Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 26
Di Perkebunan Teh.
Rivaldo menunggu gadis itu dari kejauhan. Sesuai apa yang dikatakannya bahwa dirinya akan memantau dari kejauhan. Ia takut, kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Kedua bola matanya tak lepas mengamati gerak-gerik wanita itu dari kejauhan. Dilihatnya ketika seorang pria mendekati gadis itu, ia mengerutkan dahinya heran, akankah laki-laki itu kekasih wanita itu? Pikirnya menebak.
Denisa merasa canggung saat ia berhadapan dengan Arya. Untuk apa lagi pria ini bertemu dengannya.
“Nis, aku mohon sama kamu, kamu terima cinta aku. Aku sayang sama kamu, Nis. Aku akan jamin kehidupan kamu akan layak dan tenang, selama aku ada di samping kamu,” pinta Arya dengan penuh harap. Ia begitu mencintai wanita yang ada di hadapannya ini.
“Maaf, saya tidak bisa. Bukankah saya sudah mengundurkan diri dari perkebunan ini? Bearti, saya sudah bukan siapa-siapa lagi, maaf. Saya harus segera pergi, saya tidak punya banyak waktu untuk itu,” jelas Nisa sambil mencoba pergi dari hadapan pria ini.
“Nis, kamu gak bisa pergi dari aku, kamu milik aku, hanya milik aku! Bukan milik orang lain!” katanya dengan tegas. Tapi hal itu, tidak membuat Denisa menjadi takut.
“Oh, yah? Punya Anda? Apakah Anda sedang bermimpi, Bapak yang terhormat?” Denisa tersenyum tipis. Ia rasa, ia sedang berhadapan dengan laki-laki yang gila.
“Oke, kalau kamu merendahkan saya. Akan saya pastikan kalau kamu akan menjadi milik saya!” Arya mengancam wanita itu. Aura laki-laki itu membuat Denisa menjadi takut.
Nisa hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah, mendengar ancaman pria itu. Dengan cepat Denisa pergi dari hadapan pria itu. Namun sebelum beranjak pergi, tangan kekar pria itu menahan kepergian Denisa. Gadis itu meringis menahan pedih di pergelangan tangannya. Pria itu menggenggam tangannya dengan erat.
“Lepasin!” protes Denisa marah, ia benci dengan situasi yang selalu memaksa.
“Saya tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu menerima saya dan jadikan saya suami kamu!” ancam Arya lagi, benar-benar gila pria ini, pikir Denisa.
“Apakah Anda sudah gila? Selalu memaksakan kehendak sendiri? Apakah Anda sudah tidak laku lagi diluar sana? Sehingga Anda terobsesi dengan saya?” tanya Denisa dengan lantang.
Mendengar apa yang dikatakan Denisa membuat Arya menjadi sangat emosi. Ia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Tubuhnya telah terselimuti emosi yang luar biasa.
Ia mendekap mulut wanita itu dengan tangannya. Lalu ia menyeret gadis itu menuju pondok. Rivaldo yang sedari melihat itu pun menjadi emosi. Ia berlari lalu segera melayangkan tangannya ke wajah pria itu.
Brugh!
Brugh!
Arya terjatuh, dan Denisa pun terlepas dari pria brengsek seperti Arya. Rivaldo menghajar habis-habisan pria yang ada di hadapannya.
Laki-laki itu menghajar Arya tanpa belas kasih. Denisa menatap tak percaya, pria itu tampak seperti menghajar seorang musuh.
“Mas, cukup!” teriak Denisa ketakutan. Ia takut melihat perkelahian dua pria yang ada di hadapannya.
Tampak, darah segar mengalir dari luka yang ada di wajah Rivaldo, karena Arya tepat menghajarnya di luka itu.
“Kamu tidak kenapa-kenapa, ‘kan?” tanya Rivaldo cemas dan khawatir.
“Oh, jadi ini alasan kamu gak mau nikah sama aku, hebat kamu, Nis! Kamu lebih memilih bersama orang yang berwajah cacat ini? Daripada aku?” tanya Arya meremehkan Rivaldo. Ia meludah tepat di depan laki-laki itu.
“Pergi kau dari sini! Atau kau, akan aku bunuh!” teriak Rivaldo mengancam Arya.
Pria itu segera pergi sambil memegangi perutnya. Rivaldo menghajar pria itu dengan kuat, sehingga membuat luka lebam di wajah Arya.
“Mas, tuh lihat! Wajahmu terluka lagi,” lirih Denisa khawatir. Takut jika luka itu akan berdampak infeksi.
“Ini gak apa-apa, ketimbang aku harus melihat kamu hampir dilecehkan oleh pria brengsek itu!” cetus Rivaldo kesal, sambil menetralkan nafasnya.
***
Di Rumah.
Rivaldo masih mengatur nafasnya yang tampak tersengal-sengal. Kini ia memperhatikan wajah cantik Denisa yang sedang membersihkan luka di wajahnya. Ia mengamati wajah wanita itu.
Wanita itu tampak serius membersihkan luka di wajah laki-laki itu. Lukanya tampak menganga, sehingga terlihat dagingnya berwarna merah muda. Membuat Denisa sedikit lebih hati-hati.
Setelah dibersihkan, gadis itu memoleskan anti septik di sana, dengan hati-hati.
“Awww!” ringis Rivaldo ketika anti septik itu mengenai lukanya. Begitu perih rasanya.
“Apakah sakit?” tanya Denisa dengan lembut. Menghentikan gerak tangannya membersihkan luka di wajah pria itu.
“Tidak, selama dirimu yang merawatku,” gombal Rivaldo tertawa kecil. Denisa memukul pelan, bahu pria itu.
“Ya sudah, mangkanya jangan terlalu banyak bergerak, Mas. Luka itu akan membusuk jika tidak sembuh-sembuh. Dan dampaknya akan bahaya, kulit wajahmu bisa saja infeksi nantinya.” Ujar Nisa dengan cemberut.
Rivaldo tersenyum, lalu ia menatap dengan dalam bola mata Denisa, seakan penuh arti.
“Nis, siapa laki-laki itu? Apa dia kekasihmu?” Rivado mengangkat suaranya bertanya, karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Bukan, Mas. Dia atasanku pada waktu aku bekerja di perkebunan teh miliknya. Dia melamarku, tetapi aku menolaknya, karena aku tidak jatuh hati padanya, Mas. Bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan?” Denisa menjelaskan dengan panjang.
“Ya, betul. Perasaan tidak bisa dipaksakan, tapi jika aku yang melamarmu, apakah kamu mau?” goda Rivaldo bercanda, diiringi oleh tawa.
Denisa terdiam, ia tak mampu untuk berbicara. Kedua bola mata mereka saling pandang, ini bukan yang pertama laki-laki itu membuatnya terbawa perasaan. Tapi ini yang kedua, laki-laki itu selalu membuatnya merasa bahagia dan senang.
“Jawab!” pinta Rivaldo membuyarkan lamunan perempuan itu.
“Aku tidak tahu, apakah aku akan menerimanya dan menolaknya.” Jawab Denisa pelan, membuat Rivaldo tertawa.
“Hei, jangan terlalu serius. Aku hanya bercanda padamu. Jika kamu tidak mau, juga tidak apa-apa aku tidak akan memaksamu. Tapi yang jelas, aku akan membawamu tinggal satu atap denganku, sampai rasa cintamu datang padaku, dan kita akan menikah, suatu saat nanti!” Rivaldo berbicara dengan senyuman di wajahnya. Membuat kedua pipi wanita itu memerah merona, menahan malu.
“Ya sudah, Mas tidak lelah? Atau ingin istirahat?” tanya Denisa dengan peduli.
“Lelah, tapi tidak mungkin kita tidur satu ranjang bukan?” goda Rivaldo lagi, membuat gadis itu malu.
“Ih, Mas! Nisa serius!” protes Nisa cemberut.
“Benarkan? Tidak mungkin kita akan tidur satu ranjang, memangnya kamu mau nanti kalau yang tidak-tidak terjadi?” goda Rivaldo lagi, sambil mencubit pipi Nisa dengan pelan.
“Nisa tuh, nanya sama Mas, apakah Mas itu lelah? Bukannya ngajak Mas untuk tidur bareng!” cetus Nisa kesal, membuat Rivaldo semakin gemas melihatnya.
“Oh gitu, Mas tidak lelah, kok, kalau kamu cape, mau tidur. Tidurlah, Nis. Mas akan menjagamu diwaktu tidur. Mas tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kamu tidurlah di dalam kamarmu, Mas akan beristirahat di atas sofa ini.” Rivaldo menjelaskan sambil memegangi kedua pipi Nisa dengan senyuman di wajahnya.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...