Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Pertama
Empat hari setelah pertemuan lima keluarga, hidup terasa berbeda. Orang-orang di mansion menatapku dengan hormat sekarang. Bukan lagi kasihan atau takut. Tapi hormat yang nyata.
Donna Alexa. Begitu mereka memanggilku.
Dan aku mulai terbiasa dengan gelar itu.
Aku duduk di ruang kerja Damian, membaca laporan keuangan yang dia minta kuperiksa. Angka-angka yang dulunya tidak berarti sekarang mulai masuk akal. Bisnis legal yang menutupi bisnis ilegal. Pola yang rumit tapi bisa dipahami kalau kau tahu cara melihatnya.
Pintu terbuka dengan keras. Marco masuk dengan wajah gelap.
"Tuan," panggilnya. "Kami menemukan pengkhianat."
Damian mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya. "Siapa?"
"Matteo."
Ruangan langsung dingin. Aku merasakan hawa berubah. Seperti udara sebelum badai.
Matteo. Sepupu Damian. Anak dari paman yang Damian bunuh di jamuan makan itu. Pria muda berusia dua puluh lima tahun yang selalu tersenyum ramah padaku.
"Kau yakin?" tanya Damian. Suaranya tenang tapi ada bahaya di sana.
"Sangat yakin, Tuan." Marco meletakkan tablet di meja. "Ini rekaman pembicaraan dia dengan orang Dimitrov. Dia menjual informasi tentang pergerakan kita. Tentang rencana kita untuk wilayah timur."
Damian menatap layar tablet. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku bisa melihat urat di lehernya berkedut.
"Di mana dia sekarang?"
"Sudah ditahan di ruang bawah, Tuan."
Damian berdiri. "Baik. Aku akan turun."
Dia berhenti. Menatapku.
"Kau ikut," katanya. Bukan pertanyaan. Perintah.
Aku menelan ludah. Jantung mulai berdetak cepat. "Kenapa?"
"Karena kau harus melihat bagaimana kita menangani pengkhianat," jawabnya. "Karena suatu hari kau harus melakukannya sendiri."
***
Ruang bawah tanah yang sama. Ruang di mana aku pernah melihat paman Rico disiksa. Di mana mimpi buruk dimulai.
Tapi kali ini aku tidak gemetar seperti dulu. Kali ini aku berjalan dengan kepala tegak. Dengan langkah yang lebih pasti.
Karena aku sudah berbeda.
Matteo terikat di kursi di tengah ruangan. Wajahnya bengkak. Sudah dipukuli. Mata kanannya hampir tertutup bengkak. Bibir pecah berdarah.
Dia mengangkat kepala ketika mendengar kami masuk. Mata melebar ketika melihat Damian.
"Sepupu," katanya dengan suara serak. "Ini salah paham."
"Salah paham?" ulang Damian sambil berjalan mengelilingi kursi. Seperti predator mengitari mangsa. "Kau bicara dengan Dimitrov selama tiga puluh menit kemarin. Menjual informasi seharga dua ratus juta. Itu salah paham?"
Matteo menatap ke lantai. "Aku butuh uang untuk melunasi hutang judi."
"Jadi kau jual keluargamu untuk melunasi hutang judi?" suara Damian makin dingin. "Kau jual nyawa orang-orang kita untuk kartu dan dadu?"
"Maafkan aku, kumohon! Aku tidak bisa berpikir apapun lagi."
"Kau benar." Damian berhenti di depannya. "Kau tidak mikir. Dan sekarang kau harus membayar konsekuensinya."
Dia berbalik menatapku. "Alexa, kemari."
Aku melangkah maju. Berdiri di samping Damian.
Matteo menatapku. Ada harapan di matanya. "Donna Alexa. Kumohon, kau orang baik, kau pasti bisa mengerti."
Tapi aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan wajah datar. Damian mengambil pistol dari pinggang Marco. Memeriksanya. Lalu menyerahkannya padaku.
"Kau yang eksekusi," katanya pelan.
Dunia berhenti berputar.
"Apa?" bisikku.
"Kau yang eksekusi Matteo," ulang Damian. Matanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. "Ini ujian, Alexa. Ujian loyalitas. Ujian kekuatan."
Aku menatap pistol di tangannya. Lalu menatap Matteo yang mulai menangis.
"Tidak! Tidak, Donna. Kumohon jangan dengarkan dia, aku keluarga."
"Dia pengkhianat," potong Damian. "Dan pengkhianat harus mati. Dengan tanganmu. Sebagai bukti bahwa kau benar-benar bagian dari keluarga ini."
Tanganku gemetar ketika meraih pistol. Berat. Dingin.
"Damian, aku tidak bisa membunuh orang yang tidak menyerangku, dia tidak..."
"Dia mengkhianati kita," kata Damian tegas. "Dia menjual informasi yang bisa membuat semua orang di mansion ini mati. Termasuk kau. Itu cukup alasan."
Aku menatap Matteo. Pria muda yang selalu tersenyum. Yang pernah membawakan kue untuk ulang tahunku bulan lalu.
Dan sekarang aku harus membunuhnya.
"Kumohon," bisik Matteo. Air mata mengalir di wajahnya yang bengkak. "Kumohon jangan, aku masih muda, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Tanganku semakin gemetar. Pistol terasa sangat berat.
"Alexa," panggil Damian. Suaranya lembut tapi tegas. "Ini harus dilakukan. Kalau bukan kau, aku yang akan lakukan. Tapi lebih baik kau. Supaya kau belajar."
"Belajar apa?" tanyaku dengan suara yang mulai bergetar. "Belajar membunuh orang yang tidak bersalah?"
"Dia bersalah!" Damian meninggikan suara. "Dia pengkhianat! Dan di dunia kita, pengkhianat tidak punya tempat!"
Aku menatap pistol di tanganku. Lalu menatap Matteo lagi.
Di kepala yang mana aku harus tembak? Jantung atau kepala?
Kenapa aku malah memikirkan itu?
Kenapa aku tidak menolak saja?
Tapi bagian dariku yang sudah berubah berbisik, ini harus dilakukan. Ini bagian dari duniamu sekarang. Kalau kau tidak lakukan, kau akan terlihat lemah. Dan kelemahan akan membunuhmu.
"Angkat pistolnya," perintah Damian.
Tanganku bergerak sendiri. Mengangkat pistol. Mengarahkannya ke Matteo.
"TIDAK! KUMOHON! DONNA!" teriak Matteo. Meronta di kursi. Tapi ikatan terlalu kuat.
"Bidik kepalanya," lanjut Damian. "Satu tembakan. Cepat. Tidak menyiksa."
Aku membidik. Tangan gemetar hebat. Napas pendek-pendek.
Bisakah aku melakukan ini?
Bisakah aku membunuh orang yang tidak menyerangku? Yang hanya duduk terikat di kursi?
"Tarik napas," kata Damian di belakangku. "Buang perlahan. Lalu tekan pelatuk."
Aku menarik napas. Gemetar. Mencoba membuangnya perlahan tapi malah tersedak.
"A-aku tidak bisa."
"Kau bisa," kata Damian. Tangannya menyentuh bahuku. "Kau sudah membunuh empat orang. Ini tidak berbeda."
"Tapi mereka menyerang kita! Ini berbeda!"
"Tidak ada bedanya!" suara Damian mengeras. "Membunuh adalah membunuh! Dan kau harus bisa melakukannya kapan pun diperlukan!"
Matteo masih menangis. Memohon. Berjanji.
Dan aku berdiri di sana dengan pistol teracung. Gemetar. Menangis.
"Lakukan sekarang," perintah Damian. "Atau aku yang lakukan. Dan kau akan tahu konsekuensinya."
Ancaman jelas di suaranya. Aku menutup mata. Menarik napas dalam.
Membayangkan ini bukan Matteo. Ini hanya target. Target kertas di ruang latihan. Tapi aku masih mendengar suaranya. Tangisannya. Permohonannya.
"LAKUKAN!" teriak Damian.
Mataku terbuka.
Jari menekan pelatuk.
DUAR!
Suara tembakan menggelegar, Matteo terhentak ke belakang. Kepala terkulai dengan lubang di dahinya, darah mengalir secara perlahan. Seperti air terjun kecil yang merah.
Aku membunuhnya, pistol jatuh dari tanganku. Jatuh ke lantai dengan bunyi logam keras.
Aku menatap tanganku. Tangan yang baru saja membunuh sepupu Damian. Orang yang tidak menyerangku. Yang hanya duduk terikat.
Eksekusi.
Aku baru saja mengeksekusi seseorang.
"Bagus," kata Damian. Tangannya di bahuku. "Kau melakukannya."
Tapi aku tidak mendengarnya. Aku hanya menatap tubuh Matteo yang terkulai. Darah yang mengalir dari kepalanya. Mata yang masih terbuka. Menatap kosong.
Aku baru saja membunuh orang yang pernah tersenyum padaku. Dadaku sesak. Napas tercekat. Lutut lemas. Aku jatuh ke lantai. Menatap tanganku yang gemetar.
Darah. Ada percikan darah di tanganku, di gaunku, bahkan di wajahku. Aku menyentuh pipiku. Jari basah dengan darah Matteo.
"Alexa," panggil Damian. Dia berlutut di sampingku. "Lihat aku."
Tapi aku tidak bisa. Hanya terus menatap darah di tanganku.
"Lihat aku!" perintahnya. Tangannya meraih daguku. Memaksaku menatapnya.
Matanya gelap. Tapi ada kekhawatiran di sana.
"Kau melakukan yang benar," katanya. "Dia pengkhianat. Dia harus mati."
"A-aku membunuhnya," bisikku.
"Ya. Kau membunuhnya. Dan kau melakukannya dengan baik."
"Dia menangis, dia memohon padaku."
"Dan kau tetap melakukannya," kata Damian. "Itu yang membuatmu kuat. Yang membuatmu layak jadi Donna."
Dia menarikku ke pelukannya. Memelukku erat.
"Aku tahu ini berat," bisiknya. "Aku tahu kau merasa bersalah. Tapi ini harus dilakukan. Dan seiring waktu, akan jadi lebih mudah."
Membunuh akan jadi lebih mudah.
Apa yang terjadi padaku?
Aku menangis di pelukannya. Menangis untuk Matteo. Untuk diriku sendiri. Untuk kemanusiaan yang terus terkikis setiap hari.
"Bawa tubuhnya keluar," perintah Damian pada Marco. "Buang seperti biasa."
Marco mengangguk. Memanggil dua orang lain untuk mengangkat tubuh Matteo.
Dan aku hanya bisa menonton ketika mereka menyeret tubuh itu keluar. Meninggalkan jejak darah di lantai beton.
***
Malam itu aku tidak bisa tidur lagi. Hanya berbaring menatap langit-langit sambil terus melihat wajah Matteo. Tangisannya. Permohonannya.
Dan suara tembakan yang mengakhiri semuanya. Damian tidur di sampingku. Atau pura-pura tidur. Aku tidak tahu.
"Aku monster," bisikku di kegelapan.
"Tidak," jawab Damian. Ternyata dia tidak tidur. "Kau survivor."
"Apa bedanya?"
"Monster membunuh untuk kesenangan," katanya. "Survivor membunuh untuk bertahan."
Dia berbalik menghadapku. Menatapku di kegelapan.
"Kau tidak menikmati membunuh Matteo," lanjutnya. "Kau melakukannya karena harus. Itu yang membuatmu berbeda dari monster."
"Tapi aku tetap membunuhnya."
"Ya. Kau membunuhnya. Dan kau akan membunuh lagi. Dan lagi. Sampai kau terbiasa. Sampai tidak terasa berat lagi."
Tangannya menyentuh pipiku.
"Dan itu normal," bisiknya. "Di dunia kita, itu normal."
Aku menutup mata. Air mata mengalir ke pelipis.
"Aku tidak mau jadi seperti ini."
"Terlambat," kata Damian. Suaranya lembut tapi jujur. "Kau sudah jadi seperti ini. Dan tidak ada jalan kembali."
Dia menciumku. Lembut. Penuh dengan sesuatu yang menyerupai cinta.
"Tapi aku akan ada di sampingmu," bisiknya. "Setiap langkah. Setiap pembunuhan. Setiap malam ketika kau tidak bisa tidur. Aku akan ada di sini."
Dan entah kenapa, kata-kata itu sedikit menenangkan. Karena setidaknya aku tidak sendirian di kegelapan ini, kami berdua sama-sama tenggelam, dan kami tenggelam bersama.
Tapi pertanyaan terus menghantui bahkan ketika aku akhirnya tertidur di pelukannya: di mana batasku? Berapa banyak orang lagi yang harus kubunuh, sebelum aku benar-benar kehilangan diriku yang terakhir?
Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah suatu hari nanti aku akan membunuh, tanpa perintah Damian? Tanpa alasan? Hanya karena aku bisa?