NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Keesokan paginya, suasana hati Rangga terasa sangat ringan setelah menghabiskan malam bersama Ayu. Sambil menyesap kopi hitam di teras rumahnya sebelum berangkat ke bengkel, ia teringat pada Andi, adiknya yang sedang meniti karier di kota lain. Rangga mengambil ponsel dan langsung mendial nomor adiknya itu.

"Halo, Di? Baru bangun kamu?" sapa Rangga begitu telepon diangkat.

"Sudah bangunlah, Mas. Tumben amat telepon pagi-pagi, ada apa nih?" tanya Andi di seberang sana dengan suara khas bangun tidur.

"Ya nggak apa-apa, pengen tahu saja kabar kamu sama Rania gimana? Masih awet kan?"

"Masih aman dong, Mas. Rania juga lagi sibuk persiapan pelan-pelan," jawab Andi santai.

Rangga menarik napas panjang, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. Sebagai kakak yang juga sedang berjuang meyakinkan Ayu untuk naik ke pelaminan, ia merasa harus menjaga adiknya.

"Di, ingat ya, kalian ini statusnya sudah tunangan. Satu langkah lagi menuju akad. Mas nggak mau kamu digantung lama-lama, cepat tentukan tanggalnya."

"Iya, Mas, doakan saja tabungannya segera cukup buat biaya resepsinya," jawab Andi.

"Nah, mumpung kalian masih dalam masa pertunangan begini, Mas mau ingatkan satu hal," suara Rangga merendah, penuh penekanan.

 "Mas nggak mau kamu macam-macam sebelum ada ikatan sah. Meskipun sudah tunangan, bukan berarti sudah boleh bebas. Jaga diri, jaga kehormatan Rania juga. Jangan melakukan hal yang terlalu jauh sebelum menikah. Kamu laki-laki, harus punya tanggung jawab dan prinsip sampai hari H nanti."

Andi terdiam sebentar, mendengarkan nasihat kakaknya dengan takzim.

"Dan satu lagi yang paling penting," lanjut Rangga, bayangan luka di mata Ayu saat menceritakan masa lalunya semalam mendadak melintas di pikirannya.

"Jangan pernah sekalipun kamu kepikiran buat selingkuh atau main belakang, apalagi sekarang kamu sudah mengikat janji sama Rania. Sekali kamu khianati kepercayaan perempuan, lukanya itu bisa seumur hidup, Di."

"Jangan jadi laki-laki pengecut yang cari pelarian di luar. Kalau ada masalah sama tunanganmu, selesaikan baik-baik, bukan cari selingkuhan."

"Iya, Mas. Andi paham banget soal itu. Andi janji bakal jaga amanah Mas Rangga. Andi sayang banget sama Rania," jawab Andi mantap.

"Bagus. Pegang omongan kamu. Mas cuma nggak mau adik Mas satu-satunya jadi laki-laki yang nggak punya harga diri gara-gara urusan perempuan," ucap Rangga lega.

 "Ya sudah, sana lanjut kerja. Mas juga mau ke bengkel, cari modal buat nyusul kalian tunangan!"

Setelah menutup telepon, Rangga menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sedikit lega bisa memberikan wejangan itu. Status Andi yang sudah bertunangan membuatnya merasa perlu lebih protektif agar adiknya tidak salah langkah.

Rangga memarkirkan Honda CB-nya dengan perasaan yang sangat bersemangat.

Namun, langkah kaki Rangga mendadak terhenti di ambang pintu kedai. Senyumnya surut seketika.

Di dalam kedai, Adrian sedang duduk santai di salah satu meja sambil menikmati sepiring sarapan dengan lahapnya. Sementara itu, Ayu tampak sibuk membereskan etalase kaca, menata gorengan dan lauk-pauk dengan telaten. Suasana di antara mereka terlihat sangat santai, seolah kehadiran Adrian di sana adalah hal yang sudah biasa.

Rangga berdeham keras, mencoba menarik perhatian. Ayu menoleh, sedikit terkejut melihat Rangga sudah berdiri di sana dengan jaket kulitnya.

"Loh, Mas Rangga? Pagi amat," sapa Ayu.

Rangga tidak menjawab Ayu. Matanya justru tertuju pada Adrian yang baru saja menyeka mulutnya dengan tisu. "Wah, ada tamu kehormatan lagi. Enak sarapannya, Mas Adrian? Sampai rajin banget tiap pagi mampir ke sini."

Adrian menatap Rangga, lalu tersenyum tipis yang bagi Rangga terlihat sangat memuakkan. "Enak, Mas. Masakan di sini memang paling cocok di lidah saya"

Rangga berjalan menghampiri etalase, berdiri tepat di depan Ayu yang masih sibuk memegang penjepit makanan. "Yu, saya mau sarapan. Tapi nafsu makan saya mendadak hilang kalau lihat ada orang asing yang betah banget duduk di sini pagi-pagi."

Ayu mendengus, ia menaruh penjepit makanan dengan sedikit bantingan. "Mas Rangga, jangan mulai deh! Adrian ini cuma sarapan, dia pelanggan. Siapa pun boleh makan di sini, nggak ada aturannya kalau orang ganteng dilarang masuk."

Rangga melotot. "Orang ganteng? Kamu bilang dia ganteng? Yu, kamu butuh periksa mata ke dokter spesialis sepertinya."

"Mas! Berisik tahu!"

Ayu menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalan karena tingkah Rangga yang cemburuan di pagi buta.

"Sudah, sudah! Mas Rangga kalau ke sini mau cari keributan mending ke bengkel saja sana," cetus Ayu sambil menunjuk deretan kursi yang masih kosong.

"Kalau mau makan, ya sudah duduk. Makan saja. Mas mau makan apa?"

"Tuh kan, baru pagi saja saya sudah diomelin. Padahal saya ke sini cuma mau sarapan biar kuat menghadapi kenyataan kalau saingan saya necis begini," gumam Rangga sambil menarik kursi yang posisinya paling dekat dengan etalase, agar ia tetap bisa mengawasi Ayu sekaligus membelakangi Adrian.

Ayu mendengus, tangannya tetap lincah mengambil piring. "Nggak usah banyak drama. Mau nasi uduk apa nasi kuning?"

"Nasi kuning saja, Yu. Yang banyak cintanya ya, biar hati saya nggak panas lagi," jawab Rangga, mulai kembali ke mode gombalnya yang khas.

Ayu tidak membalas, ia justru memenuhi piring Rangga dengan porsi yang cukup banyak, seolah ingin menyumpal mulut pria itu agar tidak bicara aneh-aneh lagi.

"Berapa, Yu?" tanya Adrian singkat sambil merogoh dompetnya.

"Eh, nasi kuning sama teh hangat ya, Ian? Jadi lima belas ribu saja," jawab Ayu.

Adrian meletakkan uang pas di atas meja etalase. "Ini ya. Makasih sarapannya, enak seperti biasa."

Ayu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, makasih ya, Ian. Hati-hati di jalan."

"Iya Mas Adrian, hati-hati. Jangan sampai meleng di jalan gara-gara mikirin calon istri orang," celetuk Rangga tanpa dosa sambil mulai menyuap nasi kuningnya.

Adrian hanya tersenyum tipis senyum yang lebih mirip sebuah tantangan sebelum akhirnya melangkah keluar dari kedai.

Baru saja Rangga hendak membuka mulut untuk melanjutkan protesnya soal Adrian, ponsel di saku jaket kulitnya bergetar. Nama Dimas terpampang di layar. Rangga mengangkatnya dengan malas.

"Halo, Dim? Apaan pagi-pagi? Gue lagi sarapan nih," ketus Rangga.

"Ngga! Tolongin gue, Ngga!" suara Dimas terdengar panik di seberang sana.

 "Anak gue demam tinggi dari semalam, rewel banget nggak mau lepas. Istri gue juga lagi kurang fit. Gue barusan chat daftar barang sama obat yang harus dibeli, tolong lo bawain ke rumah sekarang ya?"

Rangga mengernyitkan dahi, melirik piring nasi kuningnya yang baru tersentuh separuh.

 "Lah? Kan ada driver ojek online, Dim. Tinggal pesan lewat aplikasi, praktis. Ngapain nyuruh gue yang lagi sarapan?"

"Aduh, Ngga! Itu barangnya banyak, ada titipan mertua gue juga yang berat. Kalau pakai driver kena ongkir mahal, itu banyak banget itemnya. Tolong ya Ngga, cepetan!" seru Dimas memelas.

Pip. Sambungan diputus sepihak. Rangga hanya bisa menatap layar ponselnya dengan dongkol.

"Kenapa? Dimas?" tanya Ayu yang sejak tadi menyimak.

"Iya, si kampret itu. Anaknya demam, gue disuruh jadi kurir dadakan bawa barang titipan mertuanya segala. Katanya kalau pakai driver kemahalan karena barangnya banyak," keluh Rangga sambil mengantongi ponselnya.

"Sudah sana, kalau anak sakit itu darurat, Mas. Jangan perhitungan sama teman sendiri. Kasihan Dimas kalau anaknya rewel terus."

"Tapi nasi kuning gue belum habis, Yu. Masa ditinggal"

"Nanti datang lagi ke sini atau nggak aku antar nanti ke bengkel nasinya? Soalnya kamu baru makan sedikit tadi," tawar Ayu lembut.

Mendengar tawaran itu, wajah Rangga yang tadinya ditekuk langsung cerah seketika. "Beneran mau diantar ke bengkel, Yu? Nggak malu dilihatin anak-anak montir saya yang mukanya kayak knalpot semua?"

Ayu tertawa kecil sambil mendorong bahu Rangga menuju pintu. "Nggaklah, kan cuma antar makan. Sudah, sana jalan! Kasihan anak Dimas rewel terus."

"Siap, Sayang! Kalau gitu saya selesaikan misi dari Dimas dulu. Saya tunggu ya di bengkel," sahut Rangga penuh semangat. Ia segera naik ke atas Honda CB-nya dan menghidupkan mesin dengan sekali engkol.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!