Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9- jambret
Note penting:
aku mau sedikit info bab 8
adegan ini:
"Gue nggak nyangka lo bakal turun langsung cuma gara-gara satu kacung lo yang masuk rumah sakit, Phantom," teriak Vero dengan nada meremehkan. "Harusnya lo kirim aja perwakilan, biar lo nggak malu kalau kalah di kandang sendiri."
adegan yang ini seharusnya Vero bukan galang, maafkan author kalian ini yang sedikit kurang fokus, karena ngantuk jadinya salah 🙏🏻😅mohon maaf sekali lagi ya aku agak liyer...
...****************...
Matahari mulai terbit, menggantikan tugas sang rembulan yang sudah berjaga di malam hari. Samar-samar cahaya mulai menembus perlahan lewat gorden, cahaya itu berhasil membuat Aluna membuka matanya. Ia mengerjap pelan, merasakan kehangatan fajar yang menyapu wajahnya.
Aluna bangun dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada kemarin. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing. Ia segera bersiap, memakai seragam dengan rapi tanpa bantuan robot kaku mana pun.
Ya, sepulang dari cafe kemarin memang kepala Alana sempat pusing.
Begitu sampai di meja makan, Aluna melihat Mama sedang menata piring. Sedangkan Papa sibuk menyesap kopinya sambil sesekali melirik Aluna dengan tatapan penuh arti.
"Pagi, Pa, Ma," sapa Aluna santai sambil meraih selai cokelat.
"Pagi, Sayang. Gimana badannya? Sudah enakan?" tanya Mama sambil mengusap kepala Aluna.
"Udah kok, Ma. Siap tempur lagi di sekolah."
Papa berdehem, menaruh cangkir kopinya perlahan. "Al, nanti malam dandan yang rapi ya. Kita mau makan malam keluarga di luar. Penting."
Aluna berhenti mengoles roti. Alisnya bertaut. "Makan malam apa, Pa? Tumben banget hari kerja gini."
Papa menatap Aluna lurus. "Sahabat Papa mau datang bareng anaknya. Kami sudah sepakat... Papa ingin ngenalin kamu sama dia,siapa tau cocok."
Aluna meletakkan pisau selainya, lalu menopang dagu sambil menatap Papanya dengan cengiran lebar. "Wah, Papa kebanyakan nonton sinetron Azab ya semalam? Atau lagi pengen main detektif-detektifan cari mantu?"
"Aluna, Papa serius," ujar Papa, meski sudut bibirnya hampir tertarik melihat tingkah anaknya.
"Pah, Aluna ini masih kelas sebelas. Masih bocil kalau kata orang sekarang. Masa mau ngenalin calon? Nggak takut apa nanti Aluna suruh dia kerjain tugas Matematika Aluna?" Aluna terkekeh, lalu beralih ke Mamanya. "Ma, bilangin Papa, mending cariin Aluna kuota internet daripada cariin calon cowok. Lebih berguna buat masa depan."
Mama hanya geleng-geleng kepala sambil menuangkan susu. "Nggak ada bantahan, Al. Anaknya ganteng lho, mandiri pula. Katanya dia punya usaha sendiri."
"Ganteng relatif, Ma. Mandiri? Ya syukur deh kalau dia bisa mandi sendiri nggak disuruh Mamanya," celetuk Aluna asal yang langsung dapet pelototan sayang dari Mama.
Pagi itu, Aluna berangkat sekolah dengan suasana hati yang luar biasa cerah. Sepanjang jalan menuju parkiran motor, dia asyik bersiul.
Aluna memacu motor matic-nya membelah jalanan pagi yang mulai padat. Namun, saat melewati sebuah gang yang agak sepi di dekat pasar, matanya menangkap sesuatu yang tidak beres. Seorang ibu-ibu paruh baya sedang tarik-menarik tas dengan seorang pria berjaket hitam di atas motor.
"JAMBRET! TOLONG!" teriak ibu itu histeris.
Tanpa pikir panjang dan tanpa perhitungan, Aluna mendidih. Ia langsung memutar gasnya kencang, memotong jalur motor jambret itu hingga si jambret oleng dan jatuh tersungkur.
"Woi! Balikin tasnya!" teriak Aluna sambil turun dari motor, berkacak pinggang dengan berani.
Si jambret yang ternyata tidak sendirian ada temannya yang menunggu di sudut gang langsung berdiri dengan wajah sangar. Mereka merasa diremehkan karena yang mengadang adalah seorang siswi SMA.
"Minggir lo, Dek! Jangan sok pahlawan kalau nggak mau lecet!" gertak salah satu preman itu sambil mengeluarkan kayu balok dari tumpukan sampah di dekatnya.
Aluna mulai merasa sedikit ciut, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mundur. "Gak! Balikin dulu tas Ibu itu!"
Saat Aluna fokus menatap preman di depannya, preman yang satu lagi diam-diam memutar ke belakang. Ia mengangkat sebuah kayu besar, siap menghantam punggung Aluna yang tidak waspada.
"Mampus lo!" bisik preman itu sambil mengayunkan kayunya.
Aluna yang mendengar suara desir angin di belakangnya langsung memejamkan mata, refleks melindungi kepalanya dengan tangan. 'Habis deh gue,' batinnya pasrah.
DUAK!
Suara hantaman kayu terdengar keras, tapi Aluna tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan sebuah lengan kokoh merengkuh bahunya dan menariknya mundur dengan cepat.
Aluna membuka mata. Di depannya, berdiri sesosok cowok dengan jaket denim yang menutupi seragam sekolahnya. Tangannya yang satu lagi menahan kayu balok itu dengan tangan kosong, sementara matanya menatap tajam ke arah preman tersebut.
"Kak Arlan?" bisik Aluna kaget.
Arlan tidak menyahut. Wajahnya terlihat sangat kuyu, matanya merah karena begadang semalaman di cafe dan balapan, tapi auranya tetap mematikan. Dengan satu gerakan cepat, Arlan menendang perut preman itu hingga terpental ke tumpukan kardus, lalu merebut kayu baloknya dan melemparnya asal ke selokan.
"Pergi. Atau gue panggil warga pasar biar kalian habis di sini," ucap Arlan dengan suara bariton yang berat dan mengancam.
Melihat aura Arlan yang dingin dan tidak main-main, kedua preman itu langsung pucat pasi. Mereka segera tunggang langgang melarikan diri, bahkan meninggalkan motor mereka yang masih tergeletak di aspal.
Suasana mendadak hening. Aluna masih mematung, jantungnya berdegup kencang karena kaget bercampur rasa aneh saat menyadari posisi Arlan yang masih memegang bahunya.
Arlan melepaskan tangannya, lalu berbalik menatap Aluna. Matanya yang lelah menatap Aluna dari atas ke bawah seolah sedang mengecek kerusakan pada sebuah barang.
"Lo itu punya otak buat mikir nggak sih?" tanya Arlan datar.
"Hah?" Aluna yang baru saja mau bilang terima kasih, langsung kicep.
"Lawan dua orang dewasa tanpa perhitungan di gang sepi. Itu bukan berani, Aluna. Itu cari mati," lanjut Arlan tanpa basa-basi.
Aluna mendengus, rasa kesalnya kembali ke puncak. "Gue kan mau nolongin Ibu itu! Daripada lo, lewat doang tapi baru mau nolong pas gue udah mau digebuk!"
"Gue nggak butuh jawaban lo," potong Arlan dingin. Ia melepaskan tangan dari bahu Aluna dengan gerakan yang sangat tidak punya perasaan, seolah-olah baru saja memegang benda asing yang bikin tangannya kotor.
Aluna melotot, mulutnya sudah terbuka lebar siap untuk membalas, tapi Arlan lebih dulu berjalan menghampiri Ibu paruh baya yang masih gemetaran di pinggir jalan. Dengan gerakan yang jauh lebih manusiawi, Arlan memungut tas yang terjatuh dan menyerahkannya.
"Lain kali hati-hati, Bu," ucap Arlan singkat. Begitu saja. Tanpa senyum, tanpa drama pahlawan.
"Terima kasih ya, Nak. Kalian berdua hebat sekali," ujar Ibu itu sambil berkali-kali membungkuk.
Aluna mendengus, mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Tuh, denger kan? Hebat katanya! Gue yang ngehadang, lo yang dapet pujian. Enak banget hidup lo ya, Kak?"
Arlan kembali menatap Aluna. Kali ini matanya menyipit, memperhatikan noda debu di seragam Aluna. "Jangan bangga dulu. Lihat jam lo. Lo mau dapet piagam pahlawan atau mau hormat bendera sampai sore karena telat?"
Aluna refleks melirik jam tangan digitalnya. "MAMPUS! TUJUH MENIT LAGI!"