NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Jembatan di Atas Langit

"Pegang erat, Kayra. Jangan pernah menoleh ke bawah," bisik Harry, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam yang menusuk.

Kayra mencengkeram lengan jaket taktis Harry hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapan mereka, balkon apartemen lantai empat itu terasa seperti tepi jurang. Hanya ada celah selebar dua meter yang memisahkan balkon apartemennya dengan atap gedung perkantoran tua di seberang gang.

Dalam kondisi normal, lompatan itu mungkin memungkinkan, tetapi dalam balutan mantel panjang dan sepatu hak tinggi yang ia kenakan tadi, ini adalah misi bunuh diri.

"Harry, aku tidak bisa melakukannya." Suara Kayra bergetar.

"Kau bisa. Aku akan menangkapmu di sisi lain," Harry menatap matanya, memberikan keyakinan mutlak yang selalu berhasil melumpuhkan rasa takut Kayra.

Harry melompat lebih dulu dengan kelincahan seorang predator, mendarat dengan suara debuman halus di atap beton seberang. Ia berbalik dan menjulurkan tangannya.

"Sekarang, Kayra! Lompat!"

Dari kejauhan, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari gerbang depan Jalan Willow. Lampu sorot dari mobil-mobil hitam Luca mulai menyapu dinding bangunan. Kayra memejamkan mata, membayangkan wajah Aris yang penuh tipu daya, lalu ia berlari dan melompat.

Hembusan angin seolah menarik tubuhnya ke bawah, namun tangan kekar Harry menangkap pergelangan tangannya dengan sentakan yang kuat. Harry menarik tubuh Kayra ke atas, memeluknya sesaat untuk menstabilkan keseimbangannya sebelum mereka kembali berlari melintasi atap-atap yang saling terhubung.

"Enzo, posisi!" Harry berteriak ke earpiece-nya.

"Tiga ratus meter di depan, Tuan! Atap gedung pabrik tekstil. Helikopter tidak bisa mendekat karena ada radar polisi, saya akan menjemput dengan van di lorong belakang!" balas Enzo, suaranya diselingi suara desing peluru. "Sial, mereka sudah di atap gedung blok A! Mereka mengejar kalian!"

Harry menoleh ke belakang. Benar saja, beberapa bayangan hitam mulai bermunculan di atap gedung yang baru saja mereka tinggalkan. Kilatan api keluar dari moncong senjata mereka.

"Merunduk!" Harry menekan kepala Kayra ke bawah saat peluru-peluru mulai menghantam pipa-pipa air di atas atap.

Harry membalas tembakan dengan pistolnya, menahan pergerakan musuh sementara mereka terus merayap menuju tangga darurat di ujung gedung pabrik. "Kayra, masuk ke dalam tangga itu! Terus turun sampai ke lantai dasar!"

"Bagaimana denganmu?" Kayra terengah, paru-parunya terasa terbakar karena oksigen yang menipis.

"Aku akan menutup pintunya dari luar. Pergi!"

Kayra menuruti perintah itu, ia menuruni tangga besi yang berputar dengan langkah seribu. Namun, baru setengah jalan, sebuah ledakan kecil menghantam bagian atas tangga. Guncangan itu membuat Kayra terlempar, bahunya menghantam dinding beton.

"Harry!" teriaknya.

Harry muncul dari balik asap, bajunya compang-camping namun tatapannya masih tajam. Ia menyambar tangan Kayra dan menariknya turun ke lantai dasar, tepat saat pintu belakang gedung pabrik itu terbuka. Sebuah van hitam dengan ban yang berdecit berhenti di depan mereka.

Enzo melompat keluar dari kursi kemudi, menodongkan senapan serbu ke arah pengejar di atas. "Masuk! Cepat masuk!"

Harry mendorong Kayra ke dalam kabin belakang yang gelap, lalu ia dan Enzo menyusul. Van itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap ban dan rentetan peluru musuh yang menghantam pintu belakang.

Keheningan yang mencekam menyelimuti kabin van selama beberapa detik, hanya menyisakan suara napas mereka yang memburu. Kayra menyandarkan kepalanya di dinding van, berusaha menguasai dirinya.

Namun, pandangannya terjatuh pada Enzo yang kini duduk bersandar di kursi depan, tangannya mencengkeram paha kanannya yang bersimbah darah.

"Enzo terluka," ujar Kayra, suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan fokus. Ia merangkak mendekati Enzo di tengah guncangan van yang melaju zig-zag.

"Hanya ... luka kecil, Dokte—" ringis Enzo, wajahnya pucat pasi.

"Luka kecil tidak akan membasahi seluruh celanamu dengan darah sebanyak ini, Enzo," potong Kayra. Ia merobek kain celana Enzo, menyingkap lubang peluru yang terus mengeluarkan darah segar. "Harry, aku butuh kotak medis! Sekarang!"

Harry segera menarik kotak hitam dari bawah kursi dan membukanya di depan Kayra. Kayra melihat ke dalam, peralatannya sangat terbatas. Hanya ada beberapa klem, perban, cairan antiseptik, dan lidokain.

"Pegang dia, Harry. Ini akan sangat sakit!" perintah Kayra.

Harry berpindah posisi, mengunci bahu Enzo agar pria itu tidak banyak bergerak. Kayra menyalakan lampu senter medis, jari-jarinya yang mungil mulai meraba sekitar luka.

"Pelurunya masih di dalam. Mengenai arteri femoralis lateral. Jika tidak dikeluarkan sekarang, dia akan mengalami emboli atau mati kehabisan darah dalam sepuluh menit."

"Lakukan, Kayra," gumam Harry, matanya menatap Kayra dengan kepercayaan penuh.

Van itu berguncang hebat saat Enzo membanting setir menghindari barikade polisi. Kayra harus menjaga keseimbangannya di atas lantai yang licin oleh darah. Ia menyuntikkan lidokain dengan cepat, lalu menggunakan klem untuk mencari peluru di dalam daging Enzo.

Enzo mengerang tertahan, keringat sebesar biji jagung membanjiri wajahnya. "Sial ... Dokter ... Anda ... sangat kasar."

"Diamlah dan tetap bernapas," desis Kayra.

Matanya terfokus sepenuhnya pada lubang luka itu. Di bawah temaram lampu kabin yang berkedip, Kayra menunjukkan presisi yang membuat Harry terpaku. Dengan satu gerakan mantap, ia berhasil menjepit peluru logam itu dan menariknya keluar.

Ting.

Peluru itu jatuh ke lantai van.

Kayra segera menekan luka itu dengan kasa kuat-kuat. "Harry, bantu aku melilitkan perban ini. Tekan sekuat mungkin."

Saat mereka bekerja sama membalut luka Enzo, tangan mereka bersentuhan. Harry menatap Kayra yang kini wajahnya tercoreng sedikit darah Enzo, rambutnya berantakan, namun sorot matanya menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Harry menyadari bahwa Kayra bukan lagi dokter yang perlu ia lindungi sepenuhnya, wanita ini adalah rekan seperjuangannya yang sanggup berdiri tegak di tengah kehancuran.

"Kau menyelamatkan orang-orangku lagi," bisik Harry di tengah deru mesin van.

Kayra menatapnya, ada kilatan emosi yang kompleks di matanya. "Mereka orang-orang yang melindungiku, Harry. Aku hanya melakukan bagianku."

Harry tidak bisa menahan diri. Di tengah situasi yang masih sangat berbahaya itu, ia mengulurkan tangannya, mengusap noda darah di pipi Kayra dengan ibu jarinya. Gerakan itu sangat lembut, sebuah kontras yang tajam dengan kekacauan di luar sana.

"Terima kasih," ujar Harry rendah.

Kayra terdiam, merasakan kehangatan sentuhan Harry yang menjalar ke jantungnya. Untuk sejenak, deru mesin van dan sirene polisi seolah menghilang. Hanya ada mereka berdua di kabin belakang yang sempit itu. Kayra menyadari bahwa ia mulai merasa "pulang" saat berada di dekat pria ini, meskipun rumah mereka saat ini adalah sebuah van yang sedang melarikan diri dari maut.

"Tuan," suara Enzo memecah momen itu, meski suaranya masih lemah. "Kita sudah sampai di dermaga peti kemas utara. Kapal kargo kita sudah menunggu."

Harry melepaskan tangannya dari wajah Kayra dan kembali ke mode operasional. "Bagus. Kayra, kita akan menyeberang ke perbatasan. Luca tidak akan bisa menyentuh kita di sana."

Kayra mengangguk. Ia membereskan peralatan medisnya, lalu duduk kembali di samping Harry. Saat van itu berhenti di kegelapan dermaga, Kayra menatap ke arah cahaya kota yang mulai menjauh. Ia telah meninggalkan apartemennya, meninggalkan masa lalunya, dan kini ia melangkah menuju masa depan yang penuh dengan peluru dan rahasia.

Harry menggandeng tangan Kayra saat mereka turun dari van. "Siap untuk babak selanjutnya?"

Kayra meremas tangan Harry, sebuah janji tanpa kata. "Apapun itu, Harry. Apapun itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!