"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: KEJATUHAN PARA DEWA
Griya tawang itu kini bukan lagi simbol kemewahan, melainkan sebuah arena distopia yang mencekam. Angin malam Milan menderu masuk melalui kaca jendela yang pecah, menerbangkan lembaran dokumen penelitian dan tirai sutra yang kini ternoda darah. Sirine peringatan sistem Renaissance berteriak parau, beradu dengan suara tembakan yang bergema dari lantai-lantai di bawah kami.
Adrian Vane berdiri di balik meja operasi baja, napasnya memburu. Raga barunya yang atletis tampak tegang, tangannya mencengkeram sebuah alat kendali jarak jauh. "Kalian tidak tahu apa yang telah kalian lepaskan, Valerie! Membebaskan ribuan jiwa yang tidak stabil di tengah kota ini... itu adalah genosida!"
"Bukan aku yang memasukkan mereka ke dalam raga-raga itu, Adrian," balasku, suaraku stabil meski jantungku berdegup kencang. Aku berdiri di samping Julian, merasakan panas dari laras senjatanya yang masih berasap. "Aku hanya memberikan mereka kunci untuk keluar."
“Jangan banyak bicara, Valerie! Habisi dia!” Zura berteriak, amarahnya meluap-luap. “Raga baru itu... dia tidak pantas memilikinya!”
Julian melangkah maju, moncong senjatanya tetap terkunci pada dada Adrian. "Selesai, Vane. Berikan alat kendali itu dan berlutut, atau aku akan memastikan raga barumu ini punya lubang di tempat yang tidak bisa diperbaiki oleh mesinmu."
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat waras sekaligus sangat gila. "Kalian pikir kalian pemenang? Lihat ke bawah."
Ia menunjuk ke arah balkon. Di jalanan Milan, lampu-lampu kota mulai berkedip liar. SUV hitam milik organisasi Vane mulai mengepung gedung, namun mereka tidak hanya menghadapi polisi. Dari lobi gedung-gedung mewah di sekitar kami, orang-orang dengan pakaian desainer mahal mulai keluar dengan cara berjalan yang aneh—patah-patah, liar, dan penuh kekerasan. Inversi massal sedang mengalami kegagalan sistemik; jiwa jalanan yang terbangun mulai menyerang apa pun yang ada di depan mereka.
"Kita harus pergi sekarang, Julian," bisikku. "Gedung ini akan menjadi kuburan."
Tiba-tiba, Adrian menekan tombol pada alat kendalinya. Sebuah pintu rahasia di belakangnya terbuka, menyingkap jalur pelarian pribadi. Namun sebelum ia sempat melompat masuk, aku melemparkan pisau bedah laser yang kupegang. Senjata itu berputar di udara dan menancap tepat di bahu Adrian.
Ia mengerang, alat kendali itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping.
"Julian, biarkan dia!" teriakku saat Julian hendak mengejar. "Lift darurat sudah aktif. Jika kita tidak turun sekarang, kita akan terjebak di sini bersama subjek yang mengamuk!"
Kami berlari menuju koridor. Di sana, pemandangannya jauh lebih mengerikan. Para staf medis yang tadi berpakaian putih bersih kini tergeletak di lantai, sementara para subjek inversi—orang-orang elit yang kini dihuni jiwa-jiwa liar—berlari tanpa arah, menghancurkan apa saja.
Saat kami mencapai lift darurat, seorang pria tua berpakaian tuksedo dengan mata merah menyala menerjang Julian. Julian menghantamnya dengan pangkal senapan, menjatuhkannya, namun lebih banyak lagi yang muncul dari sudut koridor.
"Mereka kehilangan sinkronisasi!" aku berteriak, sambil menarik Julian masuk ke dalam lift. "Otak mereka tidak bisa menahan beban dua memori sekaligus! Mereka menjadi gila!"
Lift meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Di dalam ruang sempit itu, Julian menarikku ke dalam pelukannya. Napas kami bersinggungan, panas dan penuh adrenalin.
"Kau selalu membawa kita ke tempat-tempat yang indah, ya?" Julian mencoba bercanda di tengah situasi maut ini, meski tangannya gemetar saat mengganti magasin senjatanya.
Aku menatapnya, menyentuh luka di pelipisnya. "Setidaknya kita bersama, Marco."
Pintu lift terbuka di lantai dasar, dan kami disambut oleh hujan peluru. Pasukan keamanan Vane—yang kini berkolaborasi dengan kelompok mafia bawah tanah yang merasa 'investasi' mereka terancam—telah membangun barikade di lobi.
"Berlindung!" Julian mendorongku ke balik pilar marmer yang megah.
“Biar aku yang pegang kendali kakimu, Valerie!” Zura mengambil alih. “Aku tahu pola serangan mereka. Mereka menembak seperti amatir!”
Zura memacu saraf motorikku. Aku bergerak seperti bayangan di antara pilar, melempar tabung gas air mata yang kupungut dari lantai. Di tengah kabut putih, Julian memberikan perlindungan tembakan yang presisi. Kami bukan lagi dokter dan detektif; kami adalah mesin perang yang sinkron.
Gairah pertempuran itu terasa sangat nyata. Setiap kali Julian menjatuhkan satu musuh, aku merasakan lonjakan dopamin yang hampir serupa dengan gairah seksual. Konflik ini, bahaya ini... entah bagaimana telah menjadi bahasa cinta kami yang baru.
Kami berhasil keluar dari lobi menuju jalanan Milan yang kini kacau balau. Mobil-mobil mewah bertabrakan, api menyala di mana-mana, dan orang-orang berteriak dalam berbagai bahasa. Di tengah kekacauan itu, aku melihat Alessandra de Luca—atau Chiara—berdiri di tengah jalan, menatap tangannya sendiri yang berlumuran darah.
"Chiara!" aku berteriak.
Ia menoleh padaku. Matanya kini jernih untuk sesaat. "Dokter... terima kasih. Aku bisa merasakannya sekarang... aku bebas."
Sebelum aku sempat mendekat, sebuah van hitam meluncur cepat dan membawanya pergi. Pasukan Vane masih mencoba menyelamatkan aset-aset mereka yang paling berharga.
"Kita harus pergi dari kota ini, Valerie!" Julian menarik tanganku. "Mobil kita ada di blok sebelah."
Kami berlari menembus kerumunan, melewati toko-toko mewah yang kini dijarah oleh "tuan" mereka sendiri. Di kejauhan, aku melihat griya tawang tempat Adrian berada mulai terbakar. Ledakan kimia dari laboratorium Renaissance mulai melahap puncak gedung itu, mengirimkan kembang api maut ke langit Milan.
Kejatuhan para 'dewa' baru saja dimulai. Mereka yang ingin hidup selamanya justru menemukan kematian di tangan raga yang mereka curi.
Saat kami mencapai mobil Maserati kami, Julian segera memacu mesinnya. Kami meluncur keluar dari Milan, meninggalkan api dan teriakan di belakang kami. Aku bersandar di kursi, raga Valerie gemetar hebat karena kelelahan pasca-sinkronisasi yang intens.
Julian menggenggam tanganku erat-erat. "Kita selamat. Lagi."
"Tapi dunia tidak akan sama lagi, Julian," kataku, menatap lewat spion pada kota yang membara. "Inversi massal ini... ini adalah awal dari kekacauan global. Vane mungkin selamat, dan dia punya ribuan subjek lain di luar sana."
“Biarkan saja mereka, Elena,” Zura berbisik, suaranya kini terdengar letih namun damai. “Malam ini, kita menang. Kita punya raga ini, kita punya pria ini, dan kita punya rahasia yang tidak dimiliki siapa pun.”
Aku memejamkan mata, membiarkan kehangatan tangan Julian meyakinkanku bahwa aku masih nyata. Kami telah meruntuhkan satu kuil keabadian, namun aku tahu, di bawah kulitku sendiri, perang antara Valerie dan Zura masih akan terus berlanjut, dibalut dalam gairah yang kini tak terpisahkan.