Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan yang Bernapas
Gunung tinggi di Jawa—Gunung Lawu—menjulang seperti pisau batu yang menusuk langit malam. Mereka mendaki jalur tersembunyi di sisi timur, jalur yang hanya diketahui oleh para pertapa kuno dan sisa-sisa pengikut Naga Cahaya. Angin malam dingin menusuk tulang, membawa bau hujan yang belum turun dan sesuatu yang lebih tua: bau tanah basah yang sudah lama terkubur, bau lumpur yang hidup.
Kristal ketiga—abu-abu—kini bergabung dengan biru dan merah di tas Banda. Ketiganya berdenyut selaras, tapi denyut itu bukan lagi hangat seperti sebelumnya. Sekarang terasa seperti detak jantung yang tergesa, seperti jantung yang ketakutan. Setiap langkah Banda membuat dadanya sesak—seolah kutukan tahu bahwa kristal cahaya adalah akhir dari permainan ini, dan ia tidak ingin kalah.
Jatayu berjalan di depan, goloknya menyala samar untuk menerangi jalan. Matanya terus melirik ke belakang, ke arah Banda yang semakin pucat. Sejak kejadian di lembah tanah tandus, ikatan mereka terasa lebih rapuh—seperti benang yang sudah hampir putus, tapi masih menahan napas.
“Kau merasakannya, kan?” tanya Jatayu pelan, tanpa menoleh.
Banda mengangguk, suaranya serak. “Ya. Seperti ada suara di kepalaku. Suara yang bilang… ‘Bunuh dia sebelum dia membunuhmu.’”
Kirana yang berjalan di belakang mendengar. Ia mempercepat langkah, menyusul Jatayu. “Kita harus istirahat. Kalau kutukan aktif lagi sekarang, kita tidak akan bisa melawan Naga Tanah sekaligus.”
Bayu menghela napas. “Istirahat? Di sini? Gunung ini seperti hidup. Aku merasa tanah di bawah kaki kita… bernapas.”
Mereka berhenti di sebuah ceruk batu kecil yang tersembunyi dari angin. Bayu membuat api unggun kecil dari ranting kering, tapi api itu tidak mau menyala lama—seolah tanah menolak panasnya. Kirana meletakkan tangannya di tanah, api penyembuh emas tipis mengalir dari telapaknya, tapi bahkan itu pun redup cepat.
Banda duduk di batu dingin, kristal ketiga di pangkuannya. Cahaya mereka sekarang lebih gelap—emas yang dulu terang kini seperti kuning kecoklatan, seperti api yang hampir padam.
Jatayu duduk di depannya. “Banda… bicara padaku. Apa yang kau rasakan sekarang?”
Banda menatapnya lama. “Aku merasa… lapar. Bukan lapar makan. Lapar untuk mengakhiri ini. Kutukan bilang kalau aku bunuh kau, aku akan bebas. Aku akan hidup abadi sebagai Naga Laut penuh. Tanpa rasa sakit. Tanpa penyesalan.”
Jatayu menelan ludah. “Dan kau… percaya itu?”
Banda menggeleng pelan. “Tidak. Tapi suara itu semakin kuat. Setiap kali aku dekat denganmu, suara itu berteriak. Seperti… kutukan tahu kita hampir mematahkan semuanya.”
Kirana mendekat, tangannya gemetar. “Kita bisa gunakan api penyembuhku lagi. Seperti di lembah dulu. Aku bisa stabilkan ikatan kalian.”
Banda menggeleng. “Tidak. Terakhir kali kau lakukan itu, kau hampir kehabisan kekuatan. Aku tidak mau kau terluka karena aku.”
Kirana tersenyum pilu. “Aku sudah terluka sejak lama, Banda. Tapi aku lebih suka terluka karena mencoba menyelamatkan kalian daripada diam saja melihat kalian hancur.”
Bayu menatap mereka bertiga. “Kalau kutukan ini benar-benar memaksa pilihan… apa kita bisa melawannya? Atau kita cuma boneka dalam cerita orang lain?”
Jatayu menatap api unggun yang hampir padam. “Garini pernah bilang padaku, sebelum dia mati: ‘Api dan air bukan musuh. Mereka adalah cermin satu sama lain. Yang satu tanpa yang lain hanyalah kehancuran. Tapi kalau mereka menyatu… mereka bisa menjadi cahaya yang tak pernah padam.’”
Banda menatap Jatayu. “Maka kita harus menyatu. Bukan saling membunuh.”
Tapi kata-kata itu belum selesai terucap ketika tanah di bawah mereka bergetar hebat. Retakan muncul dari segala arah, seperti urat nadi yang pecah. Dari retakan itu naik tangan-tangan lumpur raksasa—bukan lagi tangan biasa, tapi tangan yang berbentuk naga, dengan sisik batu yang tajam dan mata hijau beracun di setiap telapak.
Naga Tanah muncul sepenuhnya.
Tubuhnya bukan lagi roh—ia adalah gunung hidup yang bangkit dari tanah. Tinggi ratusan meter, tubuhnya terbuat dari lumpur, batu, dan akar-akar kuno yang berdenyut seperti pembuluh darah. Matanya hijau menyala seperti lava beracun, dan mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan raungan yang menggetarkan seluruh gunung.
“Anak campuran…” suaranya seperti gempa yang berbicara. “Kau sudah mengumpulkan tiga kristal. Tapi cahaya terakhir adalah milikku. Kau tidak akan pernah mendapatkannya. Karena sebelum itu… kau harus membunuh Phoenix-mu.”
Banda berdiri, tubuhnya gemetar. Kristal ketiga di tangannya menyala terang, tapi cahayanya sekarang bercampur hitam—kutukan yang merembes masuk.
Jatayu melangkah maju, goloknya menyala merah terang. “Kau tidak akan menyentuhnya!”
Naga Tanah tertawa—suara yang seperti batu berguling di jurang. “Kau tidak mengerti, Phoenix. Kutukan bukan musuh luar. Kutukan adalah dirimu sendiri. Lihat saja anak campuran itu—dia sudah mulai membunuhmu dari dalam.”
Banda merasakan itu. Dadanya terasa seperti terbelah. Api Jatayu dan airnya saling bertarung lagi—tapi kali ini lebih ganas. Tubuhnya berubah: sisik muncul di seluruh kulit, mata birunya berubah menjadi hijau beracun sejenak, dan tangannya—tanpa kendali—mengarah ke Jatayu.
Air membara muncul dari tanah, membentuk tombak yang mengarah tepat ke dada Jatayu.
“Tidak!” teriak Banda, tapi suaranya sudah bercampur dengan raungan naga.
Jatayu tidak mundur. Ia malah melangkah maju, tangannya terbuka. “Banda… lihat aku. Ingat malam di gua. Ingat ciuman kita. Ingat Garini yang bilang api dan air bisa menyatu.”
Tapi tubuh Banda tidak mendengar. Tombak air membara meluncur cepat.
Kirana berlari ke depan, melemparkan tubuhnya di antara mereka. Api penyembuh emasnya menyala penuh, membentuk perisai. Tombak itu menghantam perisai itu, meledak menjadi uap emas dan air panas. Kirana terpental ke belakang, tubuhnya terbakar parah di lengan dan dada.
“Kirana!” Jatayu berteriak, berlari ke arahnya.
Bayu menangkap tubuh Kirana sebelum jatuh ke tanah. “Dia… dia terluka parah!”
Kirana tersenyum lemah, darah mengalir dari mulutnya. “Aku… aku bilang aku akan melindungi kalian. Bahkan kalau itu berarti… mati.”
Jatayu berlutut di sampingnya, tangannya gemetar menyentuh luka Kirana. “Jangan bicara seperti itu. Kau akan sembuh. Phoenix kita semi-abadi.”
Kirana menggeleng pelan. “Tidak kali ini. Api penyembuhku sudah habis. Dan kutukan… sudah merembes ke dalamku juga. Aku merasakannya. Aku… aku tidak akan bertahan lama.”
Banda jatuh berlutut di sampingnya, air mata mengalir di wajahnya. “Kirana… kenapa kau lakukan itu? Aku hampir—”
“Karena aku mencintaimu berdua,” jawab Kirana pelan. “Bukan seperti Jatayu mencintaimu, Banda. Tapi sebagai sahabat. Sebagai keluarga. Aku tidak mau melihat kalian hancur. Kalau aku bisa… aku ingin jadi jembatan terakhir kalian.”
Naga Tanah meraung lagi, tangan lumpurnya naik untuk menghantam mereka.
Jatayu berdiri, api Phoenix-nya menyala terang meski tubuhnya gemetar. “Kau tidak akan menyentuh mereka!”
Ia melompat ke depan, goloknya berayun melingkar. Api merah membentuk badai yang menghantam tangan lumpur itu, membakarnya hingga batu retak dan lumpur mengering.
Tapi Naga Tanah tidak mundur. Ia mengeluarkan suara yang seperti guntur: “Kau tidak bisa melawanku selamanya, Phoenix. Kutukan sudah dimulai. Anak campuran itu akan membunuhmu. Dan saat itu terjadi… aku akan menelan dunia ini.”
Banda berdiri, tubuhnya masih gemetar. Ia memegang kristal ketiga erat-erat. Cahaya emas muncul lagi—tapi kali ini lebih gelap, bercampur hitam dari kutukan.
“Jatayu… mundur,” katanya pelan. “Biarkan aku hadapi dia.”
Jatayu menoleh, matanya penuh ketakutan. “Tidak. Kita bersama.”
Banda menggeleng. “Kalau aku tidak lakukan ini sekarang… aku akan membunuhmu. Aku merasakannya. Suara itu semakin kuat. Biarkan aku… coba lawan kutukan ini sendirian.”
Kirana, yang masih terbaring di pelukan Bayu, berbisik lemah: “Jangan… jangan sendirian, Banda. Kita… kita adalah satu.”
Banda menatap mereka bertiga—Jatayu yang siap mati bersamanya, Kirana yang sudah terluka parah untuk melindunginya, Bayu yang tetap setia meski tak punya kekuatan.
Ia menghela napas panjang. “Kalau begitu… mari kita akhiri ini. Bersama.”
Ia mengangkat ketiga kristal. Cahaya emas meledak dari tangannya—merah, biru, abu-abu menyatu menjadi cahaya putih yang menyilaukan. Naga Tanah meraung kesakitan, tubuh lumpurnya mulai retak.
Tapi kutukan tidak berhenti. Di dalam dada Banda, suara itu berteriak lagi: “Bunuh dia! Atau mati!”
Banda berlutut, tubuhnya gemetar hebat. Jatayu berlari ke depannya, memeluknya erat.
“Ingat aku,” bisik Jatayu. “Ingat kita.”
Cahaya emas semakin terang, menelan kegelapan kutukan. Naga Tanah meraung terakhir, tubuhnya runtuh kembali ke tanah—bukan mati, tapi tertidur lagi, menunggu kesempatan berikutnya.
Banda jatuh ke pelukan Jatayu, napasnya tersengal. Kristal ketiga sekarang bersinar putih murni—cahaya yang mereka butuhkan.
Tapi Kirana tidak bergerak lagi. Napasnya pelan, mata hijau zamrudnya mulai redup.
“Kirana…” Jatayu berbisik, air mata mengalir.
Banda memegang tangan Kirana. “Terima kasih… karena kau selalu ada.”
Kirana tersenyum lemah. “Akhirnya… aku bisa melihat kalian bahagia. Jangan… jangan sia-siakan itu.”
Napasnya terputus.
Gunung Lawu diam sejenak.
Dan di dalam hati mereka, krisis baru saja dimulai—bukan dari kutukan luar, tapi dari luka yang tak akan pernah sembuh.