca dengan nada sarkasme.

Queen melirik Luca dari balik stroberinya. Ia memberikan seringai kecil, sebuah tatapan kemenangan yang sangat tipis yang hanya bisa ditangkap oleh radar Luca.

"Luca sudah pulang? Jangan berisik, Luca. Kakek Edgar sedang belajar. Orang tua memang agak lambat belajarnya, jadi harus sabar."

"Kakek?! Pa, dia memanggilmu kakek dan kau diam saja?!" Luca meledak, suaranya naik satu oktav.

Edgar hanya mengangkat bahu. "Dia lucu, cerdas dan tidak kaku sepertimu. Kenapa tidak? Sudah, sana masuk ke kamarmu. Kami sedang sibuk."

Luca menatap Bobby yang berdiri di sampingnya. Bobby hanya bisa mengangkat bahu sambil menahan tawa hingga wajahnya memerah.

"Sepertinya posisimu sebagai ahli waris tunggal sedang terancam oleh bocah bergaun pink itu, Luc," bisik Bobby tanpa dosa.

"Diam kau!" desis Luca.

Luca membalikkan badan. Menaiki anak tangga dengan hentakan yang sengaja dibuat sekeras mungkin. Ia merasa dadanya sesak oleh rasa kesal yang kekanak-kanakan.

Biasanya, kepulangannya adalah acara besar di rumah. Biasanya, ibunya akan menanyakan apakah dia terluka, dan ayahnya akan mengkritik strateginya. Tapi sekarang? Dia bahkan tidak lebih menarik daripada sebuah tablet dan bocah.

Brak!

Luca membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia melempar jasnya ke sembarang arah dan menjatuhkan diri ke atas kasur.

"Benar-benar tidak masuk akal," gumam Luca pada langit-langit kamar. "Bocah itu penyihir. Dia pasti menggunakan sihir hitam untuk mencuci otak mereka. Siapa yang bisa menyukai bocah kencing yang hobi makan ayam goreng itu dalam waktu empat jam?!"

Ia berguling ke samping, menatap dinding dengan bibir mengerucut.

Ya, Luca Frederick sedang ngambek. Ia merasa seperti mainan lama yang dibuang ke gudang setelah pemiliknya mendapatkan mainan baru yang bisa menghitung algoritma.

Tok! Tok!

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sedikit. Sebuah kepala kecil dengan rambut berantakan melongok masuk.

"Luca? Kau marah ya?"

Luca tidak menoleh. "Pergi sana. Belajar saja sana dengan kakek Edgar-mu itu."

Queen masuk ke dalam kamar, berjalan dengan langkah kecilnya yang berbunyi puk-puk-puk di atas karpet. Ia berdiri di samping tempat tidur Luca.

Alena, di dalam tubuh Queen, sebenarnya merasa sedikit bersalah melihat remaja ini tampak begitu merana. Ia tahu betapa kerasnya Luca mencoba mendapatkan pengakuan ayahnya dan sekarang ia datang merusak semuanya dalam sekejap.

"Luca, jangan marah. Queen cuma membantu mereka supaya mereka tidak mengusir Queen dan membuang Queen ke panti asuhan," ucap Queen pelan. Ia mengulurkan tangan mungilnya, menarik-narik ujung kaos Luca.

"Mereka tidak akan mengusirmu. Mereka sudah menganggapmu sebagai anak ajaib yang turun dari surga," sahut Luca sinis, meski ia akhirnya menoleh juga.

Queen menatapnya dengan mata bulat yang besar. "Tapi mereka tidak membelikan Queen ayam goreng. Mereka cuma memberi Queen stroberi. Queen lebih suka ayam goreng pemberian Luca."

Luca terdiam. Matanya menatap wajah polos Queen. Rasa kesalnya sedikit mencair, meski egonya masih bertahan di puncak gunung es.

"Kau cuma mau ayam goreng, kan? Itulah kenapa kau mencariku."

"Mungkin." Queen mengangguk jujur, lalu ia memanjat ke atas kasur dan duduk di samping Luca. "Dan Luca lebih hebat dari mereka. Luca yang menemukan Queen di mobil, kan? Jadi Luca tetap nomor satu."

Luca mendengus pelan, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir terbit.

"Cih, kau pintar sekali merayu. Belajar dari mana kau?"

"Dari internet," jawab Queen asal.

Luca akhirnya bangkit dan duduk, ia mengacak rambut Queen dengan kasar hingga bocah itu protes.

"Baiklah. Tapi jangan harap aku akan memanggilmu anakku di depan mereka. Itu menjijikkan."

"Iya, Papa Luca!" seru Queen sambil lari keluar kamar sebelum Luca sempat melempar bantal ke arahnya.

"HEI! SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL BEGITU!" Luca berteriak. Tapi kali ini ada tawa kecil yang terselip di suaranya.

Di ruang bawah, Edgar dan Ava saling berpandangan saat mendengar teriakan Luca.

"Sepertinya mereka sudah akur," ucap Ava sambil tersenyum manis.

"Atau Luca baru saja kehilangan harga dirinya sepenuhnya," sahut Edgar kembali fokus pada tabletnya.

1
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
Senja: Terima kasih kakaku, 🙏🙏
total 1 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
Tiara Bella
wah Sean ngerjain Luca ternyata bisa Luca LBH sabar lg
Tiara Bella
cie....merindukan ktnya....Queen msh kecil Luca.....😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!