Harga Diri Deka terasa diinjak saat mendengar penghinaan orang tua kekasihnya.
"Kamu punya apa mau meminang anaku hah?"
"Memang nya kerjaan mu apa?"
"Penghasilanmu berapa?"
Kata kata itu sungguh menyakitkan bagi Deka pemuda kampung yang saat itu hanya bekerja sebagai buruh penjaga tambak udang disalah satu desa terpencil disalah satu kota dijawa timur.
Merasa tercampuk ahirnya Deka pun bertekat mendapatkan uang yang sangat banyak agar bisa meminang kekasih hatinya, keputusanya untuk menjadi TKI sedikit mendapat penolakan dari nenek yang membesarkanya, tapi tekat nya sangat kuat demi cintanya pada Desvita sungguh besar hingga dia pun nekat.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar bagi Deka untuk mendapatkan apa yang dia mau ditambah lagi dia harus berpisah dengan nenek tercintanya, merasa uang yang dia kumpulkan cukup ahirnya dia pun pulang ke kampung halamanya, sayang nya Desvita tak seperti dulu, kini dia sudah menjadi milik orang lain bahkan ketika dia datang Desvita sedang mengandung anak dari buah pernikahanya dengan suami nya.
HANCUR hanya kata itu yang bisa menggambarkan perasaan Deka saat itu, KECEWA tentu.
Apapun yang Deka miliki saat serasa tak berarti.
Seperti apa kisah selanjutnya dari Mas Deka yang berkali kali jatuh dan hancur ini, mampukah dia mencintai pengganti Desvita seperti ketika dia jatuh cinta pada kekasih pertamanya, terus ikuti kisahnya dalam IMPIAN DEKA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh itu Datang Lagi
Arti sudah sadar ketika calon suami dan juga calon ibu mertuanya datang menjenguknya.
"Assalamualaikum." ucap Anji berdiri disamping Arti.
"Waalaikumsalam." jawab Arti.
"Apa ada yang sakit?" tanya Anji, dia pun duduk dikursi samping ranjang Arti.
"Enggak." jawab Arti sambil tersenyum, aku mencuri pandang pada mereka berdua, binar cinta tampak nyata diantara kedua nya, sungguh bahagia melihat pemandangan itu, andai aku dan Desvita ditakdirkan begitu mungkin aku juga akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti apa yang aku lihat hari ini, isshhh apa sih yang aku pikirkan ahhh.
Setengah jam mereka bersanda gurau tiba tiba calon ibu mertua Arti mengajak putranya untuk pulang, dia beralasan bahwa tamu mereka sudah pada datang, maksudnya keluarga besarnya sudah pada datang maklum lah dua hari lagi putra kebanggaan mereka akan menikah.
"Aak balik dulu ya calon ratuku, sampai ketemu dipelaminan." ucap Anji, Arti pun mengangguk dan memberikan senyum terindah nya, dia menangkupkan tangan nya sebagai salam perpisahan dengan kekasih hatinya, aku hanya melihatnya dari sofa tempatku duduk. Duh mereka benar benar membuatku iri.
Aku masih setia menjaga Arti sedangkan Uti Sri dan Uti Tika berada diluar ruangan, sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Kita balik dulu ya bro, titip mbak mu." ucap Anji sambil menjabat tanganku.
"Siap bosku." jawab ku pada Anji kami pun berpelukan seperti seorang sahabat pada umumnya, meski kita baru saling kenal tapi rasanya Anji orang nya sangat baik dan tulus.
Kalau boleh jujur aku sangat suka dengan pribadi Anji tapi tidak ibunya sepertinya dia kurang suka dengan Arti, entah apa alasanya aku tak tau.
"Maaf ya mas aku merepotkan mu." ucap Arti.
"Tidak mbak, aku ga papa aku malah mau minta maaf sama mbak seandainya saya tau mbak lagi sakit mungkin saya ga akan minta mbak buat antar aku kemakam bunda." ucap Deka masih setia duduk dikursi bekas Anji tadi, mereka kembali saling melempar senyum.
Suasana kembali hening, Deka kehabisan topik pembicaraan, begitu pun juga Arti dia memang tak pandai berkata kata ahirnya mereka pun memutuskan saling diam, anehnya jika tak sengaja mata mereka bertemu mereka akan saling tersenyum malu malu, ah perasaan aneh ini datang lagi.
Uti Tika dan Uti Sri pun masuk kedalam ruangan dimana Arti dirawat.
"Mbak yu aku titip Tika bentar ya, soalnya saya harus ngrawat mas Sarjo, nanti saya tak minta tolong Surti buat jaga Arti disini." ucap Uti Tika menitipkan Arti pada kami.
"Wis ga usah biar kita aja yang jaga Arti, Surti kan juga repot nyiapin semuanya." jawab Uti Sri.
"Dewa antar Ti, sekalian ambil baju ganti." jawab Deka.
"Boleh deh." jawab Uti Tika kemudian dia pun berpamitan dengan Arti dan juga Utiku.
......
Diperjalanan dari rumah sakit kerumah Uti Tika terlihat sangat sedih, aku tak berani bertanya takut aku salah bicara, ahirnya aku pun hanya diam dan mengemudikan mobil ini mengikuti arahanya.
"Makasih ya le." ucap Uti Tika.
"Sama sama Ti." jawabku.
Kami pun masuk kerumah dan aku menunggu Uti Tika menyiapkan kebutuhan Arti dan Utiku, aku melihat jam ditanganku masih ada waktu untuk ku sholat Ashar ahirnya aku pun memutuskan untuk mandi dan sholat dulu sebelum berangkat lagi kerumah sakit.
"Le, uang Uti tinggal segini nanti kalau misalnya kurang kamu cepet kabari ya le, biar Uti cepet cari pinjeman." ucap nya, inikah yang membuat nya sedih dari tadi.
"Ga usah Ti, Uti simpan saja ini buat pegangan biar Deka aja yang bayar." jawab ku, bukan bermaksud sombong tapi jika ku ingat pengorbanan mereka untuk ku dan bundaku jauh lebih banyak dibanding ini.
"Jangan le, kami ga bisa ngrepotin kamu."
"Ti, ga papa Dewa ga bisa bales kebaikan Uti sama kakung meskipun Dewa kasih nyawa Dewa sekalipun, ayolah Ti, Dewa anak Uti juga kan berarti Dewa kan adeknya mbak Arti sama seperti Yudha." jawab Deka kemudian dia pun memeluk perempuan setengah baya itu yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
Deka pun kembali kerumah sakit dimana Arti dirawat, dia menyerahkan tas Arti pada Utinya dan makanan untuk mereka juga.
"Uti makan dulu aja, biar Dewa yang nemenin mbak Arti." ucapku.
"Kamu udah makan le?" tanya nya.
"Belum Ti baru sholat sama mandi aja tadi." jawab ku.
"Ya udah kita makan bareng aja." jawab Uti.
Kemudian aku pun menyiapakan makan untuk Utiku.
"Ti mbak Arti udah makan belum?" tanya ku.
"Udah le tadi, udah minum obat juga." jawab Uti.
Mbak Arti memainkan ponselnya aku pun mendekatinya.
"Mbak mau makan lagi ga?" tanyaku.
"Enggak mas aku udah makan." jawabnya.
"Ya udah aku makan dulu ya."
"He em."
Aku pun dan Uti makan makanan yang kami bawa.
Malam semakin larut tapi aku belum bisa tertidur, kulirik Utiku yang sudah terlelap dalam tidurnya, sepertinya mimpi indah telah menghiasi tidurnya beberapa kali ku lihat dia tersenyum.
Aku kembali melihat ranjang Arti, sepertinya dia mau bangun.
"Mbak."
"Heemm."
"Mbak mau apa?" tanyaku.
"Pengen kekamar mandi mas." jawab nya.
"Mari aku bantu."
"Makasih mas, tolong ambilin tas bajuku mas." pinta Arti, Aku pun mengambilkan tas yang dia minta.
"Udah mas, mas bobo aja aku bisa sendiri." ucap nya.
"Ga papa mbak aku jagain." paksaku.
"Ya udah, tapi ngadep sana dulu." ucapnya, aku pun menuruti apa mau nya, sebenernya aku tau apa yang dia lakukan karena aku melihat apa yang dia lakukan dari pantulan kaca didepanku, astaga aku ini batin ku tertawa karena ini.
Dia pun beranjak dari ranjang nya dan membawa perlengkapanya, dengan sigap aku membantunya membawakan infusan nya.
"Udah mas ga usah aku bisa kok." ucap nya masih aja menolak bantuanku, aku tau dia berusaha menjaga jarak dengan ku, tapi entah kenapa dorongan hatiku menyuruhku untuk selalu membantu.
"Ga papa mbak aku antar sampai kamar mandi." ucap ku.
Benar saja aku membantunya sampai kekamar mandi, setelah menaruh infusan di tiang nya aku pun kembali keluar dan menutup pintu kamar mandi, aku masih setia menunggu wanita ini didepan pintu kamar mandi.
Kenapa dia lama sekali.
"Mbak udah belum?" tanya ku.
"Udah mas." jawab nya dari dalem aku pun membuka pintu kamar mandi, aku melihatnya duduk lemas di kloset.
"Mbak kenapa?" tanya ku.
"Ga tau mas gemeter rasanya." jawab nya.
Aku pun mengambil infusan itu dan meminta dia memegang nya, tanpa minta persetujuan nya aku pun menggendongnya dan membawa nya keranjang nya, ketika aku menggendong nya perasaan aneh itu datang lagi, Ya Tuhan perasaan apa ini batin ku.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
Thor gimana dgn mak lampir Erika ???