Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Bercerita pada ustad
"Kenapa kok kamu terlihat senang begitu?" Zayn menatap sang adik yang pulang dengan senyum merekah.
"Pasti dia habis ketemu calon istri, kan sama Abi di suruh antar kacang." sahut Fikri Abang yang paling tua.
"Heh dosa loh kau, harus jaga pandangan karena kau belum menikah sama dia." Zayn mengingatkan sang adik.
"Apa lah cuma ketemu di jalan saja tadi kok, enggak ada ngobrol banyak." elak Zidan.
"Bagus kalau tidak banyak mengobrol, karena kau harus jaga mata agar tidak tambah tertarik kalau melihat dia." nasihat Zayn.
"Kecuali nanti sudah menikah maka kau bisa melihat sampai puas, bimbing dia di jalan yang benar." sambung Fikri juga.
"Iya, aku pasti akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Purnama." angguk Zidan penuh kepastian.
"Tapi kau sudah tau kan siapa dia?" Fikri menatap Zidan tajam.
Zidan hanya mengangguk pelan karena dia juga sudah mengetahui siapa purnama dan bagaimana sepak terjang gadis cantik itu, tapi walau dia sudah tahu namun Zidan tidak menyerah dan dia tetap bertahan untuk meminang Purnama dan menuruti kehendak dari orang tua agar bisa menikahi gadis itu dan kemudian mereka bisa hidup bahagia bersama sebagai pasangan suami istri yang romantis dan juga bahagia, Zidan sudah merasa cocok dan tidak ada niatku untuk menolak.
Purnama adalah gadis yang cantik sehingga siapa saja pasti akan tertarik bila melihat wajah dia yang sangat menawan itu, tapi bila yang tidak paham maka mereka tidak akan pernah tahu bahwa Purnama menyembunyikan rahasia besar yang tidak bisa di terima oleh sembarang orang dan bila tidak berhati-hati maka bisa saja menjadi korban.
Zidan sudah tahu siapa Purnama dan bahkan dia merasa tertantang ingin menikahi gadis cantik itu karena pasti nanti memiliki rumah tangga yang sangat seru, Zidan sudah membayangkan dan dia tidak masalah walau pun nama adalah seorang siluman ular yang memiliki kekuatan serta memiliki beberapa kejahatan juga karena yang nama iblis pasti memiliki sifat kelam.
Dalam hati Zidan sudah sangat yakin untuk menikahi gadis itu saja agar bisa membimbing dia ke jalan yang benar dan dia tidak lagi terus larut dalam kejahatan karena saat ini Bu Laras juga sudah mengatakan bahwa Purnama akan berubah menjadi siluman baik, maka tidak ada keraguan lagi di dalam hati Zidan untuk bersama dengan gadis tersebut.
"Assalamualaikum." Rahman berdiri di depan pintu karena ada yang ingin dia sampaikan.
"Waalaikumsalam, masuk sini Man." Zayn menyambut tamu dia dengan sangat ramah.
"Ayo masuk, kita harus berbicara kepada mereka karena aku yakin mereka bisa membantu kita." Edo menarik Rahman yang sangat pucat.
"Kenapa ini kok pucat sekali?" Zidan langsung menatap Rahman yang memang terlihat sedang tidak sehat.
"Ini ada sesuatu yang akan kami sampaikan dan ini berhubungan dengan keadaan Rahman." Edo berkata lirih.
"Ya sudah mari duduk dulu sekarang di sini biar kita bisa ngobrol dengan enak." ajak Zayn mempersilahkan tamu untuk duduk.
Rahman dan Edo segera duduk di kursi kayu karena mereka memang ingin membicarakan tentang masalah arwah Arman kepada anak habib, mau ke mana lagi meminta tolong karena hanya kepada ustadz ini mereka bisa bergantung dan berharap agar nanti salah satu diantara mereka bisa membantu masalah Rahman ini.
Sebenarnya Rahman berat kepada Arya namun Arya sendiri yang terus saja menolak dan mengatakan bahwa itu semua hanya halusinasi, jadi mau bagaimana lagi karena tidak mungkin Rahman akan terus memaksa pemuda itu untuk membantu masalah yang sedang di hadapi tentang masalah tumbal yang di lakukan oleh Pakde Parto.
"Kenapa dengan mu, Mat?" Fikri bertanya dengan nada hati-hati.
"Ini...em begini." Rahman bingung untuk memulai cerita dari mana.
"Tidak apa apa, kau bisa mengatakan terus terang kepada kami tentang masalah yang sedang kamu hadapi ini." Zayn berkata serius.
"Ya Allah aku sendiri juga bingung karena semua terasa mendadak dan sangat tidak masuk akal." Rahman ingin menangis sambil memegang leher yang terlihat membiru.
"Pelan pelan, Kamu tidak usah merasa takut dan anggap saja kami adalah saudara sehingga nanti kau merasa tenang saat bercerita." Fikri berkata sambil mengambil air minum agar Rahman sedikit tenang.
"Kau ada masalah apa?" Zidan bertanya serius kepada Rahman.
Rahman menelan ludah dengan susah payah dan kemudian menceritakan apa yang telah terjadi dan apa yang telah dia lalui ketika menemani Parto saat melakukan ritual di Gunung Kawi saat itu, ancaman tentang Mbah Bedu sudah tidak dia hiraukan lagi karena memang dia sudah tidak sanggup membendung rata takut tersebut.
...****************...
"Pur cari apa?" tegur Mbak Sri ketika melihat Purnama.
"Anu, aku cari jantung pisang." Purnama tersenyum kikuk.
"Oh ambil saja kalau ada, mungkin bagian sana banyak karena sudah tidak ada yang merawat ya kebun ini." ujar Mbak Sri.
"Iya aku mau cari dulu." angguk Purnama.
"Tak kira kamu Ndak suka sama jantung pisang, ternyata suka to." Mbak Sri berkata sambil berlalu pergi.
"Yang aku suka sebenarnya jantung manusia." lirih Purnama.
Namun Mbak Sri sudah tidak bisa mendengar ucapan Purnama sehingga dia langsung pergi begitu saja dari arah kebun pisang itu karena memang dia juga hanya kebetulan lewat tadi, jadi hanya bertanya sebentar dan kemudian segera pergi karena Mbak Sri juga tahu bahwa Purnama adalah orang yang tidak suka berbicara panjang lebar.
"Tadi malam kita datang kesini tapi malah ketemu sama orang itu." rutuk Nilam.
"Ini kan siang jadi tidak mungkin ada orang yang pipis sembarangan di kebun pisang ini." jawab Purnama.
"Kemana ya arwah pemuda itu karena aku sangat ingin bertanya sekarang kepada dia." Purnama sudah tidak sabar.
Mereka bertiga datang ke tempat ini tentu saja untuk niat mencari keberadaan arwah Arman karena Purnama ingin bertanya secara langsung kepada arwah pemuda itu, sebab ketika dia memberikan telur di bawah ranjang tapi ternyata iblis itu malah mengetahui dan Bu Kades hampir saja celaka.
"Jadi apa mungkin memang kalau Pak Kades punya pesugihan?" Maharani berjalan sambil bertanya.
"Kalau punya berarti sudah sejak lama karena terlihat dia memiliki kekayaan sejak masih muda." sahut Purnama pula.
"Tapi masuk akal bila Arman adalah tumbal kekayaan dari Pak Kades itu, biasa aja banyak memberikan sumbangan untuk keluarga Arman." cetus Nilam.
Purnama tampak memikirkan ucapan Nilam yang memang ada benarnya juga, Pak Kades banyak memberikan bantuan kepada keluarga Arman dan mungkin saja itu sebagai balasan karena Arman sudah menjadi tumbal untuk kekayaan yang dia dapat.
Selamat pagi menjelang siang besti, jangan lupa like dan komen kalian semua ya.