Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf, aku pergi.
"Vin?"
"Gimana Git hasilnya?"
Gita terdiam, tak ingin menjawab tapi hatinya masih ragu juga. Dia tak tahu harus berkata apa. Ia memperlihatkan hasil testpack nya pada Vina.
"Git, ini garis dua. Tapi memang masih samar banget. Tapi gue yakin lo tuh hamil Git! Sumpah, speechless gue" Ujar Vina kaget.
"Nggak mungkin. Ini tuh gak keliatan Vin. Gue yakin ini pasti negatif." Gita kaget dan tak percaya.
"Gue yakin ini garis dua tapi samar banget. Git, lo liat gue lo tatap gue. Apa yang akan lo lakukan selanjutnya, hah?" Vina meyakinkan Gita.
Gita menangis tak percaya. Mengapa ia harus dihadapkan pada posisi sulit seperti ini. Kalau benar ia hamil, itu pasti jelas anak Rama. Karena Gita tak berhubungan dengan siapapun, dia hanya dipaksa oleh Rama kala itu.
Vina tahu perasaan sahabatnya kali ini pasti sangat hancur berantakan. Vina memikirkan akan bagaimana nasib Gita selanjutnya. Gita tak tahu kenapa hatinya sesakit ini melihat kenyataan kalau ia diduga hamil.
"Tapi aku ingin hasil ini berubah jadi negatif Vin, kumohon tolong aku." Gita menangis tersedu-sedu.
"Kenapa? Bukankah ini semua ulah Rama? Kau minta dia tanggung jawab saja. Biarkan Siska menggonggong, kafilah berlalu. Betul gak? Lo gak usah sedih" Bujur Vina
"Ancaman Siska itu sangat nyata. Justru aku senang kalau aku tak hamil, aku bisa pergi dari Rama. Aku tak ingin berurusan dengan siska si Rubah jahat itu. Kalau aku hamil, Kakek Rama akan menikahkan aku dengannya. Itu berarti nyawaku sedang menjadi taruhannya. Aku takut Siska nekad menghancurkan ku." Gita menangis lagi.
"Lantas mau kamu gimana?" Vina balik bertanya.
"Apa aku gugurkan saja kandunganku?" Gita menatap perutnya.
"Gak mungkin lah Git!!! Gila aja lo, gak setuju gue kalo lo harus begitu. Biarkan dia hidup, dan lo cari kebahagiaan lo sendiri. Emang lo gak cinta sama si Rama?"
"Cinta sudah tak ku hiraukan. Aku pun tak peduli hatiku akan bagaimana yang jelas aku ingin menghindari Siska. Aku ingin Rama dan Siska bahagia. Kumohon tolong aku." Gita menangis tak tertahankan
"Gue tahu kalo Siska itu kejam. Sekarang lo dengerin apa kata gue ya. Bokap nyokap lo di Malay kan?" Tanya Vina serius
"Iya, kumohon mereka tak boleh tahu Vin" Gita memohon
"Ya jangan sampai lah. Lo pergi aja ke Malay, lo tinggal di sana, jangan lo kembali kesini. Cari kerjaan kek di sana Git, sarjana gak bakal susah banget kan kalo cari kerjaan. Dan untuk janin lo, lo urus dia sendiri. Nanti gue bakal ke sana nemuin lo kalau waktunya sudah tepat. Kalo memang lo gak mau perjuangin cinta dan janin lo." Ujar Vina
Perkataan Gita ada benarnya juga. Mungkin memang harus seperti itu agar bisa membuat Rama dan Siska bahagia. Gita seperti menjadi benalu saja untuk mereka berdua.
"Tapi, aku harus jelasin apa ke kakek Rama?" Tanya Vina
"Gue yang testpack. Dan testpack itu lo kasih ke kakeknya Rama. Bukti kalo lo negatif dan lo bisa terbebas dari mereka. Ingat, jangan sampai Rama tahu. Setelah itu lo segera pergi. Biar persiapannya gue yang urus. Nanti gue pasti nemuin lo di sana." Jelas Vina
Gita memikirkan perkataan Vina baik-baik.Tapi rasanya sangat berat kalau Gita benar-benar hamil. Akan bagaimana nanti? Tapi untuk tetap bersama Rama pun ia tak bisa. Ada Siska yang tak mungkin dia lawan. Hanya bisa mengalah dan pasrah menerima keadaan. Semoga suatu saat nanti Gita menemukan pasangan yang bisa menerimanya dan Rama akan bahagia bersama Siska.
Aku harus kuat. Aku tak boleh lemah. Ini jalan yang harus ku pilih. Tak perlu menyesalinya dikemudian hari. Tak ada yang menjamin aku akan hidup bahagia kalau aku bersama Kak Rama. Apalagi ini aib terbesarku. Tak boleh ada yang tahu, orang tuaku sekalipun. Aku harus menutupnya serapat mungkin. Semoga akan ada lelaki yang menerima ku apa adanya.
Hari ini Gita tak kerja. Ia akan memutuskan hubungan kerja nya secara sepihak. Rama pasti berada di kantornya saat ini. Gita pun segera berangkat menuju rumah besar Kakek Prima untuk menjelaskan sesuatu.
Hati Gita dag dig dug tak karuan. Ia tak tahu akan berkata apa kakeknya Rama itu. Sungguh kakek Rama tak bisa ditebak hatinya. Gita kira saat Rama mengaku padanya Gita akan diusir habis-habisan. Tapi ternyata malah sebaliknya, ia malah menyuruh Gita menikah dengan Rama. Entah sekarang apa yang akan terjadi.
Siapa yang tak bahagia bisa mencintai dan saling mencintai? Tapi apalah dayaku yang tak mampu menggapainya. Aku terlalu malu telah merusak hubungan mereka meskipun hubungan mereka tak sehat. Aku tak mau lagi berurusan dengan mereka. Aku ingin mereka bahagia tanpa kehadiranku lagi. Aku ingin mereka saling mencintai dan aku pun menemukan cintaku yang sesungguhnya. -Gita-
Gita telah sampa di rumah keluarga Rama. Gita izin masuk kepada satpam dan asisten di rumah itu. Mereka mengizinkan Gita masuk.
"Selamat siang kakek." Ucap Gita
Diruang itu sudah ada Mami Rama. Papinya tak ada, mungkin Papinya Rama sedang bekerja. Syukurlah, karena Papi Rama seperti tak suka pada Gita.
"Hal apa yang membawamu kemari?" Tanya kakek Prima.
"Aku ingin melihatkan ini pada kakek" Sambil mengeluarkan hasil testpack.
"Apa ini? Kau lihatlah Maya!" Maya segera mengambil testpack itu.
Betapa terkejutnya Maya melihat hasil testpack tersebut.
Kenapa bisa negatif? Bagaimana Rama nanti? Mungkinkah Rama akan kecewa? Bagaimana aku memberitahu Rama mengenai hal ini? Wanita ini pasti akan segera pergi menjauh, meninggalkan anakku. Sebisa mungkin aku harus bisa mencegahnya, aku harus WhatsApp Rama segera.
-Ibu Rama dalam hati- sambil mengeluarkan HPnya.
"Bagaimana hasilnya Maya?" tanya Kakek
"Negatif, ayah!" Ucap Maya sedikit gugup.
"Jadi kau mau bagaimana?" Kakek bertanya pada Gita.
"Karena aku tidak hamil, aku akan menjauhi putra kalian. Maafkan aku sudah membuat keributan akhir-akhir ini. Aku sungguh menyesali perbuatan ku, semoga kalian semua memahaminya." Gita menahan air mata yang ingin mengalir.
"Kau tidak terpaksa melakukan ini?" Tanya kakek lagi
"Tidak, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku tak layak menjadi bagian dari keluarga ini. Aku tahu, hanya Siska lah yang pantas bersanding dengan Rama." Ucap Gita terbata-bata.
"Gita, kau tak perlu memikirkan Siska." Maya mencoba mencegah.
"Aku tak memikirkan Siska. Justru aku memikirkan diriku sendiri. Tak ada yang menjamin aku akan bahagia kalau jadi bagian dari keluarga ini. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri." Jelas Gita.
Aduh, Rama lagi ngapain sih? kenapa chat tak dibalas dan telepon tak diangkat. Bagaimana kalau kakek menyetujui perkataan Gita dan menyuruhnya pergi? Aku tak bisa bayangkan kedepannya akan bagaimana. Rama, anakkuuuuu.. tolong kau segera membalasnya. Ini penting untuk masa depanmu. -Ibu Rama dalam hati-
"Menurutmu, begitu? Kau tidak mencintai cucuku?" Tanya kakek Rama
"Aku mencintainya sebelum dia merenggut kesucian ku. Kini cintaku telah berubah jadi benci. Kuharap ia akan bahagia bersama Siska" Jelas Gita.
"Kau tidak takut?" Ucap kakek Rama
"Takut kenapa?" Gita tak mengerti.
"Kau tak takut? Memangnya ada lelaki yang mau dengan perempuan yang sudah tidur dengan lelaki lain?" Ancam Kakek Rama
Kenapa jadi seperti ini? Harusnya ia menyuruhku pergi kan? Kenapa terdengar seperti melarang dan mengancam ku? Kenapa pikiran kakek Rama tak bisa ditebak seperti ini sih?
"Aku tak perlu lelaki untuk hidup. Aku akan menghidupi diriku sendiri. Kalau ada yang mau menerimaku apa adanya, aku bersyukur. Kalaupun tak ada, aku tak mengapa. Biarkan aku menentukan jalanku sendiri." Jawab Gita penuh ketegasan
"Kau tak akan menyesalinya?" Tanya kakek Rama lagi
"Tidak. Semuanya akan kujalani dengan ikhlas." Gita tersenyum
"Baiklah. Aku bisa melepas mu. Jangan harap kau bisa menemui Rama lagi." Ucap Kakek Rama tegas
Degg. Rasanya seperti disambar petir. Jangan harap bisa menemui Rama lagi? Memangnya aku masih berharap bisa menemuinya lagi apa? Tak mungkin. Kita harus hidup menentukan jalan kita masing-masing. -Gita dalam hati-
"Tentu. Terimakasih atas waktunya. Saya permisi." Gita menundukkan kepalanya.
"Gita, tunggu sebentar. Apa tidak sebaiknya kau makan dahulu bersama kita?" Ajak Ibu Rama.
"Aku tak sampai hati kalau harus makan bersama keluarga terhormat ini. Terimakasih atas tawarannya, tapi aku harus segera pulang. Permisi." Gita menundukkan kepalanya lagi dan segera pergi meninggalkan mereka.
Seketika Gita pergi, ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikan dan sedang menguping pembicaraan tadi. Tak lain dan tak mungkin itu adalah Siska. Dengan seksama Siska memperhatikan pembicaraan mereka.
Baguslah. Wanita perusak itu pergi juga. Aku tak harus berusaha membuatnya pergi dia sudah lebih dulu meminta pergi. Wanita yang pintar, kau membuatku semakin leluasa. Berarti Dia tidak hamil? Bagaimana denganku? Semoga saja aku segera hamil, karena itulah tujuanku disini. Siska segera berlalu takut ketahuan kakek dan ibu Rama.
"Sifatnya sama sepertimu" Kakek berbicara pada Maya
"Eh, maksud Ayah bagaimana?" Maya bingung.
"Kau tak ingat? Dulu aku menjodohkan Angga kan? Tetapi wanita yang dipilih Angga adalah kau. Kau dan Angga sangat hancur, sampai-sampai kau akan bunuh diri dan memilih pergi. Tetapi, cinta tetap tinggal dan datang pada tempatnya kan? Kau dan Angga bisa bersama hingga kini. Dan kini, kau pun menjodohkan Rama. Tetapi, Rama mencintai wanita itu. Kita lihat saja nanti, Aku yakin cinta tak akan salah menepi pada tempatnya."
"Maafkan aku, Ayah." Maya menunduk
"Sekarang kau tahu kan rasanya menjadi orang tua? Dan alasan kita menjodohkan anak itu untuk apa? Memang aku bersalah, tapi kau dan Angga pun sekarang melakukan hal yang dulu kulakukan." Tegas kakek Prima.
Sungguh sebuah tamparan bagi Maya. Dia dan suaminya sangat ingin menjodohkan Rama dengan Siska, demi membuat perusahaan semakin tinggi. Tapi kenyataannya kebahagian tak bisa dimiliki Rama. Kini, Maya menyesali perbuatannya. Tak lama, handphone Maya berdering. Ternyata Rama yang memanggil.
"Mi, ada apa? Apa Gita masih di rumah? Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah. Tahan dia, jangan sampai dia pergi." Cegah Rama
"Maafkan mami Nak, Mami sudah menahannya. Tetapi, Gita memaksa ingin pulang. Padahal mami sudah menyuruhnya untuk makan bersama dulu. Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku? Kalau kau tadi langsung mengangkat Gita pasti masih ada disini." Jelas Ibunya
"Aku sangat sibuk Mi. Kenapa dia datang ke rumah? Dia berkata apa?" Tanya Rama penasaran
"Pulanglah dulu. Nanti ku jelaskan." Maya menghela nafas.
Kenapa hal menyakitkan selalu saja datang bertubi-tubi? Kenapa cinta tak pernah berpihak pada kita? Apa salahku hingga aku tak bisa bersamanya? Hatiku, sudah diambil olehnya. Aku tak bisa merasakan cinta yang lain.
*Bersambung*
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya