NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri yang Terinjak

Pusat perbelanjaan kelas atas di pusat kota itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal. Lantai marmernya begitu bersih hingga bisa memantulkan wajah-wajah orang yang berjalan di atasnya dengan penuh kebanggaan. Di sinilah Andini merasa benar-benar "hidup". Dengan langkah anggun yang dibuat-buat, ia menyusuri deretan gerai merek internasional, meskipun tangannya hanya menjinjing satu kantong belanjaan kecil berisi lip tint yang harganya setara dengan biaya makan Syifa selama seminggu.

Sore itu, Andini punya janji penting. Ia akan bertemu dengan "Geng Cantik"—kumpulan wanita sosialita yang ia kenal melalui komunitas pencinta tas mewah di media sosial. Ia sudah berdandan habis-habisan selama tiga jam. Blus sutranya disetrika licin, rambutnya dicatok sempurna, dan parfumnya tercium dari jarak lima meter.

Namun, ada satu noda dalam kesempurnaan harinya: Hilman.

Karena motor tuanya sedang diperbaiki, Hilman terpaksa menjemput Andini menggunakan motor pinjaman milik rekan kerjanya—sebuah motor bebek tua yang knalpotnya berbunyi kasar dan mengeluarkan asap tipis. Hilman baru saja pulang dari pabrik, tidak sempat berganti baju, hanya sempat membasuh muka dan melapisinya dengan jaket lusuh untuk menutupi seragamnya yang penuh noda oli.

"Dek, Mas sudah sampai di depan lobi utama," suara Hilman terdengar dari telepon.

Andini mendesis, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada. "Mas! Berapa kali aku bilang, jangan parkir di depan lobi! Parkir di tempat tersembunyi, di basement paling bawah atau di seberang jalan sekalian! Aku malu!"

"Maaf, Dek. Mas takut kamu kelamaan nunggu di luar, ini sudah mau maghrib," jawab Hilman lembut.

Andini menutup telepon dengan kasar tanpa pamit. Ia berjalan menuju lobi dengan hati yang berdebar cemas. Benar saja, saat ia keluar dari pintu kaca otomatis yang megah, pemandangan yang paling ia takuti terjadi.

Tepat di samping mobil mewah berwarna perak milik teman-temannya, berdirilah Hilman dengan motor bebek yang tampak seperti barang rongsokan di tengah pameran otomotif. Hilman sedang berdiri, memegang helm cadangan untuk Andini, dengan senyum yang menurut Andini tampak sangat menyedihkan.

"Hai, Andini! Itu suamimu?" suara melengking itu datang dari Siska, pemimpin geng mereka yang baru saja keluar dari lobi bersama tiga teman lainnya.

Jantung Andini seolah berhenti berdetak. Ia membeku. Siska dan teman-temannya menatap Hilman dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hilman, yang merasa dipanggil, mengangguk sopan ke arah mereka.

"Mari, Bu. Saya suaminya Andini," ucap Hilman dengan polos, mencoba bersikap ramah.

Tawa kecil yang bernada mengejek pecah dari mulut Siska. "Oh, jadi ini pengusaha yang sering kamu ceritain di grup itu, Ndin? Kok... beda banget ya sama di foto? Ini mah lebih mirip... kurir paket atau tukang ojek pangkalan?"

Wajah Andini memerah padam, panas seolah terbakar. Gengsinya yang ia bangun setinggi langit runtuh seketika di atas lantai lobi mall tersebut. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum. Amarahnya memuncak, bukan pada teman-temannya yang menghina, melainkan pada pria yang berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosa.

"Bukan! Dia bukan suamiku!" teriak Andini tiba-tiba, membuat semua orang di sana tertegun.

Hilman ternganga. Helm di tangannya hampir jatuh. "Dek... kamu bicara apa?"

Andini melangkah mendekat ke arah Hilman, matanya berkilat penuh kebencian. "Jangan panggil aku 'Dek'! Mas ini nggak tahu diri ya? Sudah kubilang tunggu di tempat jauh! Kenapa harus menampakkan diri di sini? Kamu sengaja mau bikin aku malu? Kamu sengaja mau menghancurkan reputasiku?"

"Mas cuma mau jemput kamu, Andini. Tadi katanya kamu kaki kamu pegal..."

"Persetan dengan kaki pegal!" Andini berbalik ke arah teman-temannya yang masih menonton dengan tatapan menghina. "Dia ini... dia ini cuma supir sewaan keluargaku! Suamiku lagi di Singapura, jadi dia yang ditugaskan jemput aku hari ini. Biasalah, supir lama, suka nggak tahu sopan santun."

Siska menaikkan alisnya, jelas tidak percaya, namun ia hanya tersenyum sinis. "Oh, supir ya? Ya sudah, kasihan supirnya sudah nunggu. Yuk, teman-teman, kita duluan ya, Ndin. Jangan lupa besok kita arisan di hotel bintang lima, bawa suamimu yang pengusaha itu ya, jangan supirnya lagi!"

Mereka masuk ke dalam mobil mewah itu dan pergi sambil tertawa terbahak-bahak. Begitu mobil itu menjauh, Andini meledak. Ia menyambar helm dari tangan Hilman dan melemparkannya ke aspal hingga kaca helm itu retak.

"Kamu puas sekarang? Kamu puas bikin aku jadi bahan tertawaan seumur hidup?" Andini berteriak histeris, tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar lobi.

Hilman memunguti helmnya yang retak. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja tidak diakui sebagai suami oleh istrinya sendiri. "Mas minta maaf kalau Mas memalukan buat kamu, Andini."

"Minta maaf nggak akan merubah kenyataan kalau kamu itu tua, miskin, dan bau! Aku muak, Mas! Aku sudah nggak tahan lagi hidup kayak gini. Aku mau kita cerai! Aku mau cari pria yang setara denganku, bukan pria yang bikin aku harus bohong setiap kali ketemu orang!"

Kata 'cerai' itu menggantung di udara, lebih dingin dari embusan AC mall. Hilman menatap Andini dalam-dalam. Ada kilat kesedihan yang sangat dalam di matanya, namun ia tidak membantah. Ia tidak balik memaki.

"Kalau itu yang bisa bikin kamu bahagia, Andini... Mas akan kabulkan. Tapi tolong, pikirkan Syifa," ucap Hilman pelan, suaranya hampir pecah.

"Nggak usah bawa-bawa Syifa! Dia juga pasti malu punya Ayah kayak kamu kalau sudah besar nanti!" Andini naik ke atas motor dengan kasar. "Ayo jalan! Pulang! Aku nggak mau berlama-lama di sini, rasanya aku mau mati karena malu!"

Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata yang terucap. Angin malam menusuk kulit, namun hati Hilman jauh lebih dingin. Di belakangnya, Andini terus menggerutu, menyumpah serapah, dan sibuk mengetik di ponselnya—mungkin sedang mengarang kebohongan baru untuk teman-temannya di grup WhatsApp.

Hilman memacu motornya perlahan. Pikirannya melayang pada kotak rahasia di bawah tempat tidur yang hanya ia yang tahu. Tabungan itu sudah mencapai angka yang lumayan, namun belum cukup untuk membeli martabat di mata istrinya. Ia berpikir, Apakah uang satu miliar pun cukup untuk menghapus rasa malu Andini terhadapku?

Tiba di rumah, Andini langsung masuk ke kamar dan membanting pintu, menguncinya dari dalam. Hilman duduk di teras, di atas kursi plastik yang sudah kusam. Ia menatap langit malam yang tak berbintang.

Tangannya meraba saku jaketnya. Ada sebuah bros kecil berbentuk bunga yang ia beli di toko perhiasan perak tadi siang. Ia berniat memberikan itu sebagai hadiah kejutan karena Andini pernah bilang menyukai aksesoris bunga. Namun sekarang, bros itu terasa seperti duri di telapak tangannya.

Ia mengeluarkan secarik kertas dan pena kecil yang selalu ia bawa untuk mencatat pesanan di pabrik. Di bawah lampu teras yang remang, ia menulis sesuatu dengan tangan gemetar.

"Untuk Andini... Maaf, hari ini aku membuatmu malu lagi. Aku tahu aku tidak pantas bersanding dengan kecantikanmu. Aku akan bekerja lebih keras lagi, agar suatu hari nanti, kamu tidak perlu berbohong tentang siapa aku. Jangan minta cerai dulu, setidaknya sampai Syifa lulus SD. Setelah itu, jika kamu masih ingin pergi, aku tidak akan menahanmu."

Hilman melipat kertas itu dan menyelipkannya di bawah pintu kamar. Ia tidak mengharapkan balasan. Ia hanya ingin istrinya tahu bahwa meskipun ia diinjak, ia tetap menjadi alas kaki yang akan melindunginya dari kerasnya jalanan.

Malam itu, Andini membaca surat tersebut, lalu meremasnya menjadi bola kertas dan membuangnya ke tempat sampah. "Kerja keras katanya? Sampai mati pun kamu tetap akan jadi buruh, Hilman!"

Andini tidak tahu bahwa kata-kata "sampai mati" itu adalah sebuah ramalan yang akan segera menjadi nyata. Dan ia juga tidak tahu bahwa surat yang ia buang itu adalah salah satu dari rangkaian surat cinta terakhir yang akan ia tangisi seumur hidupnya nanti.

Hilman tidur di kursi teras malam itu, ditemani nyamuk dan udara malam, menjaga pintu kamar istrinya agar tetap aman, meski hatinya sendiri sudah hancur tak bersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!