"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: SINYAL YANG TERPUTUS
Perpustakaan villa itu adalah sebuah labirin kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit. Ribuan buku berjajar rapi, menciptakan aroma kertas tua dan tinta kering yang seharusnya menenangkan bagi siapa pun. Namun bagi Ghea, setiap rak buku ini adalah jeruji penjara yang lebih halus.
Adrian memberinya izin untuk menghabiskan waktu di sini setelah "kepatuhan" yang ia tunjukkan di taman mawar kemarin. Pria itu kini merasa Ghea telah menemukan kedamaian dalam hobi lamanya.
"Bacalah apa pun yang kau suka, Sayang," ujar Adrian sebelum menutup pintu perpustakaan. "Tapi ingat, aku selalu tahu jika kau mencoba memanjat rak atau melakukan sesuatu yang berbahaya."
Ghea tersenyum manis hingga pintu itu tertutup. Begitu ia sendirian, senyum itu lenyap. Matanya yang tajam langsung menyisir setiap sudut ruangan. Ia tidak mencari buku. Ia mencari jalan keluar dari isolasi ini.
Di sudut paling belakang perpustakaan, di bawah tumpukan majalah hukum tua yang berdebu, Ghea menemukan apa yang ia cari. Sebuah meja kayu kecil dengan benda yang nampak seperti artefak masa lalu: sebuah telepon kabel analog berwarna krem yang sudah kusam.
Jantung Ghea berdegup kencang. Di era digital seperti ini, telepon kabel sering kali diabaikan. Jika ini adalah jalur analog tua, ada kemungkinan jalurnya terpisah dari sistem satelit dan internet terpadu yang dikendalikan Adrian lewat ponselnya.
Ghea berlutut di bawah meja. Ia meraba kabel yang menjuntai. Sial, kabelnya diputus secara kasar.
"Kau pikir ini bisa menghentikanku, Adrian?" bisik Ghea.
Ia mengeluarkan sekrup besar yang ia curi dari taman mawar dan kunci titanium dari balik stokingnya. Jemarinya yang ramping bergerak dengan presisi seorang ahli forensik. Ia menggunakan ujung tajam kunci titanium untuk mengupas lapisan karet kabel telepon tersebut.
Tangan Ghea gemetar. Ia harus melakukan ini dengan sangat cepat. Adrian bisa masuk kapan saja, atau ia bisa melihat gerakan mencurigakan lewat CCTV yang tersembunyi di sela-sela buku. Ghea sengaja duduk membelakangi kamera, menggunakan tubuhnya sebagai penghalang agar aktivitas tangannya tidak terlihat di layar monitor Adrian.
Sret... sret...
Ia berhasil mengupas dua kabel tembaga kecil di dalamnya. Kini, ia butuh penyambung. Ghea melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah penjepit kertas logam di atas meja kerja. Ia mematahkannya menjadi dua, menggunakan logam itu untuk menjembatani dua kabel yang terputus.
Ia mengangkat gagang telepon.
Hening. Tidak ada nada sambung.
"Ayolah... satu sinyal saja," rintih Ghea dalam hati.
Ia teringat pelajaran di akademi polisi tentang sistem komunikasi darurat pada bangunan tua. Ia mulai menekan-nekan tombol pengait telepon (switchhook) dengan irama tertentu, mencoba memancing arus listrik statis dari sentral.
Tiba-tiba, terdengar suara kresek... kresek... kecil dari gagang telepon.
Ghea menahan napas. Suara itu adalah suara paling indah yang pernah ia dengar. Ada arus! Meskipun lemah, jalur ini belum sepenuhnya mati. Jalur ini mungkin terhubung ke kotak pembagi tua di ruang bawah tanah atau langsung ke tiang di luar pagar.
Ghea mencoba menekan nomor darurat. Namun, sebelum ia sempat menekan angka terakhir, suara langkah kaki terdengar di koridor.
Langkah Adrian.
Dengan gerakan secepat kilat, Ghea mencabut penjepit kertas itu, menyembunyikan kabel ke balik kaki meja, dan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Ia menyambar sebuah buku tebal yang ada di dekatnya—sebuah novel klasik karya Victor Hugo—dan duduk di lantai seolah-olah ia baru saja menemukannya di tumpukan buku tua.
Pintu terbuka. Adrian berdiri di sana, menatap Ghea dengan pandangan menyelidik.
"Apa yang kau lakukan di sudut gelap itu, Ghea?" tanya Adrian. Nada suaranya terdengar datar, namun penuh kecurigaan.
Ghea mendongak, matanya nampak sedikit berair karena debu—atau mungkin karena ketegangan yang luar biasa. "Aku menemukan buku ini, Les Misérables. Aku ingat dulu ayahku pernah membacakannya untukku. Aku hanya... merasa sedikit emosional."
Adrian melangkah mendekat, matanya melirik ke meja kecil di samping Ghea. Ghea merasa jantungnya berhenti berdetak saat mata Adrian tertuju pada telepon tua itu.
"Telepon itu sudah mati sejak sepuluh tahun lalu," ujar Adrian dingin. Ia menyentuh gagang telepon itu dengan ujung jarinya. "Jangan membuang waktumu untuk benda mati, Ghea. Hidupmu ada di sini, bersamaku."
Ghea tersenyum tipis, mencoba terlihat tenang. "Aku tahu. Aku hanya menggunakannya sebagai penyangga buku tadi. Debunya membuatku bersin."
Adrian menatap Ghea lama sekali, seolah sedang mencoba menembus lapisan tengkoraknya untuk membaca pikirannya. Akhirnya, ia mengulurkan tangan dan membantu Ghea berdiri.
"Ayo. Waktunya makan siang. Aku tidak ingin kau terlalu lama berada di ruangan berdebu ini," ajak Adrian.
Ghea mengikuti Adrian keluar dari perpustakaan. Saat ia melewati pintu, ia sempat melirik ke arah meja kecil itu. Ia belum berhasil menelepon, tapi ia tahu satu hal penting: Arus listrik itu ada.
Ia hanya butuh waktu sepuluh menit lagi tanpa gangguan. Ia butuh cara untuk memutar nomor tanpa menimbulkan suara denting tombol yang bisa tertangkap mikrofon CCTV. Ia harus memikirkan cara untuk memanipulasi pulsa telepon secara manual.
Di dalam otaknya, Ghea mulai menyusun rencana baru. Telepon itu adalah lubang kecil di dinding penjara Adrian. Jika ia bisa mengirimkan satu kode saja ke pusat data kepolisian—kode darurat yang hanya diketahui oleh unitnya—maka tim SWAT akan mengepung tempat ini dalam hitungan jam.
Namun, Ghea juga menyadari risikonya. Jika Adrian memergokinya sedang menyambung kabel, tidak akan ada lagi "hadiah" atau "kebebasan di dapur". Adrian akan menguncinya di ruang bawah tanah tanpa cahaya.
Satu kesempatan lagi, batin Ghea saat ia duduk di depan meja makan, memberikan senyuman palsu pada pria yang paling ia benci di dunia ini. Satu sinyal, dan aku akan menghancurkan istanamu ini, Adrian.
Malam itu, Ghea tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kabel-kabel tembaga itu. Ia merasa seperti seorang tawanan perang yang sedang merakit bom di bawah hidung sipirnya. Setiap detik adalah taruhan nyawa, dan Ghea Zanna baru saja memasang taruhan tertingginya.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....