NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Ardian

Aruna tiba di rumah sakit dengan napas yang masih terengah. Langkahnya tergesa menyusuri lorong IGD, matanya mencari-cari wajah yang dikenalnya. Ketika ia melihat Ratih duduk lemas di bangku tunggu, dengan Adisti di sisinya dan Revan berdiri tidak jauh dari mereka, jantung Aruna berdegup keras.

“Ma,” panggil Aruna pelan.

Ratih menoleh. Begitu melihat Aruna, matanya yang sembap kembali berkaca-kaca. Aruna segera menghampiri, lalu memeluk mertuanya tanpa ragu.

“Papa bagaimana, ma?” tanya Aruna dengan suara bergetar.

Ratih menggeleng pelan. “Kondisinya sempat stabil, nak. Tapi dokter bilang papa harus dipantau ketat.”

Aruna mengangguk. Ia menggenggam tangan Ratih erat-erat, seolah ingin ikut menyalurkan kekuatan yang ia punyai meski sebenarnya hatinya sendiri juga dipenuhi kecemasan.

Beberapa saat kemudian, mereka dipersilakan masuk ke ruang perawatan.

Ardian terbaring di atas ranjang. Wajahnya tampak pucat, napasnya berat. Mesin monitor berdetak pelan, iramanya tidak beraturan. Aruna berdiri di sisi ranjang, menatap sosok pria yang selama ini ia hormati sebagai ayah mertuanya.

“Papa,” bisik Aruna lirih.

Tidak ada jawaban. Ratih duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan suaminya. Adisti berdiri di belakang ibunya, menahan tangis yang terus mengancam jatuh. Revan berdiri paling jauh, punggungnya tegang, wajahnya kaku.

Waktu berjalan lambat. Beberapa jam kemudian, kondisi Ardian mendadak menurun. Perawat masuk dengan cepat, disusul dokter jaga.

“Kami perlu memindahkan Pak Ardian ke ruang perawatan intensif,” ujar dokter tegas.

Ratih mengangguk dengan tubuh gemetar. “Tolong lakukan yang terbaik.”

Ardian dipindahkan ke ruang ICU. Keluarga hanya bisa menunggu di luar, menatap dari balik kaca.

Aruna berdiri di samping Revan. Ia bisa merasakan ketegangan dari tubuh suaminya, tetapi tidak ada upaya untuk mendekat. Ia memilih diam.

Menjelang sore, pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius.

Ratih yang sejak tadi duduk di depan pintu ruangan ICU, segera berdiri. “Dokter?”

Dokter menarik napas dalam. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Kalimat itu cukup. Ratih terdiam. Kakinya melemas. Aruna segera memeluknya, sementara Adisti menutup mulutnya, menahan isak.

“Pak Ardian Maheswara meninggal dunia pukul sebelas lewat dua belas,” lanjut dokter dengan suara pelan.

Dunia terasa runtuh. Ratih menangis dalam pelukan Aruna. Tangis yang tertahan sejak siang akhirnya pecah. Adisti menangis sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, bahunya bergetar hebat. Revan berdiri mematung. Papanya benar-benar pergi.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam duka. Rumah duka dipenuhi pelayat. Bunga-bunga putih memenuhi ruangan. Foto Ardian terpajang di depan peti, senyumnya tenang untuk seseorang yang kepergiannya menyisakan luka mendalam.

Aruna setia berada di sisi Ratih. Ia membantu menyambut tamu, menyiapkan keperluan, dan memastikan mertuanya tidak kelelahan. Tidak ada keluhan. Tidak ada air mata berlebihan di hadapan orang lain. Kesedihannya ia simpan sendiri. Di sudut ruangan, Revan duduk diam. Ia menerima ucapan belasungkawa dengan wajah datar, seolah emosinya telah terkunci.

Keesokan harinya, upacara pemakaman dilaksanakan. Gereja dipenuhi jemaat. Nyanyian pujian mengalun pelan, sendu, mengiringi ibadah pelepasan. Pendeta berdiri di depan, menyampaikan firman tentang hidup yang sementara dan janji kekekalan.

“Dalam pengharapan iman Kristen,” ujar pendeta dengan suara tenang, “kita percaya bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal bersama Tuhan.”

Ratih menunduk, air mata menetes pelan di pipinya. Aruna berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Ratih erat. Ia ikut menyanyikan lagu pujian, meski suaranya nyaris tidak terdengar.

Saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat, kesedihan itu terasa semakin nyata. Tanah pertama dijatuhkan.

Ratih terisak. “Papa.” bisiknya.

Adisti memeluk ibunya dari samping. Aruna ikut menahan tubuh Ratih yang hampir roboh.

Revan berdiri beberapa langkah dari mereka. Pandangannya tertuju pada liang lahat, wajahnya kosong. Tidak ada air mata yang jatuh, tetapi dadanya terasa sesak seperti dicekik rasa bersalah yang tidak menemukan jalan keluar.

Upacara berakhir. Pelan-pelan para pelayat meninggalkan pemakaman.

Aruna menoleh ke Revan. Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, pandangan mereka bertemu. Namun tidak ada kata yang terucap. Hanya keheningan yang berbicara.

Papa telah pergi. Yang tertinggal hanyalah keluarga yang harus belajar hidup dengan kehilangan dan luka yang belum sepenuhnya terucap.

Malam itu, setelah memastikan Ratih telah terlelap di kamar tamu, Aruna dan Revan berpamitan pulang. Tidak banyak kata terucap. Duka masih menggantung tebal di udara.

Sesampainya di rumah, Revan langsung melangkah menuju tangga. Bahunya turun, langkahnya berat. Ia hendak naik ke kamar tanpa menoleh sedikit pun.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Kak Revan?” Pertanyaan itu membuat langkah Revan terhenti.

Ia menoleh setengah badan. “Maksud kamu apa?” tanyanya singkat.

Aruna berdiri tidak jauh dari tangga. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kegelisahan. “Kenapa penyakit jantung papa bisa kambuh tiba-tiba?” ucapnya pelan. “Selama ini Papa sangat menjaga kesehatannya.”

Revan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia jelas tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Namun Aruna tidak berniat diam.

“Ada sesuatu yang terjadi sebelum papa jatuh sakit, kan?” lanjutnya, nadanya kini lebih tegas.

“Sudahlah, Runa,” jawab Revan dengan nada mulai kesal. “Tidak perlu dibahas.”

Aruna menghembuskan napas pendek, lalu tertawa kecil dan pahit. “Papa memergoki kalian, ya?” katanya. “Kamu dan perempuan itu.”

Revan langsung berbalik. Tatapannya tajam, sorot matanya penuh kewaspadaan. “Jangan asal bicara.”

“Jadi benar,” balas Aruna datar.

Keheningan menggantung beberapa detik sebelum akhirnya Revan menyerah. Bahunya turun, suaranya melemah.

“Papa tidak sengaja melihat aku bersama Viona,” ucapnya pelan. “Di kamar hotel.” Kalimat itu menghantam Aruna tanpa ampun.

Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak, seolah udara di ruangan itu mendadak menipis. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya, lalu melangkah ke sofa dan duduk perlahan.

“Bukankah dulu aku sudah pernah bilang,” kata Aruna lirih, “suruh perempuan itu menahan diri. Setidaknya sampai kita benar-benar bercerai.”

Revan tidak menjawab. Kepalanya tertunduk. Rasa bersalah menekan dadanya semakin dalam.

Jika saja ia tidak menuruti keinginan Viona. Jika saja ia tidak check in ke hotel hari itu. Mungkin ayahnya masih hidup.

Kesadaran itu menusuk tanpa ampun. Nafsu sesaat yang ia anggap sepele kini berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa ditebus.

“Semua ini sudah terjadi,” kata Revan akhirnya, suaranya datar. “Tidak ada gunanya membahasnya lagi.”

Aruna mendongak. Matanya merah, tetapi tidak ada air mata.

“Apa?” suaranya meninggi. “Semudah itu kamu mengatakannya? Dia papamu, Revan. Apa kamu tidak merasa sedih sedikit pun?”

Revan mengangkat wajahnya. Emosi yang ia tahan sejak rumah sakit akhirnya meledak.

“Ya! Aku salah!” bentaknya. “Aku bodoh! Kalau saat itu aku tidak pergi ke hotel dengan Viona, Papa mungkin masih hidup!”

Ia mengepalkan tangan. “Tapi sekarang apa yang bisa kulakukan, Aruna? Apa pun yang aku lakukan tidak akan bisa menghidupkan papa kembali!”

Aruna menatapnya lama. Suaranya turun, tetapi kata-katanya justru lebih menyakitkan.

“Setidaknya,” katanya singkat, “hiduplah dalam penyesalan.” Kalimat itu memutus sisa kekuatan Revan.

Aruna berdiri. Tanpa menunggu respons, ia melangkah naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Pintu ditutup keras, lalu terdengar suara kunci diputar.

Revan masih berdiri di dekat tangga, terpaku. Beberapa saat kemudian, ia ikut naik ke kamarnya sendiri.

Begitu pintu tertutup, Revan kehilangan kendali. Tinju pertamanya menghantam dinding. Disusul pukulan kedua dan ketiga, hingga rasa perih menjalar dan darah mengalir dari buku-buku jarinya.

Ia terduduk di lantai. Tangisnya pecah. Sunyi. Putus asa. Penuh penyesalan.

Ponselnya bergetar. Nama Viona muncul di layar.

Revan menatapnya lama. Dadanya naik turun. Tidak ada lagi amarah yang tersisa hanya lelah yang menumpuk. Ia membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya.

Beberapa detik kemudian, Revan mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.

Lampu kamar dipadamkan. Malam itu, Revan memilih sendiri dengan rasa bersalahnya tanpa Viona, tanpa Aruna, tanpa siapa pun yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!