Sania Ayunda Wirawan dan Yuki Yuspika adalah sahabat sejak kecil. Bukan hanya mereka, akan tetapi orang tua mereka juga bersahabat dekat. Bahkan mereka juga sama-sama terlahir dari keluarga terhormat dan sangat terpengaruh di kota mereka.
Mereka gadis yang sangat berprestasi dan kuliah di Fakultas ternama. Begitu banyak pria mengantri untuk mendapatkan cinta mereka. Namun, siapa sangka mereka malah jatuh cinta dengan pria yang berumur lebih tua dari mereka.
Bahkan berbagai cara telah mereka lakukan untuk mendapatkan cinta dari pria yang berhasil merebut hati mereka sejak kecil. Walaupun selalu di acuhkan, akan tetapi tidak ada kata menyerah untuk mereka. Mereka akan terus berjuang sampai mereka mendapatkan pria yang mereka idam-idamkan sejak kecil.
Apakah kedua sahabat itu bisa mendapatkan hati pujaan hati mereka?
Yuk saksikan perjuangan cinta dan aksi kocak mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprida Wati Tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
"Hai, Sa! aku sangat merindukanmu," ucap Yuki langsung memeluk Sania yang sedang duduk santai di sofa.
Kebetulan hari ini hari minggu, jadi dia memilih untuk bermain ke rumah Sania untuk melepaskan kerinduannya kepada sahabatnya itu. Dia ingin bercerita panjang lebar, menceritakan semua kejadian yang dia lewati selama menjadi sekertaris Aldan. Karena terlalu sibuk bekerja, mereka menjadi tidak punya waktu untuk bercerita. Bahkan bertukar kabar saja mereka sudah jarang.
"Aku juga sangat merindukanmu," ucap Sania membalas pelukan Yuki.
Mendengar suara Yuki, Kinan langsung berjalan ke ruang tamu sambil menyeruput teh yang ada di tangannya. Memang sudah kebiasaannya, jika hari minggu seperti ini dia lebih suka bermalas-malasan untuk melepaskan semua kekelahannya bekerja di kantor.
"Eh! ada Yuki, papamu tidak ikut, Sayang?" tanya Kinan duduk bergabung dengan kedua gadis cantik itu.
"Tentu, ikut dong. Mana mungkin aku membiarkan anak gadisku berkeliaran seorang diri," ucap Wildan menghampiri Kinan bersama Ardiyan dan Erlan di belakangnya.
"Hai, Bro! sudah lama kita tidak kumpul seperti ini," ucap Kinan memeluk kedua sahabatnya itu.
"Ia, Bro! maklum saja, semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Rissa mana, aku sudah lapar ini," ucap Wildan mengelus perutnya tanpa rasa malu sedikitpun.
"Papa apaan sih? bikin malu saja," oceh Yuki melihat kelakuan papanya itu.
"Memang papa lapar, Sayang. Jadi apa yang harus di maluin. Kalau malu bisa-bisa papa mati kelaparan," ucap Wildan terkekeh kecil.
"Kau ini ada-ada saja," ucap Ardiyan mengelengkan kepalanya pelan melihat kelakukan Wildan yang selalu asal ceplos saja.
"Sayang! tolong bawa cemilan itu ke sini," ucap Kinan sedikit meninggikan suaranya.
"Ia, Sayang!" ucap Rissa berjalan salah satu pembantu membawa cemilan dan juga teh untuk sahabat suaminya itu.
Kebetulan Rissa sedang membuat beberapa kue untuk cemilan mereka. Jika di berada di rumah, Kinan memang selalu ingin ngemil. Jadi Rissa selalu menyediakan cemilan untuk suaminya itu. Jadi Wildan yang sudah tau tentang itu tidak mau membuang-buang kesempatan.
Lagi pula mereka adalah sahabat dekat, bahkan sudah seperti saudara kandung. Jadi, tidak ada yang namanya lagi malu untuk mereka. Bahkan jika main ke rumah para sahabatnya, Wildan selalu main comot saja. Dia langsung mencari makanan ke dapur tanpa menunggu izin dari para sahabatnya.
"Rissa! kau tau saja aku lagi lapar," ucap Wildan tersenyum kecil lalu mengambil cemilan yang di hidangkan Rissa di atas meja.
"Kau memang selalu lapar. Hanya saja makanan yang kau makan tidak tau perginya ke mana," ucap Rissa melihat tubuh Wildan yang tidak sebanding dengan pola makannya.
"Macam kau tidak tau saja, Ris," ucap Wildan menatap Ardiyan dan Kinan secara bergantian.
"Papa! jangan bicara yang tidak-tidak. Kami lagi makan," ucap Yuki menatap kesal papanya itu.
"He.. he.. maaf, Sayang," ucap Wildan terkekeh kecil lalu kembali menyantap cemilan di depannya tanpa sisa.
Melihat kelakuan Wildan, semua orang yang di sana hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala mereka pelan. Setiap mereka berkumpul seperti ini, memang Wildan yang selalu bikin heboh karena sikap polosnya. Bukan hanya polos, dia juga kalau bicara asal ceplos saja. Bahkan Wildan yang akan selalu kena semprot karena mulutnya itu.
"Katanya Rafi mau mengadakan pesta ulang tahun pernikahannya," ucap Kinan mengalihkan pembicaraan.
"Benar! itu yang kami mau bicarakan kepadamu. Rayyan kapan pulang? apa dia tidak datang di acara pesta Rafi?" tanya Wildan kepada Kinan, karena mereka semua tau jika Rayyan dan Zhia memang paling terbuka kepada Kinan.
"Kenapa kau bertanya kepada ku. Itu asisten pribadinya," ucap Kinan menunjuk ke arah Ardiyan.
"Aku memang asistennya. Tapi kau kakak iparnya. Jadi kau lebih tau apa yang aku tidak tau," ucap Ardiyan to the point.
"Aku belum ada bicara dengan mereka. Nanti akan aku bicarakan," ucap Kinan mengalah.
"Tente Zhia akan pulang?" tanya Sania penuh semangat.
Sania tau jika Zhia lah pawang asli papanya yang nyebelin itu. Kinan memang bisa membantah ucapan Rissa, tetapi Kinan tidak akan bisa membantah ucapan Zhia. Jadi, Sania berpikir merengek kepada Zhia lebih baik dari pada merengek kepada papanya sendiri. Dia yakin jika Zhia sangat setuju tentang hubungannya dengan Bisma.
"Kenapa kau semangat seperti itu? jangan bilang jika kau ingin mengunakan Bibimu untuk mendapatkan Bisma," tebak Kinan yang memang benar seratus persen.
"Tidak! aku hanya merindukan Aulya saja," ucap Sania berbohong.
"Sudahlah! kalian apa tidak bisa tidak usah berdebat sebentar saja," ucap Rissa menatap kesal kelakuan suami dan juga putrinya itu.
"Kalau tidak salah ulang tahun pernikahan Rafi dan Clara dia minggu lagi. Kalau begitu aku, Sinta dan Nur akan membantu Clara untuk menyiapkan pestanya," ucap Rissa semangat.
"Kalau paman Rafi sibuk mengatur persiapan untuk pestanya, jadi aku punya waktu berduaan dengan Kak Bisma dong," ucap Sania semangat.
"Ini anak! apa tidak ada yang lain di pikiranmu selain Bisma," ucap Kinan menjitak kening putrinya itu kesal.
"Papa macam tidak pernah muda saja," ucap Sania memanyunkan bibirnya kesal.
"Sania benar! masih jauh mending Sania yang hanya mengejar cinta Bisma. Dari pada kau," ucap Wildan membela Sania, sehingga membuat Sania menjadi besar kepala.
"Dengerin, tu!" ucap Sania mengangkat dagunya dengan bangga karena ada yang membelanya.
"Kau sama papa beda. Kau itu wanita, sedangkan papa pria. Di mana-mana tidak ada yang namanya pria bunting duluan, yang ada wanita yang bunting duluan," ucap Kinan kesal.
"Sayang! kau itu bicara tidak ada sopan-sopannya sama putrimu sendiri," ucap Rissa menatap tajam Kinan.
"Benar, Kinan! kau tidak bisa bicara seperti itu kepada putrimu. Memangnya kau tidak percaya dengan putrimu sendiri. Kau ini memang papa yang aneh," ucap Wildan terus memanas- manasi suasana.
"Dasar sahabat lucknut! kau lihat saja nanti ya," batin Kinan menatap geram Wildan yang terus saja memojokkan nya.
"Sepertinya akan ada perang badai. Lebih baik kita main di kamarmu saja yuk. Aku ada game baru," ucap Erlan bangkit dari duduknya.
"Ayuk! kita main game saja," ucap Sania terkekeh kecil lalu menarik tangan Yuki menuju kamarnya.
Mereka bertiga lebih memilih main game di kamar Sania. Dari pada mereka harus mendengarkan perdebatan para orang tua yang tidak jelas itu. Lebih baik mereka bersenang-senang di kamar Sania tanpa ada gangguan. Walaupun nantinya mereka akan mendapatkan ocehan dari Rissa, karena kamar Sania yang akan seperti kapal pecah karena ulah mereka.
Bersambung.....