Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 Kekacauan di Jamuan Istana
"Hentikan kegilaanmu, Erlang Xuan!"
Teriakan seseorang membuat lengah. Meski begitu, tidak satupun serangan yang mengenainya. Orang yang berteriak adalah Erlang Xiao.
"Apalagi yang mau kamu lakukan?" tanya Erlang Xuan.
"Aku ayahmu, bicaralah dengan sopan!" Erlang Xiao menyipitkan matanya. Pemutusan hubungan 17 tahun lalu bahkan tidak diingatnya lagi. Yang ada dipikirannya hanya satu, mendapat pengakuan dari putranya yang tersisa.
"Kamu pernah bilang kalau aku bukan anakmu. Kenapa sekarang berubah pikiran?"
"Lihat? Dia itu tidak lebih dari seorang anak durhaka! Bahkan ayah sendiri tidak diakui!" Erlang Xiao menatap para tamu dengan mata berkaca-kaca. Agar orang-orang percaya, ia sengaja melukai dirinya sendiri.
"Banyak bicara!" Erlang Xuan menjentikkan jarinya. Di detik berikutnya, Erlang Xiao terpental dan memuntahkan beberapa teguk darah segar. Bukan hanya itu, luka-lukanya semakin parah, dan mustahil untuk disembuhkan.
"Haruskah aku mengantarmu menemui anak kesayanganmu?" tanyanya.
"Apa maksudmu?"
Erlang Xiao pura-pura menjadi orang lemah, padahal dia seorang kultivator ranah Kaisar. Bahkan, diam-diam ia menggenggam sebuah kristal perak. Sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyum tipis. Tak ada yang menyadarinya, kecuali Erlang Xuan.
"Anak durhaka! Kuberi kamu dua pilihan, kembali ke klan atau mati!" Erlang Xiao berdiri dan menatap Erlang Xuan sambil tersenyum. Selain itu, luka disekujur tubuhnya pun sembuh dengan sangat cepat.
"Bertahun-tahun aku merawatnya, tapi apa balasannya? Dia membangkang dan tak mengakuiku!"
Nada bicara Erlang Xiao hampir sebagian orang percaya. Terlebih lagi tak ada celah dari kata-katanya yang menunjukkan bahwa dirinya mengarang cerita. Terlebih lagi Erlang Xuan sendiri menyerangnya di hadapan semua orang.
"Tuan Erlang, sudah selesai basa-basinya?" tanya Erlang Xuan.
"Bocah sialan! Aku mengarang cerita, tapi dia tidak terpengaruh sama sekali!" Erlang Xiao berkata dalam hati. Hampir semua orang di tempat itu percaya dengannya, tapi putranya yang tidak ia akui itu tidak terpengaruh sama sama sekali.
"Yang Mulia Ibu Suri, bocah itu seharusnya dihukum mati!" Zhu Feng, Kaisar Zhu yang baru menatap Ibu Suri yang dari tadi tidak mengatakan apa-apa.
"Pertama, mata Erlang Xuan rusak, kedua—" Ibu Suri beranjak. Ia menghampiri Erlang Xuan dan menyingkap lengan baju pemuda itu. Bekas luka muncul di lengan pemuda itu.
Tidak cukup dengan menunjukan luka itu,
"Ibu Suri, tidak perlu menunjukkan bukti kepada orang yang tidak penting!" Bekas luka di lengannya menghilang.
"Yang Mulia, bisa saja dia melukai dirinya sendiri. Saudaranya saja dibunuh, apalagi dirinya sendiri!" Pangeran Ling Bai memprovokasi.
"Benar, dia itu orang yang tidak waras!" Pangeran Han Xiong menimpali.
Erlang Xuan memutar bola matanya dengan malas. Meladeni orang yang hanya pandai berbicara benar-benar membuatnya kesal. Ratusan orang yang hadir di jamuan istana, hampir seluruh seluruhnya meminta Kaisar menghukumnya.
"Tuan Erlang, kalau tidak ada lagi yang mau kukatakan, akan kubuat kau bisu selamanya."
Sebelum Erlang Xiao mengatakan sesuatu, seberkas cahaya yang panas memasuki mulutnya. Dalam hitungan detik, suara dan kemampuan berbicaranya menghilang. Bahkan, kemampuan dasar seperti menulis pun tidak diingatnya.
Baaaammm
Ledakan teredam terdengar. Ledakan itu diikuti oleh Erlang Xiao yang berguling-guling di tanah. Ya, kultivasinya dihilangkan, dan dantiannya dihancurkan. Tabib mana pun tidak akan bisa mengembalikan dantiannya.
"Kejam sekali!" Pangeran Ling Bai mundur karena ketakutan.
"Jika ayah sendiri disiksa, bagaimana dengan orang lain! Siapapun yang masih punya hati nurani, bergabung denganku dan habisi dia!" Kaisar Ling berteriak. Tentu saja hampir 1000 orang yang ada di sana bergabung dengannya. Sisanya, yaitu sekitar 10 orang tidak memilih siapapun.
"Melawan tiga Kekaisaran bukan masalah!" Zhang Xue muncul di samping Erlang Xuan. Kemunculannya membuat Kaisar Han dan Kaisar Ling terkejut.
"Putri Zhang, mengapa kamu membela orang asing?" tanya Kaisar Han.
"Kamu dan anakku sudah bertunangan! Jadi, jauhi baj*ngan itu!" pintanya.
"Aku tidak mungkin menjauhinya. Lagipula Erlang Xuan suamiku, bukan orang asing!"
"Kau pengkhianat!" Kaisar Han murka. Ia mengeluarkan giok naga dan memanggil pasukan khusus Kekaisaran Han.
"Siksa pengkhianat kecil itu!" Kaisar Han menunjuk Zhang Xue.
"Ba—" Belum sempat menjawab, para prajurit itu sudah tumbang. Potongan tubuh dan mayat tidak tersisa sama sekali. Hanya kelopak bunga dan serpihan es yang bertebaran di sana.
"Lemah sekali!" ledek Erlang Xuan.
Wajah Kaisar Han memerah. Ia mengeluarkan sebuah tongkat dan menancapkannya di tanah. Detik berikutnya, tanah bergetar hebat. Retakan muncul dan menyebar dengan cepat. Bukan hanya itu, bola api berwarna biru menyembur dari retakan itu.
"Kalian berdua akan mati terbakar!"
"Penjara naga api!" serunya.
Wuuuussss
Api biru berkumpul dan membentuk naga biru yang sangat besar. Tidak sampai di situ saja, naga-naga tersebut kemudian membentuk penjara piramida.
"Paman, kamu mengurung siapa?" Erlang Xuan bertanya sambil bersandar di piramida naga api. Orang-orang yang melihat itu tak bisa berkata-kata. Pasalnya sudah ribuan orang yang mati di dalam penjara itu.
Kraaaaakkkkk
Dhuaaarrrrrr
Penjara naga api meledak. Serpihan penjara naga api berputar-putar di udara. Perlahan-lahan, serpihan tersebut berubah menjadi api aneh yang berkobar-kobar.
"Kukembalikan apimu!"
Erlang Xuan menjentikkan jarinya dan api itu menghujani Kaisar Han. Bukan hanya Kaisar Han seorang, beberapa orang lainnya juga terkena imbasnya. Hari ini, untuk pertama kalinya, seorang Kaisar yang hampir menerobos ranah dewa dibuat sekarat oleh seorang kultivator ranah kaisar.
"Xuan Ge, sepertinya orang yang lebih kuat datang ke sini!" Zhang Xue waspada, sementara Erlang Xuan hanya melirik sekilas. Aura yang dirasakannya sangat familiar. Ia melihat sekelilingnya, dan menunggu orang itu keluar, tapi orang itu tidak kunjung menampakkan diri.
"Aura ini!" Ia menatap ke satu arah. Seseorang dengan aura emas berdiri di kejauhan dan menatapnya dengan tajam.
"Sepertinya dia orangnya!" gumamnya.
Aura emas itu, entah kenapa ia merasa seharusnya aura itu miliknya. Aura yang penuh penindasan, tapi membuat semua orang tunduk dan berlutut. Namun, entah bagaimana caranya, justru orang lain yang memilikinya.
"Meski takdir dicuri sekalipun, apa yang seharusnya menjadi milikmu harus kau dapatkan!" Suara misterius menggema di telinganya.
"Jika takdir menghalangimu, maka hancurkan takdir itu!" ucap Suara Misterius itu.
"Lawan atau kamu mati!"
Erlang Xuan tertegun. Suara misterius itu ada benarnya. Takdirnya sudah dicuri, dan jalannya tidaklah mudah. Pilihannya sekarang hanya dua, melawan atau mati di tangan sang pencuri takdir.
"Takdir dan bakat, aku tidak peduli. Selama aku bernapas, apa yang seharusnya menjadi milikku akan kukejar hingga kudapatkan!" ucapnya.
"Aku mau lihat pemilik sejati atau pencuri takdir yang akan berdiri hingga akhir!" ucap seorang pemuda. Dengan mata tertutup sekalipun, semua orang dapat merasakan aura emasnya. Anehnya, bumi bergetar, dan gunung meledak. Bahkan, langkahnya selalu dihalangi oleh tumpukan batu tajam, seolah kehadirannya tidak diinginkan oleh sang Dewi Bumi.