Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Baru saja Nayla memberikan senyum kemenangan yang paling manis ke arah santriwati yang cemburu itu, tiba-tiba kakinya yang masih lemas dan perih kehilangan keseimbangan. Mungkin karena ia terlalu fokus bergaya, atau mungkin karena gamis panjang yang belum biasa ia pakai itu tersangkut ujung sandalnya.
"Aduh!"
Tubuh Nayla limbung ke depan. Karena jalannya yang masih sedikit mengangkang dan kaku, ia tidak sigap menumpu badannya sendiri.
Bruk!
Nayla terjatuh dalam posisi terduduk di atas tanah halaman pesantren. Rasa perih yang luar biasa menjalar dari area "donat"-nya yang memang masih sensitif akibat kejadian semalam, ditambah lagi rasa malu karena jatuh tepat di depan para santriwati yang sejak tadi memperhatikannya.
"Aww... Sakit, Gus..." rintih Nayla dengan wajah yang langsung memerah menahan tangis dan malu.
Hilman yang sedari tadi menggandengnya langsung panik bukan main. Ia segera berlutut di samping Nayla, tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang menonton mereka.
"Astagfirullah! Nayla, kamu nggak apa-apa?" tanya Hilman dengan nada suara yang sangat khawatir. "Ada yang luka? Mana yang sakit?"
Para santriwati di kejauhan terdengar menutup mulut, ada yang menahan tawa, tapi lebih banyak yang iri melihat perhatian Gus Hilman yang begitu besar.
Nayla menatap Hilman dengan mata berkaca-kaca, ia memegang tangan Hilman erat. "Perih banget, Gus... Gara-gara Gus Hilman sih, aku jadi nggak bisa jalan bener," bisik Nayla pelan namun cukup tajam supaya hanya Hilman yang dengar.
Hilman merasa sangat bersalah sekaligus gemas. Ia melihat Nayla benar-benar kesulitan untuk bangun kembali. Tanpa pikir panjang dan tanpa memedulikan aturan ketat pesantren tentang "kemesraan di depan umum", Hilman menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Nayla dan tangan satunya di punggung istrinya.
"Eh, Gus? Mau ngapain?" tanya Nayla kaget.
Dalam satu gerakan mantap, Hilman menggendong Nayla ala bridal style (gendong depan). Kerudung panjang Nayla menjuntai menutupi sebagian lengan Hilman.
"Gus! Malu dilihatin orang!" bisik Nayla sambil menyembunyikan wajahnya di dada Hilman, meski dalam hati ia merasa sangat senang karena merasa seperti ratu.
"Diamlah, Nay. Daripada kamu jatuh lagi," jawab Hilman tegas. Ia menatap tajam ke arah santri dan santriwati yang masih menonton. "Apa yang kalian lihat? Kembali ke aktivitas masing-masing!"
Suara tegas Hilman membuat mereka langsung bubar kocar-kacir. Hilman terus melangkah menuju kediaman Abah Kiai sambil menggendong Nayla. Setiap langkah Hilman membuat dada Nayla semakin menempel pada suaminya, dan aroma parfum kayu cendana Hilman kembali membuat Nayla merasa melayang, melupakan rasa perih di bawah sana.
Langkah Hilman terasa mantap saat menyusuri selasar asrama menuju kediaman utama Abah Kiai. Nayla yang berada di gendongannya kini benar-benar tidak berkutik. Wajahnya yang biasa penuh percaya diri kini disembunyikan di ceruk leher Hilman. Ia bisa merasakan degup jantung suaminya yang berdetak kuat, seirama dengan langkah kakinya.
Begitu sampai di depan pintu kayu jati besar kediaman Abah Kiai, Hilman tidak langsung menurunkan Nayla. Ia mengetuk pintu dengan satu tangan yang tersisa, sementara tangannya yang lain tetap mengunci tubuh istrinya dengan erat.
"Assalamu’alaikum," ucap Hilman dengan suara rendah yang berwibawa.
"Wa’alaikumussalam. Masuk, Le," sahut suara lembut dari dalam.
Pintu terbuka, dan di sana sudah duduk Umi Sarah (ibunda Hilman) bersama Abah Kiai. Pemandangan Hilman yang menggendong Nayla sukses membuat Umi Sarah membelalakkan matanya, sementara Abah Kiai hanya menaikkan satu alisnya sambil tersenyum penuh arti.