alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan
Ruangan rapat tempat berkumpulnya semua pimpinan divisi, terlihat lumayan ramai. Para direktur divisi dan manager mengambil posisi duduk di kursi yang melingkari sebuah meja besar berbentuk oval, sementara para wakil manager, terlihat duduk di belakang para pimpinan, di kursi tanpa meja.
Terdengar bisik-bisik yang berdengung bagai lebah di ruangan yang kedap suara ini. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar, pria berwajah aristokrat tadi, Umbara Harsyah memasuki ruangan dengan langkah tegap berwibawa.
Seluruh staf yang ada di dalam ruangan tak terkecuali alia, serentak berdiri menyambut kedatangan sang direktur utama penuh hormat.
Pria itu berjalan melewati alia dan para wakil manager lainnya, aroma maskulin tercium oleh hidung alia yang setengah menunduk, ia melirik sekilas tak disangka lirikan alia bertemu dengan mata pria itu, yang menatap tajam ke arahnya, dengan buru-buru Alia menundukkan pandangannya kembali.
Suara bariton itu kembali terdengar, meminta semua yang hadir untuk duduk di tempat duduknya masing-masing. Alia mencatat beberapa hal penting yang disampaikan, matanya sesekali menoleh ke direktur utama yang memang kelihatan sangat berwibawa itu.
Entah ini hanya perasaan alia, sedari tadi ia merasa direktur utama itu sering menatap ke arahnya, alia jadi merasa tak enak hati.
Benaknya sibuk berpikir apa ia melakukan kesalahan yang fatal, sehingga pimpinan utama perusahaan, selalu menatap tajam ke arahnya.
Rapat pengenalan staf-staf setiap devisi dilakukan sesuai fungsi, bagi yang sudah selesai, langsung di persilahkan kembali ke timnya masing-masing. Divisi pemasaran mendapat giliran terakhir, direktur pemasaran pak Rangga terlihat sedang berusaha mencari muka.
Alia yang bukan siapa-siapa saja merasa risih dengan cara pak rangga yang terlihat palsu, alia menelisik wajah direktur utama itu, wajah Bara, pria itu terlihat muak.
Setelahnya bu wirda selaku manager pemasaran, memperkenalkan dirinya dengan gaya yang lebih elegan ketimbang direkturnya.
"Saya wirda diningrum, MBA Pak, telah menjadi manager pemasaran selama 6 tahun, saya bekerja di perusahan ini sudah 9 tahun lamanya"
Terlihat Bara menganggukan kepalanya,
"saya sudah sering mendengar tentang anda, dedikasi anda patut di acungi jempol, saya dengar devisi pemasaran bisa sebagus sekarang karena dipimpin orang sebagus anda" pujinya dengan senyum yang terlihat tulus.
"Terima kasih pak" sahut bu wirda dengan reaksi yang tetap biasa saja, tidak berlebihan, alia sangat mengagumi managernya itu, yah walaupun terkadang kedisiplinan yang diterapkannya terasa seperti mencekik leher.
"Mengapa orang seprofesional dan sedisiplin anda, masih hanya menjadi seorang manager, menurut saya anda lebih layak dari direktur anda"
Ucapan menohok dari direktur utama itu, membuat wajah pak rangga memerah jengah, terlihat rahangnya mengeras dengan raut wajah tersinggung. Semua orang tahu pak rangga adalah kaki tangan direktur lama, pak romy, yang kerjanya hanya mengikuti kemana pak romy pergi dan tidak pernah perduli dengan devisi yang dipimpinnya.
Alia terperangah melihat betapa datarnya bos baru mereka itu, dengan santai dan tanpa beban mengungkapkan apa yang ada di benaknya, tapi alia memakluminya, bukankah bos baru mereka ini adalah pemilik perusahaan.
"Hmmmm..kamu pasti wakil manager yah" tanya bara mengalihkan perhatiannya kepada alia yang berdiri di sisi bu wirda.
"Tidak pak..devisi kami belum memiliki wakil manager, karena 4 bulan yang lalu wakil manager kami resign" jawab alia dengan gamblangnya. Terasa tubuhnya dijawil bu wirda yang berdiri di sampingnya, memberi peringatan untuk alia.
"Ohh.." sahut pria itu singkat dan manggut-manggut
"Siapapun wakil managernya, itu hak pimpinan devisi yang menentukannya, bagi saya yang terpenting, kalian semua bisa diandalkan sesuai dengan jabatan yang kalian emban" jelasnya lagi dengan aura seorang pemimpin yang berwibawa.
"Saya menaruh harapan besar terhadap devisi pemasaran, mari kita bekerja sama dengan baik kedepannya"
"Baik pak.." sahut tim pemasaran serentak, Bara tersenyum puas, senyum khas seorang bos.
"Silahkan kembali ke ruangan kalian"
Alia beranjak pergi setelah melihat para pimpinan melangkah terlebih dahulu,
"Oh yah..satu lagi" tiba-tiba direktur utama itu memutar tubuhnya menghadap ke arah bu wirda dan alia yang berdiri bersisian.
"Khusus untuk devisi pemasaran, kalian bisa melapor ke saya langsung, tanpa harus melalui direktur kalian," alia kembali melirik pak Rangga yang terlihat semakin emosi, wajahnya memerah, terlihat matanya melirik tajam ke arah bara dan bu wirda bergantian.
"Baik pak..!" Sahut bu wirda tenang dan anggun.
Alia terduduk lelah di teras rumah, memijiti kakinya yang kelelahan memakai heels seharian. Telinganya mendengar sayup-sayup suara dari dalam rumah, sepertinya suara itu berasal dari siaran televisi.
Alia membuka pintunya perlahan, terlihat Narida sedang menyuapi luka, mata mereka tertuju ke acara yang sedang disiarkan.
"Assalamualaikum.." salam alia mengagetkan keduanya yang serentak menoleh, anak laki-lakinya itu berlari mengejar alia yang mengembangkan tangannya. Ia menciumi putranya yang sudah harum, seluruh tubuhnya berbalur bedak dan harum minyak telon bayi, terdengar mulutnya yang penuh oleh nasi ngedumel tidak jelas.
"Luka benci bude, luka udah gede, tapi dibedakin dan dibalurin pake telon. Bunda!" Adunya dengan ekspresi kesal, wajah kesalnya terlihat sangat imut di mata alia.
Terdengar tawa alia dan nari mendengar laporan luka, yang tidak terima dianggap bayi oleh narida.
"tapi, luka emang bayinya bude" sahut narida sembari menyuapkan nasi terakhir dari piring luka. Tangannya menjentik hidung luka yang mancung, mata pria kecil itu melotot marah.
Bukannya berhenti menggoda, alia dan narida semakin tertawa lucu dibuatnya.
"Sini sayang, biar bunda istirahat dulu, luka duduk ama bude dulu yah" bujuk narida meraih tangan luka, yang masih cemberut, namun luka menuruti narida.
"Beberes dulu, dek" perintahnya sembari memeluk luka yang sudah mau berlari keluar.
"Luka mau main, bude"
"Sudah sore sayang, lagian luka kan udah mandi, gak boleh lagi main kotor di luar" larang narida tetap memeluk luka yang mulai meronta-ronta.
Alia melihat luka yang mulai terlihat tak terkontrol, berdehem keras mengingatkan luka, mata indah milik bocah 5 tahun itu terlihat, memohon kepada alia.
"Ingat kan apa yang bunda katakan tadi pagi" tanya alia menatap tajam putranya yang tertunduk.
"Dek..." sela narida lirih, namun alia menatap narida dan menggelengkan kepalanya.
"Luka.." panggil alia lembut,
"Pergi ke kamar, kerjakan tugas yang di berikan bu guru"
Luka mengangguk lesu, langkah kecilnya berjalan menuju kamarnya.
"Kamu terlalu keras, dek!, Luka itu masih kecil"
Keluhan narida selalu terdengar jika alia sedikit keras kepada putranya itu.
"Kamu yang terlalu memanjakan dia, Nari" jawab alia dengan tersenyum,
"Kamu selalu menuruti apapun maunya, luka jadi sedikit nakal jika bersamamu"
"Aku tahu.." sahut narida tersenyum,
"Aku sangat menyayangi putramu itu, maaf yah dek!"
"Hmmmmm, aku malah senang Nari, kasih sayangmu yang tulus ke kami, menunjukkan bahwa kita adalah keluarga" sahut alia menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
Narida tersenyum, tangannya meremas jemari alia lembut.
"Karena kita memang keluarga dek..selamanya.."
"Eh..ngomong-ngomong gimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya narida mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa melow.
Alia menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal, mereka duduk di depan televisi yang masih menyiarkan serial anak kembar botak dari negeri jiran itu.
"Pak Romy digantikan langsung oleh anak pemilik perusahaan, hari ini bos besar itu datang menyapa ke kantor"
"Oh..yah?" Tanya narida antusias,
"pak barakah?"
Alia mengangguk,
"Kamu sudah pernah bertemu dia?"
"Sudah.." sahut narida mengangguk,
"Dia ganteng banget tahu dek, aku pernah jumpa beliau ketika ke Jakarta mewakili bu wirda yang berhalangan"
Alia hanya mengangguk, tangannya meraih toples snack dari atas meja, mengunyah keripik pisang dengan tenang, sembari mengamati wajah narida yang terlihat antusias.
"Aku dengar, beliau itu belum menikah dek padahal usianya kalau aku tidak salah, sudah 36 tahun"
"Mungkin dia tidak menyukai wanita.." celetuk alia asal, alia meringis ketika narida memukul lengannya pelan.
"Ishhhh, omongan kamu bahaya banget, dia dulu punya calon istri, kabarnya.., tapi entah apa penyebabnya, mungkin memiliki trauma atau yang lain, sejak itu tidak ada lagi berita kalau pak bara memiliki hubungan serius, dengan wanita manapun"
Terlihat alia menganggukkan kepala acuh tak acuh, mulutnya masih asyik mengunyah keripik pisang manis itu. Dengan gemas narida menatap alia, sahabatnya itu memang tidak pernah terlihat antusias jika membicarakan pria, tiba-tiba senyum penuh arti tersungging di bibirnya.
"Semoga aja pak bara, tertarik kepadamu"
Alia terkejut, kunyahannya sampai terhenti mendengar ucapan narida yang menatapnya tersenyum.
Ada harap dari mata narida, alia kembali mengunyah, sahutannya terdengar kembali tidak acuh,
"Semoga tidak.." .
Bersambung...