Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai pahlawan tanpa jasa
Tubuh Anwar sama sekali tidak bisa digerakkan. Semuanya terasa kaku bahkan telinganya ikut terasa berdengung. Sekarang Perasaannya campur aduk sampai ada rasa khawatir yang membuat hati ia gelisah. Anwar takut jika dirinya akan dikeroyok habisan-habisan oleh komplotan Wisnus apalagi Wisnu bersama orang orang yang berbadan besar dan mempunyai lekukan otot di setiap lengan mereka.
Siapa Wisnu sebenarnya. Apakah Wisnu atasan dari mereka semua? Apa yang ia lupakan dari Wisnu. Namun rasanya Anwar masih mengingat dengan jelas siapa sosok Wisnu di sekolah. Dia teman satu angkatannya yang menyukai Desi juga. Dia orang yang membuat dirinya sekarang menjadi bersekutu dengan iblis (tuan). Di tengah perasaannya campur aduk itu satu orang besar dari mereka melepaskan ikatan yang dari tadi menyatu sempurna di tubuh Anwar. Namun percuma saja ikatan itu dilepas lantaran saat ini Anwar tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Yang masih berfungsi dengan baik saat ini hanyalah penglihatan dan telinga nya sedikit sayup sayup mendengar suara disekitarnya. Kemudian di lentangnya tubuh Anwar yang jenjang ini. Lalu Wisnu kembali menghampirinya dengan tangan yang tidak kosong.
"Suntikan itu sengaja masih tertancap dileher kau. Agar kau tidak bisa memberontak dan cairan yang masuk kedalam tubuhmu saat ini adalah penyempurnaan obat bius untuk membekukan orang persis seperti keadaanmu saat ini. Bisa dibilang kau ini adalah kelinci percobaan ku." Ucap Wisnu dengan posisi berjongkok yang tepat berada disebelah badan Anwar. Tak selang dari itu Wisnu langsung menyodorkan Anwar botol kecil ke arah mulutnya secara kasar.
"Dan cairan ini adalah," Belum selesai menjelaskan apa yang dimaksud tiba tiba suara sirene polisi begitu nyaring disekitar area mereka. Suara itu semakin mendekat. Terdengar juga tembakan yang dilayangkan ke udara lepas seakan menandakan bahwa apa yang mereka lakukan kepada Anwar ini akan tertangkap basah. Hal ini pun mampu membuat mereka terkejut bukan main. Karena menurut mereka tempat yang mereka pijak ini jarang dilewati oleh mobil umum sekalipun mobil polisi. Karena tidak ingin mengambil resiko pada akhirnya mereka semua termasuk Wisnu melarikan diri lalu meninggalkan Anwar sendiri yang sedang lemas tak berdaya.
Anwar bisa melihat dengan jelas jika mereka langsung berlari terbirit-birit sampai mereka tidak terlihat lagi di pandangan Anwar. Tentunya Anwar pun ingin melarikan diri dari tempat ini namun apalah daya yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah terdiam kaku. Tapi yang jelas sekarang Anwar merasa bersyukur dengan suara sirene polisi itu komplotan Wisnu sudah tidak melakukan tindakan aneh sesuka hati yang mereka mau. Dan Anwar siap jika dirinya akan ditanya secara intens oleh pihak kepolisian yang kemungkinan sebentar lagi langkah mereka akan mengarah kepada Anwar yang posisinya masih terbaring kaku.
"Anwar kau tidak apa apa?" Sahut seseorang diujung sana sembari berlari kearahnya.
"Rival?" Hatinya bertanya. Kenapa Rival ada ditempat ini? Bagaimana caranya dia tahu? Apakah dia yang mengirim polisi untuk menyelamatkan dirinya dari dekapan Wisnu.
"Ayo cepat bantu dia." Teriak Rival kepada seseorang yang berada jauh dibelakangnya. Dan ketika orang itu muncul Anwar kembali karena orang yang dipanggil Rival itu bukanlah seorang polisi melainkan orang tua yang berpakaian seragam seperti satpam sembari membawa toa yang di selendang kan ke badan nya. Dan suara sirene polisi lalu berasal dari toa yang sepertinya sudah di setting oleh Rival. Tapi tak hanya toa, sebuah pistol pun sudah terpegang gagah ditangan kiri pria tua itu.
"Dia sopirku." Ucapnya.
Tanpa banyak adegan apapun mereka berdua langsung membopong Anwar. "Maaf jika aku telat. Kebun singkong ini ternyata luas juga." Kata Rival. Sirene polisi masih berbunyi nyaring bahkan tembakan yang mengarah ke udara lepas pun masih dilakukan oleh pria tua itu. Susah payah membopong Anwar di area kebun singkong yang luas ini akhirnya mereka berhasil keluar juga.
"Aku akan jelaskan semuanya jika kita sudah sampai rumahku." Tutur Rival.
***
Benar dugaan Anwar jika Rival ini memang benar anak orang kaya. Meksipun kondisi Anwar sedang tidak baik seperti ini akibat ulah komplotan Wisnu namun pikiran dia masih tetap normal. Tidak ada efek apa apa yang begitu serius setelah ia menerima suntikan dan minuman yang ia dapatkan secara paksa dari Wisnu tadi. Hanya sebatas tubuh yang kaku saja. Tapi setelah suntikan itu dicabut oleh Rival. Anwar bisa merasakan tubuhnya berangsur pulih dan bisa digerakkan secara normal kembali.
"Jangan banyak bergerak dulu sepertinya kau ini dimasukkan obat bius dengan dosis tinggi oleh Wisnu. Kalau kau banyak bergerak kau akan sakit badan." Titah Rival yang menyuruh Anwar untuk tetap berbaring di kasurnya. Anwar mengangguk pelan akan tetapi mulutnya yang sekarang berbicara tidak henti henti mengatakan bahwa Rival ini orang kaya. "Kau ternyata orang kaya. Rumahmu besar mobil yang terparkir pun banyak. Kamarmu saja seluas ini aku salut kepadamu."
"Ternyata lebih baik kau kaku saja seperti tadi dari pada normal seperti ini. Cerewet dan usil." Jawab Rival seraya memberikan minuman teh hangat untuk di minum oleh Anwar dengan ini juga.
"Aku serius."
"Kalau kau mengejek ku terus aku tidak akan menceritakan apa yang aku sudah janjikan tadi." Ancam Rival yang hal itu langsung oleh membuat Anwar merasa gelisah tak jelas
"Aku tidak mengejek mu. Aku berkata jujur. Tapi kalau kau tidak bercerita yasudah berarti kau tidak sayang aku."
"Apa maksudmu tiba-tiba sayang? Dasar orang gila."
"Kau tadi menyelamatkan ku karena kau sayang aku kan? Dan sekarang buatku kau itu bagaikan pahlawan tanpa jasa."
"Efek suntikan itu ternyata membuat kau jadi gila seperti ini." Sindir Rival yang sekarang merasa geli setiap mendengar hal baik dari mulut Anwar.
"Yasudah kalau begitu ceritakan lah kepada ku. Jika tidak aku akan gila menganggu mu terus bahkan sampai kau mati." Laga Anwar yang bisa saja sekarang Rival berencana membunuhnya karena perkataan geli ini. Lalu Rival membuang jasad dia ke hutan.
Rival memutar bolanya terlebih dahulu lalu menarik kursi yang tidak jauh dari jangkauannya. Kemudian ia dekatan ke arah kasur setelah nampak nyaman Rival pun terduduk.
"Sebelumnya aku minta maaf jika aku lancang telah membuka surat pemberian dari Wisnu untuk kau. Naluri ku ketika kau mendapatkan surat dari Wisnu itu sangatlah tidak nyaman maka dari itu aku memutuskan untuk membukanya lalu memotret surat tersebut lewat handphone ku. Aku memotret surat itu tentunya aku ingin tahu juga apa yang sebenarnya Kalian lakukan dan menyusul ketempat yang dimaksud. Ketika aku sampai, ternyata motormu sudah terparkir rapi disana. Dan dari kejauhan aku melihat kau keluar dalam kondisi pingsan tentunya kau dibopong oleh beberapa orang disana diikuti oleh Wisnu. Mungkin mereka tidak menyadari jika mobil yang di sebrang terparkir itu adalah mobil ku. Karena merasa ada yang janggal akupun lantas buru-buru mengikuti langkah mereka dari belakang dengan gaya mengendap endap yang mana membawamu ke kebun singkong luas tadi dan aku memberanikan diri menolong mu dengan skenario sirene polisi yang sudah aku siapkan bersama sopirku tentunya pun itu untuk jaga-jaga. Dan aku berhasil menolong mu dalam keadaan yang begitu mengkhawatirkan meksipun sedikit terlambat." Penjelasan Rival
"Sebelumnya kau punya masalah dengan Wisnu ataupun komplotan mereka? Tapi apapun itu aku berterimakasih karna kau telah menyelamatkan ku Rival."
"Aku senang apa yang aku khawatirkan bisa aku cegah karena aku takut kau bernasib sama dengan Raga." Ujar Rival
"Maksudmu?"