Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisnis Gelap Terungkap
Tiga hari setelah kunjungan ke danau, Leonardo mengejutkanku dengan permintaan yang aneh.
"Malam ini ada pertemuan bisnis penting," ucapnya saat sarapan. "Dan aku mau kau ikut."
Aku berhenti mengunyah. Menatapnya bingung. "Ikut? Kenapa? Biasanya kamu tidak pernah..."
"Biasanya aku tidak pernah membawa siapapun," potongnya. "Tapi kali ini berbeda. Aku mau mereka tahu siapa kau. Aku mau mereka lihat bahwa aku punya istri. Dan aku mau mereka paham bahwa kau di bawah perlindunganku."
Perlindungan. Atau kepemilikan?
"Tapi... tapi saya tidak tahu apa-apa tentang bisnis kamu..."
"Kau tidak perlu tahu. Kau cuma perlu duduk di sampingku. Tersenyum kalau perlu. Dan jangan bicara kecuali ditanya." Dia menyeruput kopinya. "Ini cuma formalitas. Aku mau tunjukkan kekuatan. Dan istri cantik adalah bagian dari itu."
Aku merasa seperti aksesori. Perhiasan yang dipajang untuk menunjukkan status.
"Kalau... kalau saya tidak mau?"
Leonardo menatapku. Tatapan yang membuat perutku bergejolak.
"Kau mau, kan?" ucapnya pelan. Tapi ada ancaman terselubung di nada suaranya. "Karena ini penting untukku. Dan kalau penting untukku, seharusnya penting juga untukmu."
Aku menunduk. "Baik. Saya akan ikut."
"Bagus." Dia tersenyum. "Sofia akan siapkan gaun untukmu. Pakai yang merah. Aku suka kau pakai merah."
Malam itu, sekitar pukul tujuh, Sofia datang ke kamarku dengan gaun merah yang... wow. Sangat mewah. Sutra merah gelap dengan potongan yang elegan tapi juga sedikit terbuka di bagian punggung. Sepatu hak tinggi hitam. Kalung berlian yang lebih besar dari biasanya.
"Nyonya akan terlihat sangat cantik," ucap Sofia sambil membantuku memakai gaun itu.
Aku menatap pantulanku di cermin. Orang asing menatap balik. Wanita dengan gaun mahal dan perhiasan berlian. Terlihat seperti ratu.
Tapi terasa seperti budak yang didandani untuk dipamerkan.
Sofia merias wajahku. Makeup yang tidak terlalu menor tapi cukup untuk membuat wajahku terlihat lebih segar. Bibir merah senada dengan gaun. Rambut ditata setengah terurai dengan beberapa helai dikuncir ke belakang.
Pukul delapan, Leonardo datang menjemput. Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja merah gelap yang sama dengan gaunku. Seperti sengaja dikoordinasikan.
"Sempurna," ucapnya sambil menatapku dari atas ke bawah. "Kau terlihat seperti ratu."
Ratu tanpa kerajaan. Ratu tanpa kekuasaan.
Dia mengulurkan lengannya. Aku mengaitkan tanganku di sana. Dan kami turun bersama.
Di ruang tamu bawah, Marco dan Andrey sudah menunggu. Mereka juga berjas formal. Tapi aku bisa lihat tonjolan senjata di balik jas mereka.
Kami naik mobil. Kali ini bukan ke arah danau atau desa. Tapi ke dalam kota. Ke sebuah bangunan mewah yang terlihat seperti hotel atau restoran eksklusif.
Tapi saat masuk, aku tahu ini bukan restoran biasa.
Tidak ada tamu lain. Hanya beberapa pria berjas hitam yang berdiri di berbagai sudut. Mengawasi. Mereka semua membungkuk saat Leonardo lewat.
Kami masuk ke ruangan pribadi di lantai atas. Ruangan besar dengan meja panjang di tengah. Lampu kristal mewah di langit-langit. Jendela besar yang menghadap kota Lugano yang berkilauan di malam hari.
Di meja sudah ada dua orang duduk.
Yang pertama, pria besar dengan rambut pirang pendek. Wajah keras dengan bekas luka di pipi kiri. Mata biru yang dingin. Berbicara dengan aksen Rusia yang kental saat menyapa Leonardo.
"Leonardo Valerio. Lama tidak bertemu," ucapnya sambil berdiri. Mereka berjabat tangan dengan keras. Seperti dua predator yang saling mengukur kekuatan.
"Dmitri Volkov," balas Leonardo. "Senang kau bisa datang."
Dmitri. Bos mafia Rusia. Aku pernah dengar namanya saat membaca file di tablet Andrey waktu itu.
Yang kedua, pria Jepang dengan rambut hitam rapi disisir ke belakang. Kacamata tipis. Wajah tenang tapi tatapan mata yang tajam. Mengenakan jas abu-abu gelap yang sangat rapi.
"Tuan Valerio," ucapnya dengan sedikit membungkuk. "Terima kasih atas undangannya."
"Ryo Kishimoto," Leonardo membalas bungkukannya sedikit. "Senang kau mau datang jauh-jauh dari Tokyo."
Ryo Kishimoto. Yakuza. Mafia Jepang.
Aku berdiri di samping Leonardo, mencoba terlihat tenang walau jantungku berdegup cepat.
"Dan ini," Leonardo menarikku sedikit ke depan. "Nadira Valerio. Istriku."
Dmitri menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin mundur. Tapi aku tahan.
"Cantik," komentarnya. "Kau beruntung, Valerio."
"Aku tahu," balas Leonardo sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Posesif.
Ryo hanya mengangguk sopan ke arahku. Tapi aku bisa lihat dia mengamati dari balik kacamatanya.
Kami duduk. Leonardo di ujung meja. Aku di sampingnya. Dmitri di seberang. Ryo di samping Dmitri. Marco berdiri di belakang Leonardo. Andrey di sudut ruangan dengan laptop dan tablet seperti biasa.
Pelayan membawa wine dan hidangan pembuka. Tapi aku tahu ini bukan makan malam biasa.
"Langsung ke bisnis," ucap Leonardo setelah wine dituangkan. "Shipment minggu depan. Lima ratus unit dari suplier di Ukraina. Dmitri, kau sudah siapkan rute?"
Dmitri mengangguk. "Sudah. Lewat laut Hitam, transit di Istanbul, lalu ke Genoa. Bersih. Tidak ada yang akan curiga."
Lima ratus unit. Unit apa? Aku tidak berani bertanya.
"Bagus. Ryo, dari pihakmu?" Leonardo beralih ke pria Jepang itu.
"Pembayaran sudah siap. Dua ratus juta euro. Separuh saat barang sampai Genoa. Separuh lagi setelah distribusi selesai di Asia." Ryo menyeruput winenya. "Tapi ada masalah kecil dengan harga yang kau tawarkan."
Leonardo mengerutkan kening sedikit. "Masalah apa?"
"Harga per unit terlalu tinggi. Pasar Asia sedang kompetitif. Aku butuh diskon minimal lima belas persen kalau mau ambil semuanya." Ryo menatap Leonardo dengan tatapan menantang.
Hening.
Aku bisa merasakan ketegangan di ruangan ini naik drastis.
"Harga yang kutawarkan sudah sangat kompetitif," ucap Leonardo dengan nada yang masih tenang tapi ada ketajaman di dalamnya. "Kualitas barang ku tidak ada tandingannya. Kau tahu itu."
"Aku tahu. Tapi bisnis adalah bisnis. Kalau kau tidak bisa kasih diskon, aku bisa cari suplier lain." Ryo tersenyum tipis. Senyum yang terlihat meremehkan.
Tiba-tiba Andrey berdiri dari sudut ruangan. Tangannya bergerak cepat ke balik jasnya.
Lalu menodongkan pistol langsung ke kepala Ryo.
Aku tersentak. Hampir berteriak tapi tanganku menutup mulutku sendiri.
Ryo tidak bergerak. Hanya menatap Andrey dengan tatapan datar. Tapi aku bisa lihat rahangnya mengeras.
"Turunkan," ucap Leonardo. Suaranya dingin. Sangat dingin.
Andrey langsung menurunkan pistolnya. Tapi tidak memasukkannya kembali. Hanya menurunkan ke samping tubuhnya.
"Pengecut," ucap Ryo sambil menatap Andrey dengan tatapan jijik. "Mengancam dengan senjata saat nego bisnis. Tidak ada kehormatan."
"Ini bukan soal kehormatan," balas Leonardo. "Ini soal respect. Kau datang ke mejaku, minum wine ku, lalu meremehkan hargaku? Itu insult."
Dmitri hanya mengamati sambil tersenyum tipis. Seperti menikmati ketegangan ini.
Ryo menatap Leonardo lama. Lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Harga asli. Tidak ada diskon."
"Bagus." Leonardo tersenyum. "Aku senang kita bisa mencapai kesepakatan."
Andrey akhirnya memasukkan pistolnya kembali. Duduk lagi di sudutnya.
Tapi aku masih gemetar. Tadi itu hampir jadi pembunuhan. Hampir.
Pembicaraan berlanjut. Mereka bicara tentang rute pengiriman. Tentang pembayaran. Tentang distribusi. Tentang... tentang hal-hal yang membuatku merinding.
Aku mendengar angka-angka yang luar biasa besar. Ratusan juta euro. Ribuan unit senjata. Rencana distribusi yang melibatkan lima negara.
Ini bukan bisnis kecil. Ini operasi internasional.
Dan Leonardo ada di pusatnya.
"Oh ya," Dmitri bicara sambil memotong steak nya. "Ada gangguan kecil di jalur Balkan. Beberapa kelompok lokal mencoba ambil alih rute. Aku sudah kirim pesan. Tiga puluh orang. Bersih. Tidak ada yang tersisa."
Tiga puluh orang. Dibunuh. Dan dia bilang itu dengan nada seperti orang yang bilang dia sudah beresin pekerjaan rumah.
Aku merasa mual. Tapi aku tidak bisa tunjukkan. Harus tetap tenang.
"Bagus," balas Leonardo. "Aku tidak suka kompetisi yang tidak tahu tempat."
Mereka tertawa. Tawa yang terdengar sangat mengerikan bagiku.
Saat dessert disajikan, Ryo tiba-tiba menatap ke arahku.
Bukan tatapan sopan seperti tadi.
Tatapan yang... lapar. Tatapan yang membuatku ingin sembunyi.
Dia menatapku dari atas ke bawah dengan cara yang sangat tidak sopan. Bibirnya tersenyum tipis.
Leonardo langsung menyadari. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang di sampingku.
Tangannya bergerak. Memberi isyarat pada Andrey.
Dan tanpa aba-aba, tanpa peringatan, Andrey berdiri dan menembak.
DOOORR!
Tembakan menghantam tangan kanan Ryo yang sedang memegang garpu.
Ryo berteriak. Jatuh dari kursinya. Darah mengalir dari tangannya yang hancur.
Aku tersentak. Hampir jatuh dari kursi tapi Leonardo menahanku.
Dmitri bahkan tidak bereaksi. Hanya terus makan dessertnya seperti tidak ada apa-apa.
Leonardo berdiri. Berjalan pelan ke arah Ryo yang masih tergeletak di lantai sambil memegangi tangannya yang berdarah.
"Dia milikku," ucap Leonardo dengan suara yang sangat dingin. Sangat berbahaya. "Tatap sekali lagi dengan cara yang tidak sopan, aku tembak kepalamu. Jangan main-main denganku."
Ryo menatap Leonardo dengan campuran marah dan takut. Tapi dia tidak bicara. Hanya mengangguk sambil menahan kesakitan.
Leonardo melirik ke dua pengawal yang berdiri di pintu. "Bawa dia ke dokter. Rawat tangannya. Lalu antar dia ke hotel. Urusan bisnis kita selesai malam ini."
Para pengawal langsung bergerak. Membantu Ryo berdiri dan membawanya keluar.
Leonardo kembali ke kursinya. Duduk dengan tenang. Mengambil wine nya dan menyeruput seperti tidak baru saja memerintahkan penembakan.
Dmitri tertawa keras. "Possessife seperti biasa, Valerio. Aku suka itu."
"Aku tidak suka orang yang tidak tahu batas," balas Leonardo dingin.
Dia menatapku. Lalu menggenggam tanganku di atas meja.
"Kau tidak apa?" tanyanya dengan nada yang tiba-tiba jadi lembut.
Aku tidak bisa bicara. Hanya menggeleng kecil.
Leonardo mengecup tanganku. "Maaf kau harus lihat itu. Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menatapmu seperti itu."
Melindungi aku? Atau melindungi kepemilikannya?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu cuma satu hal.
Malam ini aku melihat sisi Leonardo yang lebih gelap lagi.
Sisi yang tidak ragu menembak orang hanya karena tatapan yang salah.
Sisi yang bicara tentang pembunuhan massal dengan nada santai.
Sisi yang mengendalikan operasi kriminal senilai ratusan juta euro dengan tangan besi.
Dan aku... aku duduk di sampingnya.
Sebagai aksesori.
Sebagai perhiasan.
Sebagai bukti kekuasaan.
Bukan sebagai istri.
Bukan sebagai manusia.
Hanya sebagai... milik.
Dan yang paling menyedihkan adalah...
Aku sudah terlalu lelah untuk protes.
Terlalu takut untuk melawan.
Terlalu hancur untuk peduli.
Jadi aku hanya duduk di sana.
Tersenyum saat diminta.
Diam saat diharuskan.
Membiarkan Leonardo menggenggam tanganku dengan posesif.
Membiarkan dia menunjukkan pada dunia bahwa aku miliknya.
Sepenuhnya.
Tanpa perlawanan.
Karena perlawanan hanya membawa kematian.
Dan aku sudah melihat cukup kematian untuk seumur hidup.