Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Seperti hari Minggu biasanya, Seyra hanya menghabiskan waktu libur sekolahnya di rumah sembari bermain game. Dia sama sekali tidak berniat keluar rumah hari ini, rasa malas benar-benar menguasainya.
Setelah insiden ledakan di sekolah, untuk sementara waktu para siswa dialihkan ke gedung belakang, dan mulai hari senin besok Seyra serta yang lain sementara belajar di gedung lama.
Bangunan pertama Akademi Edevane memang masih digunakan, sedangkan gedung kedua sedang dalam masa renovasi setelah ledakan yang membuat sebagian gedung itu luluh lantak. Insiden yang menewaskan Valeri sudah berlalu tiga hari, luka di wajah dan tubuh Seyra juga sudah membaik meski belum sembuh sepenuhnya.
Saat ini Seyra duduk bersandar pada kursi, dan tangannya dia sibuk menekan keyboard.
"Sial!" umpat Seyra kesal.
Dia sedang memainkan game Dark Souls Series, yang dikenal dengan tingkat kesulitan sangat tinggi. Game ini menawarkan mekanika pertempuran yang dalam dan dunia yang saling terhubung.
Saat sedang asyik bertempur dan hampir meraih kemenangan, terdengar suara menggelegar dari ayahnya yang berasal dari lantai satu. "Seyra!"
Seyra refleks menoleh dan membuat permainan menjadi game over. "Iya, Pa."
Begitu dia kembali melihat ke layar laptopnya, raut wajah Seyra berubah jengkel. Dia mendorong keyboard ke sembarang arah.
"Aarrgh, padahal dikit lagi gue menang!" Seyra mengusap rambutnya sendiri dengan kasar.
Dia sudah bermain game ini sejak jam empat subuh, dan sekarang baru jam tujuh pagi. Seyra tidak habis pikir mengapa ayahnya berteriak di pagi-pagi buta begini, dan mengganggu konsentrasinya.
Seyra mematikan laptop dan melepas earphone dari telinganya. Dia mendorong kursi ke belakang dan beranjak menuju pintu keluar.
Dia menuruni tangga dengan malas, Seyra masih kecewa atas ulah ayahnya yang membuat dia gagal meraih kemenangan yang tinggal sedikit lagi.
Begitu tiba di lantai bawah, Seyra melihat ayahnya dan ibu tirinya yang bernama Juliana sedang sibuk di dapur.
"Ada apa, Pa." Seyra berjalan ke arah dapur dengan malas.
Kedua orang tua itu menoleh, seketika tawa mereka meledak begitu melihat penampilan Seyra yang mirip singa baru keluar dari sarangnya.
"Astaga, sayang. Rambut kamu kenapa jadi kayak gitu?" tanya Juliana yang kerap disapa Juli.
Seyra menghela napas lelah, dia mudah beradaptasi dengan ibu barunya dan dia juga tidak keberatan dengan sikap hangat yang ibu tirinya berikan.
"Semua gara-gara Papa, dia bikin aku kalah main game." sahut Seyra.
Lewin mengernyitkan dahi. "Loh, kenapa jadi nyalahin Papa?"
"Papa tadi teriak manggil aku, dikira aku budek kali. Padahal bisa chat aja gitu, dikit lagi aku menang loh, Pah. Malah jadi game over." Rajuk Seyra, dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Juli terkekeh. Dia mendekati Seyra dan merapikan rambut gadis itu. "Papa kamu memang usil. Mau Mama sisirin?"
"Boleh, sekalian iketin, Ma." jawab Seyra. Dia sudah memanggil Juli dengan sebutan Mama sesuai permintaan Lewin.
Melihat interaksi kedua orang yang dia sayangi membuat Lewin benar-benar bahagia. Dia sudah menegur Maya ketika pulang malam itu, dan dia melarang Maya mendekati rumahnya lagi ataupun mendekati Seyra.
Awalnya Lewin ingin membawa Seyra ke rumah sakit, tapi gadis itu menolak dengan alasan cuma luka kecil tidak perlu di khawatirkan. Padahal Lewin tahu dengan jelas kalau malam itu pipi Seyra bengkak dan sudut bibirnya robek, sampai akhirnya Lewin memilih memanggil seorang dokter kenalannya ke rumah karena gadis itu keras kepala untuk di ajak ke rumah sakit.
Meski mantan istrinya itu tidak terima dan menyalahkan Lewin atas didikan putri bungsu mereka, Lewin tidak diam saja. Dia meminta satpam untuk menyeret Maya pergi dari rumahnya.
Bahkan dia yang mengurus pemakaman Valeri, sebab Maya tidak mengurusnya sama sekali. Wanita itu memilih pergi berlibur ke luar negeri setelah mencaci maki Seyra dan dirinya tempo hari.
"Sey, nanti antarkan makanan ini ke rumah sebelah, ya." ujar Lewin yang sedang menata makanan ke dalam kotak paper bag.
Seyra mengangguk. "Memang siapa yang pindahan, Pa?"
"Dia rekan kerja Papa, baru pindah kemarin." jawab Lewin santai.
Setelah beberapa saat berlalu, Juli sudah selesai mengikat rambut Seyra. "Aduh, cantiknya anak Mama."
Dengan pede Seyra mengibaskan rambutnya yang dikuncir. "Jelas, anaknya Papa Lewin gitu loh."
Seketika tawa kembali meledak. Lewin mencubit pipi Seyra pelan. "Sudah, sana antarkan makanan ini dulu. Sebelum dingin."
Seyra mengangkat tangan kanannya lalu memberi hormat pada Lewin. "Siap, Komandan."
Setelah itu dia bergegas pergi menuju rumah sebelah. Saat memasuki gerbang, dia melihat motor milik seseorang terparkir di halaman rumah itu. Kening Seyra berkerut halus, dia tidak asing dengan motor tersebut.
"Bukannya ini motor milik..."
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ngebut aq bacanya thor🤣