NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Jejak di Balik Kabut Kehancuran

BAB 33: Jejak di Balik Kabut Kehancuran

Suara raungan mesin mobil sport milik Rangga memecah kesunyian malam Jakarta yang sedang dibasahi hujan badai. Di kursi kemudi, Rangga mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang merah menatap tajam ke jalanan aspal yang licin, sementara otaknya berputar liar memproses informasi dari alat pelacak yang sempat ia sembunyikan di kalung perak yang dikenakan Arini.

"Sialan! Mereka bergerak menuju arah Bogor!" teriak Rangga sambil membanting setir menghindari sebuah truk kontainer.

Di sampingnya, Maya memegang tablet dengan tangan gemetar. "Pak, mereka masuk ke jalur lama puncak. Itu daerah yang sangat sepi dan rawan longsor. Sinyal GPS dari kalung Nona Arini mulai melemah karena cuaca buruk."

"Aku tidak peduli! Hubungi unit keamanan udara! Jika mobil itu tidak bisa dihentikan, aku ingin jalanan itu diblokade total!" suara Rangga terdengar seperti raungan serigala yang kehilangan pasangannya.

Dalam kepalanya, Rangga terus mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membiarkan pertahanannya goyah hanya karena surat palsu dari ibunya? Bagaimana bisa ia membiarkan Arini sendirian meskipun hanya untuk beberapa menit? Rasa bersalah itu membakar dadanya lebih panas daripada api mana pun.

Di dalam ambulans tanpa plat nomor yang melaju kencang, Arini terbaring di atas tandu dengan tangan terikat. Ia tidak bisa melihat siapa yang membawanya, dunianya gelap gulita. Namun, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara deru mesin dan percakapan dua pria di kursi depan.

"Cepat sedikit! Ibu Sarah ingin wanita ini segera 'dilenyapkan' sebelum pengacara Rangga sampai ke kejaksaan besok pagi," ujar salah satu pria dengan nada dingin.

"Tenang saja. Di atas sana ada tebing yang cukup curam. Kita tinggal membuat skenario ambulans ini mengalami kecelakaan tunggal dan meledak. Tidak akan ada bukti yang tersisa," balas pria satunya sambil tertawa kecil.

Arini gemetar hebat. Ia lumpuh, ia tidak bisa menggerakkan kakinya untuk lari, dan ia tidak bisa melihat jalan keluar. Air mata mengalir deras dari matanya yang buta. Namun, di tengah ketakutannya, ia teringat suara Rangga. Ia teringat janji Rangga bahwa pria itu akan selalu menjadi matanya.

Ga... selamatkan aku... batin Arini menjerit.

Arini mencoba menggerakkan tangannya. Sejak latihan beberapa hari lalu, ia sudah mulai bisa menggerakkan jari-jarinya. Ia meraba-raba saku baju rumah sakitnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan. Tidak ada apa-apa. Namun, ia menyentuh kalung perak pemberian Rangga di lehernya. Ia tahu kalung itu memiliki liontin yang cukup tajam di bagian ujungnya.

Dengan sisa tenaga dan koordinasi saraf yang sangat terbatas, Arini mencoba menarik kalung itu hingga putus. Jemarinya yang kaku berjuang melawan rasa sakit di sarafnya. Ceklek! Kalung itu putus. Arini menggenggam liontin itu erat-erat, menunggu momen yang tepat.

Rangga berhasil melihat lampu belakang ambulans tersebut saat mereka memasuki tikungan tajam di daerah Cisarua. Jarak mereka hanya sekitar seratus meter. Tanpa ragu, Rangga menginjak pedal gas lebih dalam, mengabaikan risiko mobilnya tergelincir ke jurang.

"Maya, hubungi polisi hutan di pos depan! Beritahu mereka ada penculikan!"

"Sudah, Pak! Mereka sedang memasang penghalang jalan di dua kilometer ke depan!"

Ambulans itu menyadari mereka diikuti. Mereka mulai melaju secara zig-zag, mencoba menghalangi mobil Rangga untuk menyalip. Di tengah hujan yang semakin lebat, jarak pandang menjadi sangat terbatas. Rangga menyalakan lampu jauhnya, mencoba membutakan spion pengemudi ambulans tersebut.

Tiba-tiba, ambulans itu mengerem mendadak. Rangga terpaksa membanting setir ke kiri, menghantam pembatas jalan hingga bagian depan mobilnya hancur. Asap keluar dari kap mesin.

"Pak Rangga! Anda tidak apa-apa?!" teriak Maya yang kepalanya terbentur dasbor.

Rangga tidak menjawab. Ia segera keluar dari mobil yang berasap, memegang sebuah pistol yang selama ini ia simpan di laci bawah kursi—senjata yang ia ambil dari brankas ayahnya untuk perlindungan darurat. Ia berlari menembus hujan menuju ambulans yang juga berhenti karena bannya pecah menghantam batu besar.

Dua pria keluar dari ambulans, masing-masing memegang belati panjang. Mereka terkejut melihat Rangga yang datang dengan aura kemarahan yang mengerikan.

"Lepaskan istriku, atau kalian tidak akan pernah keluar dari hutan ini hidup-hidup!" teriak Rangga. Suaranya menggelegar mengalahkan suara guntur.

"Tuan Rangga, sebaiknya Anda kembali. Ini perintah langsung dari Ibu Anda," ujar salah satu preman itu sambil mencoba mendekat.

Rangga tidak banyak bicara. Ia melepaskan satu tembakan peringatan ke udara. "Aku tidak punya Ibu! Yang aku punya hanyalah istri yang kalian culik! Sekarang, menyingkir!"

Perkelahian tidak terelakkan. Salah satu preman menerjang Rangga. Meskipun Rangga adalah seorang pengusaha, ia telah berlatih bela diri sejak remaja untuk menjaga kebugarannya. Ia menghindari sabetan belati tersebut, lalu menghantamkan siku tangannya ke rahang lawan hingga pria itu tersungkur di tanah yang berlumpur.

Namun, preman satunya berhasil memukul tengkuk Rangga dari belakang dengan kayu besar. Rangga jatuh berlutut, pandangannya kabur. Darah mulai mengalir dari kepalanya, bercampur dengan air hujan.

"Mati kau, pangeran manja!" preman itu mengangkat belatinya, bersiap menikam jantung Rangga.

Di saat yang kritis itu, pintu belakang ambulans terbuka dengan keras. Arini, dengan sisa kekuatannya, berhasil menjatuhkan dirinya dari tandu hingga terjatuh ke aspal. Meskipun ia tidak bisa melihat, ia mendengar suara perkelahian itu. Ia melemparkan liontin tajam yang ia genggam ke arah suara tersebut dengan sekuat tenaga.

Liontin itu memang tidak membunuh, tapi ujung tajamnya mengenai mata sang preman yang sedang berdiri di atas Rangga.

"AAAARRGGHH! MATAKU!" teriak pria itu sambil memegangi wajahnya.

Momen itu digunakan Rangga untuk bangkit. Ia mengambil pistolnya yang sempat terjatuh dan memukul kepala pria itu hingga pingsan. Rangga segera merangkak menuju Arini yang tergeletak di aspal dingin di bawah guyuran hujan.

"Arini! Arini!" Rangga memeluk tubuh istrinya yang gemetar hebat. Ia melepas jaketnya dan membungkus tubuh Arini.

"Ga... itu kamu?" bisik Arini, suaranya parau karena kedinginan.

"Iya, Sayang. Ini aku. Aku di sini. Maafkan aku... aku terlambat," Rangga menangis sambil mendekap wajah Arini. Ia tidak peduli lagi pada luka di kepalanya sendiri.

"Aku... aku tadi melempar sesuatu... apakah aku mengenai orang jahat itu?" tanya Arini dengan polos di tengah tangisnya.

Rangga tersenyum pahit, mencium kening istrinya berkali-kali. "Iya, Rin. Kamu pahlawanku. Kamu menyelamatkanku."

Tak lama kemudian, suara sirine polisi dan ambulans bantuan terdengar mendekat. Maya berlari menghampiri mereka dengan payung besar, diikuti oleh tim medis yang segera memberikan pertolongan pertama pada Arini.

Setelah keadaan cukup stabil, Rangga duduk di dalam ambulans medis yang membawa mereka kembali ke Jakarta. Ia menggenggam tangan Arini yang kini sudah hangat kembali. Arini tertidur karena kelelahan dan pengaruh obat penenang ringan.

Maya mendekati Rangga dengan ekspresi sangat serius. Ia menunjukkan sebuah rekaman suara dari ponsel salah satu penculik yang berhasil disita polisi.

"Pak, Anda harus dengar ini. Ini percakapan telepon antara Ibu Sarah dan pria tadi sebelum mereka berangkat," bisik Maya.

Rangga memasang earphone. Suara ibunya terdengar sangat jelas, namun isinya jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan.

"Jika Rangga mengejar kalian, jangan ragu untuk menghabisinya juga. Dia bukan lagi anakku. Dia adalah ancaman bagi warisan Adiguna. Jika dia lebih memilih mati bersama wanita buta itu, maka kabulkan keinginannya."

Rangga melepaskan earphone itu dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka ibunya benar-benar sudah kehilangan sisi kemanusiaannya. Sarah tidak hanya membenci Arini, ia sudah menganggap putranya sendiri sebagai musuh yang harus dilenyapkan.

"Maya," panggil Rangga dengan suara yang sangat dingin.

"Iya, Pak?"

"Batalkan semua rencana untuk memberikan pengampunan atau keringanan hukuman pada Ibuku. Besok pagi, serahkan bukti tentang pembunuhan pasif Ayah yang kita temukan di desa itu kepada kejaksaan agung. Aku ingin dia didakwa dengan pasal pembunuhan berencana dan konspirasi pembunuhan terhadap ahli waris."

"Tapi Pak... itu akan membuat Ibu Sarah dipenjara seumur hidup, atau bahkan hukuman mati."

"Itu adalah tempat yang layak bagi monster seperti dia," jawab Rangga tanpa keraguan sedikit pun. "Dia mencoba membunuh Arini. Dia mencoba membunuhku. Dia sudah menghancurkan hidup kita selama sepuluh tahun. Cukup sudah."

Sesampainya di rumah sakit, Arini langsung dipindahkan ke unit perawatan intensif untuk observasi lebih lanjut. Beruntung, benturan saat ia jatuh dari ambulans tidak menyebabkan pendarahan otak baru. Namun, Dokter Bram memberikan sebuah kejutan lain saat memeriksa kaki Arini.

"Rangga, lihat ini," Bram menunjukkan sebuah grafik di layar monitor saraf. "Syok traumatik dan lonjakan adrenalin yang dialami Arini saat penculikan tadi... sepertinya memicu lompatan sinyal listrik di saraf tulang belakangnya. Lihat, otot paha kanannya memberikan respon aktif tanpa bantuan rangsangan listrik luar."

Rangga tertegun. "Maksudmu?"

"Trauma itu secara tidak sengaja bertindak sebagai 'terapi kejut' alami. Tubuhnya dipaksa untuk bergerak demi bertahan hidup, dan itu membuka jalur saraf yang sebelumnya buntu. Arini... dia mungkin akan pulih jauh lebih cepat dari perkiraan kita."

Rangga jatuh terduduk di kursi, ia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sejadi-jadinya. Di balik penderitaan malam ini, Tuhan memberikan sebuah mukjizat. Arini berjuang untuk hidup, dan hidup memberinya hadiah kembali.

Di akhir bab ini, Rangga berdiri di balkon rumah sakit saat fajar mulai menyingsing. Ia menatap matahari yang terbit, namun kali ini ia merasa matahari itu bersinar untuknya.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari pengacaranya.

"Pak Rangga, Ibu Sarah baru saja diberitahu tentang kegagalan penculikan ini. Beliau dikabarkan mengalami serangan stroke di dalam selnya saat mendengar Anda selamat. Beliau sekarang dilarikan ke RS Polri."

Rangga menatap pesan itu tanpa emosi. "Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk menghentikannya," gumam Rangga.

Ia kembali masuk ke dalam kamar. Arini sudah bangun. Meskipun matanya masih tidak bisa melihat, ia menoleh ke arah Rangga dengan senyum yang sangat tulus.

"Ga," panggil Arini.

"Iya, Sayang?"

"Tadi di ambulans... aku bermimpi. Aku bermimpi melihat cahaya putih yang sangat terang. Dan di tengah cahaya itu, aku melihat wajahmu. Kamu sangat tampan, Ga. Sama seperti saat pertama kali kita bertemu di gudang dulu."

Rangga memeluk istrinya erat-erat. "Kamu akan melihatnya lagi secara nyata, Rin. Aku janji. Kita akan melewati ini bersama. Tidak ada lagi Ibu Sarah, tidak ada lagi Paman Hendrawan. Hanya ada kita."

Malam yang panjang itu akhirnya berakhir. Meskipun luka fisik masih membekas, namun ikatan di antara mereka kini sekeras baja yang ditempa dalam api. Rangga tahu, badai mungkin akan datang lagi, tapi selama ia memegang tangan Arini, ia tidak akan pernah takut lagi pada kegelapan.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!