Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.20.KENYATAAN PAHIT
Kamar pelayan ini baru dan belum pernah di tempati, berarti Yudi belum pernah punya pelayan. Tidak menyangka sama sekali kalau hidupnya akan melewati fase begini. Dari putri konglomerat, dengan gelar mentereng dari Universitas Harvard, tiba-tiba menjadi PRT, kebayang gak?
Nasib mempermainkan kehidupannya, ia bebas tapi tak berdaya. Ia menahan lapar, dan makan seadanya padahal biasanya setiap makanannya di kontrol ahli gizi.
Siapa yang harus disalahkan? Darren, Intan atau orang tuanya? bukankah kendali berada dalam genggamannya? Mengapa ia pura-pura mis-kin untuk menjerat Darren, harusnya ia mengaku dan pulang ke rumah.
Ia menarik nafas panjang membuangnya kasar. Ntah berapa kali ia duduk dan berdiri lagi, tapi Yudi tidak menampakan batang hidungnya. Apakah ia yang harus duluan mendatangi Yudi? Dan bertanya ada makanan? Uhh...menyebalkan.
Ia tidak perlu terlalu effort melakukan sesuatu disini untuk mencapai tujuannya. Masalah yang dihadapi sekarang dengan orang tuanya dan butuh penyelesaian yang cepat.
Kepada Darren ia juga ingin menunjukkan komitmen dalam hubungan ini, yang kini tidak tau kemana arahnya. Ia mengakui kesalahan berada pada dirinya yang pergi begitu saja dari Bali.
Seringkali kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Begitulah yang terjadi pada dirinya, tapi masih ada sebersit harapan, ia tidak seratus persen percaya kepada Intan. Tidak mungkin mamanya bersikap sesuai yang digambarkan Intan. puyeng!!
Aluna keluar dari kamar ia ingin bertemu Yudi, lapar sekali. Di luar sudah gelap dan perutnya keroncongan. Ia lupa meminjam uang kepada Intan, sedangkan Darren memberi uang sedikit, keburu habis. Ia tak menyangka akan lama bertemu orang tuanya.
Kalau sudah di Jakarta ia sudah hafal tempat belanja atau bisa saja ia pergi ke rumahnya atau rumah temannya, tapi butuh uang untuk pergi.
Aluna berjalan perlahan menuju rumah utama, ternyata terkunci ia menyalakan lampu di teras depan dan samping. Tidak ada bayangan kehidupan, mungkin karena rumah ini baru dan penghuni hanya satu.
Harusnya tadi ia menyiram pohon, banyak pohon yang layu bahkan ada yang mati. Sayang sekali, rupanya Yudi sangat sibuk sampai mengurus pohon saja tak sempat.
"Nona...."
Aluna terlonjak kaget mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh, rupanya Yudi berdiri di kegelapan.
"Astaga...aku kira siapa." ucapnya dengan dada berdebar.
"Kalau kamu lapar, ada mie di dapur. Aku kalau lapar goreng mie saja, tidak ada yang lain. Sebenarnya aku bisa masak tapi malas karena sibuk." ucap Yudi datar.
Yaa ampun...Yudi menawarkannya mie. Bukan maksudnya merendahkan, tapi selevel Yudi yang berpenampilan CEO selalu makan mie. Apa dia tidak senang makan di restoran atau pelit.
"Trimakasih Yud..."
"Aku kedalam dulu, selesai makan kamu harus tidur, jangan berkeliaran."
"Oke..."
Aluna heran kenapa Yudi gelap-gelapan, apa dia irit listrik? Makan saja irit apalagi nyalain lampu. Ko ada orang begini, aneh sekali.
Aluna membuka dapur, bau anyir tiba-tiba menguar menusuk hidung, mungkin karena dapur tidak pernah dibersihkan, pikirnya.
"Aghh...."
Aluna berteriak kaget seolah ada yang mencolek punggungnya. Gegas ia mencari sakral dan menyalakan lampu.
"Byaarrr...."
Dapur terang benderang, selebihnya tidak ada yang aneh, ia berpikir mungkin ini bau daging mentah campur darah atau, ntahlah, ia tidak berani berspekulasi. Bau anyir dari mana? Ia membuka kulkas ahh..ini dia..
Ternyata Yudi menyimpan darah. Maklum Yudi dari Bali, biasanya darah di pakai "lawar" itupun orang-orang tertentu yang mengkomsumsi, ada yang berani dan banyak yang tidak berani.
Tiba-tiba lampu mati dan kedap kedip,
bulu kuduknya berdiri. Aluna menepis rasa takut dan menuju rak mengambil sebungkus mie goreng.
Seumur-umur baru kali ini ia masak mie goreng. Setelah matang ia membawa ke kamar. Saking laparnya ia tidak berpikir jorok atau apapun yang penting kenyang dan bisa tidur.
Tapi ia tidak bisa tidur karena tidak ada kasur atau alas tikar. Berarti ia harus tidur di lantai, nasib...nasib. Kalau di Bali ia tinggal di hotel klas melati, tidur di dipan jati, ada AC dan makan disiapkan karena sudah di lunasi dalam seminggu.
Salahnya sendiri baru dua hari ia pergi dari hotel, minggat ke Jakarta. Mau untung jadi sengsara.
CAFE THE LUNA.
Tadi pagi sehabis morning briefing Darren menuju tempat latihan menembak, saat itu ia mendapat telpon dari Intan, ntah siapa perempuan ini, dia mengajak bertemu untuk membahas putri Blossom.
Maksudnya apa ini, ia tidak peduli dengan putri Blossom atau keluarga Blossom. Ia memang ingin balas dendam kepada keluarga Blossom tapi belum ada moment tepat yang bisa mempertemukan dengan keluarga Blossom.
Tapi tidak apa-apa, siapapun wanita itu ia akan hadapi, musuh sekalipun. Selama ini ia sudah menandai orang-orang yang punya akses kuat membunuh ayah, kakak dan ibunya.
Dengan restu Jhon Meyer ia berangkat menuju Cafe The Luna. Darren memarkir Rubiconnya di luar Cafe, jaga-jaga kalau yang dia hadapi musuh. Seperti biasa ia memakai jaket dan topi Eiger.
Dibalik jaket ada dua Revolver, ia juga memakai jam tangan yang ada lima jarum beracun dan kaca mata bionic yang bisa merekam situasi dan mengirim vidio ke XpostOne.
Setelah membayar down payment di resepsionis, Darren memilih tempat di pojok yang agak terhalang pandangan mata. Suasananya tidak begitu ramai, ada sekitar dua puluh orang memenuhi table.
Baru jam tujuh malam, biasanya cafe ramai sekitar pukul sepuluh ke atas.Tidak menunggu lama datang Intan, wanita itu duduk di depannya berbatas meja.
Pesanannya sama mocktail. Intan datang sendiri, ia tersenyum ramah. Orangnya hitam manis dan terlihat som-bong.
"Sudah lama menunggu?" tanya Intan menatap Darren dengan intens.
Ia langsung terpesona dengan pria tanpan di hadapannya ini. Pantas Aluna mau menikah dengannya, orangnya ganteng dan berwibawa.
"Baru saja, untuk apa kamu menelponku? Dan darimana kamu tau nomer hapeku?"
"Aku bertemu Aluna, dia bilang kamu calon suaminya. Dia tidak tau nomer telponmu jadi aku bertanya sama mama orang yang disewa untuk menolong tiga gadis yang terjebak di desa Bedhwi. Aku telusuri dan ketemu XpostOne dan disitu ada nomer telpon kantormu." tutur Intan berjeda, ia menunggu respon Darren.
"Jadi ...."
"Aku salah satu dari tiga korban t*mbal di desa Beduwi." potong Intan.
"Ohh..begitu, dimana kamu bertemu Luna?" tanya Darren antusias. Ia dapat khabar dari Bali kalau Luna sudah pergi.
"Di bali, dia menelponku.."
"Berarti Luna ikut kamu ke Jakarta dan dimana sekarang dia berada?"
"Luna aman, yang ingin aku tanyakan saat kamu berada di kuburan dan siapa kamu sampai Luna terpesona padamu?" tanya Intan seraya minum.
*****