Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Sisi memaksa dirinya bangun sangat pagi hanya demi satu hal: menghindari suaminya yang terlalu suka ikut campur. Sampai sekarang, rasa kesalnya pada pria itu belum juga mereda. Karena itu, ia memutuskan untuk tidur di kamar tamu selama beberapa hari agar bisa menjauhinya dan pulang larut malam. Sebisa mungkin, Sisi ingin menghindari Lucien agar ia tidak tergoda untuk mencekiknya.
Setelah menyelesaikan ritual paginya, Sisi langsung turun ke bawah. Untungnya, belum ada yang bangun. Rencananya adalah keluar pagi-pagi dan sarapan di Starbucks saja. Ia benar-benar ingin menghindari suaminya.
Sisi sudah berada di ambang pintu tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Lyra. Keduanya sama-sama terkejut.
“Selamat pagi, Kakak Ipar. Pagi sekali?” tanya Lyra dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Gadis itu mengenakan pakaian olahraga, jelas baru selesai berolahraga.
“Iya. Aku ada klien pagi yang harus ditemui. Bisa tolong sampaikan pada Ibu?” kata Sisi, berbohong setengah hati.
Ia memang punya klien, tapi tidak sepagi ini.
“Oh, tentu saja. Hati-hati,” ucap Lyra sambil mencium pipi Sisi.
Sisi tersenyum.
“Akan hati-hati. Terima kasih,” balasnya.
Tak lama kemudian, Sisi benar-benar meninggalkan mansion dan menyalakan mobilnya. Ia mampir ke Starbucks sebelum menuju kantor. Seperti yang ia duga, ia menjadi orang pertama yang tiba, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, sementara jam kerja baru dimulai pukul delapan.
Sisi memanfaatkan waktu itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tahu harinya akan panjang, penuh pertemuan dengan klien baru.
Argh! Kalau bosku pulang, akan kupukul dia karena meninggalkan semua pekerjaannya padaku.
Hari itu Sisi menangani enam klien sekaligus. Tubuhnya terasa remuk, perutnya perih karena lapar.
Sial, sudah jam delapan malam.
Ia segera pulang.
Pukul 8.25 malam, Sisi tiba di mansion.
Ia menghela napas sebelum benar-benar masuk. Dari pintu, ia melihat mereka duduk di ruang tamu sambil minum teh, tampaknya belum menyadari kehadirannya.
Sisi berdehem pelan.
“Selamat malam,” sapanya sedikit canggung.
“Syukurlah kau pulang. Kenapa terlambat hari ini?” tanya Lady dengan wajah khawatir.
Sisi langsung mencium pipi ibu mertuanya, kemudian Lyra dan ayah mertuanya. Ia sedikit ragu saat berhadapan dengan Lucien yang wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Akhirnya, Sisi berpura-pura mencium pipinya lalu duduk di sampingnya, satu-satunya kursi kosong.
“Maaf, Ibu. Hari ini aku punya banyak klien karena bosku sedang di luar negeri,” jelas Sisi jujur.
“Pekerja keras,” gumam Lyra kagum.
“Sedikit,” jawab Sisi dengan senyum tipis.
Sial… aku mengantuk. Ia tidak bisa menahan kuap.
“Kau terlihat lelah,” ujar ibu mertuanya lembut.
Sisi mengangguk dengan energi yang hampir habis.
“Ibu, Ayah, Lyra… boleh aku permisi?” pintanya.
Ia terlalu lelah, bahkan tidak yakin sanggup makan.
“Sudah makan?” tanya ayah mertuanya tiba-tiba.
“Sudah, Ayah,” bohong Sisi.
Lucien hanya sibuk dengan tehnya.
Semoga tersedak, dasar binatang.
“Baiklah. Istirahatlah,” ucap ibunya.
Sisi mengangguk dan mengucapkan selamat malam.
Begitu tiba di kamar rahasianya, ia langsung merebahkan diri ke tempat tidur.
Dan kelelahan pun melahap kesadarannya.
***
Sisi bangun dengan malas. Tanpa sadar, ia mengambil barang-barangnya. Matanya masih setengah terpejam saat keluar dari kamar rahasia. Ia masih ingin tidur, tapi harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari Lucien.
Ia tidak peduli apakah Lucien masih tidur atau tidak, langsung saja keluar dari kamar dan bersiap di kamar tamu.
Setelah itu, ia berjalan turun dengan hati-hati.
Sial, kenapa tubuhku terasa berat hari ini?
Begitu sampai di pintu...
“Mau ke mana, wanita?”
Suara bariton dingin itu membuat langkah Sisi terhenti.
Sial. Dia sudah bangun.
Perlahan, Sisi menoleh dengan senyum paksa. Lucien bersandar di samping tangga, mengenakan piyama. Rambutnya acak-acakan, dan di tangan kanannya ada cangkir. Sepertinya ia baru dari dapur.
Pertanyaannya: kenapa dia bangun sepagi ini? Matahari saja baru terbit.
“Kerja,” jawab Sisi singkat.
“Sepagi ini?” tanya Lucien sambil mengangkat alis.
“Memangnya kenapa?!” balas Sisi ketus.
Ia benar-benar tidak bisa bersikap ramah padanya. Setiap berada di dekat Lucien, emosinya seperti air mendidih yang siap meluap.
“Aku tidak peduli, tapi orang tuaku akan mengomel lagi kalau kau terus pergi sepagi ini,” ujar Lucien datar.
“Terus kenapa?” balas Sisi tak tertarik.
Wajah Lucien mengeras, bibirnya melengkung tipis.
“Jangan uji aku. Aku bisa--”
“--Menceraikanku sekarang juga,” potong Sisi dingin.
“Aku muak dengan ancamanmu. Aku harus pergi. Jangan khawatir, aku akan menelepon Ibu supaya kau tidak diomeli,” ucapnya malas, lalu melangkah keluar dari mansion.
Selalu saja mengancam dengan perceraian, seolah kehilangan pria itu adalah kerugian besar.
Dasar binatang.
Sisi tidak tahan lagi, tapi tidak punya pilihan selain menelan sikap iblis suaminya yang dingin dan tak berperasaan.
Tunggu saja, Lucien. Kalau kau jatuh cinta padaku, aku tidak akan menyambutnya. Sialan.
***
“Selamat pagi.”
“Pagi.”
Berbagai sapaan menyambut Sisi saat ia tiba di kantor. Ia hanya tersenyum dan mengangguk.
Begitu masuk ke ruangannya, ia langsung menjatuhkan tubuh ke kursi.
Sisi teringat harus mengirim pesan pada ibu mertuanya agar Lucien tidak ribut.
KEPADA: LADY
Ibu, maaf. Aku punya banyak klien hari ini jadi tidak sempat sarapan bersama. Akan kutebus nanti malam. Semoga harimu menyenangkan, Ibu.
Sisi memperlakukan Lady seperti ibunya sendiri. Mungkin ia sial memiliki suami seperti Lucien, tapi ia sangat beruntung memiliki mertua sebaik itu.
Brrt! Brrt!
Ponselnya bergetar.
DARI: ELOWEN
Jangan lupa berkunjung akhir pekan ini.
Sisi memutar mata setelah membacanya.
Masalah lain muncul, bagaimana caranya memaksa Lucien ikut dengannya akhir pekan ini?
Cih. Sudahlah.