Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH KEPULANGAN
"Nathan yang mana lagi sih? Bokapnya Vio itu udah nggak ada, udah ilang pas cahaya putih itu meledak! Lo pasti hantu yang numpang lewat doang kan? Jangan harap gue bakal percaya gitu aja!"
Lukas berteriak dengan suara melengking yang memantul di langit-langit Stasiun Kota yang lengang. Napasnya memburu, sementara tangannya yang menggenggam gawai gemetar hebat. Ia menatap sosok berjubah itu dengan tatapan liar, mencoba mencari sisa-sisa kebohongan di balik kain kasa yang menutupi wajah hancur tersebut. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, jemarinya mencengkeram erat patahan payung biru Viona hingga buku jarinya memutih, seolah benda rusak itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak terseret ke dalam kegilaan.
Pria berjubah yang menyebut dirinya Nathan itu tidak bergeming. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, membuat aroma tanah basah dan besi berkarat kian menyengat indra penciuman mereka. Jam saku di tangannya mendadak bergetar, mengeluarkan bunyi detak yang tidak beraturan—detak yang terasa berdenyut di dalam gendang telinga Lukas dan Julian secara paksa.
"Percaya atau tidak, itu tidak akan mengubah fakta bahwa Viona sedang dikuliti di sana," suara pria itu terdengar seperti gesekan kertas amplas di atas kayu jati yang lapuk. "Nathan yang kalian lihat sebelumnya hanyalah proyeksi harapan Viona. Aku adalah realitas yang ia buang—bagian dari dirinya yang terjebak dalam paradoks abadi ketika ia mencoba membelah waktu demi menyelamatkan Elena."
Julian mendengus dingin, meski matanya memancarkan kegelisahan yang dalam. "Lo bilang kita harus bayar pake memori paling berharga? Lo pikir gue punya stok memori manis? Hidup gue isinya cuma kegelapan sama urusan penagihan nyawa orang lain yang meleset dari takdir."
"Memori berharga tidak selalu tentang kebahagiaan, Julian," sahut Nathan-yang-terlupakan itu sambil menunjuk ke arah rel kereta yang kini mulai mengeluarkan kabut berwarna ultraviolet. "Memori berharga adalah ingatan yang mendefinisikan siapa kalian. Tanpanya, kalian hanyalah cangkang kosong yang berjalan tanpa arah. Dan itulah tiket yang diminta oleh kereta Peron 0."
Lukas menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, jatuh membasahi layar gawainya yang tinggal menyisakan pendar redup. Ia membayangkan memori saat pertama kali ia bertemu Viona, memori tentang kopi hangat di halte, atau memori tentang kegilaan mereka dikejar-kejar Ordo. Jika ia memberikan itu, apakah ia masih akan mengenal sosok yang sedang ia coba selamatkan?
Keheningan di peron itu mendadak pecah oleh suara raungan mesin yang tidak wajar. Dari ujung terowongan yang gelap, sebuah lokomotif kuno berbahan logam hitam legam muncul tanpa suara gesekan roda. Kereta itu tampak tidak utuh; beberapa bagian tubuhnya transparan, memperlihatkan ribuan roda gigi yang berputar di dalamnya. Jendela-jendelanya memancarkan cahaya biru safir yang sama dengan pendar payung Viona, namun cahaya itu terasa lapar, seolah siap menyerap siapa saja yang menatapnya terlalu lama.
Kereta itu berhenti tepat di depan mereka. Pintunya terbuka dengan desisan uap yang berbau melati—aroma yang selalu identik dengan ibu Viona.
"Gue nggak punya waktu buat mikir panjang," desis Lukas, wajahnya mengeras dengan tekad nekat. "Ambil aja memori gue pas Vio ngajarin gue cara pake pena perak itu. Itu memori paling keren yang gue punya, dan gue rela kehilangan itu asal gue bisa narik dia balik ke sini."
Pria berjubah itu mengulurkan tangannya yang keriput. Saat Lukas menyentuh jemari dingin itu, sebuah kilatan cahaya perak melesat dari dahi Lukas menuju jam saku Nathan. Lukas terhuyung, matanya berputar sesaat. Rasa hampa yang luar biasa mendadak menghantam dadanya, seolah ada sepotong besar dari jiwanya yang dicabut paksa. Ia masih ingat nama Viona, ia masih ingat mereka sedang di stasiun, tapi ada sebuah lubang besar di ingatannya tentang bagaimana ia bisa memahami mekanika waktu. Ia merasa seperti seorang ahli matematika yang tiba-tiba lupa cara menjumlahkan angka.
"Sekarang giliranmu, Penagih," ucap Nathan sambil menatap Julian.
Julian memejamkan mata. Ia membayangkan satu-satunya momen di mana ia merasa benar-benar hidup—momen sepuluh tahun lalu ketika ia melihat Elena tersenyum sebelum semuanya hancur. Ia tahu, setelah ini, ia tidak akan lagi memiliki alasan untuk mencintai atau membenci wanita itu. Ia akan menjadi predator yang benar-benar hampa.
"Ambil," gumam Julian pendek.
Proses yang sama terjadi. Julian tersungkur berlutut, napasnya tersengal. Pria itu kini berdiri dengan tatapan mata yang lebih dingin dari es di kutub. Ia kehilangan jangkar emosinya, namun ia tetap menggenggam patahan payung biru itu sebagai insting terakhirnya.
"Masuklah. Kereta ini tidak akan menunggu penyesalan kalian," perintah Nathan sambil memudar menjadi bayangan hitam di dinding stasiun.
Lukas dan Julian melangkah masuk ke dalam gerbong. Di dalam, tidak ada kursi. Dinding-dinding gerbong terbuat dari cermin yang memantulkan ribuan versi diri mereka yang berbeda. Begitu pintu tertutup, kereta itu melesat dengan kecepatan yang melampaui logika fisik. Mereka tidak merasa berguncang; mereka merasa seolah-olah tubuh mereka sedang diurai menjadi partikel-partikel debu dan disatukan kembali di dimensi lain.
Pemandangan di luar jendela berubah menjadi lautan jarum jam yang tak terhitung jumlahnya, melayang di atas langit yang berwarna abu-abu pekat. Inilah Origin—pusat dari segala sisa waktu yang tidak terpakai, tempat di mana takdir-takdir yang terbuang dikumpulkan dan dikonsumsi.
Di ujung gerbong, sesosok wanita berpakaian putih mutiara berdiri membelakangi mereka. Ia sedang menatap sebuah bola cahaya besar yang digantung di tengah ruangan. Di dalam bola cahaya itu, Viona tampak terperangkap, tubuhnya dibelit oleh benang-benang perak yang menyedot pendar safirnya.
"Vio!" Lukas berteriak, namun suaranya terdengar seperti bisikan di bawah air.
Wanita berbaju putih itu menoleh. Wajahnya halus tanpa cela, namun matanya adalah lubang jarum yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Dialah sang Eternal Architect yang seharusnya sudah terhapus, namun di Origin, konsep "terhapus" hanyalah sebuah siklus yang berulang.
"Kalian membawa tiket yang sangat lezat," ucap sang Arsitek, suaranya bergema di seluruh gerbong. "Memori tentang persahabatan dan cinta sisa-sisa... itu adalah bahan bakar terbaik untuk memperbaiki mesin yang dirusak teman kalian ini."
Julian mengangkat patahan payungnya, siap menyerang meskipun ia tidak lagi merasakan amarah. "Lepasin dia, atau gue hancurin tempat ini bareng lo sekalian."
Sang Arsitek tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti denting kristal yang pecah. "Menghancurkan Origin? Kalian bahkan tidak bisa menyentuh lantai ini tanpa izin saya. Viona sedang diproses untuk menjadi tinta abadi. Dia akan menuliskan sejarah yang baru, sejarah di mana kalian tidak pernah ada."
Viona di dalam bola cahaya itu membuka matanya sedikit. Ia melihat Lukas dan Julian, namun tatapannya kosong. Pendar safir di dadanya mulai memudar, digantikan oleh cairan hitam pekat yang mulai menetes dari ujung jari-jarinya.
"Kak Vio! Inget gue! Gue Lukas! Kita pernah ngopi di halte pas hujan!" Lukas memukul dinding transparan bola cahaya itu dengan tangan kosong hingga berdarah.
Namun, Viona hanya membisikkan satu kata yang membuat jantung Lukas serasa berhenti berdetak.
"Siapa... Lukas?"
Sang Arsitek melangkah mendekati Lukas, jemarinya yang panjang menyentuh dagu pemuda itu. "Dia tidak akan mengingat kalian. Dia adalah milik kami sekarang. Tapi, jika kalian ingin menemaninya, saya punya satu kursi kosong di meja pengarsipan."
"Lo pikir kita bakal nyerah gitu aja?" Julian menggeram, mencoba mencari celah untuk menusukkan patahan payungnya.
"Nyerah?" Arsitek itu memiringkan kepalanya, menatap Julian dengan tatapan meremehkan. "Kalian bahkan belum melihat harga sebenarnya dari tiket yang kalian bayar tadi."
Tiba-tiba, lantai gerbong kereta itu mulai mencair, berubah menjadi ribuan jam pasir yang menyedot tubuh Lukas dan Julian ke bawah. Di saat yang sama, sosok Nathan-yang-terlupakan muncul kembali di samping sang Arsitek, namun kali ini ia memegang sebuah pena emas yang ujungnya meneteskan darah safir milik Viona.
"Viona sudah memilih untuk melupakan kalian agar kalian tetap hidup di Jakarta," bisik Nathan. "Kenapa kalian harus datang dan merusak kedamaian yang ia bangun dengan rasa sakitnya sendiri?"
Lukas berjuang melepaskan diri dari hisapan jam pasir itu, matanya menatap tajam ke arah Viona yang kini mulai sepenuhnya berubah menjadi bayangan hitam. "Karena hidup tanpa diingat sama dia itu lebih buruk daripada dihapus dari sejarah, Pak Tua!"
Sang Arsitek mengangkat pena emasnya, siap menuliskan kata terakhir di atas dahi Viona yang kian pucat.
"Kalau begitu, mari kita lihat, seberapa lama kalian bisa bertahan ketika saya menuliskan bahwa kalian adalah orang yang membunuh ayah Viona sepuluh tahun lalu."
"Lo mau nulis apa?! Jangan macem-macem ya!" teriak Lukas putus asa.
Sang Arsitek tersenyum dingin, ujung penanya mulai menyentuh kulit Viona. "Sejarah bukan tentang apa yang terjadi, Lukas. Sejarah adalah tentang siapa yang memegang penanya."