Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Merlisa dan Arga tertidur pulas saling berpelukan. Entah kenapa Merlisa begitu tenang di dalam dekapan Arga.
Pagi ini Arga terbangun terlebih dahulu, ia menatap wajah Merlisa dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Jantungku kenapa berdebar seperti ini, apa aku mempunyai penyakit jantung. Batin Arga sambil mengeratkan pelukannya, sekilas ia mencium kening Merlisa.
" Kau sudah bangun?" tanya Arga pada Merlisa.
" Hemm, terima kasih." Ucap Merlisa.
"Untuk apa?" tanya Arga menaikan sebelah alisnya.
" Untuk pelukannya, aku bisa kembali tenang. Biasanya kalau aku bermimpi buruk seperti itu, yang akan menenangkan ku salah satu dari kedua kakakku." Ucap Merlisa tertunduk.
" Tak masalah, kan aku sudah pernah bilang dengan mu, mulai sekarang jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja. Walau hubungan kita hanya sandiwara." Ucap Arga.
Merlisa hanya tersenyum tipis.
" Maaf aku tidak bermaksud untuk ikut campur dengan masalahmu, tapi kenapa setiap kau bermimpi buruk, kau selalu ketakutan seperti itu?" tanya Arga penasaran.
Sebelum membuka suara, Merlisa menghela nafas berat, " Dulu waktu aku berumur 10 tahun, aku pernah ingin di culik oleh sekawanan orang di basement mall yang pada saat itu tidak ada orang di sana, mama Diana berusaha menghalangi sekawanan yang ingin membawa ku. Dan tragedi itu terjadi, hiks hiks." Ucap Merlisa menghentikan ceritanya.
" Maaf kan aku, jika kau berat untuk menceritakannya jangan di teruskan." Ucap Arga memeluk Merlisa berusaha untuk menenangkannya.
"Aku tidak apa - apa, tragedi dimana mama Diana di habisi di depan mata ku, karena ia berusaha untuk melindungiku, saat itu aku tidak bisa berbuat apapun, aku hanya bisa melihat dari persembunyianku, karena itu pesan mama Diana, hiks hiks." Ucap Merlisa dengan tangisnya.
Arga semakin mengeratkan pelukannya, berharap memberi kekuatan untuk Merlisa.
Jadi ini yang membuatmu sampai ke takutan, sungguh berat jalan hidupmu. Batin Arga.
"Sudah ya, jangan kau ingat lagi." Ucap Arga mengusap air mata Merlisa yang membasahi pipinya.
" Iya, entah lah beberapa belakangan ini aku sering bermimpi buruk lagi. Dulu aku sempat depresi dan trauma dengan kejadian yang ku alami, namun kedua kakakku membawaku ke psikiater untuk menyembuhkan ku. Semenjak aku sembuh dari rasa traumaku, aku belajar bela diri untuk dapat bisa menolong orang lain semampu ku, aku tidak mau lagi hanya melihat tanpa berbuat apapun orang yang sedang membutuhkan pertolongan." Ucap Merlisa.
" Kau mempertaruhkan nyawamu demi orang lain, bahkan kau tidak mengenalnya?" tanya Arga heran dengan pemikiran Merlisa.
" Mungkin terdengar konyol dan gila, namun buatku itu adalah hal yang membuatku bahagia, setidaknya aku tidak merasa di hantui rasa bersalahku pada mama Diana." Sahut Merlisa.
" Aku sungguh salut dengan mu, kau wanita yang sangat tangguh." puji Arga.
" Hahaha sepertinya kau sudah jatuh cinta denganku tuan, bisa - bisanya kau memujiku seperti itu" Goda Merlisa.
"Cih, kau sungguh besar kepala, siapa yang cinta dengan mu, kau hanya di puji sedikit saja, sudah begitu melayang jauh." Ketus Arga.
" Ya ya tuan, paling tidak kau sudah tertarik denganku." Goda Merlisa lagi.
Arga tidak menimpali perkataan Merlisa, ia langsung me***at bibir Merlisa, namun dengan lu*****an yang begitu lembut berbeda saat pertama ia melakukannya dulu.
Merlisa tidak membalas atau memberontak ciuman Arga. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan saat begitu dekat dengan Arga.
Cukup lama Arga menikmati bibir indah Merlisa, ia sudah tidak dapat menahan untuk memakan bibir merah milik Merlisa.
" Itu hukuman untuk mu, karena membuatku kesal." Ucap Arga saat sudah melepaskan ciumannya.
Merlisa tidak menjawab, ia segera berlari menuju kamar mandi, wajahnya sudah merah merona dan detak jantungnya yang tidak beraturan.
" Aku memang sudah gila, kenapa aku begitu tergoda dengannya." Gumam Arga sambil mengacak - acak rambutnya frustasi.
******
Sore hari Merlisa dan Arga sudah berada di dalam pesawat jet pribadi Sebastian untuk pulang ke ibu kota, ia sudah 5 hari berada di pulau dewata Bali.
Merlisa dan Arga duduk bersebelahan, hubungan mereka semakin akrab meski hanya menjadi seoarang teman saja, setidaknya ada kemajuan dalam hubungan sandiwara mereka.
Merlisa tertidur di bahu Arga, tanpa sepengetahuan Merlisa Arga memotret dirinya dan Merlisa yang tertidur di bahunya.
" Maaf aku tertidur." Ucap Merlisa saat sudah membuka matanya.
"Heemm" Jawab Arga singkat.
" Dasar pria bunglon, selalu saja seperti itu." Gumam Merlisa pelan.
****
Merlisa membukakan pintu arpatemen, saat terdengar suara ketukan dari luar.
"Sayaaaang. Kau! " teriak seseorang di depan pintu.
" Kenapa kau bisa ada di sini, dimana pria ku?" ucap Vanesa masih dengan nada tinggi, ia langsung menerobos masuk ke dalam arpatemen milik Arga tanpa mendengarkan ucapan Merlisa.
"Kau ada di sini, kenapa tidak memberi tahuku terlebih dahulu." Ucap Arga yang datang dari arah dapur.
Vanesa tidak menjawab pertanyaan Arga.
" Kenapa wanita ini bisa ada di sini sayang? kalian tidak berselingkuhkan. Tanya Vanesa.
"Dia itu, dia adalah...." Ucap Arga menggantung, ia bingung harus menjelaskan apa dengan Vanesa.
" Aku ART di sini, kau tenang saja aku tidak ada apa - apa dengan pria mu." Sahut Merlisa.
Arga hanya membulatkan matanya.
" Hahahaha jadi kau hanya seorang ART, berani sekali kau pernah melawan ku. Kenapa kau tidak memberi tahuku sayang." Ucap Vanesa.
"I iya, aku lupa memberi tahumu." Sahut Arga.
" Aku haus buatkan aku minum, aku ingin orange juice." Perintah Vanesa kepada Merlisa.
Merlisa memutar bola mata malas, sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Kau ingin membuat ku diabetes ya, ini terlalu manis, ganti lagi buatkan yang baru!" teriak Vanesa saat meminum orange juice yang di bawa Merlisa.
Saat kemudian Merlisa membawakan kembali segelas orange juice baru untuk Vanesa, sambil terus mengumpat di dalam hati.
"Kau ini gak becus kerja banget si, sekarang terlalu asam!" teriak Vanesa lagi.
" Bbyyuuurrr Merlisa dengan sengaja menumpahkan orange juice yang mengenai dres yang di pakai oleh Vanesa.
Vanesa berdiri ingin menampar Merlisa, namun sudah di tahan oleh Merlisa.
" Heh gue bukan pesuruh loe, jangan seenaknya di sini, dan satu lagi gue gak budek jadi jangan teriak - teriak terus di sini bukan hutan." Ucap Merlisa, ia sudah tidak dapat menahan kekesalannya.
"Sayaaaangg lihatlah gadis itu begitu berani dengan ku, pecat dia sayang." Rengek Vanesa.
" Sudah jangan marah - marah terus sayang, sana bersihkan dulu bajumu." Ucap Arga.
Vanesa berjalan menuju kamar mandi sambil menghentak - hentakan kakinya.
" Kenapa kau mau memecat ku." Ketus Merlisa pada Arga saat mereka hanya berdua.
"Kalau aku memecatmu, mama dengan papa yang akan memecatku menjadi anak." Ucap Arga datar.
"Kan wanita mu yang meminta itu kan. Bukanya kau selalu menuruti semua yang ia inginkan." Ucap Merlisa.
" Tapi tidak dengan yang satu ini, aku ingin memberi hukuman kepada mu." Ucap Arga tersenyum menyeringai.
Merlisa mendengar kata hukuman, dengan cepat ia menutup mulutnya dan pergi menuju kamar miliknya.
" Hahaha sungguh lucu gadis itu, cewek bar - bar seperti mu, takut hanya sebuah ciuman saja." Ucap Arga berbicara sendiri.
Bersambung....
Jangan lupa berikan vote, like, rate dan komennya agar author selalu semangat 💪🙏😘