NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 - Pukulan Telak

Ruang tengah terasa terlalu terang siang itu. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar, memantul di lantai, membuat suasana yang seharusnya hangat justru terasa menyilaukan. Giselle berdiri di tengah ruangan dengan kepala tertunduk, tas masih menggantung di bahunya, sementara Atika duduk di sofa dengan punggung tegak dan rahang mengeras, rapor berwarna cokelat itu masih berada di tangannya.

“Jadi ini hasilnya?” suara Atika terdengar tinggi, tajam, dan tidak berusaha disembunyikan. “Ini yang kamu sebut usaha?”

Giselle tidak menjawab. Jemarinya saling mencengkeram, kukunya menekan telapak tangannya. Ia menatap lantai, berharap marmer itu cukup kuat menelan semua kata-kata yang sebentar lagi akan dijatuhkan padanya.

Atika bangkit dari sofa. Tanpa peringatan, rapor itu dilempar ke lantai. Suaranya terdengar keras, dan itu berhasil membuat Giselle tersentak kecil meski ia berusaha tetap diam.

“Dari dua puluh tujuh ke sembilan belas,” ujar Atika sambil menunjuk rapor yang tergeletak di lantai. “Delapan peringkat naik, tapi kamu masih di bawah setengah kelas, Giselle. Kamu pikir ini membanggakan?”

Dada Giselle terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Aku udah berusaha, Bu,” katanya akhirnya, suaranya bergetar, hampir tidak terdengar. “Aku bener-bener berusaha,” jawab Giselle dengan suara pelan. Ia tidak ingin membuat ibunya semakin marah ketika mendengar jawabannya.

“Berusaha?” Atika tertawa singkat. “Kalau kamu benar-benar berusaha, hasilnya enggak akan begini.”

Atika berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Tangannya sesekali mengepal, sesekali menunjuk ke arah Giselle. “Kamu tahu enggak, ibu-ibu lain bangga sama anaknya? Fara bisa senyum lebar pegang rapor Libra. Peringkat tiga. Tiga, Giselle. Kamu ngerti artinya?”

Setiap kata terasa seperti palu yang memukul kesadaran Giselle. Ia seperti ditampar berkali-kali oleh perkataan ibunya. Memang tidak membuatnya terluka secara fisik, tetapi hatinya benar-benar merasa sakit.

“Apa kamu enggak malu?” lanjut Atika. “Ibu malu. Malu harus duduk di kelas, denger guru bilang kamu ‘meningkat’, seolah itu sudah cukup.”

Giselle menelan ludah. Matanya mulai panas, tapi ia memaksa diri untuk tidak menangis. Menangis di depan Atika hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk.

Atika menghembuskan napas keras, lalu tertawa kecil yang terdengar lebih seperti ejekan daripada tawa sungguhan. “Dan satu lagi,” katanya, suaranya kembali meninggi. “Ibu baru tahu kamu sekarang sibuk sama musik.”

Kepala Giselle terangkat sedikit, refleks. Dadanya langsung terasa makin sesak. Ia hampir lupa bahwa wali kelasnya sempat mengungkit tentang pensi di depan ibunya. Alarm tanda bahaya seketika muncul di kepala Giselle. Hal ini akan membuat amarah ibunya terasa berkali-kali lipat lebih besar.

“Nyanyi-nyanyi, main alat musik, ikut pentas seni segala,” lanjut Atika sambil menggeleng pelan. “Kamu pikir itu apa? Prestasi?”

Giselle membuka mulut ingin membela diri, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia merasa percuma membela diri karena ibunya tidak akan mengerti.

“Atau jangan-jangan kamu ngerasa nilai jelek bisa ketutup sama tampil di panggung?” Atika melangkah mendekat. “Ibu kerja keras, masukin kamu ke sekolah ini, bukan buat nonton kamu nyanyi-nyanyi enggak jelas.”

“Itu bukan enggak jelas, Bu,” suara Giselle akhirnya keluar, pelan tapi bergetar. “Aku serius—”

“Serius?” Atika memotong cepat. “Serius itu nilai. Serius itu peringkat. Bukan gitar, bukan lagu, bukan tepuk tangan sesaat yang kamu dapetin di panggung. Setelah itu apa? Apa yang kamu dapet? Enggak ada, Giselle.”

Tangannya Atika mengepal. “Guru bilang kamu punya bakat, ya? Bakat itu enggak ada artinya kalau kamu tetap begini. Bakat enggak bikin kamu naik kelas dengan kepala tegak.”

Giselle menunduk lagi. Bahunya mulai gemetar, tapi ia masih berusaha berdiri lurus, seolah postur itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.

“Mulai sekarang,” kata Atika dengan suara dingin yang justru terasa lebih menakutkan, “kamu berhenti main musik. Kalau sampai ibu tahu kamu masih main musik, ibu bener-bener nggak akan maafin kamu.”

Giselle mengangkat kepala dengan cepat. “Tapi, Bu—”

“Ibu enggak mau dengar alasan apa pun,” potong Atika tegas. “Semua yang bikin kamu lupa sama kewajiban kamu, ibu larang.”

Ia menunjuk ke arah kamar Giselle. “Liburan ini kamu belajar. Enggak usah keluyuran ke mana-mana. Cukup di rumah dan fokus tingkatkan nilai kamu.”

Air mata Giselle akhirnya jatuh tanpa izin. Giselle menggigit bibir, menahan isak yang sudah terlalu penuh di dadanya.

“Kamu pikir hidup itu soal senang-senang?” lanjut Atika. “Kamu pikir dunia bakal peduli sama lagu yang kamu nyanyiin kalau nilai kamu tetap di bawah?”

Setiap kalimat terasa seperti menarik sesuatu dari dalam diri Giselle, satu per satu, sampai yang tersisa hanya lelah. Ia tidak menjawab lagi karena apa pun yang ia katakan, tidak akan cukup. Tidak pernah cukup.

“Atau kamu mau terus jadi anak yang enggak pernah bisa dibanggakan?” ujar Atika lagi.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari rapor yang dibanting tadi.

Giselle merasa dadanya semakin sempit, seolah udara di ruang tengah itu tiba-tiba habis. Semua suara terdengar jauh, kecuali suara ibunya sendiri yang terus menekan, terus menyerang.

“Kamu harus sadar,” lanjut Atika. “Kamu bukan anak kecil lagi. Kalau kamu enggak pintar, ya kamu harus kerja dua kali lebih keras. Jangan manja. Jangan nyalahin keadaan.”

“Aku capek, Bu…” suara Giselle pecah. “Aku capek banget.”

Atika tidak berhenti. “Capek itu alasan. Semua orang juga capek.”

Sudah cukup, Giselle membungkuk cepat, mengambil rapor yang tergeletak di lantai dengan tangan gemetar. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Langkah kakinya tergesa, hampir tersandung, air mata mengaburkan pandangannya.

“Giselle!” suara Atika terdengar dari belakang. “Balik! Ibu belum selesai bicara!”

Tapi Giselle tidak berhenti.

Ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras, mengunci diri dari suara ibunya yang masih terdengar samar dari ruang tengah. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, punggungnya menempel ke pintu, seolah pintu itu satu-satunya benteng yang ia miliki.

Tangisnya pecah sejadi-jadinya.

Ia menangis tanpa peduli suara. Tanpa peduli apakah ada yang mendengar atau tidak. Bahunya bergetar hebat, napasnya terputus-putus, dadanya terasa sakit setiap kali udara masuk.

Giselle memeluk rapor itu erat-erat, kertasnya basah oleh air mata. Di balik pintu, suara Atika akhirnya menghilang, menyisakan keheningan yang justru terasa lebih kejam.

Di kamar sempit itu, di tengah liburan yang berubah menjadi hukuman, Giselle menyalahkan satu hal yang tidak bisa ia ubah—

Dirinya sendiri.

Karena terlahir sebagai gadis yang tidak cukup pintar, dan harus membayar harga itu setiap hari.

...***...

5 Februari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!